
Tyler sampai di arena tepat jam tujuh malam, dan satu jam lagi balap akan di mulai. Angga langsung berdiri dan berlari menghampiri Tyler hingga langsung menarik tangan Tyler di bantu oleh dua orang tim keamanan.
"Apa - apaan ini!!?" Ujar Tyler sembari mencoba memberontak. Tyler dengan mudah lepas, dan berhasil melumpuhkan satu tim keamanan. Angga tentu langsung melerai keduanya.
"Raja jalanan, kita gak bakal apa - apain lo, kita cuma mau nanya tentang L ke lo." Ujar Angga, dan Tyler mengernyit bingung.
"Lo mau nanya kaya orang mau nyulik." Ujar Tyler, Angga pun menyengir.
Angga pikir Tyler tidak pandai bela diri, jadi dia menyuruh tim keamanannya untuk menyeret Tyler begitu saja.
"Sorry, cara gue salah. Lo bisa ikut gue gak?" Tanya Angga.
"Urusan apa?" Tanya Tyler.
"Em, itu.. si L." Ujar Angga, Tyler kemudian menganggukan kepalanya, Tyler melepaskan begitu satu lagi tim keamanan, hingga pria itu tersungkur di tanah.
'Padahal ni anak gampang di ajak ngomong, ngapa gue pake cara culik, kasihan mereka, kena bogem.' Batin Angga menatap kasihan pada anak buahnya.
Tyler sudah sampai di ruangan Angga, dan rupanya di sana ada L atau Lana yang sedang asik main game dari ponselnya.
'Dia disini rupanya.' Batin Tyler. Angga merebut begitu saja ponsel Lana, dan Lana langsung merengek.
"Yah, bang! Tar kalah gue, nanggung banget." Ujar Lana dengan wajah kesal.
"Nih bocah! Nge game mulu, tuh liat siapa yang dateng." Ujar Angga, dan Lana melirik kearah Tyler.
"Woah! Si cowok mesum! Ngapain lo di sini!?" Ujar Lana, Tyler hampir tersedak liurnya sendiri mendengar dirinya di panggil cowok mesum.
'Anak ini, sembarangan banget manggilnya, emang gue muka mesum apa.' Batin Tyler.
"Gue gak mesum." Ujar Tyler. Lana mengernyit ketika dia seperti sedikit mengenali suara dari pria mesum yang berdiri di hadapannya itu.
"Stop! Na, lo di sini berurusan sama dia, jadi ngomong yang baik - baik. Inget tujuan awal kita." Ujar Angga langsung menengahi, Lana pun diam.
"Bro, lo gak buka helm? Apa gak pengep? Buka aja, di sini keprivasian semua orang kita jaga, kayak anak ini." Ujar Angga dan melempar Lana dengan kulit kacang.
"Ish! Isinya kek, kok kulitnya doang." Ujar Lana, protes.
"Gak perlu, gini aja." Ujar Tyler. Karena jika dia membuka helmnya, Lana sudah pasti akan mengenali dirinya.
"Oke, jadi gini bro. Lana udah cerita ke gue bahwa lo tahu identitasnya dia kalo dia itu cewek, apa bener?" Tanya Angga. Tyler menatap Lana, dan yang di tatap malah membuang pandangan.
"Jadi dia cewek?" Ujar Tyler, dan Angga meranga mendengarnya. Tidak hanya Angga, Lana juga terkejut mendengarnya.
__ADS_1
"Lo! Bukannya lo bilang kemaren lo denger dan liat semuanya?" Ujar Lana pada Tyler.
"Ya denger, kan gue gak budek. Dan gue juga liat, karena gue gak buta. Gue denger lo ngoceh, denger orang bersorak - sorak dan yang lainnya." Ujar Tyler, Lana langsung menjatuhkan dagunya begitu saja, dia mangap.
"Jadi lo gak denger gue sebenernya ngomong apaan?" Tanya Lana, dan Tyler menggeleng. Sebenarnya dia dengar, dia hanya ingin mengerjai Lana.
''Jadi ternyata lo cewek?" Ujar Tyler lagi dan Lana langsug menepuk keningnya dengan frustasi, begitu juga dengan Angga.
"Eee, bro. Lo bisa gak, kerja sama - sama kita buat gak nyebarin kebenaran ini ke orang orang di luar sana?" Ujar Angga, dan Tyler tampak diam.
Bagaimanapun Lana adalah salah satu joki andalan Angga yang menghasilkan uang banyak juga.
"Lo mau apa? gue coba penuhin.'' Ujar Angga, membujuk dan Tyler langsung menatap kearah Lana. Lana yang di tatap pun langsung berdehem karena merasa akan terjadi hal yang tidak baik.
'Perasaan gue gak enak nih.' Batin Lana, sembari gelisah.
"Boleh gue ngomong berdua aja sama dia?" Tanya Tyler pada Angga, dan Lana memejamkan matanya. Lana memberi kode pada Angga untuk menolak, tapi angga malah mengangguk.
'Ish, sialan bang Angga.' Batin Lana.
"Oke, kalian bicarain aja baik - baik enaknya bagaimana. Na, gimanapun ini masalah elo, lo harus hadepin kalo masih pengen balap di sini." Ujar Angga, dan Lana pun mengangguk. Angga pun berjalan keluar dari ruangannya meninggalkan Lana dan Tyler di sana berdua.
"Ekhem! Silahkan duduk." Ujar Lana pada Tyler, tapi Tyler hanya berdiri dan berjalan mendekat kearah Lana.
"Bicara aja langsung, gak perlu lo deket - deket gue, kan?" Ujar Lana spontan. Tapi ternyata Tyler duduk di depan Lana persis saat ini.
"Kenapa lo nendang gue semalem? Lo mau bikin gue gak punya masa depan?" Ujar Tyler pada Lana.
"Ya salah lo sendiri deket - deket gue, gue kan cuma jaga diri." Ujar Lana.
Tyler menyenderkan dirinya di sofa, lalu melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap Lana.
"Lo harus kasih gue kompensasi atas perubatan lo, atau gue sebarin rahasia lo yang ternyata lo adalah cewek." Ujar Tyler, dan Lana meranga mendengarnya.
"Kom- kompensasi ap- apaan?" Tanya Lana gugup. Tyler tersenyum smirk mendengar Lana yang menjadi gugup dan takut itu.
"Lo harus jadi pacar gue." Ujar Tyler dan tiba - tiba Lana bernafas lega. Tapi dia tidak fokus dengan apa yang Tyler katakan.
"Gue pikir apaan, ternyata jadi pacar lo?" Ujar Lana terkekeh, tapi kemudian dia menyadari sesuatu..
"Eh? Apa lo bilang tadi!? Jadi pacar lo??" Ujar Lana dengan wajah terkejut, dan Tyler mengangguk dengan sekali anggukan dengan mantap.
"Gak mau!" Ujar Lana spontan. Tyler langsung berdiri, dan melipat kembali tangannya di dadanya.
__ADS_1
"Oke.. Berarti gue beberin aja ke semua orang bahwa lo cewek." Ujar Tyler hendak keluar tapi Lana langsung menagan tangan Tyler.
"Ya jangan gitu juga lah bang.." Ujar Lana memanggil Tyler abang.
"Ya kalo gitu lo pilih, waktunya gak banyak lho.. Mau jadi pacar gue atau gue kasih tau ke semua orang bahwa lo cewek. Dan satu lagi, jangan panggil gue abang, gue bukan abang lo." Ujar Tyler kukuh dengan pendiriannya.
Lana dalam kesulitan besar kali ini, dia bahkan tidak tahu seperti apa rupa pria di hadapannya itu, dia juga tidak mengenal sama sekali pria itu.
"Hoy! Malah bengong." Ujar Tyler.
"Mm.. Lo boleh buka masker lo dulu gak?" Tanya Lana, dan Tyler mengernyitkan keningnya.
"Buat apa?" Tanya Tyler.
"Ya masa gue mau macarin orang random? Gue gak kenal lo, gak juga tahu nama lo, gak tau siapa lo." Ujar Lana. Tyler tampak diam, tapi dia tidak mau membuka jati dirinya pada Lana untuk sekarang ini.
"Yang jelas gue cakep, gue juga masih SMA kok." Ujar Tyler singkat.
"Yee.. bukan masalah cakepnya ferguso, ini masalah hati. Masa gue macarin orang tanpa perasaan." Ujar Lana.
"Urus itu nanti, yang jelas lo harus jadi pacar gue. Gue hitung mundur dari sepuluh, lo harus nentuin pilihan lo. Mau jadi pacar gue, atau gue buka kartu lo." Ujar Tyler dengan wajah serius.
"Sepuluh.." Ujar Tyler mulai menghitung.
Lana makin panik, dia tidak berpikiran untuk memiliki pacar saat masih sekolah. Dia masih ingin fokus dengan apa yang dia jalani saat ini.
"Tujuh.." Ujar Tyler lagi. Lana makin panik.
'Bodo ah, lagian dia gak tau siapa gue. Gue tinggal bikin dia kesel aja, biar dia mutusin gue sendiri.' Batin Lana.
"Tiga.. Dua.." Tyler makin serius.
"Oke, gue jadi pacar lo." Ujar Lana akhirnya setuju. Tyler tersenyum di balik maskernya, lalu mengulurkan tangannya.
"Apa?" Tanya Lana bingung. Tyler menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Lana.
"Salaman lah, kan udah deal." Ujar Tyler. Lana pun dengan ragu mengulurkan tangannya dan akhirnya bersalaman dengan mantap.
"Sekarang cium gue." Ujar Tyler, dan Lana langsung menghempas tangan Tyler.
"Gila lo? Ogah! Kesepakatannya cuma pacaran, gak ada skinship apa lagi ciuman." Ujar Lana tegas, lalu langsung pergi dari ruangan Angga meninggalkan Tyler sendirian.
Tyler tersenyum, karena Lana memang tidak seperti yang dia pikirkan. Lana tidak mudah di rayu, dan tidak mudah terbuai dengan laki - laki.
__ADS_1
'Lo milik gue, Lana.' Batin Tyler.
TO BE CONTINUED..