TYLER: Who Do You Think Am I?

TYLER: Who Do You Think Am I?
EPS. 65. Identitas TYLER di buka.


__ADS_3

Tyler makan bubur yang Lana buat, selama ini jika sakit hanya teman - temannya yang mengurusnya, tapi dia juga tidak mau di urus, dan kini ada Lana yang dia cintai, yang mengurusnya.


"Kamu tadi sekolah?" Tanya Lana, ketika bubur di mangkuk sudah tandas.


"Enggak." Sahut Tyler, dan Lana mengernyit bingung.


Tapi kemudian Lana menyadari perubahan ekspresi di wajah Tyler seperti menyimpan kemarahan sekaligus sedih.


"Kamu kenapa?" Tanya Lana. Tyler menatap Lana dalam dalam, ia bersiap untuk menceritakan kejadian siang tadi.


"Aku abis di culik." Ujar Tyler dan Lana langsung meranga menutup mulutnya.


"Sama siapa? Kok bisa?! Terus kamu di apain?!" Tanya Lana khawatir, sampai Tyler terkekeh kecil mendengarnya.


"Bukan di culik, sih.. Aku sendiri yang dateng ke sana." Ujar Tyler.


"Bisa jelasin yang bener, nggak? Aku nggak ngerti maksud kamu." Ujar Lana.


"Jadi gini.. Abis aku nganter kamu sekolah pagi tadi, aku di telpon sama asistennya Rion. Dia bilang Rion kecelakaan dan butuh donor darah, makanya dia nelpon aku."


(Jeda)


"Aku sempet nolak, karena yang aku tau, aku bukan anaknya. Tapi kemudian aku pikir itu adalah kesempatan buat aku tahu, apakah aku anak kandungnya apa bukan. Jadi aku dateng kesana.."


(Jeda )


"Sampe akhirnya aku tahu bahwa aku emang anak.. kandungnya Rion." Ujar Tyler dengan wajah emosi.


Lana sendiri terkejut, dia semakin berpikir bahwa ayah Tyler benar - benar buta karena tidak mengenali anaknya sendiri.


"Aku memutuskan buat pergi dan gak peduli sama nasib Rion yang lagi kritis, be. Tapi asistennya mukul aku sampe pingsan, dan mereka ngambil darah aku tanpa ijin dan tanpa sepengetahuan aku saat aku lagi gak sadar." Ujar Tyler.


"Bren*sek, mereka jahat banget." Ujar Lana, dia menjadi ikut emosi sekarang.


"Saat aku sadar, badan aku lemes banget. Aku sempet mukulin asistennya Rion sebelum akhirnya aku pulang." Ujar Tyler.


"Mereka bukan manusia." Gumam Lana, lalu dia melihat bekas luka akibat tusukan jarum yang di cabut paksa oleh Tyler.


"Sakit gak?" Tanya Lana dengan mata berkaca - kaca.


"Enggak, tapi hati aku yang sakit." Ujar Tyler, Lana pun berhambur memeluk Tyler. Tyler yang di lukai, tapi Lana yang sedih.


"Jangan nangis, be.." Ujar Tyler yang malah menghibur Lana, padahal dia yang di sakiti.


"Kenapa sih mereka jahat dan tega banget sama kamu? Padahal kamu nggak jahat, Nggak juga nyusahin mereka. Kamu hidup sendiri tanpa kasih sayang, tapi kok mereka masih aja jahatin kamu.. Aku nggak abis pikir, otak mereka di makan jin kayaknya." Ujar Lana nyerocos sambil terisak.


Tyler tersenyum, tapi juga berkaca - kaca. Dia terharu, tapi juga merasa lucu dengan ucapan Lana.


"Udah ya.. Jangan nangis, kan aku yang di sakitin, ko kamu yang nangis?" Ujar Tyler.


"Emang gak boleh!? Aku kan juga ngerasain sakitnya, Ty." Ujar Lana yang tiba - tiba melerai pelukannya dari Tyler.

__ADS_1


"Boleh dong, be.. tapi kamunya jangan nangis, akunya jadi ikut sedih." Ujar Tyler.


"Kalo aku ketemu dia, aku bakal omel - omelin dia. Gak punya Akhlak! Asistennya juga, gak berperi kemanusiaan, dia cuma berperi kehewanan." Ujar Lana kesal sambil nyerocos.


"Iya.. Iya.. Udah ya, jangan marah - marah dan nangis." Ujar Tyler, malah dia yang menenangkan Lana.


'Kok malah Lana yang lebih histeris.' Batin Tyler.


Tapi Tyler jadi senang sekarang, Lananya selalu peduli padanya.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


Hari - hari berlalu.. Tyler sudah beraktivitas seperti biasanya, setelah mengantar Lana ke sekolah Lana sebelumnya, kini Tyler sampai di sekolahnya sendiri.


"Ty! Ty!" Teriak Luigi dari jauh, dia berlarian menghampiri Tyler yang baru saja memarkirkan motornya.


"Apaan, Gi? Kok lo panik banget gitu?" Tanya Tyler.


"Gawat Ty, gawat.." Ujar Luigi dengan nafas tersenggal - senggal.


"Apaan!? Lo kenapa si?" Ujar Tyler makin bingung.


"Asisten bokap lo, dateng ke sekolah nyariin elo." Ujar Luigi.


DEG!!


"Dia mbuka identitas lo, bahwa lo anak pemilik sekolah ini, dan sekarang satu sekolah heboh." Ujar Luigi lagi.


"Bren*sek!" Gumam Tyler.


"Itu Tyler - itu Tyler. Gak nyangka gue, ternyata Tyler anaknya pemilik sekolah." Gumam teman - teman Chery, sementara Chery sendiri sedang pias.


"Di mana dia?" Tanya Tyler.


"Kantor kepsek." Ujar Luigi, dan Tyler langsung berjalan dengan langkah cepat menuju kantor kepala sekolah.


Tyler membuka pintu ruang kepala sekolah tanpa mengetuknya lebih dulu, dan tatapannya langsung jatuh pada asisten Rion yang sedang duduk di depan kepala sekolah.


"Tuan muda." Sapa asisten Rion. Tyler tidak menyahut dan dia justru berjalan dengan langkah lebar lalu..


BUGH!!


Sebuah bogeman mentah mendarat di wajah asisten Rion.


"Tyler!" Bentak kepala sekolah. Asisten Rion langsung mengangkat tangannya untuk menghantikan kepala sekolah.


"Jangan berani - beraninya anda membentak tuan muda." Ujar asisten Rion.


"M- maaf, pak." Ujar kepala sekolah dengan takut.


"Apa mau lo sebenernya, ban*sat! Gak cukup lo ngambil darah gue beberapa hari lalu, huh!!?" Bentak Tyler.

__ADS_1


"Soal itu, saya minta maaf tuan muda, tapi nyawa tuan sangat kritis." Ujar asisten Rion.


"Mati juga gue gak peduli, gue bukan anaknya dia. Dan apa maksud lo ngebuka identitas gue di sini? Apa bos lo belom cukup ngucilin gue, sekarang dia mau seluruh dunia membenci gue, iya?!" Ujar Tyler.


"Tidak tuan muda, tuan Rion sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Jika ada waktu, pulanglah ke rumah.. Tuan Rion sudah ada di rumah, dia ingin mengatakan sesuatu padamu." Ujar asisten Rion.


"Lo kira gue sudi? Enggak!! Bilangin ke bos lo, stop ganggu hidup gue. Jalanin aja hidup dia seperti dia sebelumnya, gak usah urusin gue." Ujar Tyler, lalu dia berjalan keluar.


"Tuan muda." Panggil asisten Rion, tapi Tyler tidak mengindahaknnya.


"Mulai sekarang, jaga sikap kalian pada tuan muda Tyler. Jika aku sampai dengar bahwa kalian mempersulit tuan muda kami, maka kau tahu akibatnya." Ujar asisten Rion pada kepala sekolah.


"I- iya pak, saya mengerti." Ujar kepala sekolah.


Asisten Rion kemudian keluar dari ruangan kepala sekolah dan menghubungi seseorang, tuannya.


"Tuan, tuan muda marah - marah ketika tahu identitasnya sebagai putra pemilik sekolah ini saya buka." Ujar asisten Rion.


Dan di sisi lain kota Jakarta, Rion Griffin sedang memegangi kepalanya yang tidak pusing.


"Baiklah, kau balik saja kemari." Sahut Rion pada asistennya, lalu panggilan pun di akhiri.


"Hufftt..." Rion Griffin menghela nafasnya panjang.


Saat dia sadar, dia terkejut mendengar asistennya mengatakan bahwa yang mendonorkan darah padanya adalah Tyler. Dia sampai terdiam cukup lama karena terkejut dengan hal itu.


Dia sangat yakin bahwa Tyler bukan anak kandungnya, tapi kenyataan apa yang terjadi itu? Nyatanya Tyler yang mendonorkan darah kepadanya.


"Kalau aku tahu dia benar - benar putraku, tentu aku tidak akan memperlakukannya seburuk itu selama ini. Dia pasti terlalu sakit hati dan kecewa, gimana caranya supaya Tyler mau memaafkan aku." Gumam Rion.


Terlebih, Karisma selalu bergonta ganti pasangan bahkan ketika keduanya masih terikat hubungan pernikahan. Jadi Rion pun menjadi semakin yakin bahwa Tyler bukan anak kandungnya.


Kembali ke sisi Tyler.. Tyler masih bisa mendengar bisikan - bisikan teman kelasnya yang sedang membicarakan dirinya.


"Ty, bokap lo abis kesamber gledek apa gimana? Kok tiba - tiba buka identitas lo?" Bisik Jack yang duduk di sebelah Tyler.


"Gak tau, mungkin amnesia." Ujar Tyler asal.


Tyler belum menceritakan pada teman - temannya bahwa dia sempat di tahan untuk mendonorkan darahnya secara paksa pada Rion.


Hingga pulang sekolah pun, semua masih menatap Tyler dengan curi - curi pandang. Tyler yang dulu hanya di kagumi karena ketampanannya, kini makin di kagumi lagi, karena Tyler putra pemilik sekolah yang tak lain adalah Rion Griffin.


"Gue mau jemput Lana, abis itu ntar gue ke markas." Ujar Tyler.


"Oke." Sahut ketiga temannya, Tyler pun pergi dari parkiran sekolah.


"Jangan sampe bokapnya Tyler merencanakan sesuatu yang jahat sama Tyler, ini terlalu aneh untuk di bilang kebetulan, ya gak?" Ujar Renan.


"Hm, kita ikutin?" Ujar Jack.


"Jangan, Tyler gak suka kalo privasinya di campuri orang lain." Sahut Luigi.

__ADS_1


"Yok, cabut." Ujar Luigi lagi, dan ketiganya pun pergi dari sekolah.


TO BE CONTINUED...


__ADS_2