
Di rumah sakit, Ibu Lana sudah sadar. Dia sedang makan bubur dari rumah sakit sekarang, dengan Lana yang menyuapinya.
"Abis ini kita mau tinggal di mana, nak." Ujar ibu Lana setelah bubur itu habis.
"Jangan khawatirin masalah itu, ma. Yang penting mama sembuh dulu." Ujar Lana.
"Tapi kan kita nggak punya tempat tinggal." Ujar ibu Lana.
"Mama tenang aja, aku punya kenalan ibu kost, kita ngekost aja nanti di sana." Ujar Tyler.
Ibu Lana mengangguk, dan setelah makanan selesai, Lana membantu mengepang rambut ibunya itu yang sekarang masih terurai.
"Mama istirahat yang baik - baik di sini ya, Lana sama Tyler mau bawa barang - barang kita dulu ke kost yang bakal kita tinggalin." Ujar Lana.
"Iya, nak." Ujar ibu Lana.
Setelah memastikan kebutuhan ibunya sudah terpenuhi, Lana dan Tyler pun akhirnya keluar dari sana dan memanggil taksi. Lalu mereka berdua pun pergi menuju ke kostan yang sebelumnya.
"Kamu belum cerita ke aku, tentang kenapa kamu bisa melarikan diri lagi dari papa kamu." Ujar Lana, setelah keduanya di taksi.
"Kyle yang nolongin aku." Ujar Tyler, Lana meranga tidak percaya.
Tyler sampai terkekeh melihat Lana membuka mulutnya lebar - lebar. Tyler pun mencubit gemas hidung mancung Lana sampai Lana mengaduh.
"Sakit, Ty.." Ujar Lana, sembari menggosok - gosok hidungnya.
"Abisnya gemesh.." Ujar Tyler.
"Tapi kok Kyle bantuin kamu? Bukannya kalian musuhan?" Tanya Lana.
"Aku juga gak tau, dia belom ngomong apa - apa ke aku dan langsung nyuruh aku nyusulin kamu di rumah sakit." Ujar Kyle.
Lana hanya manggut manggut saja, dia heran tapi dia juga tidak punya jawaban atas keheranannya itu. Sampai akhirnya keduanya tiba di kost - kostan, dan pemilik kost itu menyambut kedatangan Lana dan Tyler.
"Kalian mau pindahan kemari?" Tanya ibu kost itu menyambut.
"Iya bu, kami mau ngekos di sini, boleh kan?" Ujar Tyler.
"Oh, tentu saja boleh.. Kalian adalah sumber rejeki saya, berkat kalian kostan saya kembali terisi." Ujar pemilik kost itu senang.
"Hehe.."
Akhirnya barang - barang milik Lana dan ibunya pun di masukkan ke dalam kostan, Luigi dan yang lainnya entah sedang pergi kemana, mereka tidak terlihat di sana.
Setelah selesai, ternyata ibu kost sudah memasak makanan di bawah. Lana dan Tyler turun, dan langsung di sambut hangat.
"Kemari, kita makan siang bareng - bareng. Ibu bikin makanan seafood." Ujarnya.
"Kok jadi repot bu, kan kita yang ngekost." Ujar Lana.
__ADS_1
"Gak papa, ini sisa seafood di kuklas yang belom kemasak, udah beberapa hari gak buka restoran. Dari pada mereka rusak, masih mending ibu masak dan makan rame - rame bareng kalian." Ujar ibu kost itu lagi.
"Kalo gitu makasih banyak bu, saya gak akan sungkan." Ujar Tyler, ibu kost terkekeh.
"Ayo - ayo, jangan sungkan." Ajaknya.
Dan akhirnya mereka pun makan siang bersama siang itu, Tyler bisa melihat kekasih hatinya lagi sambil makan, rasanya dunia ini sangat indah.
••••••••••••••••••••
Dan singkat cerita, seminggu kemudian..
Akhirnya ibu Lana di bolehkan pulang, walau masih lemah, tapi ibu Lana kukuh ingin pulang karena dia tahu biaya rawat inap di rumah sakit sangat mahal.
Dan setelah beberapa hari beristirahat di kostan, akhirnya ibu Lana sudah bisa beraktifitas. Seperti sekarang ini, dia dan pemilik kost itu sedang memasak bersama.
"Bagaimana jika kita bekerja sama saja untuk buka restoran kecil ini? Masakanmu rasanya sangat enak, aku saja yang pandai masak sangat menyukai rasa masakanmu." Ujar pemilik Kost.
"Apa boleh begitu? Saya sudah ngekost di sini saja sudah bersukur bu." Ujar Ibu Lana.
"Eh, mana ada. Justru karena pacar sama temen - temennya Lana makanya kostan ini jadi rame lagi, tadinya aku udah mau pindah dan mengosongkan tempat ini." Ujar pemilik kost.
"Udah, kita buka restoran saja berdua. Dua wanita tua yang masih harus mencari nafkah, apa yang salah?" Ujar prmilik kost lagi, ibu Lana pun terkekeh.
"Baiklah, kalau begitu." Ujar Ibu Lana.
Tyler, Lana, Luigi dan yang lainnya langsung datang berbondong bondong, karena sejujutnya mereka sudah kelaparan.
"Ayo - ayo makan. Sini Tyler, mama sudah pisahkan duri ikan untuk kamu." Ujar ibu Lana.
"Yah, tante.. Masa Tyler doang yang di kupasin duri, kita - kita enggak." Ujar Renan iri.
Luigi langsung menampol kepala Renan setelah mendengar penuturan Renan.
"Adeh! Kok lo nggaplok kepala gue sih, Gi?!" Ujar Renan yidak terima.
"Lagian lo gak tahu diri." Ujar Luigi.
"Udah jangan ribut, sini tante kupasin." Ujar ibu Lana.
"Jangan tante!!" Ujar Jack, Ernest dan Luigi bersamaan, sampai ibu Lana terkejut.
"Ish! Lo mau bikin nyokap gue jantungan!" Ujar Lana. Ketiganya hanya bisa menyengir saja.
"Jangan ma, buat Tyler aja." Ujar Tyler, dan ibu Lana hanya bisa terkekeh.
Ibu Lana sangat sayang pada Tyler, seperti dia menyayangi Lana. Karena dia tahu Tyler tidak pernah mendapat kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Mereka pun makan bersama, dan di balik sebuah pohon, ada empat mata yang sedang memandang hangatnya kebersamaan itu, Rion dan Asistennya.
__ADS_1
"Ayo pergi." Ujar Rion.
"Anda tidak ingin mencoba memperbaiki keadaan, tuan?" Tanya asistennya.
Rion hanya terdiam, lalu melangkah pergi dari sana. Asistennya pun hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat itu. Padahal Rion sudah tahu kebenarannya, tapi dia tidak sama sekali bergeming untuk memperbaiki keadaan.
"Siapkan penerbangan menuju LA." Ujar Rion ketika sudah berada di dalam mobil.
"Baik." Sahut asistennya.
Kebersamaan yang indah antara Tyler, Lana dan semua orang disana terasa begitu hangat. Tyler yang sempat kembali menjadi dingin, bisa kembali menjadi ceria saat bersama Lana.
"Kita nikah, yuk be." Cetus Tyler tiba - tiba.
Saat ini Tyler sedang bersama Lana menikmati waktu berdua di tepian danau. Lana melihat kearah Tyler sambil berkespresi bingung.
"Tapi papa kamu?" Ujar Lana.
"Aku nggak peduli. Dia papa aku tapi aku nggak merasa punya papa, jadi anggap saja dia sudah mati." Ujar Tyler.
"JDER!!" Terdengar suara petir yang tiba - tiba muncul begitu saja. Padahal di sana hanya mendung, belum hujan.
"Ish! Ucapan tuh doa, tau." Ujar Lana menampol lengan Tyler.
"Nyatanya kok." Ujar Tyler.
"Iya, tapi kamu juga gak boleh ngomong gitu. Itu sama aja kamu nyumpahin dia, tahu." Ujar Lana.
"Iya, be.. Maaf." Ujar Tyler lalu memeluk Lana.
"Tapi serius, nikah yuk. Kan kita udah lulus, kalo kamu mau lanjutin pendidikan, akau akan segenap hati dan jiwaku untuk usahain supaya kamu bisa kuliah." Ujar Tyler bersungguh - sungguh.
"Terus kamu nggak lanjut kuliah??" Tanya Lana terkejut.
"Kuliah dong, sambil kuliah sambil cari nafkah buat istri aku." Ujar Tyler.
Lana terkekeh geli mendengarnya, istri katanya... Dia masih belum bisa membayangkan akan menjadi suami istri dengan Tyler.
"Mau nggak, Be?" Tanya Tyler lagi.
"Mama belom kasih ijin." Ujar Lana.
"Udah kok, aku udah berhasil yakinin mama kamu buat nikahin kamu." Ujar Tyler, Lana sedikit kaget mendengarnya.
Setelah diam beberapa saat, Akhirnya Lana mengangguk. Tyler senang mendengarnya, dia menciun bibir Lana langsung tanpa aba - aba.
"Aku pasti akan jadi suami yang baik buat kamu." Ujar Tyler, ketika melepas ciumannya, dan menempelkan kening mereka berdua.
...TO BE CONTINUED.. ...
__ADS_1