
Tyler kembali ke apartemennya, dan yang ada di matanya adalah bayangan Lana yang sedang mondar - mandir seperti hari - hari saat Lana tinggal di sana.
"Na.." Panggil Tyler, tapi kemudian bayangan Lana hilang dan Tyler menyadari bahwa itu hanya sebuah bayangan, Lana tidak ada di sana.
Tyler berjalan lalu duduk di sofa, dia menengadahkan kepalanya ke atas dan memejamkan matanya. Tiba - tiba dia membuka matanya dan muncul wajah Lana yang sama seperti kecelakaan ciuman kemarin.
'Kenapa gue kayak gini, Na? Gue gak pernah ngerasa kaya gini. Kenapa dada gue rasanya sesak, dan gue.. kangen lo.' Batin Tyler sembari menatap bayangan wajah Lana yang masih berada di hadapannya.
Bel apartemen berbunyi, Tyler tersenyum dan langsung bangun berlari membuka pintu, ia mengira itu adalah Lana.
"Na.." Ucap Tyler, tapi kemudian senyumnya pudar karena ternyata yang muncul adalah Ernest dengan wajah sendunya.
"Ty.." Gumam Ernest, Tyler pun membuka pintu dan mempersilahkan Ernest masuk lebih dulu.
"Lo gak kuliah?" Tanya Tyler, sembari menuang air di gelas lalu meneguknya.
"Fia.. dia masuk rumah sakit." Ujar Ernest, dan Tyler hanya menatap Ernest datar tanpa ekspresi.
"Menurut orang yang liat di arena balap, dia di gilir setelah di paksa ngelayanin cowoknya. Gue gak tau dia cowoknya apa bukan, dia yang masrahin Fia ke temen - temennya buat di gilir." Ujar Ernest dengan emosi.
Meskipun hanya sepupu, tapi Ernest benar - benar menyayangi Fia layaknya adik kandungnya sendiri.
"Nest, jangan omongin tentang adek sepupu lo ke gue, gue udah kecewa banget sama dia, dia makin kesini makin gila." Ujar Tyler dengan tatapan malas.
"Gue tau, tapi gue minta bantuan lo buat make anak - anak Black Puma untuk ngehajar cowoknya Fia." Ujar Ernest.
"Lo minta mereka aja sendiri kalo mereka mau." Ujar Tyler acuh.
"Ty! Lo kan tahu sendiri mereka gak bakal mau gerak kalo bukan lo yang kasih perintah dan keputusan." Ujar Ernest dengan emosi.
"Itu ganjaran buat adek sepupu lo, Nest." Ujar Tyler, dan Ernest menatap Tyler dengan tatapan tidak percaya.
"Lo kok jahat Ty, seenggak nya lo pandang Fia yang pernah jadi pacar lo, apa gak bisa?" Ujar Ernest emosi.
__ADS_1
"Jahat?? Gue?? Asal lo tau Nest, adek sepupu lo itu ngomong ke Lana bahwa gue yang udah ngerusak dia! Dan sekarang Lana pergi." Ujar Tyler.
"Lo kejam gini cuma gara - gara cewek yang baru beberapa hari lo kenal? Fia sama lo lebih dari itu Ty, lebih dari sebulan bahkan lebih dari setahun." Ujar Ernest.
"Dia yang milih jalannya sendiri, dia yang nyari kenikmatan dari cowok dengan berpakaian minim, berias berlebihan, ya udah.. bukannya itu yang dia cari? Dia udah dapet tujuan hidupnya." Ujar Tyler, sembari mengangkat kedua bahunya.
Ernest menggelengkan kepalanya kemudian memejamkan matanya, yang di katakan Tyler benar, tapi dia juga menyayangi adiknya.
"Hufft.. Astaga." Gumam Ernest.
"Gue mau tidur, kalo lo gak ada apa - apa lagi." Ujar Tyler, lalu merebahkan dirinya di sofa tanpa memperdulikan Ernest.
Ernest menatap Tyler yang tidur, dia lalu bangun dan keluar dari apartemen Tyler dengan wajah frustasi.
"Lo lebih dewasa dari kita berempat, Nest. Gue harap lo bisa bijak." Ujar Tyler sebelum Ernest benar benar keluar dari apartemen Tyler. Ernest sempat berhenti di ambang pintu, tanpa berkata apapun tapi akhirnya dia pergi juga.
Tyler membuka matanya ketika Ernest pergi, lalu dia duduk. Dia langsung bergegas ke kamarnya dan tak lama dia keluar sudah rapi dengan seragam sekolahnya dan pergi dari apartemennya.
''Tyler, ketuk pintu dulu sebelum mesuk ruangan saya apa tidak bisa?'' Ucap wali kelasnya, Tyler yang sedang terengah engah langsung saja duduk di depan meja wali kelasnya.
''Bu, apakah Lana Lindsey sudah keluar dari sekolah ini?'' Tanya Tyler, dan wali kelasnya mengernyitkan keningnya.
"Dia masih sekolah di sini, belum menemui saya bahwa dia mau pindah sekolah atau keluar dari sekolah ini." Ujar guru, dan Tyler tersenyum senang mendengarnya. Guru sedikit tertegun ketika melihat senyum Tyler, itu pertama kalinya sang guru melihat Tyler tersenyum.
"Terimakasih." Ucap Tyler dan langsung keluar begitu saja dari ruang guru. Gurunya sampai hanya bisa menggeleng - gekengkan kepalanya.
'Padahal dia tampan dan manis saat tersenyum, tapi sayangnya dia selalu berwajah datar seperti tembok.' Batin gurunya.
Sementara Tyler sendiri langsung kembali ke kelasnya dan di dalam kelas sudah ada Renan yang duduk sendirian di bangkunya. Renan sedikit terkejut melihat Tyler yang ternyata masuk sekolah, dia pikir Tyler mungkin tidak akan masuk sekolah setelah kejadian semalam.
"Ty, lo masuk?" Tanya Renan dan Tyler mengangguk. Tyler langsung duduk dan menatap bangku Lana dengan tatapan seakan tidak sabar untuk melihat Lana lagi.
'Gue harus minta maaf sama Lana.' Batin Tyler. Tapi Tyler tidak tahu bahwa Lana saat ini sedang berada di kantor kepala sekolah, Lana sedang memberikan surat kepindahannya dari sekolah itu.
__ADS_1
"Kamu baru masuk kemari belum lama, tapi sudah mau pindah? beri tahu saya alasan mengapa kamu mau pindah dari sekolah ini? Bukankah sudah bagus sekolah ini mau menanggung biaya pendidikanmu?" Ujar kepala sekolah.
"Pertama, saya selalu di rundung oleh anak bapak. kedua, saya di perlakukan dengan tidak adil oleh para guru, termasuk bapak." Ujar Lana, Kepala sekolah yang mendengar itu menjadi langsung tersindir dan tertohok oleh ucapan Lana.
"Ketiga, saya tidak sama sekali bisa belajar dengan tenang karena selalu mendapatkan hukuman dari guru. Keempat.." Tiba tiba kepala sekolah menyetop Lana dengan mengangkat tangannya.
"Stop - stop, saya mengerti. Tapi kami juga melakukan itu karena kamu salah, jadi jangan membuat seolah sekolah ini yang membuatmu lambat belajar." Ujar kepala sekolah itu berdalih.
"Saya tidak mengatakan sekolah ini, saya hanya menyebut para guru dan kepala sekolahnya." Ujar Lana santai, dan kepala sekolah itu hanya bisa menelan liurnya.
"Baiklah - baiklah, kamu boleh pergi." Ujar kepala sekolah, dan Lana langsung tersenyum senang.
"Pergilah ke kelasmu untuk berpamitan pada teman kelasmu lebih dulu." Ujar kepala sekolah, tapi Lana langsung menggelengkan kepalanya.
"Saya tidak memiliki teman, jadi saya tidak perlu berpamitan. Terimakasih untuk semua yang sudah bapak dan para guru berikan pada saya, pelajaran itu tidak akan saya lupakan sampai kapan pun." Ujar Lana dengan tersenyum, tapi kepala sekolah itu justru merasa tertekan karena yang dia dan para guru berikan pada Lana bukanlah pelajaran, melainkan hukuman yang tidak adil.
"Permisi." Ujar Lana dan keluar dari ruang kepala sekolah ketika bel sekolah sudah berbunyi menandakan semua murid harus masuk. Lana naik ke atap untuk melihat pemandangan sekolah itu yang terakhir kali sebelum akhirnya dia akan pindah ke sekolahnya yang baru.
"Gak ada satu bulan gue di sini, tapi langsung pindah. Padahal dulu gue pengen banget sekolah disini, tapi ternyata apapun itu harus sesuai dengan tingkatnya. Gue cuma orang miskin, jadi sepertinya gue gak cocok sekolah di sekolah orang kaya." Gumam Lana.
Lana kemudian naik di tembok dan duduk menikmati suasana pagi di sana, dari atas dia juga melihat motor Tyler yang selalu terparkir di tempat yang sama, Lana hanya menatapnya kemudian tersenyum.
Kepala sekolah keluar juga dari ruangannya dan menuju ke kelas Lana, Tyler melihat kepala sekolah yang masuk dan berbisik pada gurunya dan wajah gurunya juga menjadi terkejut, lalu terlihat guru itu juga mengangguk - anggukan kepalanya dan kepala sekolah pun kembali keluar.
Gurunya kemudian bangun dan berdiri di depan kelas dengan wajah yang sendu, entah itu sendu sungguhan atau sendu di buat - buat, tidak ada yang tahu.
"Anak - anak, saya ingin mengucapkan kabar, Lana Lindsey sudah resmi keluar dari sekolah ini pagi." Ujar guru, dan Tyler langsung tegang mendengarnya. Teman kelas yang lain seperti Chery dan kawan kawannya justru tersenyum senang mendengar itu.
"Bukannya anda bilang dia masih ada di sini?! Kenapa tiba - tiba asekarang dia sudah keluar dari sekolah?'' Ujar Tyler langsung berdiri, semuanya terkejut melihat Tyler berdiri.
"Lana baru saja keluar dari kantor kepala sekolah, dan kepala sekolah baru memberitahu saya." Ujar Guru dan Tyler langsung berlari keluar dari kelas.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1