
Tyler masih tidak sadar di brankar rumah sakit. Dokter memberinya suntikan obat bius agar Tyler tidak dulu sadar sebelum pendonoran selesai, dan dia di tempatkan persis di sebelah Rion yang saat ini benar - benar sedang kritis.
"Pak, ini sudah melewati batas pendonoran, jika di lanjutkan tuan muda akan kehabisan darah." Ujar dokter.
"Sedikit lagi." Ujar asisten Rion.
Dokter sedikit was - was, apalagi Tyler sendiri juga sedang termasuk demam karena peradangan luka dari balap kemarin.
"Pak.."
"DIAM!! Nyawa tuan Rion sangat penting." Ujar asisten Rion egois.
"Masalahnya tuan muda juga sedang demam, jika di lanjut dia bisa.."
"Tuan muda anak yang kuat, tidak akan terjadi apapun padanya." Sela asisten Rion.
Sampai akhirnya Tyler sadar dan merasakan pusing yang luar biasa. Tyler melihat jarum yang menancap di tangannya dan dia langsung emosi melihat itu.
Dengan gerakan cepat, Tyler langsung mencabutnya.
"Tuan muda, jangan di cabut paksa." Ujar dokter yang panik melihat Tyler,
Darah pun mengalir dari tangan Tyler.
"Beraninya lo!" Ujar Tyler pada asisten Rion.
Saat bangun, kepala Tyler terasa semakin pusing, bahkan pandangannya menggelap.
"Tuan muda, jangan tiba - tiba bangun, anda sedang demam." Ujar Dokter mendekati Tyler, tapi langsung di kibaskan oleh Tyler begitu saja.
"Akhh!" Dokter itu terhuyung ke belakang.
Tyler langsung menghampiri asisten Rion, dan langsung menghajar wajahnya.
"BUGH!" Satu pukulan Tyler yang sedang lemah saja sudah berhasil membuat pria berusia 40 tahunan itu ambruk dan mengeluarkan darah dari hidungnya.
"Berani lo ngambil darah gue!" Bentak Tyler dan kembali menghajar asisten Rion dengan membabi buta.
"Tuan muda! Tolong - tolong." Teriak Dokter yang panik melihat Tyler memukuli asisten Rion sampai babak belur.
Tapi bodyguard Rion pun tidak berani menyentuh Tyler, karena mereka takut akan di pecat oleh Rion nantinya, mereka tidak tahu bahwa Rion tidak pernah menganggap Tyler ada.
"Hosh.. Hosh.. Hosh.." Tyler terengah - engah setelah puas menghajar asisten Rion.
"Bren*sek, lo!!" Umpat Tyler, lalu menendang tubuh asisten Rion begitu saja dan keluar dengan tertatih - tatih setelah menyambar tas miliknya.
Tyler keluar dari rumah sakit itu dengan tubuh lemah, ia langsung menghampiri motornya. Tapi tubuhnya terlalu lemah untuk menggerakan motor, sampai dia hanya diam duduk di atas motornya.
"AARGGH!!" Tyler berteriak. Dia sama sekali tidak rela darahnya di ambil oleh Rion, kebenciannya pada Rion sudah tidak tertolong lagi.
Tyler berjalan ke pinggiran jalan raya dan memanggil taksi. Ia lalu langsung memejamkan matanya karena pusingnya teramat sangat.
Tak berapa lama, Tyler sampai di apartemennya, dia pun langsung masuk dan minum banyak sekali air, lalu merebahkan dirinya di sofa dan tidur.
Waktu berlalu, saat sudah pulang sekolah, Lana mencoba menghubungi Tyler tapi tidak juga di angkat. Dia menjadi khawatir kalau - kalau terjadi sesuatu lagi pada Tyler.
"Aduh, Ty, angkat dong.." Gumamnya.
Lana memesan ojek online lalu pergi dari sekolahnya dengan masih terus mencoba menghubungi Tyler.
__ADS_1
Sementara di apartemen Tyler, Tyler sedang menggigil dan menangis dalam tidurnya. Mulutnya bahkan tak henti - hentinya bergumam.
"Ring.. Ring... Ring.." Bahkan suara dering telepon pun tidak sama sekali membangunkan Tyler dari tidurnya.
"Apa salahku.." Gumam Tyler dalam tidurnya.
Wajahnya sangat pucat, dahinya berkeringat sangat banyak dan dia gelisah dalam tidurnya.
Di tempat lain, Lana sampai di rumahnya dan sudah berganti pakaian menjadi pakaian santai. Ia duduk di sofa dan kembali mencoba menghubungi Tyler.
"Tut.. Tut.. Tut.." Panggilannya hanya berdering, tapi tidak di angkat.
"Apa dia lagi sibuk, ya?" Gumam Lana, lalu mengakhiri panggilannya.
"Udah deh, gue belajar aja, bentar lagi ujian kelulusan.. hadeh puyeng." Gumam Lana dan mulai mengeluarkan laptopnya.
Dia mulai sibuk mengeluarkan semua buku - buku mata pelajarannya, dan mulai sibuk berkutat dengan pelajarannya.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Dua jam kemudian, Tyler sadar ketika merasakan haus yang luar biasa. Dia berjalan dengan susah payah menuju dapur dan meneguk minuman dari kulkas.
"Huft..." Tyler menghembuskan nafasnya ketika merasa sangat pusing.
"Gue belom ngabarin Lana." Ujar Tyler, lalu dia berjalan menuju ke meja dimana ponselnya berada.
"Astaga, kok gue gak denger hape gue bunyi." Gumam Tyler ketika melihat ratusan panggilan tak terjawab dari Lana. Tyler pun langsung menghubungi Lana.
"Halo, Ty.." Sapa suara Lana dari sana.
"Be, maaf aku gak jemput kamu.." Ujar Tyler sambil memegang kepalanya yang kembali berputar.
"Aku nggak apa - apa, be." Sahut Tyler.
"Kamu dimana? Di apartemen?" Tanya Lana. Tyler terdiam, karena dia merasa kembali pusing.
"Ty.." Panggil Lana.
"Hm, iya aku.." Sahut Tyler, tapi tiba - tiba dia hilang kesadaran dan ambruk ke lantai.
"Ty, kamu gak apa - apa?" Tanya Lana.
"Ty.." Panggil Lana lagi.
Di rumah Lana, Lana langsung bangun dari duduknya dan pergi begitu saja meninggalkan setumpuk buku - buku yang sedang dia pelajari.
Dia mengambil jaket dan langsung pergi begitu saja membawa motornya. Untungnya Lana menggunakan celana panjang bermotif batik, jadi tidak perlu ganti celana.
Tak lama, Lana sampai di depan unit apartemen Tyler, ia pun menekan sandi yang terpasang di pintu dan pintu pun terbuka.
"Astaga, Tyler!" Lana, panik ketika melihat Tyler yang berada di lantai.
Dengan susah payah, Lana mengangkat tubuh Tyler ke sofa, dia terkejut karena Tyler ternyata demam tinggi.
"Ya ampun, panas banget badannya, kok dia gak ngabarin aku sih." Gumam Lana.
Lana langsung berlari dengan panik mengambil air untuk mengompres Tyler. Lana kemudian mengelap wajah Tyler yang berkeringat dingin dengan handuk yang kering.
"Bajunya basah banget, kalo gak di lepas dia bisa masuk angin, ntar." Gumam Lana.
__ADS_1
Lana pun membuka kancing baju seragam Tyler, meski dengan kegugupan, dia tetap melakukannya. Hingga akhirnya kini Tyler sudah bertelanjang dada.
"Kamu kenapa, Ty.." Gumam Lana menatap sedih pada Tyler.
Singkat cerita, beberapa jam kemudian Tyler membuka matanya. Dia merasakan sesuatu di keningnya dan dia mengambilnya.
'Anduk? Siapa yang ngompres gue?' Batin Tyler. Tyler pun duduk, dan baru sadar bahawa dirinya bertelanjang dada.
Tyler kemudian mencium bau makanan, dan dia pun bangun menuju ke dapur untuk melihat siapa sosok yang sedang berkutat di dapur.
"Lana.." Gumamnya. Senyumnya merekah ketika melihat Lana sedang sibuk membuat bubur membelakanginya.
Tyler berjalan mendekat tanpa suara, dan tangannya langsung melingkar di perut Lana sampai Lana terkejut.
"Ty, kamu udah bangun?" Tanya Lana, dia hendak memutar tubuhnya, tapi Tyler menahan.
"Aku mau cek suhu badan kamu." Ujar Lana.
"Aku udah sembuh." Sahut Tyler.
"Bohongnya. Awas dulu, aku lagi bikin bubur, pas banget udah mateng nih." Ujar Lana, tapi Tyler menggeleng.
"Ty, ntar tangan kamu kena, loh." Ujar Lana, tapi Tyler tidak bergeming.
"Ayo nikah, be.." Celetuk Tyler, sampai Lana tersedak liurnya sendiri.
"Ish, masih belom cukup umur kita tuh." Ujar Lana.
"Abis lulus, kita nikah, ya?" Ujar Tyler dan lana terkekeh sampai Tyler ikut berguncang karen kekehan Lana.
"Ada ya, orang sakit malah minta nikah." Ujar Lana.
"Aku serius, be.. aku nggak mau kehilangan kamu." Ujar Tyler.
"Bisa lepas dulu nggak?" Ujar Lana.
"Nggak, kamu jawab dulu, kita nikah abis lulus sekolah, ya?" Ucap Tyler, Lana makin terkekeh.
Lana tampak terdiam, dia sejujurnya tidak mau nikah muda, karena dia masih ingin menempuh pendidikan yang lebih tinggi lagi, agar dia dapat kerjaan yang lebih baik juga.
"Kok diem?" Tanya Tyler, lalu memutar tubuh Lana.
"Kamu nggak mau nikah sama aku, be?" Tanya Tyler.
"Bukan nggak mau, Ty.."
"Jadi mau? Oke, ntar abis lulus kita nikah." Ujar Tyler.
"Tapi gimana sama pendidikan kita?" Ujar Lana.
"Kita masih bisa menempuh pendidikan tentu saja, tapi dengan status kita yang udah sah." Ujar Tyler.
Lana berpikir, tapi sejujurus kemudian dia memikirkan ibunya.
"Kamu harus minta restu dari mamaku dulu." Ujar Lana, dan Tyler menepuk keningnya.
"Oh, iya..." Gumamnya, Lana pun terkekeh.
TO BE CONTINUED...
__ADS_1