TYLER: Who Do You Think Am I?

TYLER: Who Do You Think Am I?
EPS. 61. Lupa jadwal tanding, Angga murka.


__ADS_3

Beberapa hari setelahnya, Akhirnya apartemen yang Tyler beli sudah siap di huni, dan saat ini Tyler dan semua teman - temannya termasuk Lana sedang mengemasi semua barang - barang Tyler dari apartemen lamanya.


"Udah kelar bre." Ujar Renan yang menutup semua koper Tyler.


"Lo yakin semua furniturenya gak lo bawa, Ty?" Tanya Luigi.


"Buat apaan? Apartemen gue yang baru lebih kecil, gak bakal muat. Dan lagi, gue juga pengen suasana yang baru, supaya lebih fresh." Sahut Tyler.


"Tar aku bantu dekor." Timpal Lana, Tyler pun langsung mengacungkan dua jempolnya.


"Bener juga sih, mereka juga bagian dari masalalu." Ujar Luigi.


"Ya udah, semuanya udah ready, gue juga udah panggil mobil box yang bakal angkut semua barang - barang lo ini." Ujar Luigi lagi.


"Mana si Jack?" Tanya Renan. Seketika semua orang saling menengok mencari keberadaan Jack.


"Kayaknya tadi dia bilang mau beresin minuman, deh." Sahut Lana.


Semua orang pun berjalan menuju ke dapur, dimana ada meja bar kecil di sana. Dan semua orang melihat Jack yang ternyata sedang tidur meringkuk sambil mulutnya bergumam.


"Yehhh... Ni bocah malah molor, coba!" Ujar Renan geleng - geleng sambil berkacak pinggang.


"Woy Jack!" Panggil Luigi, sambil menendang pelan kaki Jack.


"Hm.. Lima menit lagi, aku masih ngantuk." Sahut Jack.


"Dih! Minta di hajar." Ujar Luigi, dan semua terbahak.


"Kayaknya dia mabok, tuh dia ngabisin anggur sampe setengah botol." Ujar Lana, semua orang pun melihat kearah botol anggur.


"Dasar bocah sengklek! Anggur sebotol gede hampir abis." Celetuk Renan.


"Udah biarin, angkut aja sekalian dia ke mobil box." Ujar Tyler.


"Ide bagus." Ujar Luigi.


Dan akhirnya semua orang pun keluar membawa koper - koper milik Tyler. Luigi mendorong troli yang membawa koper dengan Jack di atasnya, bahkan Lana tidak bisa berhenti tertawa melihat Jack yang tidak mau sadar bahkan setelah di gotong ke atas koper.


"Astaga, gue rasa meninggoy ni anak." Ujar Ernest yang baru melihat Jack.


"Lah, ini mas nya kok tiduran di atas koper?" Tanya supir mobil box.


"Angkut aja pak, ntar ketemu di lokasi tujuan." Ujar Luigi. Supir itu pun hanya bisa menggaruk - garuk kepalanya, tapi akhirnya mengangguk juga.


"Oke deh." Sahutnya. Jack pun sungguhan di angkut ke dalam mobil box.


Tapi saat supir mobil box hendak mengangkat Jack di bantu Renan, Jack bangun dari pingsan nya seperti mayat hidup, semua orang pun terkejut di buatnya.


"Astaga!" Supir mobil box itu terkejut.


"Wah, kenapa di kepala gue banyak banget bintang sama burung terbang muter - muter?" Gumam Jack dengan mata juling.


"Ssh! Brisik, tidur aja lo. Mabok aja bikin orang jantungan." Ujar Luigi langsung menoyor Jack sampai Jack kembali tidur.


"Iya gue tahu, gue nyusahin.." Gumam Jack, dan air matanya meleleh.

__ADS_1


Seketika semua orang tertegun dan merasa bersalah pada Jack. Jack terisak kecil dan tubuhnya sedikit berguncang.


"Dia kenapa, Ty? Perasaan tadi gak apa - apa." Tanya Lana.


"Mungkin dia ada masalah sama keluarganya, gak apa - apa.. dia cuma mabok, tar kalo udah sadar juga balik ke mode tengil lagi." Ujar Tyler menenangkan Lana.


"Sorry Jack, gue gak bermaksud gitu." Ujar Luigi.


"Pak, saya ikut ke mobil box aja, nemenin temen saya." Ujar Luigi.


"Oke." Sahut supir mobil box itu.


Akhirnya Jack pun di angkat ke atas mobil box dan di rebahkan di atas koper dengan Luigi yang menemaninya.


"Ayo, be." Ajak Tyler, dan Lana mengangguk. Semuanya pun beriring - iringan menuju ke apartemen baru Tyler malam itu juga.


Hingga beberapa saat kemudian, mereka semua sudah sampai di apartemen baru Tyler dan barang - barang Tyler langsung di bantu untuk di angkut ke atas oleh pihak keamanan gedung.


Setelah sudah masuk ke dalam, Renan, Luigi dan Ernest terkejut melihat suasana baru apartemen Tyler.


"Wah.. Ini si lebih nyaman dari yang di sonoh, Ty." Ujar Renan berdecak kagum.


"Eh, itu Jack nya taro dulu di sofa, kasian." Ujar Lana.


"Oiya, lupa Na." Ujar Luigi. Akhirnya Jack pun di rebahkan di sofa yang berada di ruangan apartemen Tyler.


"Udah malem, be. Aku anter pulang yuk." Ajak Tyler.


"Oiya, udah jam sembilan." Ujar Lana, ia juga menepuk keningnya karena lupa waktu jadi tidak ikut tanding balap.


Akhirnya Lana dan Tyler kembali turun ke bawah, tapi Lana jadi tidak tenang sekarang.


"Kenapa, be?" Tanya Tyler, yang melihat guratan kecemasan di wajah Lana.


"Bang Angga pasti nungguin aku, Ty. Kemaren aku udah bilang mau dateng, tapi aku malah lupa." Ujar Lana.


"Besok aja hubungin dia nya, bang Angga pasti ngerti kok." Ujar Tyler mencoba menenangkan Lana, Lana pun mengangguk.


Tyler pun mengantar Lana sampai di rumahnya yang kini jaraknya tidak terlalu jauh dari apartemen baru Tyler.


"Istirahat ya, be. Aku pulang dulu." Ujar Tyler mengusap kepala Lana.


"Ati - ati di jalan, Ty." Ujar Lana, dan Tyler mengangguk.


Tyler pun pergi, dan sepeninggal Tyler, Lana langsung masuk kedalam rumah. Bukan untuk tidur, melainkan mengeluarkan motornya dan berganti jaket menjadi jaket laki - laki, lalu pergi dari rumahnya.


Lana dengan kecepatan tinggi membelah jalanan menuju ke arena balap milik Angga. Tak sampai lima belas menit, dia pun sudah sampai di tempat Angga.


"Bang." Panggil Lana, tapi wajah Angga terlihat sangat muram sekarang.


"Ngapain lo dateng?!" Bentak Angga pada Lana. Neo yang melihat itu pun langsung menarik bahu Angga.


"Ngga, jang.."


"Pacaran aja lo sono! Gak usah balik - balik ke sini! Gara - gara elo, tempat ini rugi banyak tau gak!" Bentak angga, dan Lana terkejut.

__ADS_1


"ANGGA!!" Bentak Neo.


"Lo mau bela dia?! Jelas - jelas gue udah ngewanti - wanti bahwa malem ini dia bakal dateng, dia sendiri juga yang bilang bahwa dia bakal dateng, nyatanya ZONK! Dia sibuk pacaran!" Ujar Angga berapi - api.


"Lo denger ya Na, kalo lo gak ada respect sama tempat ini, gue dan Neo, lo keluar!" Ujar Angga lagi.


Setelah mengatakan itu, Angga pun pergi meninggalkan Lana dan Neo. Bisa Lana lihat betapa emosinya Angga saat ini, karena Angga termasuk orang yang sabar, dan saat ini mungkin kesabarannya sudah di ujung tanduk.


"Dia cuma lagi emosi, Na. Lo jangan masukin ke hati." Ujar Neo, menepuk bahu Lana.


"Sorry bang, gue abis bantuin pindahan, dan gue lupa malem ini ada tanding." Ujar Lana, Neo bahkan menghembuskan nafasnya mendengar alasan Lana.


"Kita rugi berapa bang?" Tanya Lana dengan takut - takut.


"Seratus lima puluh, dan itu di menangin sama cowok yang baru - baru ini sering ikut tanding." Ujar Neo, dan Lana meranga.


'Seratus lima puluh? pantesan bang Angga marah berat.' Batin Lana.


"Gue bakal ganti itu bang." Ujar Lana.


"Pake apa? Lo aja dapet penghasilan dari sini, kan? Udah gak usah di pikirin, besok - besok kalo lo udah nyanggupin dateng, lo harus dateng. Gue mau hibur Angga dulu." Ujar Neo.


"Malem ini... apa ada tanding lagi?" Tanya Lana, dan langkah Neo terhenti.


"Jangan, saingan lo berat - berat kalo ronde ke dua." Ujar Neo.


"Gue ikut." Ucap Lana.


"Nggak usah, lo pulang aja." Ujar Neo.


"Bang please.. Gue bakal buktiin kalo gue masih punya respect sama kalian dan tempat ini." Ujar Lana.


"Jangan dengerin Angga, dia cuma lagi emosi, Na."


"Bang.. Please, kasih gue kesempatan." Ujar Lana memohon.


Dengan segala perdebatan batin, Neo pun akhirnya mengangguk. Lana pun tersenyum melihatnya.


"Siap - siap, jam sebelas nanti kita mulai. Lo kalo mau istirahat mending di ruangan gue, Angga masih belom jinak." Ujar Neo dan Lana mengangguk.


Dan akhirnya setelelah Lana beristirahat sejenak, dia pun kini sudah siap memacu motornya di arena balap.


"L! L! L!" Teriak para penggemar Lana. Mereka kembali memasang taruhan untuk Lana.


"Raja jalanan dateng." Teriak seseorang, Lana yang mebdengar itu pun melirik kearah Raja Jalanan yang tak lain dan tak bukan adalah Tyler.


'Lana, kenapa dia malah ada di sini?' Batin Tyler terkejut ketika melihat kekasihnya itu berada di arena balap.


'Apa dia lagi butuh uang, kenapa dia gak cerita ke gue kalo dia lagi kesulitan?' Batin Tyler.


Berbeda dengan Tyler, Lana justru menatap Tyler dengan tatapan tidak enak, karena yang Lana tahu, Raja jalanan adalah Asher, bukan Tyler.


'Asher, udah lama gak ketemu, dia masih balap di sini juga rupanya.' Batin Lana, tanpa dia curiga bahwa Asher itu adalah Tyler.


TO BE CONTINUED..

__ADS_1


__ADS_2