
Tyler duduk berdiam di markasnya, dan pikirannya sedang sangat kacau saat ini. Luigi menjadi seperti itu, dan sekarang geng motornya juga sedang di selidiki polisi satu persatu.
"Gue inget Ty, Luigi minum minuman yang di bawain sama anak geng nya Kyle, dia bilang sebagai tanda penghormatan dalam pertandingan itu." Ujar Jack.
Tyler menatap Jack, kemudian dia mendapatkan sebuah pandangan.
"Berarti sejak awal Kyle udah nargetin Luigi, dia tahu bahwa gue gak bakal tanding bareng dia dan dia sengaja ngajak gue tanding. Dia tahu yang selalu gantiin gue Luigi, pasti ini udah di rencanain." Ujar Tyler.
"Tapi apa kaitannya Luigi ama tuh anak? Sorry, maksud gue, kan mantan nya Fia elo Ty, bukan Luigi. Kok Kyle ngincernya Luigi?" Ujar Renan.
Terdengar suara motor datang dari luar, itu adalah Ernest yang datang dengan tergesa.
"Ada apaan, kok lo pucet gitu?" Tanya Jack pada Ernest.
" Untung kalian belom pergi, Kyle ngajak tanding." Ujar Ernest nafas terengah - engah.
Tyler yang kebetulan sedang emosi dengan Kyle langsung bangun dan hendak pergi, tapi Ernest kangsung menghadangnya.
"Ty, lo kemana?" Tanya Ernest.
" Nemuin si ban*sat itu, lah! Dia ngajak gue tanding, kan!? Gue jabanin sekaligus gue mau kasih dia pelajaran." Ujar Tyler, tapi Ernest menggelengkan kepalanya.
"Gak Ty, jangan. Dia nyiapin jebakan, udah lo di sini aja, jangan ada satu pun dari kita yang dateng ke sana." Ujar Ernest.
"Dia udah bikin Luigi masuk pusat rehabilitasi, Nest! Gue gak terima itu, Luigi anak baik - baik, dan dia udah bikin hidup Luigi hancur." Ujar Tyler, dia hendak melangkah pergi, tapi lagi - lagi Ernest menghalanginya.
"Targetnya dia tuh elo, Ty!" Ujar Ernest dan Tyler terdiam menatap Ernest.
"Dia sengaja ngambil satu persatu orang yang lo sayang. Dari Fia, Luigi, dan kali ini.. mungkin salah salah satu dari gue, Jack dan Renan. Dia pengen lo hancur, karena dia gak pernah bisa nyaingin elo." Ujar Ernest lagi.
"Masuk akal." Ujar Jack mengangguk - anggukan kepalanya.
"Ya, dia kemaren nargetin Luigi, bisa jadi malem ini dia nargetin salah satu dari kita bertiga. Ty, Ernest bener, lo jangan kesana. Bukannya gue takut di apa - apain, tapi gue takut lo jadi dapet masalah gara - gara kasus yang menimpa kami nanti." Ujar Renan.
Tyler menjadi semakin marah sekarang, dia ketua di gengnya, tapi dia tidak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan temannya.
"Oke." Ujar Tyler akhirnya. Semua orang akhirnya duduk dan memikirkan semua yang mungkin akan terjadi, mereka tidak tahu apa yang sudah Kyle rencanakan, bagai kucing dalam karung.
Tyler tiba - tiba bangun dari duduknya ketika hari sudah larut malam. Renan terbangun ketika mendengar bunyi suara motor Tyler, dia pun langsung berlari mengejar Tyler.
"Lo mau kemana?" Tanya Renan, menahan bahu Tyler.
__ADS_1
"Gue cuma mau cari angin, gue gak bisa tidur." Ujar Tyler, tapi Renan enggan membiarkan Tyler pergi.
"Jangan khawatir, gue gak bakal ngelakuin hal bodoh." Ujar Tyler, dan Renan mengangguk.
Tyler pun melajukan motornya pergi dari ruko, dan Renan kembali masuk kedalam lalu mengunci ruko itu dari dalam.
Tyler membelah jalanan malam yang hampir pagi itu, di kepalanya saat ini sangat penuh dengan masalah. Dia tentu tidak menginginkan sesuatu terjadi pada teman - temannya, dan saat ini dia sedang mencari jalan yang terbaiknya.
Tyler berdiri di jembatan, dia menatap lalu lintas kota Jakarta yang tidak pernah mati walau hari sudah hampir pagi. Berjam - jam dia di sana, sampai tiba tiba dia terkejut karena tiba - tiba Lana berdiri di sebelahnya.
Lana menatap Tyler dan Tyler pun demikian, mereka saling tatap tatapan. "Gue tau pengedar nark*ba di daerah sini." Ujar Lana tiba tiba, dan Tyler mengernyitkan keningnya.
"Bobi, dia pengedar yang paling aktif di daerah sini." Ucap Lana, lalu berjalan pergi. Ketika sudah berjalan beberapa langkah Lana di cekal oleh Tyler.
Tatapan Tyler sangat tajam saat ini kepada Lana, Lana sampai takut melihat tatapan setajam mata elang itu. Tapi Tyler kemudian melepaskan tangan Lana, dan Lana langsung berlari pergi dari sana. Tangan Tyler mengepal dan di otaknya saat ini langsung menyusun rencana.
Singkat cerita, Esok malamnya Tyler mengajak Renan, Jack dan Ernest untuk mendatangi markas Kyle, dia membawa tongkat baseball di balik jaketnya.
"Ty, itu anak anak geng nya Kyle pada cabut, pasti di dalem gak banyak orang." Ujar Renan, dan Tyler mengangguk.
Tyler langsung melompati pagar dan di ikuti oleh ketiga temannya, mereka semua menggunakan masker hitam untuk menutupi wajah mereka, Tyler langsung mendobrak pintu dan membabi buta.
"Woi! Woi! Woi! Kita di serang." Teriak seorang dari anak geng Kyle.
Tyler langsung memukul anak itu dengan tongkat baseball nya, dia tidak menaruh rasa kasihan atau kemanusiaan, karena anak itu juga sudah mencekoki Luigi dengan nark*ba.
"Ban*sat lo! Lo yang udah nyekokin Luigi kan!? Mati aja lo." Ujar Tyler sembari memukuli anak itu. Renan sampai ternganga melihat begitu brutalnya Tyler memukuli anak itu.
"Ty! Dia bisa mati Ty!" Ujar Renan.
"Emang itu yang gue mau, dia udah bikin Luigi jadi pecandu!" Ujar Tyler dan terus memukuli anak itu dengan tinjunya.
"Ty, Ren cepet cabut rombongan Kyle banyak banget dateng." Ujar Jack.
"Ty, udah Ty. Ayo cabut." Ujar Renan memisah Tyler dari anak geng Kyle yang sudah tidak bergerak.
Tyler menyudahi pukulannya hingga nafasnya terengah - engah. Renan mengecek nafas anak itu dan dia terkejut. "Dia mati, Ty." Ujar Renan.
"Ayo cabut! Sebelom ada yang liat." Ujar Renan dan menarik Tyler, kemudian pergi dari sana.
Tyler, Jack, Renan dan Ernest langsung pergi dari markas Kyle tanpa sempat menemukan keberadaan Kyle. Tapi Tyler sudah membunuh orang, dan itu adalah tindakan kriminalnya yang pertama kali dalam seumur hidup.
__ADS_1
Siang harinya, di sekolah..
Tyler dengan langkah lebarnya tiba - tiba datang ke kelas dan menghampiri Lana yang sedang duduk di mejanya mengerjakan PR.
"Ikut gue." Ujar Tyler dan menarik tangan Lana begitu saja.
Semua orang di kelas terkejut melihat Tyler yang tiba tiba menggandeng tangan Lana dan berlari keluar dari kelas.
"Oh my god! apa gue gak salah liat tadi?" Ucap Chery.
"Mampus tuh anak, Tyler kan kejam." Ujar teman Chery.
Jack dan Renan saling pandang, tapi mereka tidak mengikuti Tyler dan Lana, karena mereka pikir Tyler memang mengenal Lana tanpa sepengetahuan mereka.
Sementara itu, Tyler dan Lana sampai di parkiran sekolah. Lana langsung mengibaskan tangannya dari cengkeraman Tyler.
"Gila ya lo?! Gue lagi ngerjain PR, ngapain lo narik gue kemari?" Ujar Lana.
"Tempat pengedaran nark*ba yang lo bilang, bisa tolong lo tunjukin ke gue dimana tempatnya?" Ucap Tyler.
"Ya gak sekarang juga, kan!? Gue.."
"Sekarang, please.." Ujar Tyler, dengan sungguh - sungguh. Lana menjadi bingung, Dia belum selesai mengerjakan PR nya, tapi Tyler sudah meributinya.
"Temen gue udah kena, dan kalo ini di biarin, mereka bakal semakin merajalela dan akan semakin banyak anak - anak muda yang terjerumus dengan nark*ba." Ujar Tyler.
"Gue juga tau, kok." Ujar Lana.
"Ya udah, ayo. Kenapa lo gak mau anterin gue?" Tanya Tyler.
"Bukan gak mau anterin lo, lo dateng tiba - tiba dan ngomong dadakan, gue lagi ngerjain PR." Ujar Lana.
"PR bisa nanti, ayo naik." Ujar Tyler, dan naik ke atas motornya.
"Gue gak punya helm." Ujar Lana, Tyler kembali turun dan mengambil helm milik Renan dan memberikannya pada Lana.
"Nih, pake." Ujar Tyler, Lana menatap helm yang begitu besar itu.
"Helm siapa ini?" Tanya Lana. Tapi Tyler tidak menjawabnya, dia yang kesabarannya setipis tisu langsung kembali mengambil helm itu dan memakaikannya di kepala Lana.
"Bawel!" Celetuk Tyler, dan Lana langsung memukul lengan Tyler, dan akhirnya mereka pergi dari sekolah sebelum bel masuk sekolah berbunyi, mereka bolos.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..