
"Dah sampe belom??" Tanya Lana pada Tyler dengan mata terpejam.
"Belom, bentar lagi." Ujar Tyler, tetapi ia tersenyum di balik maskernya.
"Kok lama? Perasaan kita parkirin motor tadi gak jauh dari kita duduk." Ujar Lana, masih dengan mata terpejam.
"Bawel." Ujar Tyler, dan Lana langsung menepak lengan Tyler.
"Jangan - jangan kita di sesatin hantu, lagi!" Ujar Lana, Tyler hampir terbahak mendengarnya.
Lana paling tidak suka hantu, dia sangat takut hantu. Setengil - tengilnya Lana dan se absurd - absurd tingkah pemberaninya Lana, dia takut dengan satu hal, hantu.
Lana bahkan berjalan bergandengan tangan Tyler dengan mata Lana yang terpejam, dia sangat tidak mau melihat kengerian pemandangan di sekitarnya, lebih baik dia merem dan Tyler yang menuntun jalan.
"Lain kali jangan bawa gue tempat ginian sore - sore, ah!! Gue takut tempat beginian." Ujar Lana mulai cerewet.
"Niatnya gue mau ajak lo liat kunang - kunang, tapi lo nya takut gelap." Ujar Tyler menjelaskan.
"Gimana gak takut, serem gitu. Udah gitu lo nya bilang mau tidur." Ujar Lana, Tyler hanya bisa terkekeh melihat wajah Lana yang lucu.
Lana ikut saja kemana Tyler melangkah, padahal sejak tadi Tyler memutari motornya, seperti orang India yang sedang menikah dan mengitari api suci dalam upacara mereka.
"Asher, ini serius kita gak nyasar?" Ujar Lana lagi, Tyler akhirnya berhenti. Dia kasihan juga mengerjai Lana terlalu lama.
"Udah sampe, buka mata lo." Ujar Tyler, tapi Lana menggeleng kuat.
"Ogah! Bawa gue keluar dulu dari sini, gue gak mau buka mata." Ujar Lana, Tyler terkekeh mendengarnya.
"Ya udah ayo naik." Ujar Tyler dan Lana dengan susah payah meraba - raba motor Tyler dan naik ke atas motor Tyler.
"Menurut warga di sini, di tempat kita sekarang berada ada yang mati gak wajar, loh." Ujar Tyler.
"Asher! Lo ngomong lagi, gue jitak beneran!" Rengek Lana, dan Tyler menahan kekehannya.
"Katanya ada yang ikut bonceng di belakang, kalo ada yang lewat pake motor sendirian." Ujar Tyler melanjutkan.
"Asher!" Rengek Lana, dia makin menempelkan tubuhnya pada Tyler, dan tanpa sadar dia memeluk Tyler dengan erat.
"Kok lo peluk - peluk? Katanya kita no skinship?" Ujar Tyler menahan tawanya.
"Diem lo! Salah lo udah bikin gue takut, buruan pergi dari sini." Ujar Lana, mencubit perut Tyler.
"Adeh! Sakit, Na.." Ujar Tyler, berpura - pura.
"Cepet jalan." Ujar Lana, dan Tyler terkekeh.
Akhirnya Tyler melajukan motornya dengan Lana yang menempel seperti ulat di belakang Tyler, Tyler hanya tersenyum merasakan perutnya di peluk sedemikian erat oleh Lana yang katanya no skinship.
__ADS_1
'Kalo gue gak bohongin dia, dia gak bakalan ada inisiatifnya meluk gue.' Batin Tyler sembari sesekali melihat tangan Lana yang memeluk perutnya.
'Tapi kenapa dia teriak manggil nama gue, bukan Asher? Apa dia ngerasa gue yang ada sama dia, bukan Asher?' Batin Tyler bingung.
Hingga sudah berada di jalanan yang ramai, Lana masih memeluk Tyler. Hingga Tyler merasa aneh sebab Lana diam saja.
"Na." Panggil Tyler, karena tidak ada jawaban dari Lana, Tyler menepi dan menghentikan motornya.
"Na." Panggail Tyler lagi, dan Lana pun bergerak.
"Hm, udah sampe?" Tanya Lana dengan tampang terkantuk - kantuk.
Tyler menggelengkan kepalanya melihat itu, bisa - bisanya Lana tidur di boncengan motor padahal Tyler tadi melaju dengan kecepatan yang lumayan tinggi.
"Astaga, Na.. lo tidur?" Ujar Tyler, dan Lana mengangguk - angguk lucu.
"Hehe, ngantuk." Kekeh Lana.
"Untung lo gak terbang dan ketinggalan di jalan, tadi." Ujar Tyler, Lana pun terkekeh.
"Jangan gitu, Na.. kalo lo jatoh gimana? Itu bahaya." Ujar Tyler serius.
"Iya - iya maap, abisnya gue merem, jadinya bablas. Apa lagi anginnya sepoy - sepoy." Sahut Lana.
Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan dan sampai di depan rumah Lana. Lana turun dengan wajah masam nya, dan menatap Tyler malas.
"Sampe besok." Ujar Tyler.
Saat setelah melanjutkan perjalanan tadi, Tyler membawa Lana makan di rumah makan pinggir jalan, dan Tyler mengatakan pada Lana bahwa dia akan mengantar dan menjemput Lana setiap hari ke sekolah.
Lana tentu tidak mau, dia merasa tidak bebas. Apa lagi dia tidak biasa di antar jemput orang lain.
"Nurut ya.. Kan gue pacar lo, sekarang." Ujar Tyler.
"Ck!" Decih Lana.
"Na, gue mau nanya boleh?" Ujar Tyler, ingin memastikan sesuatu.
"Apa?" Sahut Lana.
" Kenapa pas lo takut tadi, lo teriak manggil nama Tyler? Padahal yang ada sama lo, gue." Ujar Tyler. Lana sedikit terkejut, dia tidak sadar.
"Mana ada, emang iya? Lo salah denger kali." Ujar Lana. Tyler pun jadi mengernyit bingung.
'Apa dia gak nyadar udah teriak manggil nama gue?' Batin Tyler.
"Ya udah, mungkin gue salah denger. Masuk gih, besok gue jemput." Ujar Tyler dan Lana mengangguk.
__ADS_1
"Bye Asher." Ujar Lana dan langsung masuk ke dalam. Tyler pun langsung pergi dari depan rumah lana.
Tapi saat di dalam kamarnya, Lana kembali mengingat - ingat dengan kejadian memalukan sebelumnya itu.
"Apa iya gue manggil dia Tyler, bukan Asher? Kok bisa??" Gumamnya sendiri.
"Tapi gak tau kenapa gue ngerasa kalo gue sama dia, rasanya sama kayak kalo gue sama Tyler." Gumam Lana, dan berpikir keras.
"Kenapa? Kok melamun??" Tanya ibu Lana yang masuk kedalam kamar membawakan seragam sekolah Lana yang baru di setrika.
"Mama, Lana bisa setrika baju Lana sendiri. Mama udah capek, jangan urusin seragam Lana." Ujar Lana.
"Gak papa, mama nggak capek." Ujar ibu Lana, lalu duduk di ranjang Lana.
"Tadi pacarmu?" Tanya ibu Lana, dan Lana bingung harus menjawab apa, pasalnya dia sendiri yang mengatakan pada ibunya bahwa dia tidak mau pacaran saat sekolah.
"Gak perlu takut, mama pernah muda jadi mama juga tahu apa yang sedang di rasakan oleh remaja seusia kamu." Ujar ibu Lana.
"Iya, ma." Sahut Lana.
"Ciee.. anak mama udah bisa jatuh cinta." Ujar Ibu Lana, senang. Tapi Lana malah berwajah biasa saja dan justru terkesan tidak suka.
"Kok ekspresinya gitu?" Tanya ibu Lana.
"Cinta tuh apa si, ma?" Tanya Lana akhirnya, karena dia tidak tahu menahu tentang cinta.
"Cinta?? Bukannya kamu sudah merasakannya?" Ucap ibu Lana, heran.
"Sejujurnya Lana pacaran sama dia tuh terjadi gitu aja, gak ada kata cinta atau apa." Ujar Lana, ibunya mengernyit bingung.
"Gitu aja, gimana??" Tanya ibu Lana.
"Dadakan." Ujar Lana singkat, ia tidak mau menceritakan pada ibunya bahwa dia menjadi pacar Asher/Tyler karena demi menyembunyikan identitasnya.
"Saat kamu jatuh cinta, kamu akan terus memikirkan orang itu, tanpa sadar kamu banyak tersenyum karena memikirkannya. Jantungmu berdebar dengan tidak normal ketika dekat dengannya, dan saat berjauhan.. kamu akan merindukannya. Itu namanya jatuh cinta." Ujar ibu Lana menjelaskan.
Lana terdiam mendengarkan ucapan ibunya, ia mengingat - ingat apa dia pernah merasakan seperti itu, dan yang di pikirannya adalah Tyler.
---------------------
Sementara itu, Tyler sendiri sudah sampai di apartemennya. Dia membuka helm, dan bernafas dengan lega setelah ber jam - jam dia tidak membuka helm.
"Gila, pengep banget." Gumam Tyler.
Rambutnya bahkan sampai lepek karena dia terlalu lama menggunakan helm. Tyler mengeluarkan ponselnya, kini dia punya dua ponsel, satu ponsel adalah khusus untuk Lana.
Tyler membuka ponselnya yang lama dan terkejut ketika melihat pesan yang masuk.
__ADS_1
"Fu*k!!" Gumamnya dan langsung masuk kedalam kamarnya untuk mengganti pakaian lalu memakai helmnya lagi dan pergi dari apartemennya.
TO BE CONTINUED..