
Luigi menyuruh Lana untuk menghampiri Tyler, karena hanya dengan Lana, Tyler bisa baik - baik saja. Lana pun berjalan mendekati Tyler yang sedang duduk di batu besar yang berada di bibir tebing.
Tatapan Tyler kosong, dia melamun dengan mata yang terus menatap pemandangan yang jauh itu dengan wajah sendu.
Tyler tertegun karena tiba - tiba dia merasakan tangan yang mengalung di lehernya.. Ia hampir saja melepas paksa tangan itu hingga gerakannya terhenti saat dia mendengar suara yang sangat dia kenali.
"Ty.." Lana bersuara. Tyler tertegun sesaat, tapi kemudian ia mengusap lembut tangan kekasihnya itu.
Lana memeluk Tyler dari belakang, namun posisinya seperti Lana tengah gendong di punggung Tyler. Lana bahkan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Tyler, ia ikut bersedih.
"Be, kok kamu kesini?" Tanya Tyler, ia berusaha mengendalikan emosinya.
"Karena pacar aku ada di sini." Sahut Lana, Tyler tersenyum mendengarnya.
Tyler melepas dengan lembut tangan Lana, lalu ia memutar tubuhnya melihat Lana. Tyler terkejut karena Lana tampak sedang menangis namun tidak terisak, Tyler pun menghapus air mata Lana.
"Kok nangis??" Tanya Tyler, sambil mengusap air mata Lana.
"Karena aku sakit." Sahut Lana.
"Dimana? Apanya yang sakit? Apakah kakimu sakit lagi?" Tanya Tyler dengan khawatir, lalu melihat kaki Lana.
"Bukan di siti, tapi di sini.." Ujar Lana menepuk dadanya.
Lana tidak kuat melihat wajah Tyler yang menahan luka tapi tetap berusaha terlihat baik - baik saja di hadapannya, dia pun berhambur memeluk Tyler.
"Jangan berpura - pura kuat, Ty.. nangis itu hal yang wajar. Spiderman aja bisa nangis, kok." Ujar Lana.
Lana ingin agar Tyler bisa melepaskan sesak di hatinya dengan menangis. Tyler memeluk erat tubuh Lana dan dari matanya, menetes sebutir air mata dengan nafas Tyler yang tidak teratur.
Lana mengusap - usap punggung Tyler dengan sesekali menghapus air matanya sendiri. Lana membiarkan Tyler menangis sepusanya, tubuh kecilnya seakan tenggelam di dalam pelukan Tyler, tapi dia tak mengapa.
Dan setelah Tyler tenang, ia melerai pelukannya dari Lana dan mereka saling pandang. Lana menghapus air mata Tyler yang membuat wajah Tyler sembab.
"Mau gak janji satu hal?" Tanya Lana dengan senyum di bibirnya.
"Apa?"
"Jangan nangis sendirian lagi, jangan benci dirimu sendiri lagi, jangan tenggelam dalam lukamu sendirian lagi." Ujar Lana.
"Itu lebih dari satu, be." Sahut Tyler dan Lana tersenyum.
"Oke, sorry. Tapi aku serius, Ty.. Kamu itu spesial, kamu hebat, karena kamu masih bisa bertahan meskipun keadaanmu sebegitu hancurnya. Jangan benci dirimu lagi." Ujar Lana.
"Kamu adalah anak Tuhan yang sepsial. Hari ini bukan hari terkutuk, tapi hari ini adalah hari paaaling bersejarah, dimana Tuhan sudah menciptakan seorang anak laki - laki yang sangat hebat dan kuat bernama Tyler." Ucap Lana.
"Terimakasih sudah lahir kedunia, Tyler.. Jika kedua orang tuamu tidak mencintaimu, maka kamu harus ingat bahwa.. Tuhan selalu mencintaimu." Ujar Lana lagi.
Tyler terdiam, dia benar - benar terharu dengan apa yang Lana ucapkan. Lana kembali memeluk Tyler, lalu berucap..
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu." Ucapnya tepat di telinga Tyler. Tyler tersenyum kecil mendengarnya.
"Luigi, Renan, Jack, Ernest, mereka semua menyayangimu, kamu adalah teman yang baik, leader yang baik, dan keluarga yang baik bagi mereka. Jadi kamu tidak sendirian." Ujar Lana lagi.
"Makasih, be." Ucap Tyler dan ia tersenyum kecil.
Tyler melepas pelukannya dari Lana, kemudian ia mencium bibir Lana di bawah cahaya senja sore itu. Begitu manis, hingga Luigi yang melihat di sisi lain tempat itu ikut menghapus air matanya.
"Emang Lana tuh takdirnya Tyler. Cuma sama Lana Tyler bisa berubah jadi lebih baik, bahkan bisa ngendaliin emosinya." Gumam Luigi.
Singkat cerita, sore berganti malam. Tapi Lana dan Tyler masih setia berada di sana, di bawah cahaya bulan dan menatap pemandangan malam yang begitu indah dari atas bukit.
Luigi sudah pulang setelah dia menemui Tyler sebentar, dan kini di sana hanya ada Lana dan Tyler saja berdua.
Kepala Tyler berada di paha Lana dan Lana mengusap - usap rambut Tyler dengan sayang.
"Ty.." Panggil Lana dengan pelan.
"Hm.." Sahut Tyler.
"Pulang, yuk." Ajak Lana, sejujurnya sejak tadi Lana sudah merasa ngeri kalau - kalau ada hantu yang muncul.
"Kita nginep di sini ya, be. Besok kan libur sekolah." Ujar Tyler dan Lana terkejut.
"Ng-nginep? di sini?" Tanya Lana.
"Iya, kan besok libur sekolah, kita gak perlu sekolah." Sahut Tyler.
"Enggak, be.. kita nginep di rumah ambu." Ucap Tyler.
"Apa gak ngerepotin, Ty? Ini juga udah malem banget." Ujar Lana.
Memang benar, jam bahkan sudah menunjukan pukul delapan malam. Tapi di sana terasa sangat sepi dan senyap, karena jauh dari hingar bingar kota.
"Ya udah, kita cari penginapan aja." Ujar Tyler dan Lana terkejut.
"Penginapan? Tapi kita masih SMA, apa boleh?" Tanya Lana, Tyler pun terkekeh mendengarnya. Tyler bangun dari pangkuan Lana dan menatap Lana.
"Boleh, be.. di dekat sini ada kok penginapan yang biasa aku dan temen - temen nginep." Ucap Tyler, tapi Lana langsung menggeleng.
Di pikiran Lana langsung muncul penggerebekan warga seperti yang ada di berita - berita, dan dia tidak mau itu terjadi padanya walau dia dan Tyler tidak melakukan apapun.
"Kita pulang saja, yuk. Aku takut di grebek warga, Ty. Tar masuk berita pagi kan gak lucu." Ujar Lana, dan Tyler langsung terkekeh mendengarnya.
"Astaga otakmu be.. Masa kita di grebek." Ujar Tyler, dia tidak menyangka Lana akan berpikir sejauh itu.
"Ya soalnya kan banyak sliweran berita penggrebekan, aku gak mau jadi salah satu bahan berita itu." Ucap Lana, Tyler pun menyentil gemas kening pacarnya itu.
"Ih, kok di sentil, sakit tahu." Ujar Lana mengusap - usap keningnya dengan bibir manyun.
__ADS_1
"Soalnya aku gemesh sama kamu." Ucap Tyler, lalu mengacak rambut Lana.
"Tyler..." Rengek Lana.
"Oiya.. Iya.. Maaf ya, be.." Ujar Tyler, tapi Lana hanya diam menatap Tyler kesal. Tapi tiba - tiba terdengar suara kikikan dari atas pohon.
"Kikikik!"
"HUA!! HANTU!!" Teriak Lana dan langsung berhambur kepelukan Tyler.
Tyler terkekeh melihat betapa Lana ketakutan, tapi dia tetap memeluk Lana erat - erat.
"Ty, pulang ayok! Aku takut di sini." Rengek Lana, Tyler benar - benar terbahak. Ia lupa dengan masalah yang sebelumnya membuat dirinya melow.
"Oke - oke, ayo kita pulang." Ujar Tyler akhirnya.
Lana langsung beringsut naik ke pangkuan Tyler, dia enggan turun dan terus menempel di pelukan Tyler.
"Gimana aku jalannya, be.." Ujar Tyler sambil terkekeh.
"Aku takut, itu tadi suara hantu, kan?" Ucap Lana dan semakin erat memeluk Tyler.
"Bukan, itu tupai." Ucap Tyler.
"Mana ada tupai begitu, itu jelas - jelas orang ketawa." Ucap Lana.
"Kikikik!" Kembali suara itu terdengar.
"HUAAA MAMA!!" Lana semakin ketakutan. Tyler sampai mendongak karena Lana benar - benar menguasai tubuhnya.
Tyler menyadari bahwa Lana benar - benar ketakutan, karena tubuhnya bergetar hebat, bahkan jantung Lana begitu terasa berdebar sangat kencang.
"Ya udah, kita pergi dari sini." Ujar Tyler.
Tyler pun berdiri dan menggendong Lana seperti koala. Lana mengunci kakinya di pinggang Tyler dan memeluk Tyler erat - erat. Untung tubuh Tyler tinggi dan kekar, meski SMA dia memiliki tubuh atletis.
Dengan tinggi sekitar 170 cm, Tyler tidak terlihat kesulitan sama sekali menggendong lana yang hanya setinggi 150 cm, apalagi Lana kurus.
Lana tidak membuka sama sekali matanya dan terus menyembunyikan wajahnya di leher Tyler sepanjang perjalanan.
"Be, kamu gak mau liat pemandangan?" Tanya Tyler mengajak Lana bicara.
"Gak! Takut." Sahut Lana.
"Padahal banyak kunang - kunang loh.." Ucap Tyler, tapi Lana hanya diam.
"Be.." Panggila Tyler, tapi tidak di jawab. Tyler pun menghentikan langkahnya dan tersenyum ketika merasa kepala Lana lunglai, Lana tertidur.
"Cepet banget tidurnya, padahal tadi masih nyaut." Gumam Tyler lalu terkekeh kecil.
__ADS_1
Tyler semakin mengeratkan pelukannya dan melanjutkan perjalanannya.
TO BE CONTINUED..