TYLER: Who Do You Think Am I?

TYLER: Who Do You Think Am I?
EPS. 29. Satu bulan kemudian.


__ADS_3

Satu bulan berlalu..


Tyler, Renan dan Jack yang kini sudah bisa berjalan datang ke sekolah seperti biasanya. Tapi ada yang berbeda dari Tyler, kini dia semakin dingin dan semakin irit bicara.


Ayah Lana sudah di tahan setelah penyelidikan itu akhirnya membuahkan hasil, dia di vonis hukuman 20 tahun penjara.


"Jack, jalan apa merangkak si lo, lama amat." Ujar Renan tidak sabaran, karena Jack berjalan sangat lama.


"Merangkak, Ren. Ngesot malah!" Sahut Jack sembari menatap malas Renan.


"Namanya juga ni kaki belom waras seratus persen, lo kalo gak sabar ya jalan aja sonoh, gue ama Tyler." Ujar Jack emosi.


"Ya gak ngegas juga kan, Jack.. kan gue cuma nanya." Ujar Renan, dan Jack semakin kesal.


"Nye - nye - nye." Ujar Jack, kesal dan Renan terbahak melihatnya.


"Nanya - nanya, nanya apa ngehina! Udah tau ni kaki masih sakit dunia akherat, pake di tanya." Ujar Jack, kesal.


"Pernah ke akherat??" Tanya Renan.


" Ya belom lah, gue masih hidup." Sahut Jack, ngegas.


"Katanya sakitnya dunia akherat, gimana si!?" Ujar Renan.


"Itu paribahasanya Ren... Astaga, udah lah, males ngomong ama elu." Ujar Jack, dan mempercepat langkah kakinya dengan terpincang - pincang.


Renan hanya bisa terbahak melihat temannya itu, tapi kemudian dia diam karena candaannya tidak berpengaruh pada Tyler. Tyler hanya diam saja tidak menunjukan ekspresi apapun.


"Kapan gue bisa liat senyum lo lagi, Ty.. udah sebulan, lo gak sedikitpun senyum." Gumam Renan yang melihat Tyler dari jauh berjalan dengan Jack yang terpincang pincang.


Akhirnya mereka masuk kedalam kelas, Tyler duduk dengan Jack lalu Renan duduk di bangku Luigi.


"Gak sabar gue, nyambut Luigi." Ujar Jack pada Tyler.


"Udah siap semuanya kan?" Tanya Tyler pada Jack, dan Jack mengangguk antusias.


Ya, Luigi akhirnya sudah di nyatakan sembuh dan setelah mereka pulang sekolah, mereka berencana menjemput Luigi dari pusat rehabilitasi.


"Ty, lo gak ada niatan mau tanding lagi, Ty? Udah lama banget lo gak ikut tanding, si kunyuk makin gede kepala noh." Ujar Renan pada Tyler.


Tyler tampak berpikir, memang dia sudah tidak mengikuti balap liar lagi setelah kejadian datangnya kedua orang tuanya ke markasnya, dia bahkan mengurung diri di kamar selama seminggu dan tidak mau siapapun melihatnya.


"Tar gue pikir - pikir dulu." Ujar Tyler singkat. Dan saat itu guru mereka pun masuk dan pelajaran di mulai.

__ADS_1


Beberapa kali Tyler menatap keluar jendela, dan yang di bayangannya saat ini adalah kekonyolannya saat di hukum bersama Lana. Hingga jam pelajaran berakhir, Tyler sama sekali tidak berbicara.


"Yuk cabut." Ujar Renan pada Jack dan Tyler.


"Kalian aja, gue mau tidur." Ujar Tyler lalu merebahkan kepalanya di meja dan menghadap jendela.


Jack dan Renan menghela nafas melihat Tyler yang selalu saja seperti itu. Akhirnya Renan duduk di bangku depan Jack dan Tyler lalu Renan memberanikan diri untuk memarahi Tyler.


"Lo mau kayak gini sampe kapan Ty?" Tanya Renan dengan suara yang terdengar tidak ramah. Tyler membuka matanya ketika mendengar Renan menanyakan itu.


"Oke gue ngerti lo sakit hati, kecewa, marah, dan sebagainya. Tapi sampe kapan lo mau nutup diri dari kita - kita, Ty? Lo bilang kita berempat sodara lo, keluarga lo, tapi lo selalu kayak gini, lo sama aja nggak nganggep kita, tau gak?" Ujar Renan. Tyler masih hanya diam walau matanya terbuka.


"Ren, lo apa - apaan si?" Ujar Jack pada Renan.


"Gak Jack! Gue mau tahu ni anak mau sampe kapan kayak gini, dia hidup tapi kayak orang mati. Kenapa gak mati aja sekalian, kelar kan??" Ujar Renan, emosi.


"Renan!" Ucap Jack membentak Renan.


"Masalah tuh di hadapin, jangan terus lari dari kenyataan dan menyembunyikan diri kayak gini, sama aja lo jadi pecund*ng." Ujar Renan semakin menjadi - jadi.


Jack makin panik, dia takut Tyler kemudian mengamuk.


"Lo aja gak bisa damai sama diri lo sendiri, gimana lo mau mimpin black puma? Lo sendiri yang bilang, jangan bawa masalah pribadi dalam geng, sekarang liat.. anak - anak black puma kehilangan pemimpinnya, kenapa? Karena pemimpinnya sibuk ngurusin ego nya sendiri! Sibuk dengan sakit hatinya sendiri!" Ujar Renan dan tiba - tiba Tyler bangun.


Renan menelan ludahnya sendiri melihat betapa mengerikannya wajah Tyler yang saat ini sedang marah.


"Oke, gue mundur dari Black puma! Silahkan kalian bentuk ulang, dan pilih pemimpin kalian yang baru." Ujar Tyler tiba - tiba, lalu naik keatas meja dan melompat pergi.


"Ty! Yaah, kan!! Ty, tunggu Ty!" Teriak Jack memanggil Tyler yang berjalan pergi.


"Lo apa - apaan si Ren?! Udah tau Tyler lagi down banget, lo malah ngomong gitu. Gila, lo?" Ujar Jack dan berjalan dengan terpincang - pincang mengejar Tyler.


Renan pun mengacak - acak rambutnya lalu merebahkan kepalanya di meja dengan frustasi. "Bukan gini maksudnya.. hadeh!! Serba salah." Gumamnya, frustasi.


Maksud hati dia ingin membangkitkan kembali semangat Tyler, tapi malah tanggapan dari Tyler seperti itu. Sekarang Renan merutuki sendiri kebodohannya.


'Dodol.. Dodol..'


Dan sementara itu di tempat lain..


Lana sedang melakukan pelajaran olah raga basket di sekolah barunya, dia lebih bisa menjadi dirinya di sekolah itu karena teman - temannya di sana tidak melakukan perundungan padanya.


Lana senang mengetahui bahwa ayah tirinya sudah di tahan, dan lebih dari itu.. Dia lebih senang lagi karena akhirnya ibunya sudah resmi bercerai dari ayah tirinya itu.

__ADS_1


"Na, oper!" Teriak timnya. Dan Lana mengoperkan bola basket di tangannya pada teman kelasnya.


"Wish! Lana emang jago, dia cocok di bagian itu." Ujar teman kelasnya yang menonton.


"Prriiittt!!!" Suara peluit dari wasit. Ketika tim lawan melakukan pelanggaran pada tim Lana.


"Na, lo yang lempar." Ujar rekan Lana pada Lana. Tim Lana mendapat kesempatan Free throw, atau kita menyebutnya penalti.


"Gak, gue kurang jago." Ujar Lana,tapi temannya itu tetap menunjuk Lana.


"Cepet, semua tergantung sama lo sekarang." Ujar temannya dan berlari pergi.


Lana berdiri di tengah dan bersiap, seorang wasit mengoper bola basket pada Lana, dan Lana pun mulai berancang - ancang.


"Na, Go!!" Teriak tim Lana. Lana terlihat sangat fokus dan melempar bola basket itu, lalu..


"SCORE!!!" Teriak teman - teman Lana. Lana tersenyum karena bisa mencetak score.


Satu kesempatan lagi untuk tim Lana mendapatkan penalti, dan Lana kembali mencetak score. Tak lama, pertandingan pun berakhir. Lana di peluk semua timnya dan dia bisa tersenyum lepas di sana.


"Na, pulang sekolah lo ada acara kemana?" Tanya seorang murid laki - laki pada Lana.


"Gue??" Tanya Lana heran sembari menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, elo. Kalo gak ada acara, mau gak ngumpul bareng sama gue dan temen - temen yang lain? Kita nonton bareng." Ujar pemuda itu.


Lana sedikit senang mendengarnya, ada juga rupanya yang mau berteman dengan dia yang bukan siapa - siapa itu. Tapi dia tidak bisa melakukannya, kumpul dengan teman dan menghabiskan waktu dengan teman - temannya bukan bagian dari hidupnya.


Dia harus bekerja membantu ibunya membuka warung, dan lagi malamnya dia selalu mengikuti balap liar.


"Gak bisa, dia mau pergi sama gue." Ujar sebuah suara, dan Lana langsung memutar bola matanya malas. Itu adalah Kyle.


Ya, Lana satu sekolah dengan Kyle. Setiap hari sejak kedatangan Lana, Kyle seperti lalat yang selalu terbang di sekitar Lana.


"Oh, kalian udah ada janji? Sorry ya, gue pikir Lana free. Kalo gitu gue pergi dulu, Bye Na." Ujar pemuda itu dan pergi.


Kyle seperti Tyler, dia adalah anak yang juga di takuti di sekolah itu. Dan Lana malas dengan orang - orang seperti Kyle, yang suka mengganggu orang lain.


"Ayo nonton." Ajak Kyle pada Lana, tapi Lana hanya menatap datar Kyle.


"Nonton aja ama tembok." Ujar Lana, lalu pergi meninggalkan Kyle. Kyle tersenyum melihatnya.


"Baru kali ini gue gak marah di cuekin cewek, dia emang spesial, kayak martabak." Gumamnya sembari senyum - senyum sendiri.

__ADS_1


TO BE CONTINUED..


__ADS_2