
Malam harinya, Tyler mengunjungi Luigi yang sudah membaik. Luigi tidak lagi menggila dan dia sudah bisa di ajak ngobrol.
"Lo kenapa Ty? Perasaan yang kecanduan gue, yang di rehab gue, kok lo yang keliatan stress?" Tanya Luigi, karena meskipun Tyler datang mengunjunginya, Tyler tidak seperti biasanya.
Tyler lalu menggaruk kepalanya dengan frustasi, Luigi benar - benar merasa heran dengan temannya yang satu itu.
"Cepet sembuh lo Gi, banyak banget masalah yang dateng akhir - akhir ini, seenggak nya kalo ada lo, lo bisa bantu gue mikir." Ujar Tyler. Luigi terkekeh mendengarnya.
"Masalah apa emangnya?? Kan ada Jack, Renan terus Ernest dan Lana yang sama aja kaya gue." Ujar Luigi, sembari terkekeh.
"Abis lo kumat kemaren banyak hal yang belom lo tau." Ujar Tyler dengan wajah serius, Luigi jadi penasaran mendengarnya.
"Apaan?" Tanya Luigi dengan wajah serius juga.
"Jack masih di rumah sakit, kakinya ketembak waktu kita semua ngehajar Kyle di markasnya." Luigi benar - benar terkejut mendengarnya.
"Entah dari mana datengnya tiba - tiba polisi dateng ke sana dan nembak Jack." Ujar Tyler.
"Seriusan?? Terus Jack gimana sekarang?" Tanya Luigi dengan wajah cemas.
"Dia baik - baik aja, lagi proses pemulihan, tapi masih di rumah sakit." Ujar Tyler.
"Sorry Ty, gue udah bikin kalian semua susah." Ujar Luigi menyesal.
"Gue bakal bener - bener fokus untuk sembuh kali ini, kemarin juga gue gak sengaja ngonsumsi itu lagi, tau - tau ada makanan di tempat gue. Kata penjaganya itu dari temen gue, namanya Tyler, jadi gue makan gitu aja, tau - tau pas abis minum, gue..." Ujar Luigi menggantung.
"Gue tau kok, lo gak bakal ngelakuin itu, itu juga jebakan." Ujar Tyler, Tyler senyum tapi wajahnya menyendu.
"Lana juga pergi, Gi." Ujar Tyler, dan Luigi langsung menutup mulutnya.
"Inalilahi.." Gumam Luigi, Tyler mengernyitkan keningnya mendengar Luigi berkata demikian.
"Kok lo ngomong gitu si!? Lo doain Lana mati?" Ujar Tyler, tidak terima.
"Lah, kan lo yang ngomong barusan, lana pergi." Ujar Luigi.
__ADS_1
"Pergi Gi, pergi.. bukan meninggal." Ujar Tyler kesal, Luigi pun menyengir mendengarnya.
"Ya terus??" Ujar Luigi, Tyler tambah kesal mendengar jawaban Luigi hanya seperti itu.
"Dah ah, males." Ujar Tyler yang sudah terlanjur kesal. Luigi terkekeh melihat Tyler yang bisa ngambek seperti itu, padahal biasanya dia mode freezer.
"Lo suka ya, sama Lana?" Tanya Luigi, dan Tyler langsung menatap Luigi. Luigi tambah terkekeh melihat betapa masam wajah Tyler saat ini.
"Kalo benci, itu sama adek sepupunya Ernest." Sahut Tyler dengan nada datar.
"Cie, udah gak sebut merek. Udah move on nih ye.." Ledek Luigi, dan Tyler hanya menatap malas sahabatnya itu.
"Serius nanya nih gue, lo suka sama Lana?" Tanya Luigi.
"Dia bukan musuh gue, gak ada alasan buat bilang benci ke dia." Ujar Tyler, Luigi menepuk jidatnya mendengar jawaban Tyler.
"Lo pasti tau maksud gue, kan Ty. Suka dalam artian c i n t a Ty, cinta." Ujar Luigi karena gemas dengan temannya itu.
Tyler hanya diam, dia juga tidak mengerti dengan perasaan nya. Saat bersama Fia dulu, Fia mau pergi kemana saja atau bahkan tanpa pamit pun dia tidak seperti itu, bahkan dia tidak pernah berdebar saat dengan Fia dulu.
Tapi sekarang dengan Lana, dia merasakan keanehan pada dirinya. Dia bisa tiba - tiba merindukan Lana.
'Apa gue jatuh cinta sama Lana?' Batin Tyler.
"Tapi gue gak merasakan rasa yang sama seperti waktu gue masih pacaran sama adek sepupunya Ernest." Ujar Tyler.
"Emang yang lo rasain sama Fia apa? Coba lo bandingin apa yang lo rasain antara waktu sama Fia dan sama Lana." Ujar Luigi, Dan Tyler tampak terdiam sembari berpikir.
"Lo dulu ngejaga Fia, karena dulu dia satu - satunya cewek di antara kita. Lo juga nerima Fia jadi pacar lo karena dulu Fia merengek dan mengancam akan lompat dari balkon, ya kan?" Tanya Luigi, dan Tyler masih diam berpikir.
"Lo gak ada rasa sama dia Ty, lo cuma kasihan dan nganggep dia kek temen biasa. Gue tau dan gue liat interaksi kalian selama ini, Fia lebih dominan dan lebih aktif. Bahkan ciuman aja waktu itu lo cerita dulu ke gue." Ujar Luigi lagi sembari tertawa.
"Gak usah bahas ciuman, berasa kotor banget bibir gue sekarang." Ujar Tyler, dan Luigi terbahak mendengarnya.
"Yah.. kasihan Lana, gak dapet ciuman pertama lo, bibir lo udah gak perjaka." Ujar Luigi sembari terbahak. Dan mendengar itu, tiba - tiba Tyler teringat dengan kejadian kecelakaan yang membuat bibirnya dengan bibir Lana bertemu.
__ADS_1
Tanpa sadar wajah Tyler memerah, dan Luigi melihat itu. Luigi langsung meranga menyadari perubahan wajah Tyler.
"Tunggu! Kok lo malu - malu monyet?? Jangan bilang lo udah nyium Lana!" Ucap Luigi dengan mulut meranga, Tyler langsung kesulitan menelan ludahnya hingga berdehem untuk menetralkan dirinya.
"Anjir nih anak! Diem - diem udah maen nyosor bae." Ujar Luigi, dan Tyler langsung menatap Luigi dengan tidak terima.
"Itu kecelakaan, bukan gue yang nyosor, enak aja lo." Ujar Tyler, protes. Luigi terbahak mendengarnya.
"Tapi serius nih Ty, lo dulu gak malu - malu anj¡ng gini waktu di minta Fia buat cium dia. Sekarang lo merona, ini fiks Ty, lo udah jatuh cinta sama Lana." Ujar Luigi dengan senang.
"Sotoy lo, kaya pernah jatuh cinta aja." Ujar Tyler.
"Yaelah.. pernah lah, cuma kan gue tau diri gue ini siapa, dia anak baik - baik sementara gue ini anak berandalan. Dia pantes dapetin cowok yang lebih baik, gak sama gue yang hidupnya gak karuan, apalagi sekarang gue statusnya jadi seorang pecandu di mata orang - orang." Ujar Luigi menyendu.
Tyler jadi ikut menyendu melihat wajah Luigi menjadi sendu. Dia tahu Luigi adalah anak baik - baik sebenarnya, hanya saja kedua orang tuanya tidak memperlakukan dia dengan baik dan tidak menganggap Luigi ada.
Bahkan Luigi masuk ke pusat rehabilitasi saja, orang tuanya tidak ada yang datang, walau mereka tahu Luigi di sana.
"Dah lah, jangan bahas gue. Hidup gue tuh gak pantes jadi pembahasan, terlalu rusak." Ujar Luigi.
"Bahas lo aja, sekarang jawab gue apa yang lo rasain ke Fia dan Lana sama?" tanya Luigi, Tyler menggeleng.
"Yang lo rasain ke Fia sama yang lo rasain ke Lana sekarang, jelas beda. Karena yang lo rasain sekarang adalah lo jatuh cinta beneran sama Lana." Ujar Luigi dengan yakin.
"Cari dia Ty, kejar dan perjuangkan cinta lo, dia cewek baik - baik, gue bisa lihat itu." Ujar Luigi, dan Tyler seperti mendapat pencerahan.
Sementara itu di tempat lain, di arena balap.
Yang sedang di bicarakan oleh Luigi dan Tyler saat ini sedang menggeber motornya dengan suara yang membisingkan telinga, Lana. Dia sudah siap melaju di jalanan menjadi joki balap motor ilegal.
"Dengerin gue, kalo lo menang malem ini, lo resmi jadi joki andalan di tempat ini, dan uang yang lo dapet bisa lebih banyak." Ujar pria bernama Angga, yang siang tadi membonceng Lana.
Lana seperti berpikir, dia hanya ingin menjadikan balap liar itu sebagai pekerjaan sampingan dan dia tidak suka terikat dengan kontrak apapun, jadi dia hanya diam sembari menatap angga.
"Gue usahain, bang." Ujar Lana akhirnya, dan Angga tersenyum merekah mendengarnya.
__ADS_1
"Good girl, bersiap, bentar lagi mulai." Ujar Angga dan menepuk pundak Lana dua kali, Lana hanya mengangguk, lalu menutup helm nya.
TO BE CONTINUED..