TYLER: Who Do You Think Am I?

TYLER: Who Do You Think Am I?
EPS. 6. Ada apa dengan jantung?


__ADS_3

Tyler pulang ke markas, dan mendapati markas yang sudah kosong. Teman - temannya pasti sudah berangkat ke sekolah, dia masuk kedalam lalu langsung masuk ke kamar mandi.


Tak lama, Tyler keluar dari kamarnya sudah menggunakan seragam lengkap, rambutnya juga di kuncir setengah dan dia langsung memekai kembali helmnya. Dan dia pun melesat pergi menuju sekolah.


Luigi, Jack dan Renan terkejut melihat Tyler yang rupanya datang ke sekolah. Tapi perhatian mereka teralihkan pada tangan Tyler yang di perban.


"Ty, kenapa lo? Tangan lo kok di perban?" Tanya Luigi. Tyler menatap perban di tangannya, dan kini dia justru teringat dengan Lana yang memasangkan perban itu.


"Dih, di tanya malah bengong." Ujar Luigi.


" Gak apa - apa, biasa." Sahut Tyler.


"Ty, Luigi berhasil bawa pulang mobil si kunyuk ( Kyle ), mukanya si kunyuk ( Kyle ) semalem asem banget. Idungnya udah kembamg kempis kek *4**4* ayam." Ujar Renan, dan yang lain terbahak mendengarnya.


"Sok - sokan nyebut *4**4* ayam, kaya pernah liat aja lo." Ujar Jack.


"Pernah lah.. apa sih yang gak pernah di liat Renan." Ujar Renan bangga.


"Gitu aja bangga. Bangga nih.. bawa pulang Porsche putih, punya si kunyuk." Ujar Luigi lebih bangga lagi.


"Iya dah.. iya.. yang bawa pulang mobil." Ujar Renan.


Tyler ikut senang melihat teman - temannya selalu saling kompak dan saling somplak bersama, baginya teman - temannya adalah keluarganya yang sesungguhnya, keluarga tidak sedarah.


Mereka pun berjalan masuk, dan kali ini empat sekawan itu melihat Lana yang sedang di rundung oleh salah satu teman kelasnya, yang merupakan anak kepala sekolah.


Tyler mengernyitkan keningnya, karena Lana di sekolah hanya diam saat di buli, berbeda dengan Lana yang pagi tadi mengobati lukanya.


"Nah, mulai nih si Tyler, kalo ada tuh cewek, pasti natapnya dalem banget, berasa lagi di slow mode, gitu." Ujar si Jack.


"Bantuin gak, Ty?" Tanya Luigi. Tapi Tyler hanya diam menatap Lana yang saat ini menunduk karena tudung hoodie yang di pakainya di pecahi telur.


"Jangan, kalo kita bantuin, bukannya tuh anak tar hidup tentram, tapi malah makin di buli. Lo kan tahu sendiri kita terkenal." Ujar Jack.


Mereka pernah menolong seorang gadis yang di buli temannya, tapi gadis itu justru semakin sering di ganggu dan berakhir di opname karena pembulian yang di terimanya.


Pihak sekolah menutup mata atas kejadian itu, karena memang kebetulan gadis yang di bantu mereka dulu adalah gadis dari keluarga yang kurang mampu.


" Ayo pergi, kalo dia mau selamat, ya dia harus melindungi dirinya sendiri." Uajr Tyler.


Mereka berempat pun pergi, tapi belum ada tiga langkah, mereka kembali berhenti ketika mendengar suara teriakan.

__ADS_1


Ternyata Lana melawan gadis gadis yang merundungnya, dia menghajar gadis - gadis itu.


"Beraninya lo!" Teriak Chery.


"Apa!! Atas dasar apa kalian ngelakuin ini semua ke gue?! Gue sekolah di sini buat belajar, bukan buat di jadiin mainan kalian semua." Ujar Lana lantang.


Tyler menunjukan sedikit senyum smirknya melihat itu, Luigi, Jack dan Renan juga terkejut melihat Lana yang melawan.


"Eh, lo denger ya! Lo tuh di sini atas belas kasih sekolah ini, jadi gak usah belagu." Ujar Chery.


"Terus?? Karena itu lo bisa se enak jidat lo ngerendahin gue, iya?! Perundungan juga ada pasalnya, asal lo tahu. Gue diem bukan karena gue takut sama lo lo semua, tapi karena gue gak punya waktu buat ngeladenin kalian, para anak mami." Ujar Lana.


"Lo!!" Cheri melayangkan tangannya, tapi Lana menahannya dan mendorong Chery hingga jatuh. Teman - teman Chery hendak menghajar Lana, tapi mereka justru yang di hajar Lana.


Chery dan kawan - kawannya pun menangis kesakitan karena tangan mereka di pelintir oleh Lana. Guru tiba - tiba datang, dan langsung mendorong Lana.


"Lana! Apa - apaan kamu? Kamu menyiksa teman - teman kelasmu?" Ujar guru.


"Bu, kami di siksa Lana." Ujar Chery merengek.


"Lana! Ikut saya ke kantor." Ujar ujar Guru dan Lana menatap datar Chery dan kawan - kawannya.


"Lah, kalo mau tidur mah ngapain lo masuk sekolah Ty.. Ty." Ujar Renan.


"Ketemu pas istirahat, bangunin gue." Ujar Tyler dan pergi meninggalkan ketiga temannya.


"Udah lah, ayo." Ujar Luigi, Jack dan Renan pun mengangguk.


Tapi rupanya Tyler tidak ke atap, setelah jam sekolah mulai, ia berjalan di koridor dan berdiri di depan sebuah pintu, itu adalah ruang pembimbing.


Tyler bisa melihat Lana yang sedang berdiri di depan guru pembimbing saat ini.


"Sudah saya katakan untuk diam, Lana. Kamu tidak memiliki wewenang untuk melawan." Ujar guru pembimbing itu.


" Kamu sudah berbuat salah, tapi tidak menyesalinya dan malah membela diri, apa orang tuamu tidak mengajarkanmu bagaimana menjadi bijak?" Ujar guru.


" Bijak??" Ujar Lana dan tersenyum miring. "Jangan katakan tentang kebijakan pada saya bu, anda saja tidak bisa menjadi bijak sebagai seorang guru." Ujar Lana.


" Tidakkah anda bisa melihat, di tubuh saya ini terdapat apa?? Telor, air, permen karet, apa ini semua tidak bisa menjadi bukti bahwa saya adalah korban yang di rundung di sini?!" Ujar Lana.


" Yang saya lakukan adalah membela diri dan melindungi diri saya, ibu." Ujar Lana lagi.

__ADS_1


" Kamu di hukum." Satu kata itu saja yang keluar dari mulut guru pembimbing.


" What!? Bu, saya yang di rundung, kenapa saya yang di hukum?" Ujar Lana.


" Lana Lindsey, kamu di hukum. Pergi keluar dan kamu tidak boleh mengikuti pelajaran hari ini sampai jam pulang sekolah nanti." Ujar guru itu.


Lana mengepalkan tangannya dan seakan siap meledak, tapi dia menahannya. Karena jika dia kembali melawan, guru itu akan lebih mempersulitnya nanti.


Lana pun berbalik pergi tanpa mengatakan apapun, dia sangat kecewa dengan sekolah itu. Sekolah yang dia harap bisa membuat dirinya memiliki lebih banyak pendidikan, ternyata justru merundungnya habis habisan.


Tyler kembali melihat Lana yang berjalan dengan sangat cepat, mungkin Lana sangat emosi saat ini. Tyler pun akhirnya pergi dan kali ini dia sungguhan ke atap.


Dan sampai akhirnya jam pulang sekolah, Luigi baru membangunkan Tyler dari tidurnya.


"Lo tidur apa mati si! Gila.." Ujar Luigi sambil berkacak pinggang dan menggelengkan kepalanya, Tyler pun bangun dan duduk meregangkan tubuhnya.


"Emang udah jam istirahat?" Tanya Tyler dengan suara serak.


"Jam istirahat, matahari udah ke barat masih ngomongin jam istirahat bae." Ujar Jack terkekeh.


Tyler terkejut mendengarnya, dia melihat jam di tangannya dan semakin terkejut, karena itu sudah jam pulang sekolah.


"Ayo cabut." Ujar Luigi, dan Tyler mengangguk. Tyler dan kawan - kawan pun turun dari atap.


Saat di koridor sekolah menuju ke tempat parkiran, Tyler melihat Lana yang sedang bersimpuh di trotoar dan melihat isi tas nya yang berantakan. Lana terlihat menghapus air matanya, tapi dia tidak bersuara.


"Ty, ayo." Ujar Luigi yang heran karena Tyler tiba tiba menghentikan langkahnya.


Lana terlihat mengemasi semua isi tasnya dan langsung bangun, saat itu juga tatapannya bertemu dengan Tyler.


"DEG!" Tyler mengernyit bingung karena jantungnya tiba tiba berdesir ketika melihat wajah Lana yang sedikit sembab.


Lana langsung membuang muka dan pergi meninggalkan Tyler dan kawan - kawan. Dan saat itu juga Tyler terlihat menepuk dadanya berulang kali.


"Kenapa lo, Ty?" Tanya Jack.


"Gak apa - apa, sepertinya gue masuk angin." Ujar Tyler, yang tidak mengerti mengapa jantungnya tadi berdesir begitu saja.


"Yah, ayo balik, gue kerokin." Ujar Renan, dan Tyler mengangguk. Semua orang pun pergi dari sana.


TO BE CONTINUED..

__ADS_1


__ADS_2