
Asisten Rion menghampiri Karisma yang hendak naik ke mobil, dia langsung menghadangnya.
"Nyonya tunggu." Ujarnya.
"Kau masih saja manggil saya nyonya. Saya sudah bukan istri Rion, asisten Marlo." Ujar Karisma, sambil menutup kembali pintu mobilnya.
Marlo, adalah nama asli Asisten Rion. Tapi pria itu tidak suka di sebut namanya, jadi hanya di sebut asisten saja.
"Nyonya, jangan sebut nama saya, panggil saja saya asisten seperti biasanya." Ujar asisten Marlo.
"Ada apa?" Tanya Karisma.
"Tuan Rion, sudah tahu kebenarannya. Kebenaran yang sebenar - benarnya tentang malam itu." Ujar Marlo.
Wajah Karisma terlihat terkejut, tapi dia mencoba menjadi setenang mungkin karena dia sudah tidak mau berharap apapun.
"So??" Tanya Karisma.
"Nyonya, tuan sangat menyesali semuanya. Dia sampai tidak bisa berpikir jernih dan tidak lagi berani mendekati tuan muda." Ujar Marlo.
"Itu semua sudah lewat, di ungkit lagi untuk apa?" Ujar Karisma.
"Pria bodoh itu tidak berani mengambil langkah, tapi nyonya bisa. Apa nyonya tidak mau memperbaiki hubungan nyonya dengan tuan muda? Penyesalan datangnya di akhir, nyonya." Ujar Marlo.
Karisma terkekeh mendengar Marlo mengatai mantan suaminya itu sebagai pria bodoh.
"Jasadnya bahkan belum di kubur, Marlo." Ujar Karisma.
"Maaf, nyonya." Ujar Marlo menghela nafas.
"Sudahlah, Saya dan Tyler sudah terlalu jauh. Semua perbuatan saya padanya, sudah tidak akan bisa di saring ulang untuk di perbaiki." Ujar Karisma.
"Tapi dia putramu, nyonya. Dia butuh figur seorang ibu." Ujar Marlo.
"Tapi bukan ibu seperti saya, Marlo. Seorang ibu tidak mungkin seperti saya, karena saya bukan seorang ibu." Ujar Karisma, lalu masuk kedalam mobil.
Kata - kata Renan yang masih terngiang jelas di kepalanya, ( Ada di eps. 28 ) yang membuatnya semakin yakin untuk lebih memilih menjauh dari putranya sendiri.
Marlo hanya bisa pasrah dan berdiri melihat mobil Karisma yang melaju pergi dari pekarangan rumah Rion. Padahal Karisma dulunya bukan wanita kejam seperti itu, dia adalah wanita baik - baik yang penuh kasih sayang dan berubah menjadi dingin tidak berhati.
Singkat cerita, akhirnya Rion di makamkan esok harinya, Upacara di percepat agar Rion bisa lebih cepat dimakamkan. Ketika Rion di kebumikan, Karisma kembali ada di sana dan melihat prosesi pemakaman Rion.
__ADS_1
'Damailah di sana, Rion.' Batin Karisma.
Tyler berdiri sambil menggenggam tangan Lana, dan ikut melihat bagaimana Rion di kebumikan, sampai akhirnya selesai. Asisten Rion menghampiri Tyler, dan berkata..
"Tuan muda, tuan Rion meninggalkan wasiat untuk anda. Tolong tuan muda datang dulu ke rumah." Ujar Asistennya.
"Hm." Sahut Tyler singkat.
Dan akhirnya semua orang pergi dari makam Rion, begitu juga Karisma. Tyler pun datang ke rumahnya, Lana ikut pulang dengan Luigi.
Tyler terkejut karena disana ada Karisma yang tampak sedang duduk meminum teh dengam tenang.
"Apa kabar, lo?" Tanya Karisma, dengan nada dingin seperti biasanya.
Tyler hanya mendengus saja, dan duduk di sofa seberang dari Karisma duduk.
"Sesusah itu ya, nyautin pertanyaan gue?" Tanya Karisma lagi.
"Ngapain juga lo nanya kabar gue? Gak usah sok peduli." Ujar Tyler.
Padahal Tyler sudah tahu kebenaran tentang Karisma, tapi rasa kecewanya terlalu mendominasi. Karisma menghembuskan nafasnya, lalu dia menaruh secangkir teh di tangannya itu dengan pelan.
Asisten mendiang Rion keluar dari ruang kerja mendiang Rion, lalu bergabung dengan keduanya.
"Nyonya dan tuan muda, ini adalah masing - masing surat yang di tulis sendiri oleh mendiang tuan Rion, silahkan di baca isinya." Ujar Marlo dan memberikan masing - masing surat pada Tyler dan Karisma.
"Saya baca di rumah saja." Ujar Karisma.
"Tidak bisa, tuan meminta kalian membacanya di sini, bersama - sama." Ujar Marlo.
"Apa dia udah tau kalo dia bakal mati dalam waktu dekat? Dia menyiapkan semuanya dengan matang." Ujar Karisma, tidak Formal.
Tyler hanya diam saja, dia pun membuka dan membaca isi suratnya. Isinya adalah sepenggal rasa bersalah Rion padanya..
"Papa tidak tahu kapan maut akan memanggil papa, Tyler. Tapi papa merasa harus membuat surat ini sebelum maut datang. Papa sangat meminta maaf sebesar - besarnya kepadamu, atas semua yang papa perbuat padamu. Papa yang bodoh dan keras kepala ini, tidak pernah mau mendengarkan penjelasan dan kebenaran tentang ibumu, hingga papa tidak menganggapmu anak papa."
Setetes air mata jatuh di surat yang di pegang Tyler, tanpa Karisma dan Marlo lihat. Maaf, adalah kata yang sangat Tyler tunggu, tapi dia hanya bisa membacanya dari surat, bukan mendengarnya langsung dari mulut Rion.
"Papa memutuskan untuk tidak lagi mengekangmu, Papa tidak mau memperpanjang rantai kesalahan yang papa perbuat di waktu papa muda dulu. Kamu hebat, nak.. kamu bisa dengan tegas mengejar cintamu, Lana pasti adalah gadis yang spesial dihatimu. Maafkan papa Tyler, papa sangat menyesali semuanya. Dan, Nak.. Ibumu.. perbaikilah hubunganmu dengan ibumu, dia adalah wanita baik - baik yang tanpa sadar sudah papa rusak hati dan jiwanya."
Begitu yang isi surat yang tertulis untuk Tyler, Tyler masih diam tidak bergeming setelah membaca itu. Sampai dia mendengar Karisma terisak kecil, barulah Tyler menatap kearah Karisma.
__ADS_1
"Haha, pria ini. Dia mati barulah sadar letak kesalahannya." Gumam Karisma.
Entah apa yang Rion tulis untuk Karisma, Karisma tertawa dan menangis di waktu yang bersamaan.
"Nyonya, tuan membagi semua aset kepemilikannya pada nyonya dan tuan muda. Dan tuan muda, mulai sekarang anda harus bertanggung jawab tentang perusahaan." Ujar Marlo.
"Apa - apaan, gue gak mau." Ujar Tyler langsung menolak.
"Lalu bagaimana dengan perusahaan, satu - satunya yang memiliki hubungan darah dengan tuan Rion adalah anda." Ujar Marlo.
"Dia aja, tuh." Ujar Tyler menunjuk Karisma dengan ekor matanya.
"Tidak bisa, harus anda." Ujar Marlo kukuh.
"Kok jadi lo yang ngatur hidup gue?" Ujar Tyler kesal.
"Ini demi kebaikan masa depan anda juga tuan muda, bukankah anda ingin menikahi nona Lana? Jika anda tidak mapan dan tidak memiliki penghasilan, bagaimana anda akan menghidupi nona Lana? Terlebih, nona Lana memiliki cita - cita sebagai dokter." Ujar Marlo.
'Sialan, dia emang gak bisa di remehin. Dia bahkan nyelidikin gue, sampe tahu bahwa gue mau nikah sama Lana.' Batin Tyler.
"Di tambah lagi, perusahaan sedang terguncang saat ini, karena kematian tuan Rion. Mereka semua yang bermuka dua langsung menyerang perusahaan, apa anda tega melihat jerih payah tuan hilang begitu saja?" Ujar Marlo.
"Ya itu tugas lo, lo harusnya bisa nyetabilin balik kan?!" Ujar Tyler.
"Tidak, tanpa adanya pimpinan, saya tidak bisa menyetabilkan. Mereka yang mengincar posisi, langsung berbondong - bondong menyerang. Hanya anda yang bisa menyetabilkan." Ujar Marlo.
Tyler terlihat diam, Karisma juga hanya bisa menunggu keputusan apa yang akan Tyler ambil.
"Besok, anda akan datang ke perusahaan, dan saya akan memperkenalkan anda sebagai putra pimpinan, sekaligus yang akan melanjutkan kepemimpinan tuan Rion." Ujar Marlo.
"Ban*sat! Gue bahkan belom ngambil keputusan, anj*ng." Ujar Tyler, Karisma nyaris tertawa mendengarnya.
"Saya ikut saja alurnya." Ujar Karisma, lalu dia bangun dari duduknya dan pergi.
"Gue mau pulang, gue gak mau tinggal di rumah sialan ini." Ujar Tyler, lalu pergi juga dari sana.
Marlo sang asisten hanya bisa tersenyum saja, Tyler berkata kasar tapi dia juga tidak menolak apa yang Marlo katakan.
'Tuan, saya akan mengambil alih tanggung jawab anda. Saya akan menuntun tuan muda, agar dia menjadi pemimpin yang sukses seperti anda, tapi memiliki hati dan cinta yang besar.' Batin Marlo melihat foto Rion yang terpampang di dinding.
...TO BE CONTINUED.....
__ADS_1