TYLER: Who Do You Think Am I?

TYLER: Who Do You Think Am I?
EPS. 19. Sisi lain Tyler.


__ADS_3

Tyler, Renan dan Ernest sudah sampai di markas, dan Tyler benar - benar merasa terpukul sekarang. Luigi kembali kambuh, sekarang Jack di tangkap polisi.


"Gue balik dulu, kabarin kalo ada apa - apa." Ujar Tyler, Renan dan Ernest mengangguk.


"Ati - ati di jalan, Ty." Ujar Ernest dan Tyler mengangguk.


Tyler melaju pergi dari markasnya dan pulang ke apartemennya dengan wajah yang luka - luka akibat perlawanan dari Kyle tadi.


Sesampainya dia di apartemen, dia langsung merebahkan dirinya di sofa dengan keadaan gelap tanpa pencahayaan, air matanya meleleh tanpa dia terisak.


"Yah, air nya abis." Gumam Lana ketika melihat gelas nya kosong.


Lana pun bangun dan keluar dari kamarnya sembari membawa gelas.


Lana terkejut ketika melihat sosok pria yang tiduran di sofa tanpa penerangan, dia pun langsung mencari saklar lampu dan menyalakan lampu.


'Tyler?? ngapain dia tidur di sofa?' Batin Lana. Lana perlahan mendekati Tyler dan ingin membangunkannya, tapi Lana melihat Tyler terisak kecil.


"Ty.." Panggil Lana, ketika sudah berada di hadapan Tyler.


Tyler membuka matanya dan bertemu tatap dengan Lana yang sedang memegang gelas di tangannya. Lana langsung menaruh gelasnya di meja ketika melihat Tyler yang kacau.


"Ya Tuhan, Ty. Lo kenapa?" Tanya Lana khawatir ketika melihat wajah Tyler yang penuh luka, di tambah Tyler menangis.


"Lo kok gak tidur?" Tanya Tyler dan buru - buru menghapus air matanya lalu bangun dan duduk.


"Gue tidur kok, tapi gue haus dan air gue abis. Lo kenapa? Kok babak belur gini? Astaga." Ucap Lana, belum juga di jawab, Lana langsung pergi berlari mengambil kotak obat.


Lana buru - buru kembali menghampiri Tyler dan membantu mengobati luka Tyler.


"Coba liat." Ujar Lana, dan Tyler pasrah saja wajahnya di obati Lana. Tyler menatap Lana yang sangat serius mengobati lukanya.


"Lo berantem?" Tanya Lana, dan Tyler mengangguk. Lana menghela nafas dan kembali fokus mengobati Tyler.


"Luigi.. dia kembali kambuh, padahal beberapa hari lagi dia udah di bolehin pulang." Ujar Tyler, akhirnya bercerita. Lana berhenti sejenak ketika melihat kembali mata Tyler yang berkaca kaca.


"Dan Jack, dia.. dia tertembak tadi." Ujar Tyler, dengan mata yang panas menahan tangis, Lana tertegun mendengarnya.


"Apa gue ini pembawa sial, Na? Seakan Tuhan gak pernah ngasih gue kehidupan bahagia."Ujar Tyler, dan sebutir air mata jatuh di punggung tangan Lana.


Lana terkejut mendengar Jack sampai tertembak, tapi mencoba tenang untuk Tyler yang saat ini sedang rapuh. Lana menggelengkan kepalanya, dan mencangkup wajah Tyler dengan kedua tangannya.


"Gak gitu, Ty. Jangan salahin Tuhan. Tuhan itu maha penyayang, dia gak bakal biarin umatnya menderita sendirian." Ujar Lana.


Tyler memejamkan matanya, apa yang terjadi padanya sejak kecil, itu adalah lebih dari sekedar kata tidak adil. Tyler selalu merasa Tuhan selalu mengambil hal apapun yang menurutnya berharga sebagai contohnya, teman - temannya.


"Ty, lo gak sendirian, gue, Renan, Ernest dan semua teman - teman lo yang lain, ada buat lo. Lo harus kuat buat Luigi dan Jack." Ujar Lana, Tyler pun mengangguk.


Lana kembali mengobati luka luka di wajah Tyler hingga selesai. Saat Lana hendak bangun, Tyler menahan tangan Lana. Lana diam karena mengira Tyler akan mengatakan sesuatu, tapi ternyata Tyler memeluknya.


Lana terkejut karena Tyler memeluk dirinya, tapi Lana tau mungkin Tyler sedang butuh penguat. Lana pun membalas pelukan Tyler dan mengusap punggung Tyler untuk memberikan dukungan bagi Tyler.

__ADS_1


'Gue pikir, menjadi anak orang kaya pasti hidupnya bahagia dan nyaman, Ternyata enggak.. Tyler ngasih pandangan tersendiri buat gue, bahkan dibandingkan dengan gue, dia lebih menderita.' Batin Lana merasa sedih untuk Tyler.


Lana juga pernah rapuh, lebih tepatnya dia selalu rapuh, tapi dia bisa tegak berdiri dan menguatkan dirinya dendiri. Memupuk dirinya untuk menjadi orang yang tahan banting, hingga dia menjadi Lana yang hari ini.


"Istirahat, Ty.." Ujar Lana, dan Tyler mengangguk, lalu melepaskan pelukannya dari Lana.


"Thanks, lo mau dengerin gue." Ujar Tyler, dan menatap Lana, dan lana tersenyum sembari mengangguk.


Tatapan Tyler terpaku dengan senyum manis Lana, dia jadi salah tingkah sendiri sekarang.


"Mmm.. kalo gitu, gue masuk ke kamar dulu." Ujar Lana, dan Tyler mengangguk.


Lana pun pergi, kembali masuk kedalam kamarnya. Sementara Tyler, dia menyender ke sofa dan menengadahkan wajahnya ke langit - langit ruangan itu lalu memejamkan matanya.


Paginya, Lana sudah siap dengan semua sarapan yang dia siapkan untuk Tyler, karena hari ini libur sekolah, jadi Lana tidak membangunkan Tyler untuk sekolah. Sementara Tyler masih setia tidur dengan posisinya yang terakhir kali, menengadah keatas.


'Gue bangunin Tyler apa enggak, ya? Tapi gue laper, udah jam sepuluh.' Batin Lana yang sedang bimbang.


Dia bimbang karena Tyler tidak kunjung bangun, sementara dirinya sudah kelaparan. Dia hanya tamu, jadi dia pikir tidak pantas rasanya jika dia makan lebih dulu, meskipun sekarang mereka berteman.


Lana mendekat kearah Tyler dan berdiri di belakang sofa dimana Tyler menengadahkan kepalanya keatas, Lana terpaku ketika melihat wajah damai Tyler yang sedang tidur.


'Bahkan lagi tidur pun dia tetep cakep, nggak ngorok, nggak ngiler, coba gue.. Beuh.. kayak tarzan.' Batin Lana membandingkan cara tidurnya dengan Tyler.


'Bulu matanya panjang banget, padahal dia cowok.' Batin Lana mengagumi. Tanpa sadar Lana senyum senyum sendiri melihatnya.


Dan tiba - tiba, Tyler membuka matanya. Lana yang terkejut pun langsung mundur ke belakang, tapi kakinya justru terpeleset dan membuat Lana tersungkur kedepan menimpa Tyler.


Lana jatuh persis di depan wajah Tyler dan secara tidak sengaja bibir mereka bertemu. 'Astaga..' Batin Lana terkejut.


"Sorry." Ujar Lana dan langsung berdiri tegak, dia menjadi gugup sendiri sekarang.


"Lo gak apa - apa? Keseleo gak?" Tanya Tyler setelah akhirnya sadar. Dia juga salah tingkah sendiri, sekarang.


"Ng- nggak. Gue gak apa apa." Ujar Lana gugup.


"Ada apa?" Tanya Tyler, mencoba menetralkan kegugupannya saat ini.


"Em, it- itu sarapan, sarapan udah siap." Ujar Lana, dengan gugup.


'Sial, kenapa gue gugup gini.' Batin Lana.


"Oh, oke... lo sarapan dulu aja, gue mandi dulu." Ujar Tyler, dan Lana mengangguk.


Tyler berdehem lalu pergi masuk kedalam kamarnya, sementara Lana berjongkok di lantai dan merutuki kebodohannya sendiri.


'Dodol! Dodol! Dodol! Beg* lo lana, astaga.' Batin Lana merasa malu.


Sementara di dalam kamar, Tyler masih saja gugup dan jantungnya jadi berdebar tidak jelas.


'Kenapa jantung gue deg - degan gini, perasaan gue gak abis lari maraton.' Batin Tyler.

__ADS_1


Di tengah lamunan nya, Tyler mendapat panggilan, dia pun mengangkat panggilan dari Renan.


"Halo, serius?? Gue kesana bentar." Ujar Tyler dan kembali keluar.


Tyler keluar dan melihat Lana yang masih berjongkok di lantai seperti kehilangan nyawa, Lana langsung berdiri ketika melihat Tyler.


"Na, gue pergi dulu, Jack udah di tebus." Ujar Tyler, dan Lana mengangguk. Tyler langsung pergi keluar, dan Lana bernafas lega.


"Jangan gitu lagi, Lana." Gumamnya pada diri sendiri. Padahal tidak ada niatan mengganggu Tyler tidur, justru jadi kecelakaan.


Tak lama Tyler pergi, bel pintu berbunyi, Lana pun membuka pintu itu karena mengira itu Tyler. Setelah di buka, ternyata itu bukan Tyler, melainkan mantan pacar Tyler, Fia.


"Lo siapa?" Tanya Lana. Fia berdiri di hadapan Lana dengan tatapan yang sinis saat ini. Pakaian Fia juga terlalu dewasa dan terbuka untuk gadis berusia 17 tahun.


"Lo yang siapa? Gue mantan pacarnya Tyler." Ujar Fia. Lana mengernyit, belum sempat dia bertanya tujuan Fia, Fia langsung masuk begitu saja dengan menabrak tubuh Lana.


"Hm, udah lama gak kesini, ternyata masih gak berubah." Ujar Fia, sembari berjalan - jalan melihat apartemen Tyler.


"Lo ada perlu apa? Tyler nya gak ada." Ujar Lana, dan Fia langsung menatap Lana.


"Gue mau ngasih tau lo, Tyler tuh punya gue, dan gak bakal bisa move on dari gue. Lo tuh cuma pengganti gue, atau bisa di bilang pelampiasan nya Tyler doang." Ujar Fia dengan percaya diri.


'Oh.. ni cewek pasti cewek yang di ceritain sama Jack dan Renan.' Batin Lana.


"Lo mantannya, ngapain masih balik ke sini, Tyler aja gak pernah bahas lo kok." Ujar Lana, memberi pelajaran.


Fia menjadi marah mendengarnya, tiba tiba saja muncul ide gila di otaknya.


"Gue tuh berarti banget buat dia, dia gak pernah deket sama cewek lain selain gue dan.."


"Gue deket sama Tyler, gue bahkan tinggal bareng dia." Ujar Lana memotong ucapan Fia. Fia menjadi murka mendengarnya, dan tiba - tiba muncul ide gila lain di otaknya.


"Asal lo tahu, gue sama Tyler sering having s*x di sini, lo tinggal bareng dia tapi gak pernah ngerasain nikmatnya di bawah kungkungan tubuh dia, kan?" Ujar Fia, dan Lana tertegun mendengarnya.


'What the.. nih cewek udah gila. ' Batin Lana.


"Lo gak bakal bisa jadi pengganti gue, karena gue adalah satu - satunya orang yang ada di hati Tyler." Ujar Fia, lalu pergi meninggalkan Lana yang masih tertegun dengan keterkejutannya.


'Jadi Tyler cowok bren*sek??' Batin Lana dengan tubuh gemetar. Tiba tiba ponselnya berdering.


"Halo, ma.. Apa!? I-iya Lana pulang ma, bentar." Ujar Lana dan pergi terburu - buru.


Singkat cerita, sore harinya Tyler kembali setelah mengunjungi Jack yang berada di rumah sakit setelah sebelumnya pulang ke markas. Tyler membuka pintu tapi tidak mendapati Lana di manapun.


"Apa dia pergi? Tumben gak ninggalin pesan." Gumam Tyler. Tyler melihat sarapan di meja makan tadi pagi juga masih utuh di sana, Tyler yakin ada yang tidak beres.


Tyler mencoba menghubungi Lana, tapi nomor ponselnya tidak aktif.


"Apa bokapnya nemuin dia di sini?" Gumam Tyler dengan panik.


Tyler membuka rekaman cctv yang terkoneksi dengan ponselnya, dan dia terkejut ketika melihat Fia datang kesana tidak lama setelah dia pergi.

__ADS_1


'Dia, pasti dia udah ngomong yang enggak - enggak.' Batin Tyler dan menjadi emosi.


TO BE CONTINUED..


__ADS_2