TYLER: Who Do You Think Am I?

TYLER: Who Do You Think Am I?
EPS. 30. Bukan mundur, hanya istirahat.


__ADS_3

Tyler tidak kembali ke kelas setelah dia pergi begitu saja meninggalkan Renan dan Jack. Dia kembali ke apartemennya dan ia tidur begitu saja di kamar yang dulu di tempati oleh Lana.


Apartemen itu masih menjadi milik Tyler, karena orang tuanya tidak memintanya dan bahkan memberikannya pada Tyler. Tyler tentu tidak menolaknya, karena dia butuh tempat tinggal selain markasnya.


Hingga sore hari, Tyler baru bangun setelah mendengar suara berisik di luar kamar, suara Renan dan Jack.


"Minta maaf lo, awas lo bikin Tyler marah lagi." Ucap Jack, memarahi Renan.


"Iya - iya.." Ujar Renan.


Tyler yang mendengar itu langsung keluar dengan wajah bantalnya dan berjalan menuju ke dapur untuk mengambil minum di kulkas.


Renan dan Jack melihat Tyler yang acak - acakan, sangat terlihat seperti orang yang baru bangun tidur. Dengan takut - takut, Renan berdiri dan menghampiri Tyler yang sedang menenggak minumannya.


"Ty.." Ujar Renan, dengan takut - takut, Renan bahkan sudah berancang - ancang untuk menghindar jika tiba - tiba Tyler hendak menghajarnya.


"Hm." Sahut Tyler singkat, sambil minum


"Sorry, Ty. Gue gak bermaksud bikin suasana hati lo makin jelek dan nambah pikiran lo. Gue cuma pengen ngembaliin semangat hidup lo lagi." Ujar Renan.


Tyler menaruh botol airnya di meja dan menatap Renan, Renan yang di tatap sebegitu intens nya pun menjadi takut sekarang.


"Gak kok, lo bener." Ujar Tyler tiba - tiba, Renan pun langsung melambaikan kedua tangannya.


"Gak Ty! Sumpah gue gak bermaksud kayak gitu, gue cuma asal ngomong. Please Ty, jangan marah.."


"Gue gak marah kok." Ujar Tyler memotong ucapan Renan.


Tyler berjalan maju dan Renan mundur - mundur, bagaimanapun bogeman Tyler mampu membuat orang pingsan, dan Renan tidak menginginkan itu.


Tyler duduk di sofa, di seberang Jack saat ini sedang duduk. Renan pun duduk di sebelah Jack, dia tidak berani mendekati Tyler.


"Kenapa kalian kayak orang ketakutan gitu? Kalian takut gue hajar? Gua gak bakal ngehajar kalian." Ujar Tyler.


"Lo udah gak marah?" Tanya Jack, dan Tyler menggelengkan kepalanya.


"Gue gak marah, gak ada yang marah." Ujar Tyler dengan santai. Tapi Tyler yang seperti itu justru membuat Jack dan Renan makin merasa aneh.


"Tapi lo tadi pergi dengan emosi, dan ngomong kayak gitu ke kita." Ujar Renan.


"Gue cuma kecewa sama diri gue sendiri aja, yang lo omongin bener Ren, gue yang minta maaf ke kalian." Ujar Tyler.


"Gak Ty, sumpah gue minta maaf banget udah bikin lo tersinggung." Ujar Renan dengan sungguh - sungguh.


"Gak apa - apa, jangan di bahas. Ayok, kita jemput Luigi." Ujar Tyler mengalihkan pembicaraan. Renan dan Jack jadi merasa semakin bersalah sekarang.


"Ck! Ayo.." Ujar Tyler, Akhirnya Renan dan Jack pun saling mengangguk.


Mereka pun akhirnya pergi dari apartemen Tyler dan pergi ke pusat rehabilitasi untuk menjemput Luigi.


"Bilang Ernest, ketemu di sana aja." Ujar Tyler, dan Renan mengacungkan jempolnya.


Tak berselang lama, mereka akhirnya sampai di pusat rehabilitasi. Terlihat Luigi yang tampaknya sudah berdiri di pintu masuk, dia sangat senang ketika melihat teman - temannya datang.

__ADS_1


"Akhirnya, kirain kalian lupa sama gue." Ujar Luigi.


"Mana mungkin kita lupa sama lo, Ernest belom sampe?" Tanya Jack, Luigi menggelengkan kepalanya.


"Belom, eh! Itu dia nongol." Ujar Luigi ketika melihat Ernest datang dengan motornya.


"Bro! Akhirnya hari yang di tunggu - tunggu dateng juga." Ujar Ernest sembari berlari dan memeluk Luigi.


"Ih, najis lo! Gue normal ege!" Ucap Luigi lengsung berusaha melepas pelukan Ernest.


"Terus lo pikir gue belok?? Minta di hajar." Ujar Ernest, dan semua orang terbahak kecuali Tyler.


"Tapi aku juga seneng, kita udah kumpul lagi dengan lengkap." Ujar Renan dan justru berhambur memeluk Luigi.


"Woi!! Tobat, sialan! Gue normal, Astagfirullah!" Teriak Luigi kelojotan, tapi Jack dan Ernest justru bergabung memeluk Renan dan Luigi.


"Hua!! Ty, tolongin gue dong." Ujar Luigi merengek, tapi Tyler justru hanya terkekeh kecil sembari menggelengkan kepalanya melihat kekonyolan teman - temannya.


"Ayo balik, kita rayain kepulangan lo." Ujar Tyler, dan mereka semua akhirnya pergi.


Luigi membawa motor Tyler, dan Tyler yang membonceng di belakang. Mereka membelah jalanan sembari bercanda bersama.


Tyler memperhatikan semua teman - temannya itu dan dia tersenyum sekilas. Hingga akhirnya mereka pun sampai di markas mereka, di ruko.


"Welcome home, my bro." Ujar Renan dengan sangat antusias.


"Aduh, lupa! Gak beli beer." Ujar Jack menepuk keningnya. Bagi mereka, tidak ada beer bukan party namanya.


Tak lama Ernest kembali muncul dengan kantong cokelat yang sangat misterius, lalu dia duduk dengan wajah sangat antusias.


"Buat ngerayain kepulangan sahabat kita, gue beli wishky mahal nih.. khusus buat ngerayain Luigi yang balik ke kita lagi." Ujar Ernest, lalu membuka kantong cokelat yang dia bawa.


"Anjir.. JW Red label, bro." Ujar Renan dengan senang dan menampol pundak Jack.


"Lo mah kebiasaan! gue mulu yang di tampol, tampol noh Tyler kalo berani." Ujar Jack protes, dan Renan menyengir mendengarnya.


"Sorry." Ujar Renan, dan Jack tampak melengos.


"Gila, kok lo bisa dapet?! Ini gak kebanyakan, tiga botol? Bisa bangun lagi gak nih kita ntar? Bablas ke akherat kan gak lucu." Tanya Luigi, tapi Ernest hanya terbahak.


"Ada gunanya kan gue punya KTP." Ujar Ernest, sembari mulai mengeluarkan minuman yang dia bawa.


"Jadi gunanya KTP lo cuma buat beli minuman doang?" Ujar Tyler, dan Ernest menyengir.


"Hehe, sejauh ini si banyak, tapi ini yang paling berarti, hahaha." Tawa Ernest, dan Tyler hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat temannya itu.


"Ayok, party.. kalo kita bisa bangun berarti Tuhan masih sayang kita, udah gitu aja." Ujar Renan dengan antusias, Jack dengan kaki pincangnya berjalan menuju dapur untuk mengambil gelas.


Mereka semua berbagi tugas, Tyler menyalakan musik yang selalu menemani party nya setiap malam.


"I've become so numb, I can't feel you there, Become so tired, So much more aware, I'm becoming this, All I want to do, Is be more like me, And be less like you."


Sepenggal lagu yang Tyler putar, untuk menemani party mereka.

__ADS_1


"Untuk Luigi." Ujar Tyler mengangkat gelasnya, dan di ikuti oleh semua temannya.


"Untuk Luigi." Ujar yang lain, sementara Luigi hanya tersenyum terharu.


"Thanks, kalian emang keluarga gue." Ujar Luigi, dengan berkaca - kaca.


Hingga larut malam, mereka saling mengobrol sampai teler. Ernest bahkan sudah tepar dengan menjatuhkan kepalanya di meja, sementara Renan masih berusaha sadar dengan menyangga kepalanya.


Jack adalah yang paling memiliki hobi aneh saat mabuk, dia selalu beberes saat mabuk. Seperti saat ini, dia sedang merapihkan isi markas itu, dengan berjalan terpincang - pincang membenahi setiap barang, dan saat dia sadar nanti, dia akan lupa menaruh dimana saja benda - benada yang dia bereskan.


Luigi masih sadar dan dia adalah yang paling hobi makan ketika mabuk, snack yang mereka beli akan habis tanpa sisa oleh Luigi seorang.


"Gi, lo masih bisa denger gue ngomong gak?" Tanya Tyler tiba - tiba.


Hanya Tyler yang masih 70% sadar, meski dia mabuk, tapi dia bisa membatasi dirinya.


"Maseeh.. lo mo ngomong apaan, gue selalu dengerin kok." Sahut Luigi yang sedang mengunyah kacang. Mabuk di temani kacang adalah yang paling nikmat.


"Gi, mulai hari ini.. gue berhenti jadi ketua Black puma." Ujar Tyler dan itu langsung membuat Luigi menatap Tyler dengan serius, tapi kemudian Luigi terkekeh.


"Lo udah mabuk ya? Udah tidur aja.. lagian ini udah larut banget." Ujar Luigi, sembari menepuk pundak Tyler.


"Woy Jack! Lo kalo jadi cewek cocok deh, rajin banget. Tidur ege, lanjut besok aja beres - beresnya." Teriak Luigi pada Jack.


Jack menatap kearah Luigi, tapi kemudian dia melengos dan melajutkan beberesnya.


"Ada ya, anak kayak dia.. mabok malah jadi rajin beres - beres, giliran sadar aja malesnya minta ampun." Ujar Luigi.


"Gue serius Gi." Ujar Tyler lagi, dan Luigi kembali menatap Tyler.


"Gue gak bisa fokus dengan geng kita." Ujar Tyler lagi. Luigi menyudahi aksi makannya, lalu menenggak segelas kecil lagi wishky yang ada di hadapannya.


"Gara - gara Lana?" Tanya Luigi, dan Tyler menggeleng.


"Gak tau.. tapi gue mau mundur dari geng kita. Mundur jadi ketua kalian." Ujar Tyler.


"Gak bisa, dan gak boleh." Ujar Luigi tegas.


"Gi gue.."


"Gak ada yang seperti elo Ty. Tanpa lo, kita bukan apa - apa, tanpa lo.. kita semua belum tentu punya rumah. Gue gak ijinin lo mundur." Ujar Luigi dengan tegas.


Tyler terdiam, dia menjadi serba susah. Dia ingin mencari jati dirinya sendiri, karena saat ini dia merasa hidup tapi seakan mati. Dia bagai raga tanpa nyawa dan di hatinya hanya ada kesuraman.


"Kalo lo.. hiatus sementara, gue masih oke. Anak - anak juga pasti ngertiin elo, tapi bagi kami semua, lo gak akan terganti. Kalo lo butuh waktu buat fokus nenangin diri lo dulu, kami masih bisa mengerti itu.. Its okay.."


( Jeda )


"Tapi setelah lo mendapatkan apa yang lo cari, kembalilah ke kita.. Karena Black puma hanya mengakui satu ketua, yaitu elo.. Tyler." Ujar Luigi lagi, dan Tyler tersenyum mendengarnya.


"Thanks, Gi.." Ujar Tyler, dan Luigi menepuk pundak Tyler.


TO BE CONTINUED..

__ADS_1


__ADS_2