
Lana bangun dari tidurnya saat siang hari, saat ini dia berada di kamar lain yang berada di apartemen Tyler.
"Aduh, gue aus banget." Gumamnya. Lana bahkan belum mengganti pakaiannya, dia masih memakai pakaian yang penuh dengan bekas darah yang mengering.
Lana bangun, dan melihat gelas di meja sisi ranjangnya kosong. Dia pun perlahan bangun dan berjalan keluar dari kamarnya. Namun saat ia membuka pintu, ia terkejut karena melihat di apartemen Tyler ada Jack dan Renan.
"Na, lo bangun?" Ujar Tyler dan bangun dari duduknya. Disana ada Jack dan Renan yang sedang duduk terbengong melihat Lana.
Lana mengangguk. "Gue mau minta air." Ujar Lana.
"Kasih gue, biar gue isi." Ujar Tyler dan mengambil gelas di tangan Lana.
Lana menjadi kaku sekarang, antara dia ingin kembali masuk ke kamar atau bergabung dengan Renan dan Jack.
"Hai, Gimana keadaan lo? lo baik - baik aja?" Tanya Renan lebih dulu bertanya.
"Gue baik, thanks." Ujar Lana, dan akhirnya duduk bergabung di sofa. Tyler datang dan menyodorkan gelas Lana pada Lana.
"Thanks, Ty." Ujar Lana, dan Tyler mengangguk. Lana minum air tapi seakan dia menelan biji kedongdong, sangat sulit menelan air itu karena dia di tatapa tiga pria saat ini.
"Jadi sementara Lana bakal tinggal di sini, Ty?" Tanya Jack pada Tyler.
"Hm." Sahut Tyler singkat, Jack dan Renan pun mengangguk - anggukan kepalanya.
Suasana jadi canggung sekarang, bagaimanapun selain dengan Safia, Jack dan Renan tidak pernah melihat Tyler dekat dengan gadis manapun. Tapi sekarang tiba - tiba Tyler akan tinggal satu atap dengan Lana yang notabenenya baru Tyler kenal belum lama.
"Mm.. kalo gitu kita cabut dulu ya, Ty. Kabarin kalo lo butuh bantuan apapun, kita gak sekolah kok." Ujar Renan.
"Kan! ****** lo pada, ngikut gak masuk sekolah segala." Ujar Tyler, Renan dan Jack menyengir mendengarnya.
"Ya lo tau sendiri.. Inggris bukan mapel favorit kita - kita." Ujar Jack, dan Tyler memutar bola matanya malas.
"Pergi sono!" Usir Tyler, karena dia tahu Lana merasa tidak nyaman sekarang.
"Oke, iya - iya kita cabut. Lana, semoga cepet sembuh ya." Ujar Renan pada Lana.
"Makasih, ati - ati di jalan." Ujar Lana, Renan mengacungkan jempolnya. Dan akhirnya Jack dan Renan pergi dari apartemen Tyler.
Sepeninggal mereka, Tyler pun menatap Lana. Dan Lana yang di tatap pun kebingungan.
"Apa?" Tanya Lana pada Tyler dengan ketus.
"Lo terluka gitu masih aja galak, heran gue." Ujar Tyler, lalu bangun dari duduknya. Lana hanya menatap Tyler yang pergi masuk kedalam kamarnya.
Lana menyenderkan tubuhnya di sofa, tapi perutnya terasa sangat sakit sekarang. Tiba tiba Tyler kembali keluar membawa satu set baju lalu ia berikan pada Lana.
"Gue gak tau itu bisa di pake lo apa enggak, gue gak punya baju jaman SMP." Ujar Tyler, sembari menyodorkan baju yang dia bawa pada Lana.
"Ha? Emang siapa yang SMP?" Tanya Lana bingung.
"Maksud gue badan lo kayak anak SMP, baju gue gede semua." Ujar Tyler, dan Lana langsung mengerucutkan bibirnya, tersinggung.
__ADS_1
"Sembarangan." Ujar Lana dengan manyun.
"Ganti baju sono, baju lo darah semua." Ujar Tyler, dan akhirnya Lana mengangguk.
Lana masuk kedalam kamar, dan Tyler mengotak atik ponselnya. Dia berencana membeli makanan dari jasa pesan antar.
Sementara Lana sendiri saat ini sedang berada di dalam kamar mandi, di unit apartemen itu satu kamar memiliki satu kamar mandi. Mewah memang, bahkan ruangan di apartemen itu juga lumayan luas.
Lana melihat pantulan wajahnya sendiri yang babak belur karena di hajar orang suruhan ayah tirinya, dia hanya bisa menghela nafas lalu mulai membersihkan dirinya.
'Semoga mama baik - baik aja.' Batin Lana, dan membersihkan dirinya.
Singkat Cerita, Tyler baru saja naik dari loby setelah mengambil makanan yang dia pesan. Dia menaruhnya di meja lalu menatap kamar Lana yang masih tertutup.
"Tuh anak apa tidur lagi? Dia belom makan, apa gak laper?" Gumam Tyler. Baru saja Tyler menggumam, Lana membuka pintu dan tatapannya bertemu dengan Tyler.
Tyler terpaku melihat Lana yang memakai baju miliknya, tapi terlihat kebesaran. Tubuh Lana memang masih seperti anak SMP, kurus dan kecil.
"Napa lo?" Tanya Lana dengan wajah bingung. Tyler pun tersadar dan mengedipkan matanya.
'Kenapa gue kalo liat dia berasa liat induk ayam, galak banget.' Batin Tyler.
"Lo udah kelar, ini gue beli makanan. Makan terus minum obat, supaya lo gak demam." Ujar Tyler. Lana pun mengangguk dan berjalan menghampiri Tyler.
"Baju lo apa beneran gak ada yang lebih kecil? Gue berasa tenggelem make baju ini." Ujar Lana.
"Gak ada, kan gue udah bilang, baju gue gede semua gak ada yang kecil." Ujar Tyler, dan akhirnya Lana mengangguk lalu mereka pun makan siang bersama.
Seperti hari ini, Lana Jack dan Renan sedang bermain bersama, mereka mengajari Lana bagaimana cara bermain PS, tap Lana yang pemula justru terus terusan menang.
"Gak! Ini gak bisa di biarin, lo pasti tadinya udah apal, kan? Ngaku lo, Na!" Ujar Renan protes karena selalu kalah.
Lana terbahak - bahak karena Renan sangat lucu ketika marah - marah, berbeda dengan Jack yang hanya menepuk keningnya dan menutup wajahnya dengan bantal.
"Kan elo yang ngajarin.." Ujar Lana membela diri.
Tyler hanya bisa tersenyum - senyum melihat ke somplakan teman - temannya, tapi dia merasa kurang, karena seharusnya Luigi juga ada di sana dengan mereka.
'Gi, kapan lo sembuh dan balik ke kita, kita punya temen baru.' Batin Tyler.
"Masa iya ada orang baru belajar langsung jadi pro?! Lo pembohongan publik ini namanya." Ujar Renan kembali protes, dan Lana kembali terbahak.
"Kalah gak ngaku, lo." Ujar Tyler, dan Renan meranga mendengarnya.
"Udah - udah! Ayo pada siap - siap, kita ada balap." Ujar Jack.
"Gue gak ikut, kalian aja berdua." Ujar Tyler langsung menolak.
"Ck! Gak seru. Ayolah Jack, cabut." Ujar Renan. Dia masih emosi karena kalah main game.
"Serius gak ikut, Ty?" Tanya Jack, dan Tyler berdehem sembari memgangguk.
__ADS_1
"Na, lo harus inget hari bersejarah ini, Na. Seorang Tyler gak mau ikut balap demi nemenin elo di sini." Ujar Jack dan Lana langsung menatap Tyler.
"Sembarangan bicara apa lo, sono pergi!" Ujar Tyler langsung salah tingkah.
"Nah kan, salting dia.." Ujar Renan, dan Tyler langsung bangun dan menyeret kedua temannya itu keluar, Lana hanya bisa terkekeh melihat kekonyolan mereka.
"Na, buat si nisan kuburan ini jatuh cinta ama lo Na, gue dukung." Teriak Jack sembari tubuhnya di seret keluar oleh Tyler.
"Nisan kuburan, bapak lo tuh nisan kuburan, sana pergi." Ujar Tyler, Jack dan Renan pun terkekeh karenanya.
Dan setelah Renan dan Jack keluar, Tyler langsung menutup pintu begitu saja. "BRAK!" Suara pintu yang di banting.
"Astaga, mereka benar - benar." Gumam Tyler, dan Lana masih saja terkekeh.
"Besok gue sekolah." Ujar Lana, tiba tiba ketika Tyler baru saja duduk di sofa dan memegang remot PS.
"Yakin?? Emang luka lo udah mendingan?" Tanya Tyler, mengalihkan pandangannya pada Lana.
"Mending kok, buktinya gue udah bisa maen bareng temen - temen lo." Ujar Lana dengan senyum manisnya.
"Mereka temen lo juga sekarang, bukan cuma temen gue." Ujar Tyler, dan lana mengangguk.
"Thanks, Ty." Ujar Lana, dan Tyler menatap Lana lekat - lekat.
"Untuk??" Tanya Tyler.
"Semuanya, lo baik banget sama gue. Gue pikir lo biang nya tukang buli, tapi gue salah. Sorry karena gue berpikiran buruk tentang lo dulu." Ujar Lana dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Lana tersenyum dan memberi kode untuk berjabat tangan, Tyler pun akhirnya menerima uluran tangan Lana, dan kini mereka berjabat tangan. Tyler tersenyum ketika melihat Lana meringis, di matanya Lana sangat lucu saat ini.
Di tempat lain..
Safia bangkit dari duduknya ketika melihat motor Tyler datang, tapi dia mengernyit ketika melihat siapa yang menaiki motor Tyler.
"Kok bukan Tyler, kemana si Tyler, udah beberapa hari dia gak pernah nongol." Gumam Fia.
Dia pun mendekat untuk bertanya pada kakak sepupunya yaitu Ernest, tapi belum juga dia bertanya, dia mendengar pembicaraan Jack, Ernest dan Renan.
"Gak dateng lagi si Tyler?" Tanya Ernest.
"Dia lagi jagain ceweknya di apartemen." Ujar Renan dan Ernest menggelengkan kepalanya.
"Hebat tuh cewek, bisa bikin Tyler yang sedingin kutub bisa cair." Ujar Ernest.
Fia yang mendengar itu mengepalkan tangannya, dia tidak rela Tyler sudah memiliki penggantinya.
'Gak mungkin dia secepat itu dapet cewek baru, gue tau Tyler benci cewek.' Batin Fia geram.
"Siapapun cewek itu, gue bakal bikim dia pergi jauh dari Tyler, Tyler punya gue." Gumam Fia sembari menatap tajam.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1