
Tyler sampai di apartemennya dengan pakaian yang basah kuyup, ia langsung masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan dirinya di bawah guyuran shower. Matanya terpejam membayangkan bagaimanma dirinya mencium Lana begitu saja tadi.
'Kenapa gue gak bisa ngendaliin diri gue sendiri saat sama Lana, Lana pasti marah sama gue.' Batin Tyler merutuki dirinya sendiri di bawah guyuran air.
Tapi bibir manis Lana masih terngiang di kepalanya saat ini.
'Sial..'
Sementara Lana sendiri, dia sedang duduk di meja belajarnya sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Tapi tatapannya kosong hingga gerakan tangannya sangat lambat. Ia masih membayangkan bagaimana Tyler menciumnya dengan lembut tadi.
"Apa gue beneran nyium Tyler, tadi?" Gumamnya. Jantungnya juga masih sangat berdebar tidak jelas sampai sekarang.
"Ya ampun anak ini, udah mandi dari tadi masih juga belum selesai ngeringin rambut, ngelamunin apa sih??" Ujar ibu Lana yang masuk kedalam kamar Lana.
Lana sampai terkejut sendiri, ia pun hanya bisa menyengir malu melihat ibunya lagi - lagi memergokinya sedang melamun. Lana terkejut sampai salah tingkah sendiri.
"Mama, aku gak ngelamun kok.." Kilah Lana.
Ibunya hanya bisa terkekeh melihat anaknya yang kini sepertinya sudah mulai memasuki tahapan puber dan sedang merasakan apa yang namanya jatuh cinta.
"Kayak apa sih pacar anak mama, sampe bikin anak mama ngelamun mulu. Ganteng banget ya??" Ujar ibu Lana. Tapi Lana justru manyun mendengar penuturan ibunya.
"Lana gak ngelamun ma.. dan dia biasa aja, kok." Lana tetap tidak mengaku.
"Masa??? Terus yang malem - malem anter pulang itu, siapa, Pacar kamu?" Tanya Ibu Lana, Lana tertegun.. ibunya melihat dirinya kemarin.
"Mama liat??" Tanya Lana, dan ibunya langsung mengangguk sembari tersenyum.
"Tapi mama gak pernah bisa liat mukanya." Ujar Ibu Lana.
Tapi Lana justru jadi menunduk, dia kini merasa bersalah pada Asher karena sudah salah paham.
"Ma, Lana lagi bingung." Tutur Lana tiba tiba. Ibunya langsung mendengarkan Lana dengan serius.
"Bingung kenapa, nak?" Tanya ibunya. Lana menatap ibunya, dia ingin sekali menceritakan apa yang ada di dalam hatinya saat ini.
"Lana gak ngerti mau ngomongnya dari mana, tapi Lana malu juga ngomongnya ke mama." Pungkasnya. Ibunya terkekeh mendengar itu.
"Ngapain malu? Mama kan mama kamu, kalo kamu gak cerita ke mama, kamu mau cerita sama siapa?" Ujar Ibunya, lalu mengusap rambut Lana.
"Jangan mendem perasaan sendiri, sayang.. jika kamu punya masalah, cerita ke mama, karena peran mama adalah orang tua kamu yang harus membimbing kamu di masa - masa remaja ini." Ujar Ibunya lagi.
Lana terlihat berpikir, tapi kemudian ia mengumpulkan keberaniannya. Tapi kemudian dia justru menggaruk kepalanya frustasi.
"Hmm.. jadi Lana tadi di cium cowok, ma." Ujar Lana dengan takut takut.
"Teruuuss???" Tanya ibunya menahan senyum
"Tapi dia bukan pacar Lana." Ujar Lana sembari memejamkan matanya. Ibunya masih setia menunggu kelanjutan Lana.
"Lana kenal dia lebih dulu dari pada Lana kenal pacar Lana, dia dari sekolah Lana yang sebelumnya. Intinya.. Lana berdebar kalo deket sama dia, tapi enggak kalo sama pacar Lana sendiri." Tutur Lana.
"Kata mama, kalo kita jatuh cinta sama seseorang, jantung kita bakal berdebar, kan? Dan Lana berdebar kalo deket dia." Ujar Lana lagi.
"Jadi anak mama terjerat cinta segitiga??" Ujar ibunya dengan senyum - senyum.
__ADS_1
"Ha? Apa itu??" Tanya Lana bingung. Ibunya menghela nafas lalu menggenggam tangan Lana.
"Pacarmu mencintai kamu, tapi kamu mencintai orang lain. Terus gimana sama cowok itu sendiri?? Apa dia juga suka kamu?" Tanya Ibunya.
"Cowok yang nyium Lana?" Tanya Lana, dan ibunya mengangguk.
"Nggak tau." Sahut Lana, dan ibunya terkekeh.
"Sayang, saat remaja.. hati kita masih sangat plin plan dalam mengenal cinta. Kita bisa mudah tertarik dengan siapa saja yang menurut kita menarik, tapi.. Saat kamu mencintai seseorang, maka kamu hanya akan tertuju padanya seorang." Ujar ibu Lana memberi pencerahan.
"Jawabannya ada pada hatimu sendiri, mama hanya berpesan, kalo kamu tidak mencintai pacar kamu, jangan terima dia.. kasihan dia, dia berharap banyak dari kamu, tapi hatimu sudah di miliki orang lain." Ujar Ibunya, dan Lana mengangguk.
"Hape kamu berdering terus dari tadi." Ujar ibu Lana, dan Lana langsung bangun dan keluar dari kamarnya. Dia meletakan ponselnya di ruang tengah sembari di cas.
"Bang Angga?" Gumamnya.
"Halo, bang." Ucapnya ketika panggilan itu tersambung.
"Lo gak dateng?" Tanya Angga.
"Dateng, bentar bang." Ujar Lana, dan dia menepuk keningnya ketika melihat jam di dinding.
"Oke, yang lain udah pada dateng." Ujar Angga.
"Sip, ampe ketemu di sana." Ujar Lana, dan panggilan di akhiri.
"Mampus gue, telat." Gumam Lana dan langsung berlari masuk ke kamarnya.
"Ma, Lana pergi dulu ya. Ada kerjaan mendadak dari bos." Ujar Lana.
Yang ibunya tahu, Lana bekerja di cafe yang buka 24 jam. Ibunya sama sekali tidak tahu bahwa Lana melakukan balap liar.
Setelah selesai, Lana langsung keluar dan mengendarai motornya keluar dari gang.
Singkat cerita, Lana sampai di tempat balap dan saat itu juga ia melihat motor kuning yang sangat dia kenali, milik Asher.
'Gue harus minta maaf sama dia, seenggaknya gue harus dengerin dia dulu.' Batin Lana.
Tyler melihat Lana yang berjalan kearah motornya dan melihat kesana kemari, seakan tahu dirinya sedang di cari oleh Lana, Tyler pun mendekat.
"Na.." Panggil Tyler, Lana pun langsung berbalik badan dan tatapannya bertemu dengan Asher / Tyler.
"Asher.." Gumam Lana, tapi menjadi gugup sendiri. Yang Lana ingat malah kejadian saat ia berciuman dengan Tyler, Lana merasa menjadi penghianat sekarang.
"Asher, abis balap.. ada yang mau gue omongin sama lo." Ujar Lana, dengan menahan kegugupannya.
"Gue gak mau putus, Na." Ujar Asher/Tyler. Lana terdiam mendengarnya.
"L! Udah mau mulai." Teriak Angga dari kejauhan, dan Lana mengangguk.
"Kita bicarain abis balap." Ujar Lana dan hendak pergi, tapi Tyler menahan tangan Lana. Perlahan Lana menarik dirinya dan pergi dari Asher/ Tyler.
'Gue udah kehilangan lo sebagai Tyler, gue gak mau kehilangan lo sebagai Asher juga, Na.' Batin Tyler.
Tyler pikir Lana sesulit itu di ajak bicara, dia masih tidak berani menjadi dirinya sendiri untuk mengutarakan isi hatinya pada Lana.
__ADS_1
Akhirnya balap pun di lakukan, Lana membawa semua gejolak di hatinya kedalam arena, hingga dia tidak tersaingi. Lana menang dalam balap malam ini, semua penggemarnya pun senang.
"Wohooo..." Teriak semua penggemar Lana.
Lana di peluk semua orang dan dia senang malam ini. Hingga tatapannya kembali bertemu dengan Tyler yang sudah menunggunya di tepi.
"L, ke ruangan gue, ya." Perintah Angga.
"Gak bisa, bang. Sorry gue ada urusan malem ini." Sahut Lana.
"Lo balap di tempat lain?" Tanya Angga Lana langsung menggeleng kuat.
"Enggak, gue cuma ada urusan. Besok deh, ya??" Mohon Lana, akhirnya Angga mengangguk.
"Bye, bang." Ujar Lana, dan langsung pergi dari sana.
Dan singkat cerita, kini Lana dan Asher / Tyler sudah berada di tepi jembatan di tengah kota yang membentang sangat lebar.
"Sorry, gue udah salah paham sama lo." Ujar Lana akhirnya.
"Lo gak marah sama gue lagi?" Tanya Asher/Tyler, Lana menganggukan kepalanya. Tyler tersenyum, lalu mendekap Lana kedalam pelukannya.
"Thanks, Na." Gumam Asher.
"Tapi Asher, kayaknya gue beneran gak bisa lanjut jadi pacar lo." Ujar Lana dan senyum Asher/Tyler hilang.
"Kenapa?" Tanya Asher menatap Lana dalam - dalam.
"Gue..." Ucap Lana menggantung.
"Gue.."
"Lo udah punya orang yang lo suka?" Ujar Asher/Tyler, Lana perlahan mengangguk.
Tyler terdiam, apa akhirnya dia benar - benar tidak bisa menahan Lana di sisinya bahkan dengan identitasnya yang lain?
"Siapa??" Tanya Asher.
"Lo gak perlu tahu, karena gue sendiri belum yakin dengan apa yang gue rasain. Tapi kalo lo terus sama gue, lo yang bakal sakit." Ujar Lana, ia mengingat kata - kata ibunya.
"Harus, gue harus tau siapa dia. Jadi gue bisa dengan ikhlas ngelepas lo, kalau emang dia lebih baik dari gue." Ujar Tyler.
"Kita juga pacaran cuma karena kepaksa kan? Gue yakin lo juga gak beneran suka sama gu.."
"Gue suka sama lo, dan gue sayang sama lo. Ada alasan kenapa gue minta lo jadi pacar gue, karena gue beneran suka sama lo, Na." Ujar Tyler tidak bisa menahan gejolak di hatinya.
Lana tertegun tentu, dia pikir Asher hanya menjadikannya tawanan untuk mentembunyikan identitasnya.
"Siapa, Na!?" Tanya Tyler lagi, sembari mengguncang bahu Lana.
Karena jika itu Kyle, Tyler sudah bertekad akan melakukan apa saja untuk membawa Lana bersamanya.
"Tyler.." Gumam Lana, dan Tyler sendiri tertegun mendengarnya. Jadi Lana menyukai dirinya juga, sebagai Tyler.
'Gue?' Batin Tyler tidak bisa berkata - kata.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..