TYLER: Who Do You Think Am I?

TYLER: Who Do You Think Am I?
EPS. 16. Lana tertusuk.


__ADS_3

Malam harinya, Tyler, Jack, Renan dan Ernest sudah bersiap. Mereka akan mendatangi markas pengedar yang Lana beritahukan siang tadi.


"Siap?" Tanya Tyler, dan semua orang mengangguk. Semuanya pun keluar dan naik ke motor mereka masing masing.


"Ty, lo yakin gak mau bawa anak - anak lain? Kita cuma berempat." Ujar Jack, ketika sudah berada di motornya.


"Kita berempat aja yang maju, anak - anak lain nunggu sambil sembunyi." Ujar Tyler.


"Oke lah, ayok." Ujar Renan. Dan mereka semua pun langsung pergi dari ruko itu menuju ke tempat yang siang tadi Lana beri tahu.


Setelah beberapa saat mereka akhirnya sampai di gang yang jauh dari gang tujuan mereka, Tyler menatap gang itu dan ternyata yang di katakan Lana benar, saat malam hari gang itu di tongkrongi preman.


"Yang mana Ty?" Tanya Jack.


"Yang banyak premannya, tapi kita gak lewat sana, kita lewat belakang. Parkirin aja motornya di sini, suara bisingnya bisa bikin mereka curiga." Ujar Tyler, dan semua orang mengangguk.


Akhirnya Tyler dan kawan kawannya langsung masuk ke pekarangan Warga sesuai dengan yang Lana beri tahu.


"Kita mencar dua - dua, Ren lo ikut gue." Ujar Tyler, dan mereka pun akhirnya berpencar.


Mereka mengitari rumah padat penduduk itu, lalu menyelinap masuk ketika mereka rasa aman. Tapi setelah mereka masuk, ternyata rumah itu tidak terlihat seperti rumah pengedar nark*ba.


"Apa ini? Kok rumahnya kayak taman kanak - kanak? Lo yakin ini tempatnya Ty?" Tanya Renan dengan wajah bingung.


'Apa Lana bohongin gue? Beraninya dia.' Batin Tyler menjadi emosi dengan Lana.


Ernest dan Jack pun akhirnya masuk dan bertemu di dalam rumah itu.


"Ty ini taman kanak- kanak bukan si?" Ujar Jack yang berpikiran sama seperti Renan.


"Cabut." Ujar Tyler karena marah. Renan dan yang lainnya hanya bisa saling pandang dan akhirnya mereka pun pergi dari sana.


"Kalian pulang aja duluan, gue harus pergi ke suatu tempat." Ujar Tyler ketika mereka sudah berada di motor mereka masing masing.


"Oke, kabarin kalo lo butuh bantuan." Ujar Ernest, dan Tyler mengangguk.


"Yuk, cabut." Ujar Ernest pada yang lain, dan mereka pun pergi. Setelah Ernest, Jack dan Renan pergi, Tyler pun pergi juga dari sana.


'Lana, lo berani bohongin gue, habis lo sama gue.' Batin Tyler.


Dan setelah Tyler pergi, muncul beberapa pria yang bersembunyi di semak, dan mereka menghubungi seseorang.


"Mereka udah pergi." Ujarnya.


Sementara itu, Tyler melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan pagi dini hari dan sampai di jembatan. Dia membuka helmnya lalu menatap kesana kemari, ia berencana menunggu Lana di sana.


Tapi sampai jam tiga lebih, Lana tidak juga muncul dan itu semakin membuat Tyler emosi, karena dia merasa sangat di bohongi.


"Gak seharusnya gue percaya dia, emang nyatanya semua cewek sama aja." Ujar Tyler dan kembali memakai helmnya.


Dia hendak pergi dari jembatan itu, saat dia hendak naik ke motornya ekor matanya melihat seseorang yang sedang di pukuli. Awalnya Tyler tidak peduli dan hendak pergi begitu saja, tapi saat dia lihat lebih jelas lagi, rupanya itu adalah Lana yang sedang di pukuli seorang pria.


"Lana!" Ujarnya dan langsung berlari menghampiri Lana.

__ADS_1


Tyler melepas helmnya dan melemparnya pada pria yang sedang memukuli Lana.


"Apa - apaan lo!" Ujar Tyler dan mendorong pria itu sampai jatuh.


"Siapa lo, huh?! Gue gak ada urusan sama lo, mending lo minggir." Ujar pria itu.


"Lo ada urusan sama dia, berarti lo punya urusan juga sama gue!" Ujar Tyler.


"Bac*t!" Ujar pria itu dan menyerang Tyler.


Tapi bukan Tyler yang terpukul, pria itu justru tumbang dengan sekali hantaman tangan Tyler. Tyler anak SMA tapi tubuhnya lumayan besar dan berotot, selain itu dia ahli bela diri.


"Ban*sat lo! Banci! Beraninya lo mukulin cewek." Ujar Tyler sembari menghajar pria itu.


Pria itu sampai babak belur dan berdarah darah, Tyler menyudahi aksinya ketika mendengar suara Lana yang kesakitan.


"T- Tyler.." Panggil Lana, dan Tyler langsung melepaskan pria itu. Pria itu langsung kabur begitu saja setelah Tyler menghampiri Lana.


"Lana, lo baik baik aja?" Ujar Tyler dengan khawatir.


"Perut gue.." Ujar Lana dan terkulai lemas. Tyler tertegun ketika melihat perut Lana yang berdarah, Lana tidak hilang kesadaran tapi dia sangat lemah.


"Si*l, dia di tusuk." Ujar Tyler. Tyler bingung harus bagaimana, akhirnya dengan panik dia menggendong tubuh Lana dan mendudukannya di motornya.


"Na, Lana.. lo bisa denger gue?" Tanya Tyler, sembari menggendong Lana.


"Hng.." Sahut Lana dengan Lemah.


"Gue bakal boncengin lo pake motor, tolong jangan hilang kesadaran oke? Berusaha buat tetep sadar, lo bisa?" Ujar Tyler.


Tyler mendudukan Lana di boncengan motornya, lalu dia melepaskan jaketnya dan di ikatkan di tubuh Lana dengan tubuhnya. Tidak mudah melakukan itu, karena Lana sangat lemas, Tyler dan Lana bahkan nyaris jatuh bersama dari motor.


"Na, lo denger gue?" Panggil Tyler dengan semakin panik.


"Hmm.. Iya." Sahut Lana.


"Kita bakal jalan, tolong jangan hilang kesadaran." Ujar Tyler. Dan Lana hanya menyahut dengan deheman.


Tyler pun melajukan motornya dengan satu tangan, sementara tangan kirinya ia gunakan untuk memegangi kedua tangan Lana agar tetap berada perut Tyler.


Tak lama Tyler sampai di sebuah gedung apartemen, setelah sampai di parkiran, Tyler melepas ikatan jaketnya dan memutar menghadap Lana. Tapi ternyata Lana sudah hilang kesadaran.


"Na! Lana!" Panggil Tyler, tapi Lana tidak menyahut.


Dengan susah payah, Tyler turun dan menggendong Lana. Sebelumnya dia lebih dulu menutup tubuh Lana dengan jaketnya agar darah di perut Lana tidak terlihat orang.


Tyler meminta bantuan satpam, dan mereka akhirnya naik ke unit apartemen Tyler di lantai 38. Tyler merebahkan Lana di sofa dan dia langsung panik mencari p3k.


"Masa gue buka baju nya dia?" Gumam Tyler kini dirinya ragu ketika hendak membersihkan luka di perut Lana.


"Lupain! Lana pasien Ty, lo harus bantu dia." Ujar Tyler, dan akhirnya Tyler mengobati Lana meski sebelumnya dia ragu untuk membuka baju yang menutupi perut Lana.


"Untung lukanya gak dalem." Gumam Tyler sembari memasang perban di perut Lana.

__ADS_1


Setelah luka di perut selesai, Tyler beralih ke wajah Lana. Dan dia tertegun ketika melihat wajah Lana yang sangat pucat penuh luka.


Tyler membersihkannya dengan air hangat dan gerakan sangat pelan. Dan ketika ia mengelap bibir Lana, dia terpaku di sana sesaat.


'Apa yang lo pikirin, Ty.' Batin Tyler. Dan akhirnya selesai. Tyler duduk di lantai melihat Lana yang tidak sadarkan diri.


"Semoga dia bisa cepet sadar, kenapa tadi gue gak bawa dia ke rumah sakit aja coba, bodoh lo Ty." Gumam Tyler, merutuki dirinya sendiri.


Tyler pun bangun dan masuk ke dalam kamarnya, dia membuka lemari dan mengambil handuk, lalu masuk ke kamar mandi.


Setelah selesai, matahari juga sudah mulai menyingsing, Tyler keluar dan duduk di sofa di depan Lana yang masih belum sadar. Tyler menyentuh keningnya, lalu menyentuh kening Lana.


"Dia demam." Gumam Tyler, dan saat itu juga Lana membuka matanya, mereka bertemu tatap.


"Na, lo udah sadar? Lo demam, kita ke dokter, ya?" Ujar Tyler, tapi lana langsung menggelangkan kepalanya.


"Gak perlu, gue takut ketahuan." Ujar Lana, dan Tyler mengernyitkan keningnya.


"Ketahuan siapa?" Tanya Tyler.


"Bobi." Ujar Lana, dan dia hendak bangun tapi kesusahan.


"Rebahan aja, jangan paksa bangun, luka lo bakal berdarah lagi ntar." Ujar Tyler, dan akhirnya Lana mengangguk.


"Kenapa Bobi ngejar lo? Dan ya, ngomong - ngomong semalem gue ke sarang mereka, tapi rumah itu bukan rumah pengedar, melainkan taman kanak - kanak." Ujar Tyler.


"Itu trik mereka, bangunan itu memang di buat seperti taman kanak - kanak, tapi itu sarang mereka. Gue ketahuan bawa Lo kesana kemarin, dan sekarang mereka ngejar gue." Ujar Lana, dan tyler terkejut.


"Kenapa mereka kenal lo?" Tanya Tyler, dan Lana mengalihkan pandangannya. Tapi akhirnya dia kembali menatap Tyler.


"Bobi, dia bokap tiri gue." Ujar Lana, dan Tyler lebih tidak mengerti lagi sekarang.


"Lo mau bokap tiri lo di tangkep?" Tanya Tyler, dan Lana mengangguk.


"Dia gak pantes bebas, lebih - lebih.. dia gak pantes hidup." Ujar Lana dengan tatapan kebencian dan Tyler bisa melihat itu.


"Lo benci bokap lo? Apa dia yang selalu bikin lo babak belur tiap dateng ke sekolah?" Tanya Tyler, dan Lana mengangguk.


"Sorry Na, gue pikir lo ngerjain gue. Gue sempet emosi dan berpikiran lo main - main sama gue." Ujar Tyler, menyesal.


"Gak apa - apa, thanks ya, lo udah nyelametin gue. Mungkin gue udah pindah alam kalo gak ada lo." Ujar Lana dengan kekehan pucatnya.


"Sembarangan ngomong apa lo, istirahat yang bener." Ujar Tyler.


"Gue harus balik, nyokap gue sendirian." Ujar Lana.


"Gak, lo di sini aja. Perut lo ketusuk, dan bokap lo bisa aja nemuin lo nanti. Lo sembunyi aja di sini sementara, sampe lo sembuh." Ujar Tyler.


"Tapi nyokap gue.."


"Temen - temen gue bakal jaga nyokap lo." Ujar Tyler, dan Lana tersenyum mendengarnya.


"Thanks, lo baik." Ujar Lana dengan senyum manisnya, dan tanpa sadar telinga Tyler merah.

__ADS_1


TO BE CONTINUED..


__ADS_2