
Dan akhirnya kini Lana dan Tyler pun keliling kota Jakarta untuk mencari tempat tinggal baru untuk Tyler. Setelah sebelunya Lana lebih dulu pulang ke rumahnya untuk berganti pakaian.
Sebenarnya bisa saja Tyler tinggal di markasnya, tapi terkadang Tyler juga butuh privasi. Markas hanya tempatnya untuk berkumpul dengan teman - temannya, sedangkan tempat tinggal pribadi adalah tempat untuk dia benar - benar beristirahat.
"Kamu maunya apartemen, Ty?" Tanya Lana.
Saat ini dirinya berada di sebuah marketing gallery bersama Tyler. Mereka sedang menunggu agen yang akan membantu Tyler memilih apartemen.
"Sebenernya rumah juga gak apa - apa. Cuman kalo rumah, ngeluarin lebih banyak biaya. Kan kamu tau sendiri rumah di daerah Jakarta Selatan, semuanya mahal."
( Jeda )
"Terus kalo rumah berasa kayak di kuburan, soalnya kegedean buat aku yang cuma seorang diri. Aku rasa apartemen adalah pilihan yang cocok, selain lebih terjangkau, aku juga bisa nentuin seberapa besar tempat tinggal aku nanti." Ujar Tyler, dan Lana terkekeh.
"Kuburan amat nyamainnya." Ujar Lana.
"Hehe, emang gitu. Aku juga berencana beli di tempat yang berada di tengah - tengah, antara rumah kamu sama sekolah, jadi aku gak jauh dari kamu." Timpal Tyler lagi.
"Aku bisa berangkat sekolah sendiri, Ty. Kamu jangan merepotkan diri kamu sendiri." Ujar Lana.
"Aku gak merasa di repotkan, kok.." Shaut Tyler.
Dan tiba - tiba agen yang akan membantu Tyler tiba, mereka pun membahas untuk pembelian sebuah unit apartemen yang siap huni di tengah kota.
"Kebetulan banget unit nya udah siap huni, kak. Kalo kakaknya mau liat - liat kesana, saya bisa anterin." Ujar agen, setelah lama berbincang - bincang.
" Oke, bisa hari ini?" Tanya Tyler.
"Bisa banget, kak. Tapi sorry nggak bisa sekarang, saya masih ada satu klien lagi. Sekitar jam tiga sorean mungkin, kak?" Ucap agen.
"Oke." Sahut Tyler.
Dan setelah percakapan yang lumayan menguras waktu itu, kini Tyler dan Lana pun berkeliling di Mall yang kebetulan dekat dengan Marketing gallery itu sembari menunggu waktu tiba.
"Mau makan sesuatu gak, be?" Tanya Tyler.
"Gak laper sih, tapi lebih pengen ke es." Sahut Lana.
" Ya udah, yuk." Tyler pun menggandeng tangan Lana, layaknya muda mudi yang sedang di mabuk cinta.
Mereka masuk ke dalam sebuah kedai yang menjual es krim, lalu memesan dua cup es krim dan memakannya bersama di sana.
"Hm, enak juga yang dark choco." Ujar Lana.
"Iya, kan?" Sahut Tyler.
__ADS_1
"Kamu sering makan es krim?" Tanya Lana, dan Tyler menggeleng sambil tersenyum.
"Kok tau ini pasti enak?"
"Nebak aja, be." Ujar Tyler dan terkekeh.
Tapi senyumnya itu pudar ketika ia melihat pasangan yang masuk ke kedai itu juga, Tyler melihat ayahnya bersama seorang perempuan yang menggunakan pakaian sangat seksi.
Lana mengikuti arah pandang Tyler, dan kembali melihat Tyler yang wajahnya menegang. Lana menggenggam tangan Tyler dan Tyler tersadar.
"You okay?" Tanya Lana, dan Tyler tersenyum.
"Kita pergi aja dari sini?" Tanya Lana.
"Abisin aja dulu es krimnya, be. Ntar meleleh." Sahut Tyler, dan Lana mengangguk.
Tyler mencoba tidak peduli, toh mereka juga sudah tidak memiliki hubungan apa - apa lagi. Hanya saja wanita yang bersama dengan ayahnya itu adalah ibunya Kyle.
Tyler kemudian melihat Kyle yang juga masuk ke dalam kedai itu dan duduk bergabung dengan ibunya. Bisa Tyler lihat wajah Kyle yang sangat tidak ramah.
"Sayang, mau pesan apa?" Terdengar suara ibu Kyle.
"Gak usah basa - basi, mama mau apa panggil aku ke sini?" Tanya Kyle mulai bersuara.
Tyler diam - diam mendengarkan percakapan mereka dengan Lana yang juga sesekali bertatapan dengan Tyler.
Tyler melihat Kyle yang tampak tidak suka melihat ayah Tyler. Berulang kali Kyle menghela nafas dan berusaha menahan amarah, Tyler bisa melihat itu.
"Gak cukup jadi selingkuhan, sekarang lo mau terang - terangan nikahin nyokap gue?" Ucap Kyle pada ayah Tyler.
"Kyle!! Kenapa ngomongnya gak sopan gitu?" Ujar ibunya menatap Kyle dangan tajam.
" Nyatanya, kan?? Mama lebih milih selingkuhan mama, dari pada aku." Ujar Kyle.
"Apa si, nak! Mama gak pernah ngomong gitu." Ujar ibu Kyle.
"Mama milih cerai dari papa, berarti mama milih dia dari pada aku! Apa gak cukup perselingkuhan kalian!?" Ujar Kyle dengan nada sedikit tinggi.
"Dan lo! Lo gak ngerasa cukup deketin nyokap gue dan ngerusak pernikahan nyokap sama bokap gue?! Gak punya malu banget lo, terang - terangan ngerebut bini orang." Ujar Kyle pada ayah Tyler.
"Ayahmu pasti bicara yang tidak - tidak tentang saya, ya? Saya tidak masalah kamu mau anggap saya apa, saya dan mamamu itu saling mencintai dari dulu." Ujar ayah Tyler.
"Bulsh¡t!" Ucap Kyle.
"Aku gak mau di bilang jadi anak egois, ma. Kalo mama mau nikah sama dia, silahkan.. Tapi jangan harap aku mau anggap dia papa aku, itu gak akan pernah terjadi."
__ADS_1
(Jeda)
"Dan satu lagi, jangan minta aku dateng ke pernikahan kalian, menggelikan." Ujar Kyle, lalu bangun dari duduknya.
"Kyle! Mama gak suka kamu kayak gitu, ya!" Ucap Ibu Kyle ikut bangun.
"Mama gak suka aku kayak gini? Aku juga nggak suka mama kayak gitu, impas kan!? Aku menghormati mama karena mama adalah mamaku, tapi jangan minta aku menghormati orang lain, apalagi itu adalah selingkuhan mama." Ucap Kyle, lalu beranjak pergi.
Tapi naasnya, saat itu juga Kyle melihat Tyler yang sedang duduk memakan eskrim bersama Lana. Dia pun berjalan menghampiri Tyler, dan tanpa aba - aba atau permisi, Kyle menarik kursi dari meja lain lalu duduk membaur di meja Tyler.
"Gimana rasanya? Apa masih tetep enak es krim di cup lo itu, ngeliat pemandangan di sana?" Tanya Kyle, melirik kearah ibunya dan atah Tyler.
Tyler tidak menggubrisnya, dia malah fokus mengelap mulut Lana yang terkena es krim. Kyle yang melihat itu pun jadi kian emosi.
"Bokap lo mau nikahin nyokap gue, bentar lagi lo sama gue jadi sodara tiri, lo gak ada yang mau di omongin?" Ujar Kyle memancing emosi Tyler.
Lana sedikit terkejut mendengarnya, dia menatap Tyler, tapi Tyler justru tersenyum sangat manis padanya, seakan ucapan Kyle sama sekali tidak mengganggunya.
Kyle tidak kehabisan akal, dia masih ingin memancing emosi Tyler. Tiba - tiba saja Kyle meletakan satu tangannya di meja dan menopang kepalanya lalu menghadap Lana.
"Hai, Na.. Lo cantik, hari ini." Ujar Kyle.
Tyler langsung melirik Kyle dengan sinis dan tajam, sementara Lana merasa akan terjadi perang besar saat ini juga, dia langsung bangun dari duduknya dan menggandeng tangan Tyler.
"Ty, kita pergi aja yuk." Ajak Lana.
Tyler pun tersenyum pada Lana lalu bangun. "Ayo." Sahut Tyler.
Kyle semakin kesal sendiri, upayanya memancing emosi Tyler gagal. Kyle tahu, Lana bagaikan penawar bagi Tyler. Karena sejak dulu Kyle selalu bisa memancing emosi Tyler, tapi tidak lagi setelah kehadiran Lana.
"D☆mn ¡t!" Gumam Kyle penuh amarah.
Tyler sempat bersitatap dengan ayahnya dan ibunya Kyle, tapi dia pergi berlalu begitu saja tanpa menyapa sama sekali, seakan mereka tidak saling mengenal.
Hingga singkat cerita, akhirnya Tyler dan Lana sudah berada di bagian lain mall itu. Lana sejak tadi bingung harus berbuat apa, karena Tyler hanya diam saja meskipun mereka sudah mengitari banyak tempat.
"Ty, aku capek." Ujar Lana akhirnya.
"Ya ampun, kita dari tadi muter - muter gak jelas ya, be?" Ujar Tyler setelah sadar.
"Hampir jam tiga, mending kita ke Apartemen yang mau kamu beli." Usul Lana.
"Oke, ayo." Sahut Tyler dengan senyum manis.
'Aduh, gue bingung harus gimana, kalo gue tanya Tyler, nanti dia marah gak ya? Dia keliatan baik - baik aja, tapi gue yakin hatinya enggak.' Batin Lana bermonolog.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..