
Singkat cerita, setelah momen awkward itu, kini empat sekawan itu sudah duduk dengan baik di sofa untuk duduk para penunggu pasien.
Tyler masih memasang wajah kesal karena ketiga temannya itu sudah membuat momen pagi yang harusnya indah menjadi amburadul.
"Na, sorry ya.." Ujar Jack pada Lana.
"Ng- nggak apa - apa, hehe." Ujar Lana, dia tentu masih malu.
"Sorry, Ty.." Ujar Luigi. Tyler hanya bisa menghela nafas dengan kesal. Meski marah, tapi dia juga tidak bisa marah lama - lama dengan teman - temannya.
"Ngapain si, pagi - pagi pada dateng? Gak pada sekolah lo pada?" Ujar Tyler akhirnya.
"Kita bolos, hehe." Celetuk Renan.
"Kita kan juga pengen jenguk Lana, ya gak Gi?" Timpal Jack, dan Luigi mengangguk mantap.
"Terus aja saling melindungi." Ucap Tyler, dan ketiga temannya menyengir kuda.
"Ya Tuhan, Na.. Kaki lo kok di gips gini? Patah ya, sakit gak?" Ujar Renan mendekati Lana.
"Hehe, sakit Ren.. kalo gak sakit gak bakal di gips." Ujar Lana, Renan pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Iya juga." Gumamnya.
"Jadi kalian udah jadian??" Celetuk Renan dan wajah Lana langsung memerah.
"Mulut Ren, mulut.. kondisikan, dodol." Ujar Luigi.
"Ya, gue udah jadian sama Lana. Sekarang status Lana jadi pacar gue." Ujar Tyler lugas, ketiga temannya hanya melongo mendengarnya.
"Wiihh.. selamat, bakal ada traktiran dong. PJ.. PJ." Ujar Jack sambil menaik turunkan alisnya.
"Apaan, PJ?" Tanya Luigi bingung.
"Pajak jadian, dodol." Celetuk Renan.
Tyler menatap Lana yang tampaknya tidak nyaman karena keriuhan teman - temannya. Mungkin dia masih malu dengan kejadian tadi, hingga hanya ikut menyunggingkan senyum sesekali.
"Bubar gih kalian." Ucap Tyler dan langsung menghentikan keriuhan ketiga temannya.
"Yah.. kenapa?? Kan kita jengukin Lana." Ujar Luigi.
"Lana mau istirahat, ada kalian bukannya sembuh malah tambah sakit ntar." Ujar Tyler.
"Gak kok, gue gak apa - apa. Thanks ya, kalian udah pada jengukin gue, lanjutin aja ngobrolnya." Ujar Lana langsung melambaikan kedua tangannya, dia tidak enak hati.
"Santai aja, Na.. temennya Tyler, temennya kita juga. Pacarnya Tyler juga.. tetep temennya kita juga." Ujar Renan tidak jelas /absurd.
Luigi dan Jack hanya bisa saling cekikikan mendengar penuturan kata yang Renan ucapkan.
"Gaje, lo Nan." Jack langsung menoyor kepala Renan.
"Jenguk nya ntar aja, Lana mau istirahat." Ujar Tyler tetap mengusir teman - temannya.
__ADS_1
"Ya udah deh, iya.. Na, cepet sembuh ya, kita semua balik dulu." Ujar Luigi mewakili kedua temannya.
"Oke, ati - ati di jalan." Sahut Lana dan melambaikan tangannya.
Singkat cerita, akhirnya para perusuh itu pergi juga. Tyler langsung kembali menghampiri Lana sambil terkekeh.
"Maafin temen - temen aku ya, be? Mereka emang kurang akhlaknya." Ujar Tyler dan Lana terkekeh.
"Tapi mereka seru, aku seneng pernah jadi bagian dari kalian." Sahut Lana.
"Sekarang juga masih, kamu akan selalu jadi bagian dari kami." Ujar Tyler.
"Thanks, ngomong - ngomong, aku pengen pulang. Mama pasti khawatir sama aku." Ujar Lana.
"Kalo dokter bolehin, aku juga bolehin. Karena semua demi kebaikan kamu, be." Ujar Tyler.
"Tar, ya.. aku panggil dokternya dulu." Ujar Tyler lagi dan Lana mengangguk.
Tapi tak lama dokter yang menangani Lana pun masuk dan mengecek kondisi Lana. Lana meminta pada dokter itu untuk di pulangkan hari ini juga dan memilih untuk di rawat jalan saja.
Dokter membolehkan Lana pulang, dan sekarang Lana sedang menunggu Tyler yang mengurus administrasi Lana.
"Lama banget, apa rumah sakitnya penuh banget, ya?" Gumam Lana.
Lana ingin bangun, tapi kakinya yang di gips itu terlalu sakit untuk di gerakan.Ia ingin mencoba, tapi langsung mengurungkan niatnya.
"Nggak - nggak, jangan gegabah, kalo jatoh ntar bukannya jadi pulang malah tambah lama di rawat." Ujar Lana
"Yuk, be." Ujar Tyler dan Lana tersenyum.
Tyler menggendong Lana dan meletakannya di kursi roda yang akan Lana kenakan. Ya, Lana tidak boleh jalan, tidak mau di gendong juga, jadi pakai kursi roda adalah jalan terbaik.
Tyler memanggil taksi online, lalu mereka berdua melaju dari rumah sakit ke rumah Lana. Hingga tiba - tiba ponsel Lana berdering.
"Halo bang." Ujar Lana, yang menghubunginya adalah Angga.
"Na, lo bisa tanding gak malem ini? Anak - anak pada nyariin elo semua. " Ujar Angga dari seberang sana.
"Sorry bang, gue gak bisa. Sejujurnya gue abis kecelakaan, jadi gue.."
"HA!! LO KECELAKAAN? TERUS GIMANA LO SEKARANG?" Ujar Angga langsung terkejut.
Lana menjauhkan ponselnya dari telinga karena suara Angga begitu cempreng.
"Gue luka - luka, tapi gak apa - apa. Cuma kaki aja patah." Sahut Lana.
"Patah kaki kok cuma, si Na? Lo di rumah sakit mana, abang mau jengukin elo." Ujar Angga. Tyler yang mendengar itu langsung memasang wajah suram.
"Gak usah bang, gue udah pulang kok." Sahut Lana. Lana melirik ke arah Tyler dan terkejut melihat wajah Tyler yang teramat suram.
"Ya, Astaga!" Lana terkejut.
"Kenapa Na!?" Ujar Angga khawatir.
__ADS_1
Lana hanya bisa menyengir kuda, Angga terus memanggil nama Lana tapi Lana tidak fokus karena tatapan Tyler begitu suram.
"Na.. lo kenapa? Jangan nakutin abang dong." Ujar Angga lagi dengan panik.
"E- enggak ada apa - apa bang, ya udah ya, gue matiin dulu, bye bang." Ujar Lana lalu mematikan sambungan teleponnya begitu saja.
"Kalian akrab banget ya, kayaknya?" Ucap Tyler akhirnya.
"Hehe, iya. Kita udah kayak kakak adek." Sahut Lana.
"Oh." Ujar Tyler singkat lalu mengalihkan pandangannya.
Lana yang tidak peka pun hanya diam dan merasa tidak berdosa, dia tidak tahu bahwa Tyler saat ini sedang sangat cemburu sekarang.
Singkat cerita mereka pun sampai di rumah Lana, ibu Lana bingung ketika ada taksi yang berhenti di depan rumahnya. Terlihat supir taksi membantu menurunkan kursi roda, lalu seorang anak muda juga turung mengitari mobil.
Hingga dia langsung menutup mulutnya ketika melihat Lana yang di gendong keluar dari taksi dan berjalan masuk ke halaman rumah.
"Astaga, nak. Apa yang terjadi?" Ujar ibu Lana terkejut melihat Lana dan langsung berlari menghampiri Lana.
"Mama." Ujar Lana. Ibu Lana langsung membuka pintu rumah dan Tyler pun masuk ke dalam rumah Lana untuk yang pertama kali.
"Kamu kenapa, nak?" Tanya ibu Lana dan menangis.
"Jangan nangis, ma.. Lana gak apa - apa." Ujar Lana, ketika dia sudah duduk di sofa.
"Kamu kenapa?" Tanya nya lagi.
"Kecelakaan di jalan ma, kemaren." Sahut Lana, ibunya sangat sakit melihat anaknya begitu.
Tyler merasa terharu melihat bagaimana ibu Lana begitu memperhatikan dan menghawatirkan Lana. Tidak seperti ibunya yang sama sekali tidak peduli dengan hidup mati Tyler.
"Kamu yang nolongin Lana, nak? Makasih banyak ya nak, kamu baik sekali." Ujar Ibu Lana pada Tyler.
"Bukan saya tante, yang nolong Lana. Yang nolong orang lain, yang gak kenal Lana, dan kebetulan saya nelpon Lana, jadi saya tahu dia kecelakaan dari orang yang nolong Lana." Sahut Tyler dengan bahasa formal.
"Tetap saja saya harus berterimakasih, karena kamu yang sudah merawat Lana." Sahut ibu Lana.
"Kamu tuh bandel banget si, nak. Kamu Kecelakaan mama gak di kabarin." Ujar ibu Lana lalu kembali menangis.
"Ehehe.. Soalnya mama pasti bakal histeris gini, Lana gak mau mama jadi kepikiran dan sedih." Ucap Lana.
"Maaf, ma.." Ujar Lana karena ibunya justru semakin sedih.
Lana merentangkan kedua tangannya meminta agar ibunya memeluknya, ibu Lana pun memeluk Lana, dan itu di saksikan oleh Tyler yang merasa iri sekarang.
"Jangan gitu lagi ya, nak.. mama takut kehilangan kamu, cuma kamu yang mama punya di dunia ini." Ucap ibu Lana.
"Iya, ma.. maafin Lana." Ujar Lana, dan menatap Tyler yang wajahnya menjadi sendu.
Tyler merasa iri, karena dia tidak memiliki siapapun yang peduli tentang dirinya. Tapi dia juga merasa terharu dengan besarnya kasih sayang ibu Lana.
TO BE CONTINUED...
__ADS_1