TYLER: Who Do You Think Am I?

TYLER: Who Do You Think Am I?
EPS. 59. Tentang Tyler.


__ADS_3

Tyler dan Lana sudah sampai di apartemen yang akan Tyler beli, mereka juga sudah bertemu dengan agen yang sebelumnya akan mengantar Tyler ke sana.


Tyler dan Lana juga sudah berkeliling untuk melihat - lihat isi apartemen itu, dan Tyler menyukainya. Meski ada beberapa yang tidak sesuai dengan keinginan Tyler, tapi tak mengapa, Tyler bisa merombaknya sendiri nanti.


"Setelah surat - surat sudah selesai di urus, maka kakak sudah bisa menempati apartemen ini." Ujar sang agen.


"Oke, makasih untuk bantuannya, pak." Ujar Tyler.


"Sama - sama.. saat sudah siap nanti, kami akan menghubungi kakak di nomor yang bisa di hubungi. " Sahut agen itu, dan Tyler mengangguk.


Dan akhirnya Tyler dan Lana pun memutuskan untuk pulang ke apartemen lama Tyler. Sepanjang jalan itu Tyler juga tak banyak bicara, Lana juga hanya diam dan hanya memeluk Tyler, sampai keduanya sampai di apartemen Tyler.


Karena hari sudah sore, baik Tyler maupun Lana terlihat sangat kelelahan setelah seharian itu mereka melewati banyak hal.


Tyler menggandeng tangan Lana sepanjang mereka sampai dari parkiran motor sampai di koridor lift menuju ke unit Tyler. Hingga setelah mereka masuk kedalam, tiba - tiba Tyler memeluk Lana dari belakang.


"Sebentar, be.." Gumam Tyler lemah.


Lana pun diam, dan mengusap tangan Tyler yang memeluk dirinya dari belakang. Dan setelah puas, Tyler pun melepas pelukannya, Lana pun memutar tubuhnya menatap kekasihnya itu.


"Kamu.. baik - baik aja?" Tanya Lana, Tyler pun tersenyum mendengarnya.


"Of course, aku punya kamu di samping aku, nggak akan terjadi apapun sama aku." Sahut Tyler.


"Pembohong." Celetuk Lana. Lana kemudian memeluk Tyler, dan menggela nafas.


"Kamu nggak mau berbagi cerita sama aku?" Ujar Lana masih dalam pelukan Tyler.


Tyler terkekeh mendengar itu, rupanya Lana penasaran. Tanpa aba - aba, Tyler mengangkat tubuh Lana begitu saja lalu menggendongnya seperti koala sampai Lana memekik.


"Tyler, astaga!" Pekik Lana karena ia terkejut.


Lana mengalungkan kedua tangannya di leher Tyler dan kini posisi wajah Lana lebih tinggi darinya, Tyler pun mengecup bibir Lana sambil Lana terkekeh.


"Be... kiss." Rengek Tyler, dan Lana semakin terkekeh geli.


Tyler berjalan masuk dan menuju ke sofa besar yang berada di ruangan itu. Perlahan Tyler duduk di sofa dengan posisi masih menggendong lana, jadilah Lana kini berada di atas pangkuan Tyler.


"Hahaha, Tyler geli.." Lana terbahak, karena Tyler tak henti - hentinya menyerang leher Lana.


Tyler benar - benar suka membuat Lana tertawa lepas, adalah sebuah candu tersendiri bagi Tyler.


"Masih inget sama sofa ini?" Ucap Tyler tiba - tiba.


Seketika Lana salah tingkah karena di sofa itu, dulu dia tidak sengaja mencium bibir Tyler.


'Sialan, pake di ingetin.' Batin Lana.


"Hm, inget. Jangan di bahas, itu kecelakaan." Celetuk Lana dengan menahan malu.

__ADS_1


"Tapi aku suka." Ujar Tyler.


"Katamu apartemen ini udah di jual, kok kita kesini?" Tanya Lana mengalihkan pembicaraan.


"Barang - barang di sini harus di angkut, be.. Lagi pula belum ada yang beli, jadi aku masih bebas keluar masuk. Tapi aku udah minta agen penjualan buat bantu ngenjualnya." Ujar Tyler, dan Lana mengangguk angguk.


Tyler menyenderkan tubuhnya di sofa, Lana hendak bangun dari pangkuan Tyler, tapi langsung di tahan oleh Tyler.


"Aku berat, Ty." Ucap Lana.


"Enggak sama sekali, kok." Ucap Tyler dan menatap Lana dalam - dalam.


"Kamu mau denger cerita?" Tanya Tyler dan Lana mengangguk.


"Pria tadi.. Adalah Rion, bokap aku, be." Ucap Tyler akhirnya bercerita.


"Kamu pasti denger cerita tentang aku dari Luigi sama yang lainnya juga, kan?" Tanya Tyler, dan Lana mengangguk.


"Sebenernya aku pengen denger cerita dari kamu langsung, tapi aku juga gak mau kamu makin sakit jadinya." Ucap Lana.


"Kalo gitu aku akan ceritain ke kamu." Ucap Tyler dan Lana meranga.


"Jangan, kalo itu cuma bakal bikin luka kamu makin lebar kebuka." Ucap Lana dan Tyler mengangguk.


Tapi Tyler tetap menceritakannya, Ia menceritakan semuanya kepada Lana tentang dirinya. Juga alasan mengapa Tyler sangat membenci orang tuanya, terutama ibunya yang selalu suka berganti pasangan bagkan saat masih menikah dengan ayahnya.


"Singkatnya.. kelahiran aku di raguin sama Rion, dia gak percaya kalo aku anak nya dia, karena nyokap selalu ganti - ganti pasangan." Ucap Tyler, Tyler bahkan tidak menyebut ayahnya dengan panggilan ayah, tapi langsung menyebut nama.


( Jeda )


"Dari hubungan gak sehat itu, terbentuklah keluarga br○ken h○me ini. Aku bahkan gak tau siapa ayah kandungku, apakah itu Rion, atau orang random yang tidur sama Karisma." Ucap Tyler, menyebut nama ibunya tanpa embel - embel ibu.


"Aku.."


Ucapan Tyler terpotong ketika Lana menempelkan jari telunjuknya di bibir Tyler. Kemudian Lana menggelengkan kepalanya.


"Cukup, Jangan ngorek luka, Ty.." Ucap Lana, Tyler pun tersenyum dan menggeleng.


"Aku udah rela, kok. Aku mutusin buat nggak jadi siapapun bagi mereka. Rion dan Karisma udah cerai, dan aku juga udah bukan anak mereka lagi. Apapun yang terjadi sama mereka, aku gak peduli." Ucap Tyler.


Lana sampai menjadi berkaca - kaca sendiri mendengarnya. Betapa sangat egoisnya orang tua Tyler yang sampai hati membuang Tyler secara terang - terangan.


" Kok kamu yang nangis, be?" Ucap Tyler menghapus air mata Lana.


"Aku sedih dengernya." Ucap Lana.


"Gak apa - apa, aku baik - baik aja. Setelah mutusin buat lepas dari mereka, aku belajar banyak kata rela." Ujar Tyler.


"Apa itu juga yang bikin kamu sama Kyle jadi musuh?" Tanya Lana, dan Tyler mengangguk.

__ADS_1


"Dia pikir cuma dia yang menderita karena orang tuanya selalu bertengkar dan ibunya berselingkuh sama Rion, jadi dia selalu menghalalkan cara buat nyakitin aku dan ngehancurin aku." Ucap Tyler.


"Dari dia ngambil Fia terus ngerusaknya, terus dia bikin Luigi jadi pecandu, itu hanya sebagian hal dari banyaknya hal yang Kyle perbuat ke aku." Jelas Tyler lagi.


"Kyle egois." Celetuk Lana.


"Aku lega rasanya, karena aku sama sekali gak memiliki hubungan apapun lagi sama mereka." Ucap Tyler.


"Tapi kamu masih tetep anak kedua orang tua kamu, Ty. Orang tua kamu itu salah, mereka gak bisa gitu aja ninggalin kamu kayak gini tanpa fasilitas, gimanapun kamu masih tetep jadi tanggung jawab mereka." Ucap Lana.


"Aku tau, be. Tapi aku juga gak mau hidup dari pemberian mereka, aku bakal buktiin kalo aku mampu hidup sendiri. Toh dari kecil juga mereka gak pernah kasih sedikitpun rasa sayang." Ucap Tyler.


Lana berhambur ke pelukan Tyler dan Tyler pun memeluk tubuh Lana yang berada di atasnya. Hingga suasana sedih itu tiba - tiba menjadi ambigu ketika tiba - tiba Tyler merasa on karena posisi Lana.


"Pacarku hebat." Ucap Lana. Sementara Tyler hanya bisa menahan rasa.


Sesuatu di balik celananya semakin terasa sesak dan membuatnya tidak nyaman, sekarang. Dan ketika Lana bergerak bahkan sedikit, itu membuat sensasi tersendiri bagi Tyler.


"Hm.." Lenguh Tyler kelepasan.


"Kamu kenapa?" Tanya Lana dan kembali pada posisi duduk.


Lana melihat tatapan Tyler yang seperti tatapan orang mabuk, dan dia juga merasakan sesuatu yang mengganjal di bawah sana, tapi Lana yang tidak mengerti itu hanya cuek saja.


"Aku mau mandi dulu, be." Ucap Tyler tiba - tiba. Lana pun mengangguk lalu bangun dari atas pangkuan Tyler.


Tyler berjalan pergi tapi kemudian langkahnya terhenti dan kembali berbalik menatap Lana yang saat ini merebahkan dirinya di sofa karena dia merasa lelah.


Tanpa aba - aba Tyler berjalan kembali dan langsung mengungkung Lana, sampai Lana terkejut.


"Astaga!" Pekik Lana karena kaget melihat Tyler di atasnya.


"May i kiss you?" Tanya Tyler tiba - tiba.


Tapi belum juga Lana menjawab, Tyler langsung saja menyosor. Dia langsung ******* bibir Lana dengan ciuman yang dalam.


Perlahan tapi pasti Tyler mulai menyusuri leher Lana dengan bibirnya, dan itu membuat Lana meremang kegelian. Tapi bukannya terbahak, Lana justru menjadi merasakan sensasi lain ketika rambut Tyler menyentuh kulit lehernya.


"Tyler.." Ucap Lana dengan suara lemah, Tyler menjadi semakin tertantang jadinya.


"Gimana ini, be.. I want you so badly, right now." Bisik Tyler di telinga Lana.


"Maksud kamu??" Ucap Lana tidak tahu. Tyler menatap Lana dalam dalam lalu seakan mengabsen satu persatu yang ada pada Lana.


"Aku terobsesi sama kamu, be. Your lips, your voice, your eye, your touch, everything on you.. aku mau semuanya." Ucap Tyler, dengan suara bass yang serak, lalu kembali mengecup Lana.


Lana tertegun mendengarnya, ia benar - benar merasa jatuh cinta berkali - kali dengan sosok tampan di atasnya saat ini.


Dan entah bisikan setan mana yang mampir si telinga keduanya, Tyler kembali mencium Lana, dan bahkan tangannya sudah menjalar masuk kedalam kaus Lana dan menyentuh perut Lana.

__ADS_1


"Tyler, no.." Lenguh Lana, di sela - sela ciumannya. Tapi Tyler seakan tuli, dia tidak mendengar dan perlahan tangannya semakin naik ke punggung Lana.


__ADS_2