TYLER: Who Do You Think Am I?

TYLER: Who Do You Think Am I?
EPS. 75. Kucing - Kucingan.


__ADS_3

Ke esokan harinya...


Tyler turun untuk sarapan dengan Rion, dan seperti biasanya dia hanya diam tanpa sepatah katapun. Tyler begitu tenang seolah tidak terjadi apapun, meski wajahnya dingin.


Rion menatap Tyler yang hanya makan tanpa berkata apapun, dia tidak suka jika orang yang makan dengannya seperti tidak menganggapnya ada.


"Setelah ujian, kamu ikut papa ke kantor." Ujar Rion.


Tyler sejenak menghentikan kunyahan nya, tapi sedetik kemudian fia melanjutkannya lagi.


"Tyler, kamu denger papa ngomong?" Ujar Rion.


"Hm." Sahut Tyler singkat.


"Bisa nggak bicara yang bener, papa di depanmu, tatap lawan bicaramu, Tyler." Ujar Rion.


Tyler meletakan kedua sendoknya, dia minum lalu mengelap mulutnya dengan tisu.


"Aku selesai." Ujar Tyler, lalu bangun dan pergi meninggalkan Rion.


"Tyler! Jangan sampai papa melakukan sesuatu pada Lana jika kamu terus begini!" Bentak Rion, Tyler pun menghentikan langkah kakinya.


Tyler berbalik menatap Rion dengan tatapan permusuhan, padahal sebelumnya dia sangat tenang, walau berwajah dingin.


"Jika sampai itu terjadi, gue bakal ngehancurin rumah ini, dan pergi dari sini." Ujar Tyler bersungguh - sungguh.


"Bukannya gue udah di sini? Ini kan, mau lo? Gue udah nurutin lo. Jangan banyak permintaan, sadar diri." Ujar Tyler lagi.


Rion tertegun melihat tatapan penuh kebencian dari Tyler, dia diam tanpa kata, sementara Tyler langsung berbalik dan melanjutkan langkah kakinya naik keatas.


"Hufftt..." Rion hanya bisa menghela nafasnya saja sambil menatap putranya yang naik ke atas.


Singkat cerita guru Tyler tiba, dan Tyler mulai mengerjakan soal ujiannya dengan tenang.


"Ekhem! Boleh tolong ambilin gue minum?" Ujar Tyler pada ajudannya yang berdiri menatap kearahnya.


"Baik, tuan muda." Ujar ajudan itu.


Ajudan itu berbalik, tapi sedetik kemudian dia kembali menatap kearah Tyler lagi dengan wajah ragu - ragu. Dia takut Tyler melarikan diri sata sedang tidak dalam pengawasan.


"Tenang aja, gue nggak akan kabur, gue masih punya otak." Ujar Tyler yang mengerti arti tatapan ajudannya.


"Maaf, tuan muda. Saya akan ambilkan minumnya." Ujar ajudan itu, lalu pergi.


Tyler mengeluarkan sesuatu dari balik kaosnya, lalu memberikannya pada gurunya.

__ADS_1


"Bu, tolong berikan ini pada Luigi." Ujar Tyler dengan tatapan memohon.


Guru itu langsung menyembunyikan amplop yang Tyler berikan, lalu mengangguk.


"Kamu yakin tidak mau lapor polisi?" Tanya gurunya.


"Tidak akan ada seorang polisipun yang bisa menangkap ayah saya." Ujar Tyler.


"Terimakasih bantuannya bu. Saat di sekolah saya tidak memperhatikan pelajaran." Ujar Tyler.


Gurunya mengernyit, tapi ternyata ajudan Tyler datang dan membawa segelas minuman untuk Tyler.


"Makasih." Ujar Tyler, Tyler pun meminumnya dan melanjutkan mengerjakan soal ujiannya.


Hingga akhirnya selesai, dan guru itu pun pergi dari rumah Tyler. Tyler berjalan melewati ruang tengah dan di sana sudah ada asisten Rion yang sedang menunggunya.


"Tuan muda, saya datang untuk menjemput tuan muda. Pakaian tuan muda sudah siap di kamar, segeralah bersiap dan kita akan pergi." Ujar Asisten Rion.


"Hm." Sahut Tyler singkat, lalu naik ke atas. Tyler melihat stelan jas yang sudah di siapkan, dia pun mulai berganti.


Tyler muncul di depan kaca dengan kemeja putih yang sedang dia kancingkan. Tubuh tinggi kekarnya sama sekali tidak memperlihatkan bahwa Tyler berusia 18 tahun. Kemudian dia balut dengan jas formal, semakin tampan saja dia.


Setelah terlihat dirinya rapi, dia pun keluar dari kamarnya, asisten Rion bahkan sampai terpukau melihatnya, pelayan - pekayan wanita di sana semakin jatuh hati ketika melihat Tyler yang seperti itu.


"Bisa kerja di sini aja udah sukur aku, lagi pula mustahil majikan suka pembantunya." Ujar yang lain.


"Ya kan barang kali kaya di novel - novel gitu." Ujar pelayan sebelumnya.


"Mimpi aja kamu, ayo kerja, kalo kita ketahuan lagi ngeliatin tuan muda, bisa di pecat." Ujar yang lain, dan mereka bubar.


"Silahkan tuan muda." Ujar asisten Rion, membuka pintu mobil. Tyler pun masuk kedalam.


Mobil pun melaju pergi, dan itu pertama kalinya Tyler keluar dari rumah setelah beberapa hari di kurung. Tyler melihat kearah jendela sepanjang perjalanan, dia sama sekali tidak mengobrol dengan asisten Rion.


Sementara itu, di tempat lain..


Guru Tyler sudah sampai di sekolah, dan pas di sana dia melihat Luigi, Renan dan Jack yang sedang berjalan kearah loby sekolah.


"Luigi." Panggil guru itu. Luigi pun menengok dan menyapa gurunya itu.


"Saya membawa titipan dari Tyler untukmu." Ujar Guru itu. Luigi langsung membola tidak percaya.


"Tyler? Ibu bertemu dengan Tyler dimana, bu??" Tanya Luigi.


"Sebenarnya saya menjadi guru pengawas ujian Tyler, dia berada di rumahnya, tapi di sana sangat di jaga ketat." Ujar guru itu.

__ADS_1


Luigi dan yang lain terkejut mendengarnya, tapi lebih dari itu, mereka senang mengetahui bahwa setidaknya mereka mendapat kabar tentang Tyler.


"Akhirnya ada kabar dari Tyler, Gi." Ujar Renan senang.


"Terimakasih, bu. Apa Tyler baik - baik saja?" Tanya Luigi.


"Tyler baik - baik saja, saya menawarinya bantuan, tapi dia bilang tidak ada yang bisa membantunya. Mengapa begitu??" Tanya Guru itu.


"Tyler adalah anak ayahnya, dia juga berada di rumahnya, di samping itu.. Ayahnya sangat berkuasa, jadi mustahil ada yang bisa menangkapnya." Ujar Jack.


"Bahkan pejabat saja bisa di tangkap, masa ayah Tyler tidak?" Tanya Guru itu.


"Intinya sulit. Terimakasih bantuannya bu." Ujar Luigi. Akhirnya guru itu hanya mengangguk saja.


"Kami pamit bu, sore." Ujar Renan dan mereka semua langsung pergi.


"Cabut, ke markas." Ujar Renan.


Dan singkat cerita, akhirnya mereka semua pulang ke markas. Tak butuh waktu lama mereka langsung membuka amplop yang Tyler titipkan pada gurunya tadi.


Terdapat dua amplop di dalam satu amplop besar itu, Luigi pun mengernyit bingung sambil menatap Jack dan Renan.


"Ada dua surat, Ren." Ujar Luigi.


"Yang ini buat Lana." Ujar Jack, dia melihat nama Lana tertulis di balik surat itu.


"Kita baca yang ini." Ujar Lugi, lalu membuka suratnya.


"Hi, guys. Gue harap kalian baik - baik saja tanpa gue. Gue gak bisa balik ke kalian, tapi gue baik - baik aja di sini. Gue titip Lana, dia pasti kesepian. Gi, lo harus jadi ketua Black puma, kalo nggak black puma bakal bubar tanpa kejelasan. Jelasin ke mereka bahwa gue udah gak bisa lanjutin Black puma. Tolong banget, jagain Lana. Dan surat yang satu lagi, kasih itu ke Lana. Makasih, jaga diri kalian baik - baik, saat tiba waktunya nanti, gue bakal balik ke kalian."


Begitu surat yang tertulis, Luigi, Renan dan Jack saling pandang saat ini. Mereka yakin kondisi Tyler benar - benar sulit, sehingga Tyler menuliskan semua itu.


"Jangan - jangan Tyler ngorbanin dirinya supaya kita semua gak di keluarin dari sekolah." Ujar Luigi.


"Gue juga mikir gitu, Gi. Bren*sek banget bokapnya Tyler, gak cukup apa dia selama ini udah bikin Tyler ancur, sekarang dia ngendaliin hidup Tyler." Ujar Jack.


"Kita hargai keputusan Tyler. Dan untuk sementara.. lo jadi ketua Black puma, sampai saatnya Tyler pulang nanti, Gi." Ujar Renan.


Luigi hanya mengangguk, tapi tangannya mengepal kuat. Dia tidak rela Tyler di kendalikan oleh ayahnya demi menyelamatkan pendidikan dirinya, Jack dan Renan.


'Seandainya saja, gue mampu Ty.. Gue gak bakal biarin lo di kendaliin bokap lo.' Batin Luigi.


Ya, seandainya saja.. sayangnya baik orang tua Luigi, Renan dan Jack, tidak ada satu pun dari orang tua mereka yang menganggap mereka ada. Mereka pulang atau tidak, hidup atau mati, orang tua mereka tidak peduli. Mereka semua lahir di keluarga yang egois.


TO BE CONTINUED..

__ADS_1


__ADS_2