
Tyler bangun ketika mendengar suara dari luar kamar Lana, rupanya ia dan Lana tidur sangat lama hingga hari menjelang malam.
Tyler pun keluar dari kamar Lana dan melihat ibu Lana yang sedang membereskan barang - barang jualannya.
"Eh, kamu bangun? Maaf ya, tante berisik ya?" Ujar ibu Lana pada Tyler.
'Nyokapnya Lana tau gue tidur di dalem? Berati dia liat gue sama Lana tidur pelukan, dong?' Batin Tyler.
"Enggak tante, emang udah kelamaan tidur aja." Sahut Tyler.
Tyler sedikit kagok menghadapi ibu Lana, dia tidak mungkin mendiamkan ibunya Lana tapi dia juga bukan orang yang bisa berinteraksi dengan wanita lebih tua selain dengan ambunya.
"Aku pulang dulu, tante." Ujar Tyler akhirnya.
"Eh, bentar nak. Kamu pasti belom makan, kan?" Tanya ibu Lana, Tyler pun mengangguk.
"Kita makan dulu, ini tante bawa makanan dari kantin." Ujar ibu Lana.
"Nggak usah, tan." Ujar Tyler tidak enak hati.
"Jangan gitu, ayo tante siapin makan." Ujarnya dan langsung menarik Tyler untuk duduk di meja makan.
"Sebentar, ya.." Ujar ibu Lana, dan mulai mengeluarkan satu persatu makanan yang dia bawa.
Karena ibu Lana berjualan seafood, yang ada di meja makan pun sejenis ikan - ikanan. Seperti ikan gurame bakar madu, pecel lele, lalap lengkap dengan sambalnya.
Tyler menelan ludahnya melihat penampakan makanan yang ada di hadapannya, sangat menggoda.
"Jadi.. kamu pacarnya Lana?" Tanya ibu Lana, dan Tyler tersenyum canggung.
"Iya, tan. Namaku Tyler." Ujar Tyler memperkenalkan diri.
"Tante gak nyangka, anak gadia tante udah gede aja, udah tau yang namanya pacaran." Ujar ibu Lana sambil terkekeh.
"Titip Lana, ya nak.. Lana anaknya keras kepala, tapi sebenarnya dia baik." Ujar ibu Lana, dan Tyler kembali tersenyum.
"Iya, tan." Sahut Tyler.
"Lana jangan makan ikan dulu, nanti luka nya gak kering - kering, dia biar makan ini saja." Ujar ibu Lana mengeluarkan sop buntut.
"Tante bangunin Lana dulu." Ujar ibu Lana dan Tyler pun ikut bangun.
"Biar aku bantu, tan." Ujar Tyler.
"Kalo gitu kamu aja yang bangunin." Ujar ibu Lana, dan Tyler mengangguk.
Tyler masuk kedalam kamar Lana, lalu dia tersenyum karena melihat cara tidur Lana yang lucu.
"Be, bangun.. mama kamu udah pulang." Ujar Tyler.
__ADS_1
Lana tidak bergeming, Tyler pun mengusap - usap pipi Lana, dan Lana membuka matanya.
"Bangun, yuk. Mama kamu udah pulang, dia nungguin kita di meja makan." Ujar Tyler, dan Lana pun mengangguk.
Singkat cerita, Lana dan Tyler sudah berada di meja makan bersama ibunya Lana.
"Ayok makan." Ajak ibu Lana dan memberikan ikan yang sudah di pisah dari durinya pada Tyler.
Tyler bingung karena ibu Lana memberinya ikan yang sudah di pisah dari durinya itu kepadanya, begitu juga dengan Lana.
"Kok mama kasih ke Tyler? Aku mana?" Tanya Lana protes.
"Kamu jangan makan ikan dulu, kamu makan sup aja, karena lukamu nanti lama sembuhnya." Ujar ibu Lana.
"Ayo, Tyler.. makan, durinya udah tante pisahin, biar makannya gak susah." Ujar ibu Lana lagi.
"Ah, I-iya tante." Sahut Tyler tapi dia masih menatap penuh haru makanan di depannya saat ini.
'Bahkan orang tua gue aja gak pernah seperhatian ini, apa lagi misahin duri ikan buat gue.' Batin Tyler, dia benar - benar terharu.
"Ehh.. Ko bengong? Atau kamu nggak suka kalo makanan nya bekas tangan tante, ya? Maaf ya, tante terlalu lancang, kamu bisa ganti saja dengan yang baru." Ujar ibu Lana, dan hemdak mengambil piring Tyler.
"Enggak tante, nggak gitu. Aku cuma terharu karena tante baik banget sama aku." Ujar Tyler, tersenyum.
"Tante udah biasa misahin tulang buat Lana, jadinya keterusan. Soalnya tante takut kamu ketulangan juga kayak Lana dulu." Ujar Ibu Lana.
Singkat cerita, semakin hari Tyler dan Lana semakin sering bersama. Tyler bahkan mendapatkan perhatian dari ibu Lana, setelah Lana menceritakan pada ibunya bahwa Tyler kurang kasih sayang.
"Ma, Lana udah bangun?" Tanya Tyler pada ibu Lana.
Kini setelah seminggu berlalu, Tyler memanggil ibu Lana dengan sebutan mama, itu ibu Lana yang memintanya. Tyler juga sudah tidak canggung lagi, dan menganggap ibu Lana adalah ibunya.
"Dia masih tidur, kayaknya. Kamu bangunkan saja dia, biasanya dia akan bangun sekitar sepuluh menit lagi dengan alarm. Mama musti pergi untuk menyiapkan kantin dulu." Ucap Ibu Lana.
"Aku bantuin, ma." Tawar Tyler.
"Gak usah, nak. Mama bisa sendiri, bangunin Lana aja gih, semalem dia pulang nya pagi, katanya warung bosnya penuh." Ujar ibu Lana.
"Oke, ati - ati, ma." Ujar Tyler, dan ibu Lana tersenyum.
"Mama pergi dulu, ya? Kalau Lana nggak bangun juga, kamu pake air aja banguninya, dia pasti langsung melek." Ujar ibu Lana, dan Tyler terkekeh.
"Oke, ma." Sahut Tyler mengacungkan dua jempolnya.
Ibu Lana pun pergi, Tyler pun masuk kedalam rumah, dan langsung masuk kedalam kamar Lana.
Dia menggelengkan kepalanya ketika melihat pacarnya itu tidur dengan masih menggunakan pakaian yang semalam dia pakai ke arena balap.
Setelah sembuh, Lana langsung datang ke arena balap, meski kakinya masih sedikit pincang.
__ADS_1
"Gadis ini, nakal sekali." Gumam Tyler.
Tyler merayap naik keatas ranjang dan berdiam di atas tubuh Lana yang masih tidur. Ia tersenyum metika menatap wajah damai Lana.
"Gimana gak kesiangan sekolah, dia jam segini masih tidur." Gumam Tyler.
"Ma, Lana gerah, kenapa kipasnya di matiin." Gumam Lana dengan mata masih terpejam.
Tangan Lana meraba tubuhnya sendiri dengan mata masih terpejam lalu melepas satu persatu kancing kemeja yang ia pakai, hingga nampaklah belahan dada Lana tepat di depan mata Tyler.
Besar namun tidak begitu besar, tapi sangat menantang di mata Tyler.
'Astaga, anak ini..' Batin Tyler malu. Tyler langsung bangun dari atas tubuh Lana, dan menutup tubuh Lana dengan selimut.
"B- be, bangun." Panggil Tyler dan Lana membuka mata dengan masih terkantuk - kantuk.
"Tyler, kok kamu udah di sini?" Gumam Lana, lalu menguap dan menggeliat.
"Ayo bangun, nanti telat sekolah. Aku tunggu di luar." Ujar Tyler, dan langsung keluar dari kamar Lana dengan wajah merah.
Tyler keluar dan langsung mengambil air di dapur dan meneguknya.
'Astaga..' Batin Tyler dan menepuk dadanya sendiri.
Sementara Lana sendiri, dia bangun dan duduk sambil masih malas. Ketika ia melihat jam di dinding, baru dia terkejut dan segar.
"Astaga, kesiangan." Ujarnya dan langsung bangun.
Tapi ketika Lana berdiri, dia menyadari sesuatu, ia menunduk dan melihat bagian dadanya yang tidak tertutup itu.
Lana kemudian tampak seperti orang berpikir, dan tiba - tiba ia ambruk ke lantai dan terduduk lemas.
'Lana... bego, bego, bego!' Ia merutuki dirinya sendiri. Ia kemudian memukuli kepalanya sendiri.
'Tyler liat gak, ya?' Batin Lana menjadi runyam.
"Be, udah siap belom?" Teriak Tyler dari luar. Lana langsung sigap menutup dadanya dengan kemeja.
"Be- belom, sebentar." Teriak Lana.
Dan singkat cerita, akhirnya Lana bersiap dan keluar dari kamarnya beberpaa menit kemudian.
"Ekhem! Udah siap?" Tanya Tyler, dan Lana mengangguk.
"Ya udah, yuk." Ujar Tyler, dan menggandeng tangan Lana keluar dari rumahnya.
'Kok Tyler biasa aja, dia liat apa enggak, si? Apa dia gak liat?' Batin Lana, Lana tidak tahu saja bahwa Tyler saat ini sedang menahan diri untuk berpura pura tidak melihat apapun, agar Lana tidak malu.
"Siap untuk hari pertama sekolah?" Tanya Tyler, Lana tersenyum dan mengangguk antusias.
__ADS_1
"Seminggu gak sekolah, rasanya hidup kayak lama banget jalannya." Ujar Lana dan Tyler terkekeh. Mereka pun akhirnya pergi ke sekolah sambil berboncengan.
TO BE CONTINUED..