
Tyler berlari ke halaman sekolah dan melihat kesana kemari barang kali Lana masih ada di sana. Renan juga ikut mencari keberadaan Lana, dan ikut berlari kesana kemari.
"Ty, gue cari ke pintu keluar depan sekolah, lo cari dia di pintu keluar belakang deket parkiran."Ujar Renan dan Tyler mengangguk. Tyler langsung berlari menuju ke parkiran dan melihat kesana kemari, tapi dia tidak melihat Lana dimanapun.
Lana yang duduk di atap melihat Tyler yang tampak sedang mencari seseorang, tapi dia hanya diam saja dan justru menyembunyikan dirinya.
"Lana!!" Teriak Tyler, dan Lana bisa mendengarnya. Entah kenapa jantungnya berdebar mendengar Tyler meneriakan namanya.
"Ngapain dia nyariin gue?" Gumam Lana, sembari menatap Tyler dari atas dengan sembunyi - sembunyi.
Terlihat Renan menghampiri Tyler, dan menggelengkan kepalanya. Tanpa aba - aba lagi, Tyler mengeluarkan kunci motornya dari saku dan memakai helmnya, lalu pergi dari sekolah.
Setelah Tyler pergi, Lana pun turun dari atap dan berjalan dengan santai. Dia pun keluar dari sekolah, dan langsung menaiki bus lalu pergi dari sekolah itu. Lana mengeluarkan headset dari saku jaketnya lalu memasangnya di telinga dan menyenderkan kepalanya di kaca bus.
Sementara Tyler, dia mendatangi rumah Lana dan menemukan adanya seorang pria dengan wajah yang seram dan perut yang sedikit buncit sedang mondar mandir di depan rumah Lana.
"Siapa lo?" Tanya pria itu yang adalah ayah tiri Lana. Tyler tidak pernah melihat pria itu sebelumnya jadi dia tidak tahu bahwa itu adalah ayah tiri Lana yang sedang dia cari - cari.
"Lo siapa?'' Tanya Tyler balik, pria itu langsung menyingsingkan lengan bajunya dan berkacak pinggang menatap Tyler.
"Apa anak jaman sekarang gak punya sopan santun kalo lagi ngomong sama orang yang lebih tua?" Ujar ayah Lana. Tapi Tyler hanya menatap malas pria itu. Ayah Lana lalu kembali mengotak atik ponselnya sambil bergumam..
"Anak kurang ajar emang, berani - beraninya dia ngehasut ibunya buat cerai dari gue. Emang harusnya gue bunuh dia dari dulu, jadi benalu doang." Gumamnya, dan Tyler yang mendengar itu.
"Lo bokapnya Lana?" Tanya Tyler. Pria itu kembali menatap Tyler dengan tajam.
"Bokap tirinya, kenapa? Lo ada masalah sama dia juga? Emang tuh anak biang masalah, cuma bisa bikin.."
"BUGH!!" Tyler menghajar ayah Lana, sebelum pria itu menyelesaikan kata - katanya, Tyler lebih dulu melayangkan bogeman mentah.
"BUGH!" Dengan dua kali hajar, pria itu langsung jatuh karena hilang keseimbangan.
"Apa - apaan lo!!" Teriak ayah Lana, tapi Tyler membabi buta, dia menghajar ayah Lana sampai keluar darah dari mulutnya.
"Bokap macem apa lo! Lo nyuruh orang buat nusuk Lana, kan?!" Ucap Tyler di sela - sela pukulannya.
Ayah tiri Lana sampai babak belur dan berdarah darah. Tiba - tiba datang warga yang lewat di sana, dan langsung memisahkan Tyler dari ayah Lana.
__ADS_1
"Woi! Ada apa ini, dek!! Jangan gitu, kasiah bapaknya." Ujar orang itu.
"Dia gak pantes di kasihanin, dia itu pengedar narkoba! Dia juga udah nyuruh orang buat nusuk anak tirinya sendiri!" Ujar Tyler sembari memberontak.
Ayah tiri Lana yang mendengar itu langsung panik dan berusaha bangun, tapi Tyler dengan sekuat tenaganya menendang ayah tiri Lana hingga dia terkapar tidak sadarkan diri.
"Dek! nanti dia meninggal." Ujar pria yang memisahkan Tyler dari ayah Lana.
"Mati lebih bagus, dia itu sampah masyarakat." Ujar Tyler dengan nafas terengah - engah.
Tapi keributan Tyler itu membuat banyak orang datang, mereka akhirnya membawa Tyler dan ayah tiri Lana ke kantor polisi setelah sebelumnya ayah Lana di obati lebih dulu.
"Pak, dia ini Bobi. Pengedar nark*ba, dan dia juga udah melakukan perencanaan pembunuhan terhadap anak tirinya sendiri." Ujar Tyler dengan wajah dingin menatap ayah tiri Lana.
"Jangan sembarangan bicara, kamu! Saya bukan pengedar, dan saya juga tidak merencanakan pembunuhan terhadap anak tiri saya." Ujar ayah tiri Lana.
"Sodara Tyler, apakah anda mengatakan tuduhan itu memiliki buktinya?" Tanya polisi, tapi Tyler terdiam, Lana tidak bersama dengannya dan dia juga tidak tahu apakah nark*tika yang Luigi konsumsi itu dari dia atau bukan.
"Nah, kan! Dia diam, dia gak punya bukti, pak. Ini namanya pencemaran nama baik." Ujar ayah Lana.
"Bisakah kamu menghubungi putri tiri dari bapak ini?" Tanya Polisi pada Tyler.
"Dia melarikan diri dengan ibunya, karena pria ini! Selalu! Melakukan tindakan kekerasan padanya!" Ujar Tyler dengan berapi - api dan geram.
'Si*lan, kenapa ni anak tau banyak tentang gue, Lana si anak bren*sek itu pasti nyeritain ke anak ini, kurang ajar.' Batin ayah tiri Lana.
Polisi melihat raut wajah ayah tiri Lana yang sepertinya sedikit ketakutan, dan akhirnya dia menganggukan kepalanya.
"Pak, anda harus kami tahan sementara untuk penyelidikan." Ujar Polisi, ayah tiri Lana langsung pias dan menatap polisi itu dengan tatapan tidak terima.
"Jika setelah penyelidikan anda tidak terbukti bersalah, maka anda akan kami bebaskan dan sodara Tyler akan kami kenai pasal pencemaran nama baik." Ujar Polisi. Tyler tersenyum puas mendengarnya.
"Tapi pak, saya tidak melakukannya." Ujar ayah Lana membela diri.
"Semua tergantung penyelidikan nanti, pak. Silahkan bawa bapak ini." Ujar Polisi. Seorang polisi lain membawa ayah tiri Lana dengan paksa, karena ayah Lana memberontak.
"Dan sodara Tyler, kamu menjadi saksi untuk saat ini. Apakah kamu mengetahui tempat dimana dia mengedarkan benda terlarang itu?" Tanya Polisi, dan Tyler mengangguk.
__ADS_1
"Untuk pengedarannya saya kurang tahu, tapi putrinya memberi tahu saya dimana tempat markasnya. Di gang XXZ no 7, dan rumah itu seperti taman kanak - kanak. Saat siang, gang itu tidak terlihat mencurigakan, tapi saat malam, ada banyak preman yang nongkrong di sana, pak." Ujar Tyler, dan polisi itu mengangguk.
"Kami akan melakukan penyelidikan malam ini, terimakasih untuk informasinya, kami bangga kamu sebagai generasi muda ikut memerangi nark*ba." Ujar Polisi dan Tyler mengangguk.
"Kalau begitu saya permisi, pak. Tolong di usut dengan teliti pak, karena teman saya menjadi korban kekerasan olehnya. Saya ingin melindungi teman saya." Ujar Tyler.
"Pasti, nak." Ujar Polisi itu. Akhirnya Tyler pun pergi dari kantor polisi. Niat awalnya dia ingin mencari Lana, malah berujung meringkus ayah tiri Lana ke kantor Pilisi.
'Seenggaknya gue udah nyelesein misi Lana buat nyerahin bokapnya ke polisi. Na, gue bener - bener minta maaf sama lo.' Batin Tyler.
Karena hari sudah siang, Tyler tidak kembali kesekolah, dia langsung kembali ke markasnya. Tyler merebahkan dirinya di ayunan dan memejamkan matanya.
Sementara di tempat lain, Lana sampai di sebuah tempat balap. Dia berencana ingin mengikuti tanding balap motor malam ini.
"Siapa lo?" Tanya seorang pria pada Lana. Pria itu menatap Lana dengan tatapan keheranan.
Lana meringis. "Gue mau daftar buat ikut balap, bang." Ujar Lana, dan pria itu meranga.
"Dek, ini tuh acara balap motor beneran, bukan balap motor - motoran." Ujar pria itu sembari terkekeh.
"Kan gue juga gak bilang kalo ini balap bohongan, bang." Ujar Lana dengan wajah serius, pria itu pun memperhatikan Lana dari atas sampai bawah.
"Anak SMP gak bisa ikut, dek. Dan lagi.. perempuan gak ada dalam kategori." Ujar pria itu.
"Pertama, gue bukan anak SMP. Kedua... gimana kalo gue buktiin bahwa gue lebih dari layak buat ikut balap ini?" Ujar Lana dengan yakin, tapi pria itu justru semakin tergelak.
"Ya ampun dek, kamu lucu banget si. Enggak, gue gak bisa ijinin anak kecil ikutan." Ujar pria itu.
"Ish! Sekali aja, kasih gue kesempatan sekaliiiiii aja.. buat membuktikan bahwa gue layak dan mampu ikut balap." Ujar Lana tidak menyerah, pria yang masih terkekeh itu pun menggelengkan kepalanya.
"Bang, please." Ujar Lana dengan keras kepala dan memohon.
"Oke - oke, gue ijinin lo nyobain pake motornya aja, lo pasti penasaran sama rasanya bawa motor gede, kan??" Ujar pria itu. Lana mengangguk antusias.
'Seenggaknya gue punya kesempatan buat memperlihatkan pada orang ini bahwa gue layak ikut balap.' Batin Lana sembari tersenyum misterius.
TO BE CONTINUED.
__ADS_1