
Singkat cerita, Tyler sedang duduk di kamar Lana dengan Lana yang duduk di ranjang. Tyler tidak langsung pulang begitu saja, dia masih membantu Lana melakukan ini dan itu.
Ibu Lana terpakasa tidak bisa menemani Lana, karena dia sudah menyiapkan bahan jualan, dan Lana menyuruh untuk ibunya jualan saja.
Ibu Lana kini merintis jualan makanan berupa seafood tapi di kantin yang di sewakan untuk para pedagang, dan itu hanya beroperasi dari pagi hingga malam sekitar jam 9 malam.
"Ty.." Panggil Lana, karena sejak datang ke rumah Tyler selalu diam padanya tapi ketika ibu Lana yang bertanya, dia menjadi ramah.
"Hm." Sahut Tyler singkat.
"Kamu kenapa, sih? Kok dari tadi aku ngerasa kamu ngediemin aku." Ujar Lana.
"Gak ada yang ngediemin kamu." Sahut Tyler, sambil mengelap mulut Lana. Meski cuek tapi Tyler masih perhatian dan masih membantu Lana minum obat.
"Bohongnya.. kamu marah ya, sama aku?" Tanya Lana, dan Tyler menghela nafas sembari menatap Lana.
Lana yang di tatap justru tersenyum begitu manis, sampai wajah suram Tyler berangsur hilang dan berganti menjadi senyum karena merasa Lana sangat konyol dan menggemaskan.
"Nah, gitu dong.. Kalo kamu senyum kan manis, kenapa harus masang muka jutek sih?" Ujar Lana, Tyler pun mengacak rambut Lana. Lana terkekeh karena aksi Tyler.
"Serius, kamu kenapa? Sejak di taksi tadi kamu mukanya jadi jutek." Ujar Lana lagi.
"Aku juga nggak tau, aku marah liat kamu bicara akrab sama Angga, dan lebih dari itu aku nggak rela kamu di perhatiin dia. Sok care.." Sahut Tyler dan Lana terkekeh.
"Aku sama bang Angga tuh cuma temen, malah dia juga anggep aku kayak adeknya dia. Dia peduli ke aku karena kami di kubu yang sama." Ujar Lana.
"Kita juga awalnya dari temen, be.. yang lama - lama jadi cinta." Sahut Tyler.
"Jadi kamu cemburu?" Ujar Lana dan tersenyum.
'Cemburu, apa ini namanya cemburu?' Batin Tyler.
"Aku gak tau.. tapi aku gak suka aja." Ujar Tyler.
Lana mengulurkan tangannya, lalu Tyler menyambut uluran tangan Lana. Lana menggenggamnya dan tersenyum.
"Makasih karena kamu udah cemburu, tandanya kamu sayang beneran sama aku." Ujar Lana.
"Tapi kamu harus percaya sama aku, aku gak ada perasaan apa - apa sama bang Angga. Dia yang bantu aku masuk ke arena balap, karena sebenernya di sana gak nerima peserta cewek, jadi kami dekat." Ujar Lana lagi.
Tyler tersenyum, lalu mengangguk. Dia senang Lana mau menjelaskannya, dia tidak lagi berpikiran aneh - aneh.
"Kalo gitu aku minta kompensasi, karena moodku jadi jelek tadi." Ucap Tyler.
"Lah, kok kompensasi? Aku kan gak salah." Ujar Lana.
"Kamu udah bikin aku cemburu, be.." Sahut Tyler.Tiba - tiba Tyler mendekat dan mencium bibir Lana, Lana pun menyambutnya.
"Ngh.." Lana menepuk pundak Tyler ketika dirinya hampir kehabisan nafas.
__ADS_1
"Nafas, be.. kan aku udah ajarin." Ujar Tyler sambil terkekeh melihat Lana yang kelabakan.
"Aku masih kagok, Ty.. Jantung aku, dag dig dug dor rasanya." Sahut Lana, dan Tyler semakin terkekeh.
"Polos banget sih, pacar aku." Ujar Tyler, lalu memgusap bibir Lana yang basah.
"Tapi kok kamu bisa apal ciuman? Jangan - jangan kamu sering ciuman ya?" Ujar Lana langsung menunjuk Tyler.
Tyler pun langsung salah tingkah sendiri, bagaimanapun nyatanya dia hampir sering ciumanan dengan Fia saat masih menjadi pacar Fia dulu.
"Ngaku.." Ujar Lana lagi, mencecar Tyler. Tyler meraih tangan Lana, lalu menggenggamnya.
"Jujur.. iya. Sama pacar pertama aku, Fia." Ucap Tyler, dan Lana terlihat langsung diam.
"Itu pun dia yang maksa, be. Aku gak ngerasaain apa yang aku rasain ke kamu waktu sama dia, dia yang selalu berinisiatif nyium aku." Tyler masih menjelaskan.
"Kalian having s*x beneran?" Tanya Lana, dan Tyler langsung menggeleng kuat.
"Aku gak pernah ngelakuin itu sama dia. Aku pacaran pun karena dia yang maksa aku, dengan cara ngancem mau lompat dari balkon." Ujar Tyler.
"Gila tuh cewek.." Gumam Lana.
"Tapi meskipun kamu gak dapet ciuman pertama aku, kamu harus percaya, bahwa kamu yang udah bikin aku jatuh cinta pertama kali." Ujar Tyler.
"Tsk! Masa, apa iya??" Ujar Lana dengan menahan senyum.
"Aku gak pernah bohong sama kamu, be. Dalam seumur hidup, aku gak pernah segila ini selain sama kamu. Aku candu dengan kamu, senyum kamu, tingkah kamu, dan.." Ujar Tyler terhenti ketika tatapannya jatuh pada bibir Lana.
"Bibir kamu." Sahut Tyler, dan langsung kembali mencium Lana.
Keduanya kembali berciuman, dan kali ini tangan Tyler tidak tinggal diam dan menggerayangi punggung Lana.
"Hmmp.." Lenguh Lana, suara cecapan mereka bahkan terdengar di seluruh ruangan kamar Lana.
"I love you so bad, Lana. Aku gak pernah segila ini karena jatuh cinta. Untuk pertama kalinya aku merasakan keanehan di hatiku, hanya setelah mengenal kamu." Ujar Tyler menempelkan keningnya dengan kening Lana.
"Aku benci wanita, karena ibuku. Tapi setelah aku mengenalmu, aku tahu bahwa kamu berbeda.. kamu sangat unik dengan pendirian dan ke keraskepalaanmu itu, yang justru bikin aku jatuh cinta." Ujar Tyler lagi.
"Aku bahkan hampir gila setelah kamu pergi.." Ujarnya lagi, lalu kembali mencium Lana.
Dan entah Lana sadar atau tidak, dia semakin merebahkan dirinya di ranjang, dan Tyler kini berada di atas dirinya.
"Tyler.. no." Lenguh Lana ketika ciuman Tyler hendak turun ke bagian leher Lana.
"Aku gak bakal ninggalin jejak, be" Ucap Tyler, dan kembali menciumi leher Lana, Lana pun merasa sesuatu yang aneh dalam dirinya.
Ia selalu benci dengan laki - laki brengsek, tapi apa yang Tyler lakukan padanya, membuat tubuhnya merespon lain.
Lana yang sejujurnya menikmati itu, tetap berusaha sadar, dia tidak mau terjerumus terlalu jauh walau dia sebenarnya penasaran juga.
__ADS_1
"Tyler.." Panggil Lana, dan Tyler kembali menatap Lana.
"Hm.." Sahut Tyler, tatapan mata Tyler sangat lain sekarang. Tatapannya menggelap dan sayu, Tyler sedang on.
"Aku gak akan ngelakuin lebih, be.. aku sayang kamu, jadi aku gak bakal ngerusak kamu." Ucap Tyler, Lana pun tersenyum mendengarnya.
"Terimakasih.." Ucap Lana, dengan senyum manisnya.
"Kita hanya sebatas menikmati ciuman, bukan melakukan ( itu.)" Ujar Tyler lagi, dan Lana mengangguk.
Cup!
Tyler mengecup singkat bibir Lana yang membuatnya candu, dan akhirnya dia bangun dari atas tubuh Lana.
Tapi entah mengapa Lana sedikit merasa kecewa, karena apa yang baru dia rasakan tadi, dia masih ingin merasakannya. Selayaknya remaja yang sedang penasaran dengan hal seperti itu, itu yang Lana rasakan saat ini.
"Tyler.." Panggil Lana lagi, sambil menahan tangan Tyler.
"Hm? Kamu butuh sesuatu?" Tanya Tyler, dan Lana menggeleng.
"Kiss me, please.." Ujar Lana, dan Tyler tertegun mendengarnya. Tyler kemudian tersenyum dan kembali mengecup singkat bibir Lana.
"No, bukan kecupan, cium.." Ujar Lana protes.
"Kamu mau lagi?" Tanya Tyler, dan Lana mengangguk dengan senyum malu - malu.
Tyler gemas melihat itu, dia pun kembali mendekat kearah Lana, dan mencium Lana kembali. Lana benar - benar munafik sekarang, dia menikmati ciuman Tyler yang kini semakin turun ke lehernya.
Tangan Tyler juga sudah masuk kedalam kaos yang Lana pakai dan sudah menyentuh perut Lana. Lana tidak protes dan terus menikmati ciuman Tyler.
"Tidur, be.." Ucap Tyler ketika menyudahi aksinya.
Lana tertegun dengan apa yang sudah mereka lakukan, jika saja Tyler tidak menyudahi aksinya, mungkin Lana sudah menyerahkan dirinya.
'Astaga, Lana.. apa yang lo lakuin.' Batin Lana merutuki dirinya.
"Hmm.." Sahut Lana mengangguk.
"Mama kamu pulang jam berapa?" Tanya Tyler, posisnya masih berada di atas tubuh Lana.
"Mama pulangnya gak nentu, tergantung abisnya jualan. Bisa malam, bisa sore." Sahut Lana.
"Ya udah, aku temenin kamu tidur di sini, sampe mama kamu pulang." Ujar Tyler, dan kembali mengecup bibir Lana.
"Kamu gak pulang?" Tanya Lana, dan Tyler menggeleng.
"Kalo aku pulang, ntar gak ada yang jagain kamu." Ucap Tyler, dan Lana mengangguk.
Tyler merebahkan diri di sebelah Lana, kepalanya ia topang menggunakan sebelah tangannya dan tubuhnya menghadap Lana.
__ADS_1
Lana berbalik dan memeluk pinggang Tyler, lalu dia menelusupkan wajahnya di dada Tyler. Tyler yang melihat itu hanya tersenyum kemudian mendekap tubuh Lana dalam pelukannya.
TO BE CONTINUED...