
“Ini terlalu mudah?” pikir Thunder Fox.
Thunder Fox memiliki daya penciuman yang lebih tajam dibandingkan makhluk lain. Dengan kemampuannya itu, dia dapat mencari para anggota Super Rangers dengan cepat. Bahkan dalam waktu kurang dari satu hari dia sudah berada di depan pintu markas rahasia mereka.
Caranya cukup mudah. Dia tinggal mengendus bau penduduk Kaminaria yang ada di Bumi. Jumlah mereka tidak lebih dari lima orang dan sebagian besar di antaranya adalah anggota Super Rangers. Thunder Fox lalu tinggal mengikutinya sampai rumah. Lama-lama mereka pasti akan menunjukkan sendiri jalan menuju markas.
Kebetulan anggota Super Rangers pertama yang Thunder Fox temukan adalah Brian, Sang ranger merah. Pria berusia duapuluhan awal itu dengan tenangnya berjalan-jalan di departement store untuk membeli beberapa bahan makanan sendirian di siang bolong.
Karena ini, Thunder Fox merasa heran. Apakah Super Rangers yang terlalu beruntung, atau orang-orang Radolard yang bodoh dan lemah. Padahal musuh terbesar mereka bisa ditemukan dengan mudah, tapi Radolard lebih memilih jalan yang memutar-mutar. Pikir Thunder Fox, serang saja dulu markas Super Rangers, pasti nantinya Super Rangers akan sulit melawan.
“Bukankah kau Thunder Fox?”
Seorang pria berbadan tinggi besar dengan rambut panjangnya yang terikat muncul dari belakang Thunder Fox. Mengetahui siapa yang telah datang, Thunder Fox menggogong.
“Guk!”
Dari baunya, Thunder Fox yakin bahwa dia adalah orang dari planet Kaminaria. Selain itu, di pergelangan tangannya juga terdapat Thunder Stone berwarna biru. Jadi, dia pasti adalah Thunder Blue. Kemudian, di belakang pria itu juga ada dua Super Rangers yang lain.
“Joanne? Kenapa kau berdiri saja?” tanya seorang gadis dari balik tubuh besar Joanne.
Alicia menundukkan kepalanya, mengikuti arah mata Joanne dan mendapati rubah kecil berbulu ungu di sana. Seketika matanya membulat dan dengan riang dia mendekati rubah itu.
“Woah! Bukankah ini Thunder Fox? Bagaimana dia bisa ke mari?” serunya.
Dia lalu menggendong rubah itu dengan lembut di pelukannya.
“Sebaiknya kita masuk ke dalam.” ujar Joanne menyarankan.
__ADS_1
Dua anggota yang lainnya setuju, lalu bersama Thunder Fox mereka masuk ke dalam markas. Di dalam sana, Brian yang sedang siap-siap membereskan ruangan dengan vacuum cleaner.
“Eh? Kalian menemukan Thunder Beast yang kemarin?”
Brian menyandarkan vacuum cleanernya di tembok, lalu menghampiri Alicia yang tengah menggendong si rubah.
“Tidak. Dia tiba-tiba sudah ada di depan pintu markas kita.” jawab Sean.
Dahi Brian mengerut.
“Benarkah? Jadi, dia sudah mau berteman dengan kita?”
“Guk!” Thunder Fox menggonggong seakan mengiyakan pertanyaan Brian tadi.
Senyum Brian melebar. Dari kemarin dia dan anggota yang lain terus berada di luar untuk mencari keberadaan Thunder Fox. Tidak tahunya rubah itu akan datang dengan sendirinya.
Alicia mengangguk.
“Oke.” katanya.
Alicia lalu berkonsentrasi agar dapat bertelepati dengan Thunder Fox. Berbeda dengan Luca yang menggunakan sihir untuk telepati, Alicia bisa berbicara bahasa Thunder Beast. Kalau berkonsentrasi sedikit lagi, dia juga bisa menggunakan indera keenamnya untuk membaca pikiran Thunder Beast.
“Hai. Aku Alicia. Bolehkah kita berbicara sebentar?”
Thunder Fox menganggukkan kepalanya.
Dengan penuh senyum, Alicia lalu melanjutkan.
__ADS_1
“Apa kau datang untuk menjadi teman kami?”
Tidak mungkin Thunder Fox mengatakan bahwa kedatangannya adalah atas permintaan Luca Kasha, si penjahat wanita dari Radolard. Karena itu, Thunder Fox berkata melalui telepat, “Aku meminta maaf saat itu langsung pergi. Ada sedikit urusan yang harus aku selesaikan terlebih dahulu waktu itu.”
Thunder Fox tidak berbohong, karena memang dia merasa harus bertemu dengan Luca waktu itu.
“Hm… karena itu kau baru mendatangi kami sekarang?” Alicia lanjut bertanya.
Rubah itu menggonggong lagi untuk mengiyakan.
“Yah... yang penting kan dia sudah datang. Bukankah seharusnya kita menyambutnya dengan suka cita?” kata Brian.
“Aku setuju. Aku akan membuatkan beberapa hidangan untuk merayakan kedatangan teman baru kita.” timpal Sean.
“Kalau begitu, aku akan membantu…”
Karena tahu seburuk apa masakan yang Brian buat, Alicia dan Sean serentak berteriak, “NOOO!!”
Mereka berdua menahan dan menarik Brian agar tidak ke dapur. Sementara itu, Joanne hanya memandangi rekan-rekannya yang berisik itu dalam diam. Dia tidak ingin ikut-ikutan, karena tidak suka membuang tenaganya untuk hal yang tidak berguna.
“Itu pasti Thunder Blue. Ternyata selera penjahat wanita itu yang setenang ini ya? Boleh juga.” batin rubah ungu.
Merasa diperhatikan, Joanne mengalihkan tatapannya pada Thunder Fox dan mata mereka pun bertemu. Si rubah yang akhirnya mendapatkan perhatian dari Joanne tersenyum penuh arti. Dia mendekati pria itu, lalu melompat ke pundaknya.
“Woah!” sentak Joanne, terkejut saat tiba-tiba rubah itu sudah melingkari lehernya seperti syal. Ditambah lagi, rubah ungu itu juga menempelkan pipi mereka dan mengusalnya.
Joanne tidak habis pikir, mengapa rubah yang sebelumnya liar itu tiba-tiba menjadi jinak padanya. Dia merasa tidak melakukan apapun. Sebelumnya dia bahkan yakin bahwa rubah ungu itu akan sangat menempel pada Alicia.
__ADS_1
“Sepertinya ada yang tidak beres…” pikir Joanne sambil berusaha melepaskan rubah tersebut.