Villainess X Fangirl

Villainess X Fangirl
Luca yang Penuh Misteri


__ADS_3

“Waw! Bagaimana Kang Mas tahu kalau adinda bukan Luca Kasha? Karena, sebenarnya…”


Senyum menyebalkan Luca Kasha membuat Joanne yakin bahwa gadis itu tidak akan menjawabnya dengan serius. Terlebih, dari caranya memanggil Joanne.


“Adinda adalah bidadari yang diturunkan untuk Kang Mas.”


Joanne mendengus kesal, karena dugaannya benar.


“Apa kau tak bisa lebih serius?”


Karena tidak mau membuat Joanne lebih kesal, Laura pun berhenti cengengesan. Dan bukannya menjawab, Laura justru balik bertanya pada Joanne.


“Selama ini kau selalu tidak percaya padaku. Apa kalau aku mengatakan yang sebenarnya, kau akan percaya?”


Joanne tak menampik bahwa hingga saat ini pun dia masih ragu pada Luca. Dia masih merasa bahwa bisa saja Luca hanya mempermainkan mereka, bahwa tindakannya selama ini hanya untuk menjebak mereka, sehingga mereka lengah dan tunduk pada kekuasaan Radolard.


Namun, Joanne juga bukannya tanpa alasan. Ada beberapa alasan yang membuatnya berpikir demikian walaupun Luca sudah mencoba membuktikan berkali-kali bahwa dia ingin berpindah kubu. Karena itu, tidak aneh jika Joanne merasa bahwa Luca yang sekarang bukanlah Luca asli. Entah itu saudara kembarnya yang tidak pernah diketahui ataupun orang yang benar-benar mirip dengan Luca.


“”Sulit, kan? Jadi, untuk apa aku menjelaskannya sekarang?”


Joanne sedikit menundukkan kepalanya untuk agar tidak bertemu mata dengan gadis itu.


“Aku bakal nunggu sampai waktu itu tiba. Kalau bisa, tolong segera, ya. Soalnya, aku beneran gak mau mati di sini.” lanjut Laura.


Kemudian, gadis berambut biru itu memutuskan untuk pergi. Dia tidak mau ditanyai lebih banyak lagi.

__ADS_1


,


,


,


Beberapa jam kemudian, Laura telah kembali ke kapal markas Radolard. Dia tahu bahwa tidak akan mudah kembali ke sana. Terutama, karena Dabakiras dan anak buahnya yang mungkin akan menaruh curiga kepadanya.


“Kau… kenapa melakukan itu kepadaku?” tanya Radolard begitu bertemu muka dengan Laura di depan aula tengah yang ada di dalam kapal tersebut.


“Aku tidak paham maksudmu.” jawab Laura sok bodoh.


“Karena kau, aku kehilangan finiks dan kekuatannya. Apa kau tidak sadar bahwa tindakanmu telah merugikan kita semua? Padahal dengan kekuatan itu, kita bisa mendapatkan Bumi dengan lebih mudah.”


Masih dengan nada sok bodohnya, Laura menjawab lagi, “Tapi, bukankah waktu itu kamu hampir mati? Seharusnya kamu bilang makasih ke aku, loh. Kok malah sewot?”


Sebelum masuk, Dabakiras yakin sekali bahwa Rador akan sangat marah kepada keponakannya setelah menggagalkan rencananya untuk mendapatkan Thunder Phoenix. Namun, yang dilihatnya saat ini justru sangat jauh dari kata marah. Pangeran dari Kekaisaran Radolard yang agung itu justru tersenyum cukup lebar saat melihat Laura.


“Saya memberi salam kepada Paman Pangeran.” ujar Laura sopan.


“Saya memberi salam kepada Pangeran Rador.” Dabakiras menyusul memberi salam.


“Berdirilah, Kalian berdua. Kalian pasti sangat lelah setelah lama bekerja.” sahut Rador.


“Baik, Paman.”

__ADS_1


“Baik, Yang Mulia.”


Laura dan Dabakiras pun menegakkan badan mereka.


“Tujuanku mengundang kalian semua sekarang adalah untuk memberikan penghargaan kepada Luca, keponakanku yang telah berjasa sangat besar. Majulah, Luca.”


Menuruti perintah Rador, Luca pun maju beberapa langkah. Rador lalu kembali berkata, “Tunjukkan pada mereka, apa yang telah kau dapatkan!”


Laura mengambil nafas dalam-dalam. Kemudian, dia pun berkonsentrasi untuk mengumpulkan energi sihirnya. Setelah itu, dia menjentikkan tangannya ke udara.


‘Shwaaa!’


Segumpal api tiba-tiba muncul di atas kepala Laura. Karenanya, orang-orang yang melihat pun menjadi panik. Semua berpikir bahwa Laura akan menembakkan gumpalan bola api itu pada mereka. Namun, hal yang lebih membuat mereka panik pun terjadi.


Gumpalan api tadi lama-lama semakin membesar hingga sebesar pintu masuk ruangan itu. Beruntung atap dari ruangan tersebut cukup tinggi dan ruangan tersebut juga sangat luas, sehingga tidak ada bagian ruangan yang terbakar. Hanya saja, besarnya api tersebut membuat satu ruangan terasa panas.


Sekarang gumpalan api tersebut tak lagi membesar. Perlahan-lahan api itu justru berkurang dan membentuk sesuatu yang tak pernah mereka kira sebelumnya.


“Thunder Phoenix?” gumam Gondazel yang sedari tadi hanya diam memperhatikan.


Dabakiras juga tidak kalah terkejutnya. Terlebih saat burung api itu kemudian terbang melewatinya sambil memekik panjang, “Kiiiiiiiiiiii!!”


“Hahahahahaha!” gelak tawa Rador menggema di seluruh penjuru ruangan seakan hal paling menyenangkan telah datang padanya.


Pria berbadan besar itu pun berdiri dari singgasanannya dan mendekat pada Laura.

__ADS_1


Serunya, “Kawan-kawan seperjuanganku, lihatlah! Finiks telah datang ke pihak kita!”


__ADS_2