Villainess X Fangirl

Villainess X Fangirl
Masa Depan Alternatif Part 3


__ADS_3

Gondazel tidak langsung percaya dengan ucapan Thunder Blue. Menurutnya mustahil Thunder Blue tidak tahu tentang keberadaan Thunder Phoenix, kalau dia melakukan tipuan semacam ini. Selain itu, Gondazel juga kehilangan jejak para Super Rangers selama satu hari penuh. Dugaannya, selama hari itu lah mereka bertemu dengan burung legenda itu.


Lalu, apa tujuan Thunder Blue melakukannya?


Namun, sebelum menanyakan hal itu, ada hal lain yang harus dia lakukan terlebih dahulu. Dia tidak bisa membuang waktu lagi. Thunder Phoenix harus segera berada di tangannya.


“Baiklah, ini adalah hari keberuntunganmu. Jika kau tidak mau mengatakannya, aku akan mencarinya sendiri.” ujar Gondazel sedikit pasrah.


Dia yakin bahwa Thunder Blue sengaja membawanya ke tempat ini untuk mengecoh dan menjauhkannya dari lokasi asli Thunder Phoenix. Kemudian, lokasi sebenarnya pasti tidak jauh dari tempat awal pertemuan mereka.


“Aku harus kembali ke sana,” pikir Gondazel.


Makhluk luar angkasa berbentuk kucing itu pun berbalik badan, bersiap untuk melompat pergi. Dengan sengaja Thunder Blue tidak mengejarnya, karena tahu bahwa ada orang lain yang akan membantunya.


‘Syaats!!’


“GRAAAAAKH!” teriakan Gondazel terdengar hampir bersamaan dengan munculnya hembusan angin yang begitu kencang dari belakang tubuhnya.


Rupanya, sebuah pedang yang cukup besar telah menancap di paha Gondazel. Karena kesakitan, Gondazel pun kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Dia terus mengerang kesakitan sambil berusaha menarik pedang yang menancapnya.


“Aaargh! Pedang ini…”


Gondazel tahu betul siapa pemilik pedang tersebut. Tidak ada orang lain yang memiliki pedang seperti itu selain orang yang dicurigainya saat ini.


“DABAKIRAS!!” teriaknya penuh amarah.


Makhluk luar angkasa yang dia panggil kini tiba di hadapannya. Wajahnya yang sudah menyeramkan semakin mengerikan saat mereka bertemu.


“Kau… beraninya kau membunuh telur finiks! Sekarang kau lah yang akan mati di tanganku!” serunya sambil berlari menyerbu Gondazel.


Meski masih kesakitan, Gondazel tetap berusaha berdiri. Dabakiras, memiliki tenaga yang jauh lebih besar darinya. Terlalu bodoh rasanya jika Gondazel tidak menghindar dari serangan itu. Tetapi, kakinya yang terluka membuatnya sangat sulit untuk berlari. Jangankan berlari, berdiri tegak saja Gondazel harus mengucurkan puluhan tetes keringat.

__ADS_1


Kemudian, hal yang Gondazel takutkan pun terjadi. Dabakiras berhasil menangkapnya dengan sangat mudah.


“Kau sudah tidak bisa ke mana-mana, Gondazel,” ujar Dabakiras sambil mencekik leher Gondazel dan mengangkatnya tinggi-tinggi.


Gondazel yang sesak napas, membuka mulutnya dan dengan susah payah berkata, “Bu… bukan aku yang… melakuk..annya…”


Mendengar pembelaan itu, Dabakiras tak langsung percaya begitu saja. Dia melihat seluruh retakan cangkang telur dan segumpal cairan lengket di seluruh tubuh Gondazel. Pikirnya, jika itu bukan dari telur finiks, apa lagi?


“Selama ini kau selalu bersembunyi di balik Yang Mulia Rador. Kali ini, kau sudah melewati batas. Aku yakin Yang Mulia juga tidak akan membelamu,”


Udara dalam tubuh Gondazel semakin menipis. Mungkin, jika dia berbicara sekali lagi, dia tidak akan bisa lagi bertahan.


“Apa sebelumnya Dabakiras sekuat ini? Aku mungkin lebih lemah darinya, tapi kekuatan ini jelas tidak wajar. Aku harus segera mencari cara,” pikir Gondazel.


Gondazel lirikkan matanya pada salah satu piripiri yang dia bawa, memberikan kode untuk menjelaskan pada Dabakiras tentang kejadian yang sebenarnya.


Untungnya piripiri yang Gondazel pilih memahami tugasnya. Dia maju dan berbicara pada Dabakiras, “Panglima, ini adalah jebakan Super Rangers. Sekarang Thunder Blue telah pergi. Itu pasti, karena dia akan kembali ke tempat Thunder Phoenix.”


Betapa geramnya Dabakiras. Dilemparkannya Gondazel sekuat tenaga untuk melampiaskan amarahnya itu. Kemudian, dia kembali ke medan sebelumnya hanya untuk mendapati bahwa Super Rangers telah beranjak dari sana.


.


.


.


“Dengan begini, mereka pasti akan semakin sulit menemukan Thunder Phoenix. Idemu memang selalu bagus, Joanne.” ujar Brian pada pria yang berdiri di sebelahnya.


Yang diajak bicara hanya memberi senyum sekilas, lalu kembali diam tanpa memberi tanggapan.


Ide dari Joanne adalah untuk membuat replika dari telur finiks, entah mirip maupun tidak mirip. Telur replika itu harus dibawa untuk menjauhkan orang-orang Radolard dari lokasi yang sebenarnya. Kemudian, langkah selanjutnya adalah mempengaruhi Dabakiras agar percaya bahwa Gondazel telah menghancurkan telur finiks.

__ADS_1


“Ya. Seperti biasa, ahli siasat kita memang sangat bisa diandalkan.” tambah Sean.


Sean sendiri bisa melihat sendiri keberhasilan rencana itu. Ketepatan Joanne dalam segala rencananya memang perlu diacungi jempol. Berkatnya, Sean juga mendapatkan pengetahuan bahwa masa depan yang dia lihat tidak selalu akan terjadi. Walau itu berlaku pada sebagian besar hal yang dia lihat.


Untungnya, kali ini Gondazel tidak benar-benar menggagalkan rencana mereka. Pada akhirnya, alien itu malah terluka parah oleh rekannya sendiri.


“Omong-omong aktingku bagaimana?


“Tidak… jangan-jangan Dabakiras meledakkan… ya, ampun…” Alicia mengulang apa yang dia katakan sebelumnya pada Dabakiras sambil bergaya.


Perlu Sean akui, kemampuan akting Alicia tidak terlalu bagus. Dabakiras saja yang terlalu mudah untuk dibujuk. Karena itu, Sean tidak menjawab apa-apa, begitu pula anggota lain yang memilih diam daripada mengatakan sejujurnya.


Alicia yang bisa membaca isi pikiran, mendengar semua pendapat mereka. Karena itu dia marah dan langsung memukul tiga kolega prianya.


“Aww!”


“Aduh!”


Rintih Sean dan Brian berurutan. Hanya Joanne lah beruntung tidak terkena pukulan itu.


“Kalian itu, tidak menghargai kerja kerasku!” hardik Alicia yang kemudian berjalan mendahului Brian, Joanne, dan Sean.


“Hey, Alice. Aktingmu memang tidak terlalu bagus, tapi kau juga sudah berjasa dalam mendapatkan telur finiks.” Sean berkata sambil memijat-mijat kepalanya yang baru saja dipukul.


“Ya. Kalau bukan karena kemampuan membaca pikiranmu, kita mana tahu di mana Dabakiras mendapatkan kekuatan barunya.” Brian menambahkan.


Satu-satunya perempuan dalam barisan pahlawan itupun meringis senang. Dia sendiri sebetulnya tidak menyangka bahwa memang benar sumber kekuatan Dabakiras berada di dekat lokasi mereka menemukan telur finiks. Menurut legenda, dikatakan bahwa finiks yang masih dalam bentuk telur memang lemah, namun dari sana akan memancarkan energi yang dapat menambah kekuatan dan kemampuan orang yang ada di sekitarnya.


Hampir saja, telur finiks tidak bisa mereka dapatkan, karena bisa saja Dabakiras akan lebih dulu menyadari keberadaannya. Untung saja alien itu tidak seteliti itu dan Thunder Phoenix juga telah lebih dulu membuat jebakan sebelum berubah menjadi telur. Dengan jebakan itu, setiap orang yang mencarinya akan sangat kesulitan di perjalanan dan merasa bahwa dia hanya terus berputar-putar di tempat yang sama.


Kini Thunder Phoenix berada dalam pengawasan Super Rangers, jadi tugas mereka selanjutnya hanyalah menunggu hingga telur itu menetas.

__ADS_1


__ADS_2