
Karena sudah berada di luar jangkauannya, Laura tidak bisa lagi ikut campur. Menonton pertarungan utama Thunder Dolphin dan Tiger Warrior VS Sarenos pun tidak bisa. Intinya, Laura harus puas hanya menonton pertarungan tiga raksasa random melawan Thunder Beasts Robo.
Tiga raksasa tersebut merupakan mesin yang dikendalikan dari jauh oleh Oktasia. Semuanya memiliki elemen air yang didukung dengan sihir milik Oktasia.
Untuk elemen ini, Thunder Beasts Robo sendiri juga tidak kalah. Mereka memiliki Green Turtle yang juga berelemen air. Green Turtle juga dapat dijadikan tameng dalam menghalau serangan yang datang.
Kemudian, karena ada sayap Blue Griffin dan Red Dragon, yang dapat membantu Super Rangers untuk menyerang dari atas. Dan hasilnya tentu dapat diprediksi. Meskipun memakan waktu sampai kurang lebih satu jam, pada akhirnya Super Rangers lah yang menang.
“Kecepetan berantemnyaaa…” Laura mengeluh.
“Dasar penjahat! Kalau mereka terlalu lama bertarung, nanti makin banyak rusaknya.” balas Thunder Fox. Laura memanggil si rubah ungu itu, karena merasa bosan menjadi penonton sendirian.
“Iya, sih…”
Laura berdiri dari duduknya saat Thunder Beasts Robo ikut menyelam menyusul Thunder Dolphin.
“Kalau saja aku bisa ikut bertarung, pasti akan lebih cepat selesai.” Thunder Fox menyombongkan diri.
“Maksudnya kalau saja kamu gak takut air kan?” ledek Laura.
Merasa dipermalukan, Thunder Fox pun geram.
“Sialan! Kau sendiri tidak bisa berenang!”
“Emang kenapa? Kan aku gak sombong, sok bilang bisa kalahin musuh lebih cepat segala. Weeee! Kamu udah sombong, takut air pula!”
“Setidaknya aku tidak pernah mengejar cinta seseorang hanya untuk ditolak mentah-mentah!”
“Waaah… siapa yang ditolak? Aku gak pernah ditolak.”
“Kalau bukan ditolak, apa namanya?”
Laura tidak bisa mengatakan kalau dia salah sasaran. Baginya, itu sama memalukannya dengan ditolak.
‘SPLASH!’
Perdebatan dua makhluk berbeda itupun berakhir, karena tiga makhluk raksasa tiba-tiba keluar dari lautan dan menyebabkan ombak yang begitu besar. Saat Laura dan Thunder Fox membuka mata, tahu-tahu sekeliling mereka sudah banjir oleh air laut.
“Wooong!!!”
Dengan penuh kekesalan, Thunder Fox mengibaskan seluruh badannya berkali-kali. Dia benar-benar menyesal sudah bersedia datang atas panggilan Laura.
“Duh… mbok kalian ingat sama ukuran kalian ngapah!” keluh Laura.
__ADS_1
Gadis itu tidak kalah lepeknya dari Thunder Fox. Rambut birunya yang lurus dan mengembang saja tiba-tiba kempes. Tapi, seorang penyihir selalu memiliki solusi untuk masalah apapun. Hanya dengan satu jentikan jari, kini keduanya sudah kering seperti sedia kala, termasuk juga sekeliling mereka.
Sayangnya, penderitaan mereka belum selesai, karena tak lama setelahnya salah satu raksasa jatuh dengan begitu keras dan mereka berdua juga ikut jatuh.
“WUAAHNY…ing?” Laura menahan umpatannya setelah tahu raksasa mana yang jatuh, Thunder Beasts Robo.
Kekagetannya bukan hanya karena Thunder Beasts Robo jatuh, tapi juga karena keadaannya yang dapat dikatakan sangat mengenaskan. Hampir seluruh bagiannya terbakar dan bagian lengan yang memuat Yellow Girrafe bahkan terlepas. Cairan merah juga mengucur di beberapa bagian, seperti pergelangan kaki, perut, punggung, dan yang paling parah adalah bagian lengan.
“Hey, Thunder Fox… apa itu darah?” tanya Laura.
Saat menonton pertarungan Super Rangers, hal ini sama sekali tidak pernah Laura pikirkan. Super Rangers Thunder Saber adalah acara untuk anak-anak, jadi hampir tidak pernah memperlihatkan gambar yang mengerikan. Sekalipun ada darah, tidak pernah digambarkan sampai berderai-derai seperti yang tengah dialami Thunder Beasts Robo saat ini. Karena itu, Laura sangat shock saat melihat pemandangan di hadapannya.
“Ya.” jawab si rubah singkat. Dari tatapan matanya dapat dilihat bahwa Thunder Fox juga sama terkejutnya dengan Laura.
Setelah mengatakannya, Rubah itu tiba-tiba berlari ke arah yang berlawanan dengan Thunder Beasts Robo.
“Heh! Mau kemana!?”
Thunder Fox tidak menjawab dan terus berlari. Karena penasaran, Laura ingin mengejarnya. Tetapi, baru juga melangkah, Thunder Dolphin tiba-tiba mencipratkan air dengan ekornya dan lagi-lagi Laura harus lepek karenanya.
.
.
.
Dari atas langit terdengar pekikan dan deru angin. Berdasarkan polanya selama ini, Laura menduga bahwa akan ada raksasa lagi yang datang.
Benar saja, begitu menengadahkan kepalanya, Laura dapat melihat seekor burung raksasa berbulu api kuning kemerahan.
“Thunder Phoenix.”
Di atas burung api itu telah bertenger Thunder Fox dalam wujud aslinya. Begitu jarak dua binatang raksasa dan Thunder Beasts Robo cukup dekat, Thunder Fox pun turun.
“Thunder Fox, ngapain bawa Thunder Phoenix ke sini? Kamu mau nambah korban?” tanya Laura melalui telepati.
“Tenang saja. Itu bukan tujuanku.” jawab si rubah.
Thunder Phoenix kemudian mendekat pada Thunder Beasts Robo, sementara itu Thunder Fox membuat pusara angin yang berfungsi untuk melindungi rekan-rekannya. Laura yang tidak dapat melihat ke dalam pusara tersebut hanya bisa menunggu untuk mengetahui apa yang sebetulnya mereka lakukan.
Lalu, di tempat yang tidak jauh dari sana, Thunder Dolphin masih bertarung dengan Sarenos. Meskipun Sarenos kelihatannya masih mengungguli, Thunder Dolphin masih berusaha bertahan dengan serangan suaranya.
“Sepertinya Thunder Dolphin saja tidak cukup untuk melawanmu.” gumam Tiger Warrior.
__ADS_1
Sang harimau emas kemudian berteriak, “Thunder Tiger! Thunder Gorilla! Thunder Kangaroo!”
Tidak lama setelahnya, tiga makhluk legenda itupun muncul dari arah yang beragam. Sampai sini akhirnya cerita semakin mirip dengan cerita aslinya. Thunder Beasts Robo yang rusak parah, Thunder Dolphin dan Tiger Warrior yang terpojok, kemudian yang terakhir adalah kemunculan tiga Thunder Beasts lain milik Tiger Warrior.
“Ngeri sih, tapi ini demi balik ke cerita awal. Terus, habis ini kalau sesuai cerita harusnya harimau, gorilla, lumba-lumba, dan kangguru jadi satu.” Laura memprediksi. Dia hanya dapat berharap semua itu bisa benar-benar terjadi. Karena, itu adalah satu-satunya jalan untuk mengalahkan Sarenos.
“Wild Thunder Robo, bergabung!” Tiger Warrior berteriak.
Sesuai perintah itu, proses penggabungan Thunder Beasts pun dimulai. Pertama-tama, mereka berubah ke wujud robotic mereka terlebih dahulu, kemudian dengan posisi yang sudah ditentukan mereka pun menjadi satu. Thunder Tiger yang memiliki ukuran paling besar di antara empat binatang buas itu menjadi badan dan kepala, Thunder Gorilla terbagi dua dan menjadi lengan, begitu pula Thunder Kangaroo yang berubah menjadi kaki, dan Thunder Dolphin berubah menjadi ekor.
Lalu, begitu Tiger Warrior masuk ke dalam kokpit utama, dia menyerukan nama megazord tersebut, “Wild Thunder Robo, siap!”
Bersamaan dengan itu, Laura pun loncat kegirangan.
“Woooaaaw!! Gila! Blink-blink banget! Emasnya gonjreng! Alay poll! Warnanya metalik semua gak kayak robot sebelah!”
Mulut Laura mengoceh tanpa kontrol saking terlalu semangatnya.
“Thunder Dagger!” dengan satu perintah itu, Wild Thunder Robo melepas dua bagian dari Thunder Dolphin dan mengubahnya menjadi dua pisau kecil. Megazord itu akan menggunakannya sebagai senjata.
Pertarungan yang lebih seimbang pun dimulai. Sekarang tidak hanya Sarenos yang menyerang. Dengan kekuatan Wild Thunder Robo, Sarenos berhasil dijatuhkan. Meskipun sempat beberapa kali bangkit dan menyerang balik, Wild Thunder Robo tidak menyerah.
“Wild Kick! Wild cut!”
Serangan demi serangan diluncurkan dengan bertubi-tubi. Tetapi, yang menjadi fokus Laura justru adalah Tiger Warrior yang meneriakkan nama-nama jurusnya tanpa ragu.
“Aku boleh ketawa gak, sih? Cringe banget… pffft…”
.
.
Pertarungan selesai satu jam kemudian dengan Wild Thunder Robo sebagai pemenangnya. Thunder Beasts Robo yang tadi terluka juga sudah membaik. Rupanya Thunder Phoenix memberikan energinya agar rekan-rekannya itu dapat kembali bangkit. Hanya saja, karena kerusakannya terlalu parah, kemungkinan akan sulit digunakan lagi dalam waktu dekat.
“Hey! Apa kalian baik-baik saja?” tanya Laura pada para Super Rangers yang baru keluar dari kokpit mereka.
Thunder Blue, Green, dan Red sudah melepas helm mereka. Saat tatapan mereka bertemu dengan mata Laura, entah kenapa Laura merasakan sebuah tekanan yang berbeda dari sebelumnya.
“Kalian kenapa?” tanya Laura lagi.
Tatapan mereka bertiga jelas sekali adalah tatapan kebencian. Entah apa alasannya.
“Sean, ada apa? Alicia?”
__ADS_1
Hanya Alicia yang enggan membuka helm-nya. Laura yakin sekali ada sesuatu yang mereka sembunyikan darinya.
“Ini semua gara-gara kau, penyihir.” Joanne mengatakannya sambil mendorong tubuh Laura agar terlepas dari Alicia.