
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata gemas memiliki dua makna, yang antara lain adalah sangat jengkel dalam hati dan sangat suka bercampur jengkel. Kira-kira itulah perasaan Laura pada Thunder Fox setelah lebih mengenalnya. Ingin rasanya Laura menguleni pipi makhluk itu sampai mengembang bagaikan adonan donat yang terfermentasi lebih dari waktu maksimal. Lalu, seperti adonan donat itu juga Laura ingin melempar Thunder Fox setinggi-tingginya, dengan begitu udara di dalam otak rubah berekor sembilan itu hilang.
“Ghaaah… kenapa sifatnya harus seperti itu, sih!!?” gerutu Laura.
Thunder Fox yang tidak peduli, meneruskan kenarsisannya. Walau sayangnya, dia harus mengurangi kenarsiswa itu supaya tidak lebih dibenci oleh anggota Super Rangers yang masih marah padanya.
“Thunder Fox!” panggil Alicia.
Rubah ungu yang sudah berubah ke ukuran aslinya itu sedikit menengok, lalu berkata pada Alicia, “Aku telah mengalihkan perhatian mereka. Kalian cepatlah berubah.”
Alicia mengangguk setuju, kemudian berseru, “Teman-teman, ayo berubah!”
Seperti sebuah aba-aba, seruan Alicia tadi membuat tiga rekannya memposisikan diri. Kemudian, secara bersama-sama berteriak, “Thunder change, HA!”
Berubahlah mereka menjadi pasukan beranggotakan empat orang yang disebut Super Rangers Thunder Saber. Mereka pun satu persatu menyebutkan nama alias mereka secara berurutan.
“Thunder Red!”
“Thunder Blue.”
“Thunder Green!”
“Thunder Yellow!”
Sebagai pimpinan pasukan, Thunder Red maju sambil berkata, “Petir Kebajikan Semesta, Super Rangers!”
“Thunder Saber!” seru keempatnya bersamaan sambil berlari maju menerjang pertahanan pasukan Piripiri.
Setelah itu, entah dari mana datangnya, empat buah petasan dengan empat warna yang berbeda-beda meledak di belakang para Super Rangers. Petasan itu begitu heboh dan menyebabkan asap yang cukup tebal.
__ADS_1
Melihat adegan legendaris dari masa kecilnya, Laura merasa begitu takjub. Padahal ini bukan kali pertama dia melihat seruan mereka secara langsung. Tetapi, karena kali ini Brian mengucapkan jargon mereka, mulut Laura semakin menganga.
“Wanjayy! Kok Brian bisa ngucapin cringe line kayak gitu ya?”
Begitulah. Rasa takjub yang Laura rasakan bukan karena Super Rangers terlihat keren, tapi justru sebaliknya. Betapa kagumnya dia pada orang-orang yang bisa beradegan seperti itu tanpa tertawa. Laura menduga aktor yang memerankan tokoh Brian dulu juga merasakan hal yang sama dengannya. Karena, seingat Laura suara Brian dalam drama saat mengucapkan baris itu terdengar sangat kaku, tidak seperti Brian asli yang dia lihat sekarang.
“DHUARR! Duarr! Dor! Duarrrrrrrrr!”
Pertarungan semakin heboh begitu Nyanterius bergabung di barisan depan untuk melawan sang empat pahlawan. Selayaknya seekor kucing, dia bergerak dengan sangat lincah. Dengan kelincahannya itu, berbagai serangan berhasil dia hindari.
“Rupanya Si Nyanteterus masih ngincer Mas Zhou-ku. Sialaan… kayak gak ada sasaran lain apa!?” gerutu Laura begitu menyadari arah serangan Nyanterius yang hanya tertuju pada Thunder Blue.
Dia jelajahi seluruh medan perang, mencari barang kali ada anggota Super Rangers lain yang bisa membantu Joanne. Tapi bukan medan perang namanya kalau ada pasukan yang senggang. Tidak ada dari tiga anggota lainnya yang bisa menyempatkan diri. Mereka masih sibuk dengan lawan masing-masing. Apa lagi Brian yang harus melawan Gondazel.
Sementara itu, Thunder Fox juga ikut sibuk melawan para kroco yang membawa meriam raksasa. Dia tidak kewalahan sama sekali. Justru dengan mudah meriam-meriam itu dia hancurkan. Tetapi, lagi-lagi mereka muncul dengan meriam sejenis, dan lagi-lagi juga dia harus menghancurkannya.
Thunder Fox sudah sangat jengah. Dia pun akhirnya memutuskan untuk tidak lagi mengurusi meriam-meriam tersebut. Dan itu adalah keputusan yang tepat.
Nyanterius yang masih menyerang Joanne dengan membabi buta hampir saja memojokkan Joanne. Alien berwujud mirip kucing itu tengah mengeluarkan jurus andalannya pada Joanne saat Thunder Fox melihatnya.
Dengan kecepatan penuh Thunder Fox maju, kemudian menendang Nyanterius sekencang-kencangnya hingga terpental jauh. Namun, itupun belum sanggup untuk melenyapkan Nyanterius.
“Terima kasih.” ucap Joanne sambil berusaha berdiri.
“Guk! (Aku yang minta maaf.)” gonggong Thunder Fox begitu pria itu berhasil menegakkan badannya. Dia menggusel-guselkan kepalanya dengan pipi Joanne, lalu pria itu membalasnya dengan membelai kepala Thunder Fox.
Betapa irinya Laura ketika melihat pemandangan itu dari kejauhan. Agar gemuruh di dalam hatinya yang rapuh bagaikan kerupuk udang itu berhenti, Laura kirimkan telepati pada Thunder Fox.
“Cepetan woy!”
__ADS_1
Thunder Fox pun menarik kepalanya dari belaian tangan Joanne dengan enggan. Telepati dari Laura itu begitu berisik, tapi telah menyadarkannya bahwa mereka tengah berada di medan perang. Nyanterius juga mungkin sebentar lagi akan sadarkan diri. Jadi, sebelum itu Thunder Fox harus terlebih dahulu menyerangnya.
“Guk!” gonggongnya seakan memberi kode pada Joanne untuk melakukan serangan bersama-sama.
Joanne yang menangkap kode tersebut mengangguk setuju. Dia berlari sejauh belasan langkah, kemudian melompat setinggi-tingginya sambil mengayunkan pedangnya. Bersamaan dengan itu, Thunder Fox mengeluarkan laser dari mulutnya.
Nyanterius yang baru sanggup bangun begitu kaget melihat serangan maut mereka. Dia berusaha untuk lari, namun terlambat dan hancurlah tubuhnya karena dua serangan tadi.
“Sialaaaaaaaaaaaaaaan!” pekiknya.
‘DHUAARRRRRRRRR!!’
Ledakan dahsyat pun terdengar, mengalihkan perhatian Gondazel yang masih bertarung dengan Thunder Red. Segera dia memisahkan diri dari Thunder Red dengan melompat menjauh. Kemudian, dengan suara lantang Gondazel berseru ke atas langit, “Nona Luca!! Bantulah kami!”
Mendengar permohonan itu, Laura memutar bola matanya sambil memonyongkan bibir bawahnya. Ingin rasanya dia mengabaikannya, tapi nanti malah dia yang dicurigai. Karena, membuat alien menjadi raksasa adalah salah satu job desc utamanya.
Dengan terpaksa Laura mengangkat tongkatnya, lalu membayangkan sihir pengubah ukuran yang akan dia keluarkan. Seperti sebelumnya, Laura tidak akan memberikan kekuatan maksimal pada Nyanterius yang bertubuh besar. Dia hanya akan mengobati luka-luka Nyanterius, lalu membesarkan badan alien itu tanpa menambahkan kekuatannya.
“AAAKU KEMBALI!” ujar Nyanterius dengan sombongnya. Dia menginjak-injakkan kakinya di atas tanah lapang itu, hingga mengakibatkan guncangan pada tanahnya.
“Kami tidak akan membiarkanmu. Thunder Beast!!” Thunder Red memanggil Thunder Beast yang lain dengan lantang.
Seperti sebelumnya, kemuncullan empat Thunder Beast rekan para Super Rangers itu dibarengi dengan gemuruh petir di langit. Empat makhluk legenda yang keluar dari satu arah yang sama itu kemudian berhenti agar Super Rangers dapat lebih mudah menggabungkan diri dengan mereka.
“Hiya!” seru empat pahlawan itu hampir bersamaan.
Kini mereka telah berada di kokpit yang ada di dalam tubuh para Thunder Beast. Kemudian, bersama-sama lagi mereka berseru, “Thunder Beast, bergabung!”
Bersatulah para Thunder Beast menjadi sebuah robot raksasa yang disebut Thunder Beast Robo. Dengan robot tersebut, tidak butuh waktu yang lama bagi para Super Rangers untuk mengalahkan Nyanterius. Episode hari itupun berakhir dengan kemenangan telak Super Rangers untuk sekian kalinya.
__ADS_1