
“Woh! Itu Joanne kan?”
Laura menunjuk ke pintu gedung yang telah terbuka. Dari sana muncullah Joanne dan dua orang berseragam polisi lain yang tengah mengobrol. Selang sebentar, dua orang itu kemudian meninggalkan Joanne menuju parkiran, sementara Joanne menengok dan melangkahkan kakinya menuju tempat Tiger Warrior dan Laura berada.
“Memang orang yang pake raganya Kang Mas Jo tuh pasti bakal jadi canggih juga. Langsung sadar kalau kita lagi di sini.” ujar Laura, tidak mau memuji Joanne yang dianggapnya palsu itu.
Semakin dekat Joanne dengan mereka, Laura pun maju ke depan Tiger Warrior. Tetapi, seakan tidak melihat Laura, pria berambut panjang itu melewatinya begitu saja.
“Tiger Warrior, akhirnya aku bisa bertemu denganmu.” kata Joanne terdengar lega.
Laura yang dicueki merasa tidak senang dengan sikap Joanne padanya. Dia tahu kalau saat ini mereka sedang menjadi musuh, tapi menurutnya sikap Joanne ini terlalu berlebihan. Bukankah musuh atau rival biasanya saling menyapa dan meledek? Tadi Laura menantikan situasi seperti itu dan sudah bersiap dengan berbagai balasan di kepalanya.
“Aku sudah mencarimu dari kemarin. Dari mana kau sebenarnya?” tanya Joanne pada Tiger Warrior.
Tetapi, bukannya sang Harimau, justru Laura lah yang kemudian menjawab, “Om Tigor habis bareng aku.”
Terdengar nama yang asing di telinganya. Joanne pikir, mungkin Luca sedang melantur seperti biasanya.
“Rekan-rekan kita mencarimu. Aku harap kau segera ke markas, karena masih ada yang ingin kami tanyakan.”
Dan lagi-lagi perkataan Joanne ditanggapi oleh Laura, “Iya, nih! Om Tigor malah nguntitin aku sampe kamar segala. Kalau dikira om-om mesum gimana?”
Dengan gemas, Tiger Warrior mengusak-asik rambut Laura.
“Aku itu gentlemen yang saaangat menghargai wanita. Jadi, tidak mungkin aku berniat mesum, apalagi dengan anak kecil sepertimu.” sahut pria yang Laura panggil dengan sebutan Tigor itu.
“Om, aku tuh udah umur 20-an tahu.”
“Hooo dua puluh. Umurku sudah hidup lebih dari 100 tahun. Harusnya kau memanggilku dengan sebutan Kakek. Tidak sopan sekali kau memanggilku ‘Om’…”
Sekarang Joanne lah yang merasa diacuhkan. Dua alien dari Planet Porcar ini nampaknya sudah cukup akrab. Bahkan sudah ke tahap masuk ke kamar pribadi. Entah kenapa ada perasaan tidak enak saat membayangkannya.
Dengan terpaksa, Joanne harus mengalihkan perhatian mereka.
__ADS_1
“Bisakah kalian serius sebentar?”
Karena tidak mendengar ucapan Joanne, mulut Laura masih terus mengoceh.
“Lah, Om Tigor kan teman Ayahku. Masa manggil teman Ayah pakai julukan ‘kakek’? Lebih aneh lah!”
“Siapa bilang aku teman Ayahmu? Aku berhutang budi, bukan berarti berteman.”
Mendengar obrolan mereka, Joanne sejenak tertegun. Informasi itu membuatnya keluar dari kepura-puraannya untuk mengacuhkan Laura.
Dia pegang salah satu pundak gadis itu agar menghadap ke arahnya, lalu bertanya, “Apa maksudmu?”
Seketika mata Laura pun berbinar-binar.
“Oh, ternyata kamu sadar kalau ada aku toh.” ledeknya.
Satu milimeter pun Joanne tidak menunjukkan tawanya. Wajahnya begitu serius, menunjukkan betapa penasarannya dengan apa yang baru saja dia dengar tadi.
“Jangan main-main! Katakan padaku apa maksudnya? Bagaimana mungkin Tiger Warrior mengenal Ayah Luca?”
“Untuk lebih jelasnya, saya persilakan kepada Om Tigor untuk berbicara. Sebelum itu, kami kepanasan di sini. Jadi, bolehkan kita membicarakannya di tempat yang lebih teduh?” sengaja Laura menggunakan kalimat serba baku agar lebih menekankan betapa tidak betahnya dia di luar.
“Ikuti aku.”
Beruntung kali ini Joanne memakluminya dan mengantar mereka ke salah satu ruangan kosong di dalam gedung.
“Duduklah. Aku ambil minuman dulu. Tunggulah!” kata Joanne sambil membuka kembali pintu ruangan dan keluar.
“Wah, aku gak nyangka seorang Joanne bakal sopan sama aku. Kalau dari dulu aku bawa Om Tigor, kayaknya sekarang aku bakal lebih lancar pedekatenya.” bisik Laura.
“Kau masih menyukainya?”
Laura melirik Tigor dan menjawab, “Ogah!”
__ADS_1
Terlihat ekspresi Laura yang sangat mantap dengan jawabannya. Sejak itu, Tiger Warrior tahu bahwa hati manusia dapat berubah sedrastis itu. Padahal selama beberapa minggu mengawasi Laura, tak sekalipun dia melihat Laura yang tidak terpesona pada Joanne.
‘Cklek’
Pintu terbuka kembali dan muncullah Joanne dengan tiga kaleng teh oolong di tangannya. Lalu, dia berikan kaleng itu pada tamunya satu persatu.
“Apa kau bisa menceritakannya sekarang?”
Tigor membuka masker dan topinya begitu merasa yakin tidak ada orang yang melihat penampilannya.
“Dulu aku pernah hampir tertangkap sampai terluka oleh pasukan Radolard. Lalu, Pangeran Jador menyelamatkanku dan aku berjanji akan membalas jasanya.
“Pangeran Jador… beliau merasa ada yang janggal dengan Kador dan yakin puterinya sedang dalam bahaya. Jadi, beliau memintaku untuk menjaga Luca walau tidak bisa setiap saat.”
Sungguh cerita yang cukup sulit Joanne percaya. Pasalnya, bukan hanya tidak disebutkan di serialnya, tapi selama dia hidup berulang kali di dunia ini pun tidak pernah ada cerita seperti ini.
Tiger Warrior yang Joanne kenal adalah seorang prajurit yang begitu setia pada tanah airnya. Dia begitu membenci Kador dan semua yang berhubungan dengannya tanpa terkecuali. Memang pernah diceritakan tentang Tiger Warrior yang hampir tertangkap, tetapi seharusnya Tiger Warrior dapat lepas dari jeratan berkat usahanya sendiri.
“Kapan itu terjadi?” tanya Joanne.
“Sekitar 20 tahun yang lalu. Luca Kasha masih berusia 2 tahun waktu itu.” jawab Tiger Warrior.
Joanne melirik ke arah Luca. Menyadari itu, Luca melotot dan berkata, “Gak usah ngira aneh-aneh. Aku baru dateng ke dunia ini beberapa minggu yang lalu. Dan aku juga baru tahu cerita ini tadi pagi.”
Pikir Joanne, kalaupun Luca Kasha sudah berganti jiwa sejak bayi pun tidak mungkin bisa mengubah cerita dari awal seperti ini. Memangnya apa yang bisa dilakukan anak berusia 2 tahun? Bicara saja mungkin masih sulit.
“Apa mungkin Kador juga reinkarnator? Kalau iya, apa tujuannya pada Luca?” gumam Joanne.
‘Brak!’
Tiba-tiba Laura menggebrak meja, lalu berkata, “Makanya, kita harus cari tahu ke masa lalu. Menurutku sih, gitu.”
“Apa maksudmu?” tanya si harimau emas.
__ADS_1
Senyum Luca terlihat canggung saat menjawab, “Biarkan aku mati.”