Villainess X Fangirl

Villainess X Fangirl
Komunikasi Keluarga


__ADS_3

Baru juga Rador duduk untuk beristirahat setelah seharian penuh kelelahan bekerja. Mungkin ada yang heran, sebenarnya pekerjaan apa yang Rador lakukan. Padahal kelihatannya hanya anak buahnya saja yang bekerja dalam menaklukan planet-planet. Tapi sebetulnya, Rador tetap mengerjakan pekerjaannya sebagai anggota kerajaan secara remote atau jarak jauh.


Teknologi di Planet Porcar bisa dikatakan lebih maju dibandingkan dengan teknologi di Bumi. Jadi, tidak hanya antar daerah, mereka bahkan dapat melakukan komunikasi antar galaksi dengan instan. Dengan teknologi itu, Rador tetap dapat mengurus daerah yang menjadi kekuasaannya dari jauh. Rador dan pasukannya juga memberi kabar tentang perkembangan misi mereka di Bumi dengan memanfaatkan teknologi tersebut.


“Yang Mulia, ini teh-nya.” kata seorang piripiri yang sedang menyajikan secangkir teh di atas meja Rador.


Rador ingin segera meminumnya, tetapi tiba-tiba seseorang masuk dengan begitu tergesa-gesa.


‘Brak!’


Hampir saja the di meja Rador menjadi korban gebrakan Sador. Dari napasnya yang tersengal-sengal, bisa ditebak sebesar apa kekuatan yang Sador kerahkan hanya untuk segera sampai di ruangan ini.


“Kakak! Cepat jelaskan padaku!” sentaknya dengan penuh emosi.


Rador yang tidak paham dengan konteks yang Sador ungkapkan memicingkan matanya. Untuk saat ini emosinya masih bisa dia padam walaupun adiknya berperilaku tidak sopan kepadanya.


“Apa yang harus ku jelaskan?” tanya Rador.

__ADS_1


Aura mencekam terasa begitu mengerikan di sekitar Rador. Saat melihat itu, barulah Sador menyadari bahwa dia melakukan hal yang tidak pantas kepada kakaknya.


“Ma… maafkan saya, Pangeran Rador. Saya terpancing emosi, karena Luca Kasha berkata bahwa dia lebih ingin menikah dengan Anda. Tapi, apakah itu betul? Apakah Pangeran Rador mengetahui akan hal tersebut?”


Pertanyaan Sador itu membuat Rador yang sedang pusing menjadi semakin pusing. Dia pijat-pijat dahinya untuk mengurangi rasa pusingnya itu, namun pikirannya juga tidak bisa mengabaikan pertanyaan itu.


“Aku hanya atasan anak itu. Mungkin Luca berkata seperti itu, karena kau terlalu mengganggunya.”


Tebakan Rador tepat. Gara-gara itu, Sador pun tergagap. Dia tidak bisa menampiknya.


“T… tapi, Luca adalah tunanganku! Aku tidak terima kalau ada nama pria lain yang dia sebutkan!”


“Dasar lolicon!” gerutu Rador lirih.


“Kau lupa kalau Ayahanda belum memberimu restu? Luca pasti masih ingin hidup dengan bebas seperti anak muda seumurannya. Aku pikir kali ini kau lah yang keterlaluan.” Rador berpendapat.


“Jadi, sebaiknya kau segera meminta maaf pada Luca. Mungkin setelah itu dia akan lebih menyukaimu.” lanjutnya.

__ADS_1


Sador menundukkan kepalanya merenungkan perkataan Rador. Dia memahaminya, namun masih ada satu hal yang begitu mengganjal baginya.


“Luca… dia juga membela pria selain aku. Padahal dia tahu bahwa aku mencintainya…”


Lagi-lagi Rador mendengus karena Sador. Adiknya ini benar-benar telah dibutakan oleh cinta.


“Masih mending kalau kau yang Luca bela, tapi kenapa Luca harus membela Thunder Blue? Dia berada di pihak yang berseberangan dengan kita, bukan!?”


Bagaikan anak kecil, Sador merengek atas ketidakadilan yang dia terima.


“Aku sudah memberitahumu apa yang sedang Luca lakukan, seharusnya kau sudah paham, bukan? Pergilah! Akan ku sampaikan keluhanmu pada Luca nanti.”


Rador menjentikkan tangannya untuk memanggil beberapa piripiri untuk menyeret Sador keluar dari ruangannya. Banyaknya piripiri yang datang berjumlah 10 orang dan dalam sekali hentakan sepuluh piripiri itu dapat menangkap Sador, lalu menyeretnya keluar. Jika kurang dari itu, mana mungkin ada yang sanggup menggerakkan Sador.


“Kakak! Dengarkan aku dulu! Kakak!” seru Sador berteriak.


Setelah pintu ruangan ditutup, barulah Rador dapat bernapas lega. Saudaranya itu memang selalu berisik dan tidak sabaran. Benar-benar berbanding terbalik dengannya dan pangeran pertama yang lebih kalem.

__ADS_1


Mengingat keluarganya, Rador jadi terngiang akan apa yang baru sada Ayahnya sampaikan padanya.


“Bahkan Ayah menyuruhku untuk lebih mengawasi Luca. Sebetulnya ada apa, sih?”


__ADS_2