Villainess X Fangirl

Villainess X Fangirl
Di Sarang Finiks Part 2


__ADS_3

Dabakiras merasa bahwa hari ini adalah hari keberuntungannya. Jika tidak, mana mungkin dia bertemu dengan Super Rangers di saat dia dilarang untuk maju berperang. Padahal niatnya ke mari hanya untuk menghabiskan waktu luang, namun target balas dendamnya malah datang dengan sendirinya.


“Akan kugagalkan rencana kalian.” gumamnya sambil tersenyum licik.


Meskipun bisa dikatakan tanpa persiapan, pasukan Dabakiras terkenal dengan kemampuan bertarungnya. Karena itu, selama satu jam setelah pertarungan dimulai keadaan masih seimbang. Serangan demi serangan saling mereka luncurkan secara bertubi-tubi. Tidak ada yang mau mengalah.


“Thunder Sword!” seru Brian sambil mengayunkan kedua pedang petirnya secara bersamaan.


Dia ahli dalam pertarungan jarak dekat. Ciri khasnya adalah perpaduan antara anggar dan kendo. Kedua seni bela diri itu sudah Brian pelajari sejak kecil. Sehingga dia begitu ahli dalam memadukan keduanya.


Beda lagi dengan Alicia yang lebih senang menyerang dalam jarak jauh. Dia tetap menggunakan pedangnya untuk menyerang. Tetapi, dengan fitur yang sudah ditambahkan oleh Sean, dia mengubah pedang tersebut menjadi tembakan laras panjang.


Sementara itu, Sean yang sebetulnya tidak terlalu ahli dalam bertarung diuntungkan oleh kemampuannya dalam membaca masa depan. Dia yang bisa melihat serangan musuh selanjutnya dengan sigap menghindar, lalu lebih dulu menyerang mereka dari arah yang tidak terduga.


Namun, dengan itupun agaknya mereka masih kesulitan dalam menghadapi para pasukan Dabakiras. Tiga Super Rangers itu yakin ada sesuatu yang berbeda dari para pasukan itu.


Mereka pun berkumpul di satu titik dengan saling membelakangi untuk membuat rencana.


“Alicia, bacalah pikiran Dabakiras! Aku dan Sean akan menggiring pertanyaan untuknya.” bisik Brian.


“Baik.” sahut Alicia.


Ketiganya pun kembali berpencar. Alicia tetap berada di tempat yang sama dan mengarahkan tembakannya ke pada musuh-musuh mereka. Sementara itu, Sean dan Brian maju menyerang Dabakiras secara bersamaan.


“Hiyaaaaaatt!!” Brian dan Sean berseru.


‘Dakh!’


Dua pedang mereka berbenturan dengan lengan Dabakiras yang sekeras baja. Dengan sekuat tenaga, dua pria itu mendorong pedang-pedang mereka agar berhasil menembus atau setidaknya menggores ke lengan itu. Tetapi, rupanya tenaga Dabakiras masih lebih kuat dibandingkan mereka. Keduanya terlempar beberapa langkah dari sana, sedangkan  Dabakiras tak bergeser sedikitpun.


“Gaakh!” seru Brian.


Mereka atur napas mereka yang tersengal-sengal. Lalu, saat sekiranya sudah sanggup berbicara, Sean berkata, “Nampaknya kau semakin kuat. Usahamu patut kuacungi jempol.”


“Hahahahaha! Tentu saja. Akulah yang terkuat di Radolard!” Dabakiras menyombongkan diri.


“Cih! Jangan kira kau bisa mengalahkan kami!” Brian memanas-manasi Dabakiras.

__ADS_1


Pria berseragam merah itu pun bangkit dan kembali bersiap menyerang. Dia berlari mengayunkan pedangnya pada Dabakiras, tapi lagi-lagi dia gagal dan terpental.


“Brian!” Sean berseru.


Tidak salah lagi, memang ada yang aneh dari Dabakiras. Tidak biasanya serangan Brian terpatahkan semudah itu. Selain itu, bayangan yang Sean lihat di masa depan juga tidak nampak baik. Setelah ini jika dia tidak menghindar, serangan dari alien itu akan benar-benar membunuhnya.


“Aku harus pergi sekarang.” pikir Sean yang langsung mundur dari tempatnya.


Sialnya, serangan Dabakiras datang dengan begitu cepat. Alien itu seolah dapat mengendalikan angin, sehingga sabetan pedangnya yang tidak terlalu saja dapat mengena di bahu Sean.


Merasa puas dengan hasilnya, Dabakiras sekali lagi menyabetkan pedangnya dan berniat menginjak Sean. Pria berseragam hijau itu tahu apa yang akan terjadi, tetapi tubuhnya terlalu lemah untuk menghindar lagi.


“Sialan…” Sean menggeram.


Hampir saja Sean pasrah pada nasib buruknya, saat Joanne secara tiba-tiba muncul dalam bayangan masa depan yang dia lihat.


“Thunder Slash!”


Benar saja. Rekannya datang menyelamatkan. Dabakiras yang tidak siap menerima serangan itupun terjungkal.


“Hey! Kembali! Aku belum puas menghajar kalian!” teriak Dabakiras dari bawah sana.


Blue Griffin yang sudah terbang ke langit tidak mempedulikan seruan alien itu. Prioritasnya adalah membawa Sean dan Brian yang terluka parah untuk segera diobati.


“Huh! Dasar lemah! Kali ini kalian beruntung bisa kabur.” keluh Dabakiras yang kesal dan kecewa setelah mangsanya kabur.


“Piripiripipirirpiripiri.”


Ujaran salah satu pasukan piri-piri itu lah yang kemudian membuatnya sedikit lebih tenang.


“Benar. Aku masih punya informasi yang bagus untuk Pangeran Rador…” batin Dabakiras.


Pikirnya, jika dia mengatakan informasi tentang Thunder Phoenix pada Rador, dia pasti akan diberi kesempatan lagi untuk memimpin pasukan tempur. Dengan begitu, orang-orang di Kerajaan Radolard pun akan lebih menghormatinya lagi.


“Kita pulang!” perintahnya pada para pasukan yang menemaninya.


Langkahnya begitu cepat dan penuh percaya diri. Sudah tidak sabar rasanya Dabakiras untuk memberi tahu Rador, sampai-sampai dia lengah bahwa ada makhluk lain yang mendengarkan dan melihat kejadian tadi.

__ADS_1


.


.


.


Joanne dan lainnya akhirnya sampai di markas Super Rangers. Dua orang yang tidak terluka pun memapah Sean dan Brian untuk masuk ke dalam. Kemudian, mereka baringkan dua rekannya di atas sofa ruang tengah yang bersebelahan.


Yang mereka lakukan selanjutnya adalah melepaskan seragam mereka yang cukup ketat agar bisa lebih lega bernapas. Alicia menekan tombol untuk berubah wujud, dan mereka pun kembali ke pakaian semula


“Bertahanlah! Kami akan membawakan obat sebentar.” kata Alicia, lalu pergi bersama Joanne untuk mengambil benda-benda yang mereka perlukan.


Alicia menuju kotak P3K untuk mengambil alkohol, obat antiseptik, kapas, dan perban, sedangkan Joanne mengambil baju bersih milik Brian dan Sean. Mereka pun membawa benda-benda tersebut ke ruang tengah.


Dengan cekatan, mereka menangani luka-luka di tubuh dua pria itu. Sebagai prajurit, luka fisik adalah hal yang sangat wajar dan siapapun dalam tim Super Rangers sudah biasa menangani luka-luka tersebut, termasuk menjahit dan mengoperasi jika dibutuhkan.


“Aku sudah selesai. Sebaiknya kalian berdua istirahat terlebih dahulu.” ujar Alicia sambil menaruh kembali alat-alat yang dia gunakan ke dalam kotak.


“Tidak. Aku masih sanggup.” sahut Brian. Dia memaksakan diri untuk duduk dan dengan tanggap Alicia membantunya.


Alicia yang juga kelelahan duduk di sebelah Brian dan berkata, “Kali ini beruntung kalian mengenakan seragam tempur. Jika tidak ada seragam itu, dikhawatirkan keadaannya akan lebih parah dari ini.”


“Sebenarnya ada apa ini? Kenapa tiba-tiba kalian berada di Hutan Nacus?” tanya Joanne.


“Apa lagi? Kalau bukan karena Thunder Phoenix.” jawab Alicia.


“Apa penyihir itu yang memberi tahu kalian?” tanya Joanne lagi.


Sean menjawab, “Ya. Kami hanya mengikuti ciri-ciri tempat yang dia katakan. Dan salah satunya adalah Nacus.”


Joanne menyeringai. Dia terkekeh pada kenaifan teman-temannya yang dengan mudah percaya pada seorang Luca Kasha.


“Kalian tidak curiga padanya? Bisa saja dia menjebak kalian. Buktinya tiba-tiba Dabakiras ada di sana.”


“Tidak.” Alicia memotong, “Dabakiras dan pasukannya benar-benar secara kebetulan berada di sana. Dan sepertinya, jika kita mengikuti Dabakiras, kita benar-benar akan mendapatkan Thunder Phoenix.”


Tiga rekan kerjanya serentak fokus pada perkataan Alicia. Karena kemampuan ajaibnya, mereka bertiga yakin bahwa gadis itu telah mendapatkan sesuatu selama membaca pikiran Dabakiras.

__ADS_1


__ADS_2