
Laura telah pergi dari tempat pertemuannya dengan Joanne tadi. Beruntung tubuh yang dia rasuki adalah seorang ahli sihir. Dengan begitu, dia bisa menghilang dengan mudah tanpa meninggalkan jejak.
Begitu dia kabur dari Joanne, wajah terkejut itu tak bisa Laura lupakan. Keterkejutan itu sudah sangat jelas bercampur dengan amarah yang ditujukan pada Luca Kasha. Dan sedikit banyak, hal itu membuat hati Laura cukup terluka.
Mana ada di dunia ini orang yang ingin ditatap dengan penuh kebencian oleh idolanya. Walau yang dibenci itu bukan Laura, melainkan Luca Kasha.
Tetapi, kini Laura berada di dalam tubuh Luca dan entah bagaimana caranya untuk keluar atau kembali ke asalnya. Kalau begitu, bukankah sama saja kebencian itu kini tertuju padanya?
Sayangnya, Laura hanya bisa merasa sedih tanpa merasa marah. Karena, apa yang Radolard lakukan pada keluarga dan teman-teman Joanne tidak bisa dimaafkan. Orang-orang dari Kekaisaran Radolard telah menghabisi hampir seisi planet Kaminaria dan hanya Joanne serta dua orang lainnya lah yang tersisa dari planet itu. Tidak terbayangkan rasa sedih dan dendam di hati para Super Rangers.
“Hah… sekarang yang penting tujuanku harus tercapai.” batin Laura pasrah.
Dia sudah bertekad untuk membantu Super Rangers agar dapat lebih mudah mengalahkan Radolard. Bukan hanya karena jiwa fan girl-nya yang membara, tapi dia juga merasa akan ada kesempatan baik bila membantu pihak yang benar. Entah apa dan kapan itu.
Saat ini Laura hanya dapat membantu mereka secara diam-diam. Tetapi, Laura berharap suatu saat nanti dia bisa terang-terangan melakukannya. Karena, tidak ada hadiah yang lebih besar dari pujian idolanya setelah melakukan hal baik, bukan?
Biarlah dia memiliki tujuan picik seperti itu, yang penting menurutnya tidak ada yang akan dirugikan. Semua untung, semua senang, dunia pun damai.
.
Lain Laura, lain pula Joanne. Dia masih tertegun dengan apa yang baru saja dia lihat. Sungguh dia tidak menyangka akan bertemu dengan Luca Kasha di tempat latihan pribadinya.
Sebetulnya saat itu dia tidak langsung mengenal gadis tadi sebagai Luca Kasha. Pasalnya, penampilannya tadi terlalu jauh berbeda.
Luca Kasha yang dia kenal selalu memakai kostum berwarna biru dengan model yang sangat aneh dan tidak umum. Rambutnya juga berwarna hijau kebiruan dan begitu terang, sedangkan gadis yang tadi berambut hitam legam.
Hanya dua hal yang membuat Joanne sadar bahwa gadis itu adalah Luca Kasha. Yang pertama yaitu warna bola matanya. Warna bola matanya yang ungu itu adalah ciri dari penyihir Radolard. Mungkin di zaman ini ada yang bisa meniru warna bola mata itu dengan menggunakan kontak lensa. Tetapi, ada hal kedua yang membuat Joanne semakin yakin.
__ADS_1
Apa lagi kalau bukan wajah Luca?
Ini bukan kali pertama Joanne bertemu dengan Luca Kasha. Perempuan itu juga tidak pernah menutup wajahnya. Dan meskipun enggan mengakuinya, Joanne tidak dapat memungkiri bahwa Luca Kasha memang memiliki wajah cantik yang khas.
"Hah... apa-apaan tadi itu?" gumam Joanne yang saat ini sudah kembali ke markas Super Rangers.
Joanne langsung duduk di sofa ruang tengah sambil menikmati dinginnya AC di sana untuk menghilangkan keringatnya.
"Apanya yang apa-apaan?"
Meskipun tidak memperlihatkannya secara jelas, Joanne tersentak saat tiba-tiba sofa di sebelahnya mengempes karena diduduki seseorang.
"Brian?"
Pria berkaos merah itu menaikkan alis tebalnya sambil tersenyum saat Joanne memanggilnya.
Menyadari hal itu, Joanne memutar bola matanya dengan jengah.
"Kau baru selesai masak?" tanyanya.
"Yup! Kau mau mencobanya? Sudah ku bawakan khusus untukmu." jawab Brian sambil menaruh piring di tangannya ke atas meja.
Joanne memicingkan matanya. Perasaannya sudah tidak enak hanya dengan melihat masakan berwarna biru gelap itu.
"Bagaimana? Apa kau tersanjung aku membuatkan masakan sesuai dengan warna seragammu?"
Joanne kehabisan kata-kata menanggapi Brian. Teman sejawatnya itu memang memiliki kepercayaan diri yang terlalu tinggi. Bukan hanya soal pertemanan, tetapi juga soal masak-memasak.
__ADS_1
Brian memang memiliki hobi memasak, tapi tidak ada satupun dari masakannya yang bisa dimakan. Dengan kata lain, masakan yang Brian bawa itu juga sudah bisa Joanne pastikan tidak enak. Warnanya saja tidak wajar begitu. Bukannya senang, Joanne justru khawatir ada zat aneh yang Brian masukkan ke dalamnya.
“Aku sedang mengurangi berat badan. Jadi, kau berikan saja pada yang lain.” tolak Joanne.
“Badanmu sudah sebagus itu, memangnya perlu dikurangi? Alice bisa menangis mendengarmu berkata seperti itu.”
Gadis bernama Alice yang Brian maksud adalah Alicia, Thunder Yellow, satu-satunya anggota perempuan di kelompok mereka. Selama ini dia sedang berusaha mengurangi berat badannya supaya pipinya yang agak tembem bisa menjadi tirus.
“Daripada menangis, sepertinya dia malah senang mendapatkan teman diet.” Sean yang baru datang menunjuk ke arah Alicia yang berdiri di belakangnya. Seperti yang Thunder Green itu katakan, gadis itu memang sedang tersenyum senang.
“Senangnyaaa ada orang lain yang memahami perasaanku.” ujar Alicia sambil berjalan genit mendekati Joanne, lalu mencolek pipinya. Joanne yang merasa risih lalu segera pergi dari sisi Alicia.
“Tapi, kayaknya ada hal yang lebih kamu pikirkan selain berat badan. Misalnya… hmm… perempuan.” lanjut Alicia menebak-nebak.
Walaupun sifatnya centil dan terkesan hanya peduli pada dirinya sendiri, sebetulnya Alicia lah yang justru paling perhatian pada setiap anggota Super Rangers. Perbedaan ekspresi sedikit saja tidak bisa lepas dari intaiannya. Di samping itu, Alicia memiliki kelebihan lain, yaitu membaca pikiran. Kemampuan itu bersinergi dengan kejelian matanya, sehingga dia mampu menebak hampir setiap rencana musuh.
“Huh? Apa ini? Penasehat kita yang dingin bagai kulkas enam pintu sedang memikirkan perempuan?” tanya Brian dengan antusias. Dia begitu penasaran dengan gadis macam apa yang bisa masuk ke dalam pikiran seorang Joanne.
Lagi-lagi sikap Brian membuat Joanne jengah. Dia memutar bola matanya, lalu melotot pada Alicia yang bermulut ember.
Dengan nada datar Joanne berkata, “Luca Kasha. Aku bertemu dengannya di tempatku biasa latihan.”
“Tempatmu latihan? Apa dia melakukan sesuatu padamu?” tanya Sean khawatir.
Joanne menggelengkan kepalanya, menjawab pertanyaan Sean.
“Dia hanya memperhatikanku secara sembunyi-sembunyi. Aku sempat berhasil menangkapnya, tapi dia lari dengan sihirnya. Aku yakin ada yang sedang dia rencanakan. Kita harus menyelidikinya.” ujar Joanne kemudian.
__ADS_1
Anggota yang lain manggut-manggut setuju. Luca Kasha bisa dibilang adalah ‘tuan puteri’ dari Kerajaan Radolard. Dia bahkan diangkat sebagai salah satu dari empat orang panglima terkuat di Radolard, yang artinya dia juga memiliki kekuatan yang luar biasa. Dia bukan orang sembarangan yang berjalan-jalan di tengah hutan tanpa alasan.