
Mengikuti pesan Sean barusan, Laura pun jadi sering menengok ke belakang. Bisa saja Tiger Warrior benar-benar mengikuti di belakangnya. Mungkin maksud Sean tidak seliteral yang Laura pikirkan, tetapi selalu ada kemungkinan yang lain, bukan?
“Kau membuatku pusing.” protes Joanne.
Bagaimana tidak? Sekarang mereka sedang berada di dalam mobil. Joanne menyetir dan Laura duduk di sebelahnya. Masih mending kalau menengoknya sesekali dengan biasa saja. Tetapi, bukan Laura namanya kalau tidak berlebihan. Setiap kali ada sekelebat mobil yang melewati mereka atau sekedar berhenti di belakang saat lampu merah, gadis itu mengerahkan seluruh tubuhnya untuk berbalik melihat ke belakang.
“Ya, udah. Gak usah ngajak bareng. Kamu kan udah tahu Sarenos bersembunyi di mana? Jadi, gak usah bawa aku juga bisa kan?” kata Laura.
“Haaa… kau pikir karena apa aku tidak pergi?” dengus Joanne.
Fokus Joanne saat ini adalah mencari Tiger Warrior agar permasalahan dengan Sarenos dapat terselesaikan sebagaimana mestinya. Satu-satunya petunjuk yang dia miliki adalah Laura. Karena itu, dia masih bersama gadis yang selalu dia sebut sebagai penyihir gila itu.
“Jangan bilang, kalau kamu naksir aku… no chance yaaa walau kamu mirip sama Kang Mas Joanne!”
‘Ctak!’
Satu jitakan dari Joanne pun meluncur ke jidat Laura.
“Ngayal juga ada batasnya.” balas pria itu.
Joanne mulai berpikir kalau keputusannya untuk mengikuti gadis itu adalah salah. Seharusnya dia menyuruh yang lain saja. Thunder Fox misalnya.
Meski begitu, mereka berdua tetap melanjutkan perjalanan menuju tempat persembunyian Sarenos. Hingga beberapa menit kemudian, mereka pun sampai di tujuan.
“Weh, kebetulan banget. Si dugong lagi bawa anak SMA lagi.” ujar Laura.
Jarak mobil mereka dan rumah pantai itu kurang lebih 400 meter dan hampir tidak ada bangunan lain di sekitarnya. Jadi, walau sekilas mereka dapat melihat kejadian yang Laura maksud.
“Coba bayangin, kalau Sarenos wujudnya bukan cewek… weuh… Super Rangers bakal diprotes, ga boleh tayang di televisi. Dikira promosiin pedobear.” Laura berandai.
“Awalnya memang mau dibuat wujud laki-laki. Tapi, seperti yang kamu bilang… itu lumayan beresiko.” tanggap Joanne.
__ADS_1
Sejenak Laura berpikir, bagaimana Joanne tahu tentang itu? Tetapi, belum sempat dia tanyakan, pria berambut sepinggang itu sudah keluar dari mobil.
Laura sempat mengira bahwa Joanne bermaksud untuk mengikuti Sarenos, namun dugaannya salah. Rupanya Joanne hanya pindah ke kursi belakang.
“Ngapain pindah?” tanya Laura.
“Social distancing.” jawab Joanne.
“Wah! Kebetulan banget, aku juga pengin social distancing. Bye!” balas Laura penuh amarah.
Diraihnya tuas pintu untuk keluar, tapi kemudian Joanne berkata.
“Kamu sudah pasang sihir pengintai kan? Bisa kau perlihatkan padaku?”
Dahi Laura berkerut.
“Nggak ku pasang, tuh.” tolaknya. Dia merasa tidak ada untungnya bekerja sama dengan Joanne palsu.
“Aku tahu kamu tidak sebodoh itu. Kau pikir aku tidak tahu seberapa banyak sihir pengintai yang kamu pasang di markas kami? Aku bisa membuat narasi pada yang lain seolah-olah kau akan membeberkan rahasia kami dengan sihir yang kau pasang.” ancam Joanne.
“Oke.” kata Laura yang kemudian menjetikkan jarinya dan memperlihatkan layar sihirnya.
Lalu, nampaklah gambar Sarenos dan anak-anak remaja yang dia culik di sana. Keduanya cukup kaget melihat jumlah remaja yang cukup banyak.
“Kok jadi banyak lagi ya?”
Joanne mempertajam matanya agar dapat melihat dengan lebih jelas.
“Itu bukan remaja yang diculik sebelumnya.” Joanne yang menghafal seluruh wajah korban penculikan dapat memastikan.
“Berarti si dugong cari mangsa baru toh…”
__ADS_1
Para remaja itu terlihat begitu ketakutan. Di antara mereka ada pula beberapa yang sudah menangis sesenggukan. Sarenos yang tidak menyukai hal itu, seketika menendang tanpa henti remaja-remaja itu sampai terjungkal.
“Kalian pikir, dengan menangis kalian bisa selamat? Hahahahaha!” gelaknya setelah puas menendang.
Hanya melihatnya saja sudah membuat Laura jengkel. Ingin rasanya menyelamatkan remaja-remaja itu, tetapi dia takut lagi-lagi akan mengubah cerita.
“Kamu kok bisa setega itu ngebiarin mereka disakiti?” tanya Laura pada Joanne.
“Percuma. Toh di kehidupan selanjutnya mereka akan tetap menjadi korban.”
Entah kenapa Laura bisa menebak jawaban Joanne akan seperti itu. Cukup mengecewakan, tapi juga tidak bisa disanggah.
“Sepertinya dia pergi lagi.” ujar Joanne yang sedari tadi terus fokus ke layar.
“Mau dikejar?”
Joanne menggelengkan kepala.
“Kita akan ke rumah pantai. Kau pergilah lebih dulu.”
Laura kurang suka disuruh-suruh. Dia pun melawan, “Emoh! Kamu aja sana!”
“Kau pergilah lebih dulu.” paksa Joanne, kali ini sambil melirik ke belakang.
Laura menduga ada sesuatu yang ingin Joanne sampaikan dari lirikan itu. Karenanya, Laura putuskan untuk menurut.
“Oke…”
Setelah menyetujuinya, Laura keluar dari mobil. Begitu dia berjalan beberapa meter, Joanne baru mengikutinya. Dan…
‘Klank!’
__ADS_1
Dengan sigap Joanne mengeluarkan borgolnya untuk menangkap yang dia incar sedari tadi.
“Ehbuseeeet!!” teriak Laura yang terkejut begitu menengok ke belakangnya.