Villainess X Fangirl

Villainess X Fangirl
Tipu Daya Duyung Part 3


__ADS_3

Kejadian yang terlalu tiba-tiba begini patut dicurigai. Bisa saja ini adalah jebakan dalam jebakan. Tapi, bisa juga karena Sarenos tahu bahwa ada Luca yang mengikutinya di belakang.


Laura sendiri tidak terlalu tahu sebesar apa kekuatan sihir yang Sarenos miliki. Jadi, kemungkinan Sarenos mengetahui keberadaannya yang sudah disamarkan dengan sihir masih ada.


“Huft… kayaknya terpaksa harus jadi Luca lagi, nih.” Laura memutuskan.


Laura pun menjentikkan jarinya dan dalam sekejap penampilannya kembali menjadi Luca Kasha yang biasanya. Kemudian, dia melangkahkan kakinya mendekat ke dalam rumah pantai dengan yakin.


Setelah beberapa langkah masuk ke sana, terdengarlah teriakan Sarenos.


“GYAAAAAAAAAKH!”


Laura tutup kedua telinganya rapat-rapat. Teriakan itu terdengar begitu memekik telinga, terlebih karena yang berteriak itu berasal dari bangsa siren yang terkenal dengan suaranya.


“Buset daaah…” gerutu Laura sambil mengikuti sumber suara yang dia yakini tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.


Dalam rumah pantai yang nampak terabaikan itu, ada beberapa kamar yang dipisah dengan sekat-sekat kayu dan pintu. Laura dekati salah satu ruangan yang terbuka. Dia yakin itu adalah sumber suaranya.

__ADS_1


“Graaah! Bagaimana bisa mereka hilang begitu saja?” Sarenos menyentak.


“Kau… kau yang berjaga di rumah ini. Bagaimana bisa kau tertidur dan tidak menyadari kepergian anak-anak itu?”


Seorang piripiri terpaksa menjadi sasaran empuk amarah Sarenos yang begitu menggebu-gebu. Piripiri yang nampaknya tidak memiliki pangkat khusus itu hanya bisa tertunduk, karena kesalahan yang diperbuatnya begitu fatal. Sebagai prajurit rendahan, dia juga tidak mungkin diizinkan untuk membela dirinya sendiri.


Sarenos masih melanjutkan amukannya, “Gara-gara kau, setelah ini Yang Mulia pasti akan menghukumku. Tapi sebelum itu, akulah yang akan menghabisimu terlebih dahulu.”


Pemandangan setelahnya sama sekali tidak sanggup Laura lihat. Untungnya Sarenos tidak menyadari keberadaannya. Laura pun segera keluar dari sana.


“Fyuuuuh… Serem gilaaa. Perasaan di tv gak seserem itu deh darah muncratnya.” gumam Laura.


Dia putuskan untuk pergi saja dari tempat itu. Namun sebelumnya, seperti biasa dia akan memasang sihir pengintai agar dapat melihat keadaan rumah pantai ini dari lokasi yang berbeda. Dia benar-benar tidak mau dekat-dekat dengan alien berjenis kelamin perempuan itu.


Tidak butuh waktu yang lama sebelum Laura dapat menenangkan dirinya dari bayangan kekejaman yang baru saja dilihatnya secara langsung. Saat ini dia telah kembali ke sekolah. Karena, bisa saja Wendy sudah kembali.


Sayangnya, harapannya tidak semudah itu dikabulkan oleh Yang Kuasa. Tanpa dia sadari, hari sudah begitu gelap begitu dia sampai di sekolah. Karena itu, tidak ada orang lagi di sana.

__ADS_1


“Hey!” sebuah suara yang Laura kenal memanggilnya singkat.


Laura menengok ke arah pria gondrong berseragam polisi itu. Matanya langsung berbinar melihatnya, tetapi dia ingat kembali apa yang sudah dia janjikan kepada pria itu.


“Joanne? Kok di sini?” tanya Laura.


Bukannya dijawab, Joanne justru berkata, “Kenapa kau lagi-lagi ikut campur?”


Laura berpikir sejenak untuk mencerna pertanyaan Joanne. Dia hanya menebak, tapi sepertinya Joanne curiga bahwa dirinya ikut campur dalam kasus Wendy ini.


“Secara teknis, aku belum ikut campur, sih.” jawabnya.


“Belum?” Joanne mengerutkan dahinya.


“Seriusan, aku tuh baru observasi doank! Gak ngikut-ngikut!”


Joanne berdecak, “Ck!”

__ADS_1


“Emang kenapa sih, aku gak boleh ikut-ikutan? Kalau emang bakal mati lagi, senggaknya aku udah berbuat baik gitu…”


Mata Joanne membulat tak percaya. Gadis di hadapannya ini benar-benar terdengar bodoh untuknya. Dia bahkan tidak tahu bahaya apa yang sedang mengincarnya.


__ADS_2