
Seperti yang diceritakan sebelumnya, setiap thunder beasts memiliki emosi masing-masing layaknya manusia. Kebanyakan dari mereka cukup ramah pada manusia terutama empat thunder beasts yang memiliki partner manusia. Tetapi, ada pula yang cukup merepotkan seperti Thunder Phoenix.
Makhluk legenda berwujud burung raksasa itu sangat pemilih. Tidak semua orang yang mencarinya bisa bertemu dengannya. Bisa dikatakan bahwa Thunder Phoenix adalah thunder beasts paling introvert. Namun, bukan berarti dia melakukannya tanpa alasan.
Sebagai burung yang selalu dihubungkan dengan keabadian, Thunder Phoenix sering sekali diburu oleh manusia, termasuk oleh manusia dari planet Kaminaria sendiri. Alasannya, antara lain adalah karena Thunder Phoenix dipercaya memiliki kekuatan untuk menyembuhkan berbagai penyakit, memanjangkan umur, hingga membangkitkan orang mati. Setidaknya itulah yang dikatakan dalam legenda.
Kenyataannya, belum ada yang berhasil membuktikannya. Jikapun ada, kemungkinannya mereka adalah orang yang sudah mati atau mereka berbohong.
Meski demikian, adalah benar bahwa Thunder Phoenix tidak bisa mati. Saat kekuatannya habis, dia hanya akan kembali ke wujud telur. Kemudian saat menetas, dia memiliki sebuah syarat, yaitu agar tidak ada orang lain di sekitarnya. Jika syarat itu tidak dipenuhi, pecahan cangkang telur finiks akan melukai orang-orang di sekitarnya. Selain itu, lendir dari telurnya juga akan mengeluarkan bau gas beracun yang akan membunuh orang-orang yang berada kurang dari 1km darinya.
Hal inilah yang Laura khawatirkan. Pasalnya, kejadian ini terjadi juga pada episode ke-42, saat salah satu orang Radolard tahu dan memanfaatkan hal ini. Sialnya, keempat anggota Super Rangers menjadi korban dan hampir mati jika tidak mengenakan baju zirah mereka.
“Untungnya ada si harimau putih… duuh… lupa namanya. Tapi, ini kan belum saatnya dia muncul.” gumam Laura yang tengah mengikuti langkah Dabakiras.
“Kalau bukan sekarang munculnya, kapan lagi?” tanya Dabakiras yang agaknya tidak mendengar jelas gumaman Laura.
Jarak di antara keduanya memang terbentang cukup jauh. Dabakiras yang sangat terburu-buru melangkah dengan kakinya lebar-lebar, sementara Laura sedang fokus memperhatikan sekitarnya untuk mencari celah untuk kabur dari Dabakiras. Yang sangat dirutukinya, ada banyak piripiri yang mengikuti mereka. Jadi, kesulitannya untuk kabur juga semakin tinggi.
“Heh, Daba!” Laura memanggil.
“Daba?” sahut Dabakiras. Baru kali ini dia dipanggil seperti itu oleh orang lain, tetapi dia tetap menengok.
“Berpencar aja, yuk!”
Dabakiras menghentikan langkahnya. Wajahnya terlihat serius seakan sedang berpikir.
“Tumben-tumbenan Dabakiras mau mikir.” batin Laura.
Tak lama kemudian, Dabakiras bertanya, “Kau bukan ingin kabur dari pekerjaan kan?”
‘Deg’
Hampir saja Laura mengira bahwa yang di hadapannya bukan Dabakiras, karena tebakannya benar. Laura memang hanya ingin kabur dari alien itu, lalu mencari keberadaan Joanne dan yang lain. Dia ingin memberi tahu mereka agar segera pergi menjauh dari telur finiks.
“Hah? Ya nggak, lah! Ntar, kalau aku ketemu mereka duluan, aku kasih tahu kamu, deh!” bujuk Laura.
Dabakiras sedikit bingung dengan cara bicara Laura yang tidak umum dan itu cukup nampak jelas di wajahnya. Karenanya, Laura langsung sadar kalau dia telah melakukan kesalahan.
“Maksudku, nanti aku akan beritahu kalau aku lebih dulu menemukan mereka.” Laura mengulang kalimatnya dengan pilihan kata yang lebih baku.
__ADS_1
“Ooo…” Dabakiras manggut-manggut.
“Kalau begitu, bawalah setengah pasukanku!” lanjutnya.
Ternyata Dabakiras mulai pandai. Dia tidak mau membiarkan Laura pergi sendirian. Tapi, Laura juga tidak kalah licik. Ini lebih baik daripada harus terus bersama Dabakiras.
“Baiklah!” sahut Laura menyetujui.
Akhirnya Laura pergi bersama dengan setengah dari banyaknya pasukan piripiri milik Dabakiras, yaitu sekitar 30 piripiri. Mereka bersama-sama menyusuri hutan, namun ke arah yang berbeda dengan rombongan Dabakiras. Kemudian, saat dirasa sudah cukup jauh dari Dabakiras, Laura menghentikan langkahnya.
“Ok. Gini, guys…”
Laura memasang wajah serius. Semua piripiri pun ikut serius dan berhenti bergerak.
“Kita bagi tugas. Kamu berlima pergi ke barat sana.” lanjut Laura sambil menunjuk ke arah barat.
“Terus, grup kamu ke barat daya! Kalian ke timur laut! Sisanya ke tenggara! Dan aku akan pergi sendirian.”
Bukannya langsung melaksanakan perintah Laura, mereka malah diam seketika. Hal ini membuat Laura sedikit panik.
“Kalau begini, terpaksa…”
Laura menembakkan sihir bola apinya ke sembarang arah, namun tidak sampai mengena pada pohon maupun para piripiri. Karenanya, semua piripiri yang bersamanya terlonjak. Mereka mengira salah satu dari mereka mati dibunuh oleh Laura. Begitu tahu serangan itu meleset, barulah mereka merasa lega. Namun, sedetik setelahnya Laura kembali membuat mereka kaget.
“Kalian berani sama aku? Hah?! Kalau kalian tidak mau tewas di tanganku, segera laksanakan!” sentak laura mengancam.
Berkat sentakan itu, semua piripiri pun pergi sesuai dengan arah yang Laura tentukan tadi. Mereka sampai lari terbirit-birit, karena ketakutan dengan ancaman Laura tadi.
“Hah… akhirnya mereka pergi juga.” gumam Laura lega.
Sebenarnya Laura tidak benar-benar serius dengan ancaman itu. Dia tahu walau status mereka hanya piripiri, mereka tetaplah makhluk hidup yang punya nyawa dan perasaan. Mungkin sebagian dari mereka juga terpaksa menjadi prajurit demi memberi makan keluarga mereka di kampung halaman.
“Selamat berjuang, wahai piripiri. Semoga kalian tidak menemukan apa yang kalian cari. Aamiin…” doa Laura dalam hati.
Setelah memastikan semua piripiri telah pergi, barulah Laura beranjak dari sana. Seperti biasanya, dia menggunakan sihir untuk menghilangkan hawa keberadaan dan seluruh tubuhnya. Dengan begitu, dia semakin sulit diikuti.
.
.
__ADS_1
.
Waktu telah berjalan cukup lama, namun Laura tak kunjung menemukan telur finiks maupun Super Rangers. Untung staminanya masih bisa ditingkatkan dengan sihir, tapi tidak dengan kesabarannya.
“Udah tambah gelap banget. Di dunia ini ada dedemit gak, ya? Kalau ada, bisa makin serem.”
Pada saat Laura memikirkan itu, sekelebat banyangan seseorang berambut panjang tiba-tiba lewat di hadapannya. Seketika bulu kuduk Laura berdiri dibuatnya. Berbagai spekulasi muncul di kepala Laura. Apakah itu ekor binatang? Akar beringin? Atau jangan-jangan seorang wanita yang tertawanya ‘hihihihi’ dengan head voice yang melengking seperti main vocalist grup Kpop?
“Ya, Tuhan… semoga bukan yang ketiga. Kalau anggota grup Kpopnya sih, boleh. Aamiin…” doa Laura dalam hati.
Dan…
‘Syats!’
Angin yang begitu kencang melewati lehernya dan saat angin itu diam, seseorang tengah menodongkan pedangnya dan berbisik, “Bagaimana bisa kau kabur?”
Mendengar suara itu, hati Laura langsung tenang dan tidak takut lagi. Sambil tersenyum, dia menjawab, “Pakai kekuatan cintaku padamu, lah!”
“Aku sedang serius. Jawab yang benar!” sentak Joanne
“Iya, iyaaa! Di kurungannya gak ada barrier sihirnya, jadinya kesempatan kabur!” jelas Laura dengan cepat.
“Sean… ck!” gumam Joanne terdengar kesal.
“Lalu, kau ke sini untuk mengambil Thunder Phoenix juga?”
“Nggak! Aku tuh mau nonton doang, terus denger kalau Thunder Phoenix masih berwujud telur. Makanya aku mau ngingetin kalian buat gak deket-deket. Telur finiks kalau pecah itu bisa mengancam nyawa. Makanya…”
“Kau tahu tentang itu juga?” Joanne memotong penjelasan Laura.
Pria berambut panjang itu kemudian menurunkan pedangnya.
“Haaa…” Laura mendesah lega.
“Dari mana kau tahu tentang jebakan finiks?”
Joanne hanya menurunkan pedangnya, tidak menurunkan kewaspadaannya pada panglima wanita dari Radolard itu. Yang membuatnya kesal, gadis berambut biru itu tidak bersikap sama sepertinya, menjadikannya berpikir bahwa Luca Kasha meremehkannya.
“Kalau aku jawab jujur, apa kau akan percaya?”
__ADS_1