Villainess X Fangirl

Villainess X Fangirl
Setelah Mati


__ADS_3

Namaku Laura Frederica, karyawati umur 25 tahun yang terlempar ke dunia lain setelah mati kelaparan. Duniaku sekarang adalah latar dari Super Rangers Thunder Saber, sebuah drama televisi untuk anak-anak bertema super hero yang tayang saat aku masih berusia 8 tahun.


Dari dulu aku mengidolakan salah satu karakter dari drama itu dan berharap akan bertemu dengannya suatu saat nanti. Tetapi, begitu terlempar ke dunia ini, impianku itu lenyap seketika.


Hari-hariku di dunia ini hampir tidak pernah beres. Pria yang kukejar, Joanne yang juga adalah Thunder Blue ternyata bukan Joanne yang sebenarnya, melainkan seorang reinkarnator sepertiku. Otomatis, akupun kehilangan tujuan.


Lalu datanglah Oktasia dan anaknya, Sador yang tergila-gila pada Luca Kasha. Mereka berdua dan para anakbuahnya tidak hanya jahat, tapi juga kuat luar biasa. Thunder Beasts Robo yang super kuat itu saja bisa ambruk sampai berdarah-darah.


Kemudian, karena satu dan lain hal sekarang aku mati untuk kedua kalinya dengan cara yang berbeda. Dibunuh.


Aku tidak bermaksud untuk memancing Tiger Warrior, alien yang membunuhku, untuk melakukan hal yang ku inginkan. Bahkan sudah kuisyaratkan agar menyerahkan tugas itu pada penjahat yang sebenarnya. Tetapi, rupanya Tiger Warrior sendiri lah yang kemudian melakukannya.


Tadinya, aku pikir akan langsung dilempar ke masa Laura masih bayi setelah mati seperti yang Joanne ceritakan. Namun, anehnya sampai hari ke dua kematianku pun aku masih berada di masa yang sama.


Sebagai orang yang berbudaya, aku menduga ini adalah yang orang sebut dengan gentayangan. Dalam beberapa agama juga disebutkan bahwa roh manusia baru akan dibawa ke surga setelah bergentayangan selama hari tertentu. Ada yang tujuh hari, empat puluh hari, empat puluh sembilan hari, bahkan seratus hari.


Tapi, teori itu juga masih diragukan. Karena, saat mati di dunia sebelumnya, aku hanya bergentayangan beberapa menit dan langsung dilempar ke dunia ini. Jadi, jujur saja aku masih belum paham dengan apa yang terjadi sekarang.


“Sudah, tidak perlu sedih berlarut-larut.” ucap Sean pada Alicia.


Gadis itu selalu murung dua harian ini. Kadang aku juga melihatnya menangis sendirian di kamarnya sambil menyebutkan nama Luca. Dia mengatakan penyesalannya telah meninggalkan Luca dan tidak sempat mengatakan maaf.


“Harusnya aku gak ikut pura-pura membenci Luca.” sesalnya.


Ckckck. Seperti dugaanku, sikap mereka tempo hari hanya sandiwara. Paling-paling Joanne yang memberi ide seperti itu supaya aku segera menjauh dari mereka.

__ADS_1


“Tapi, kau dengar sendiri dari Oktasia saat pertarungan tempo hari bukan?”


Entah apa yang Oktasia katakan pada mereka. Pasti itu bukan hal yang baik.


Tapi, emangnya kapan mereka ketemu Oktasia? Apa pas berantem sama Sarenos? Perasaan mereka berantem sama 3 raksasa, menang, terus masuk ke laut, dan akhirnya terlempar keluar dengan keadaan yang mengenaskan.


“Aku begitu takut saat tiba-tiba Oktasia menghancurkan Thunder Beasts Robo. Makanya aku gak ngomong apa-apa. Aku takut dia benar-benar akan melakukan hal yang sama pada Luca. Tapi, sekarang dia malah benar-benar pergi untuk selamanya.”


Hm… rupanya Oktasia mengancam mereka.


Itu orang… eh gurita emang agak gak jelas, sih. Kadang pengin jodohin aku ke anaknya, kadang sok ngawasin. Kalau gak salah, di cerita aslinya dia juga memperlakukan Luca seperti ibu mertua jahat di sinetron. Kata-kata andalannya kurang lebih “Aku sudah memberikanmu restu untuk bersama puteraku walaupun kau adalah puteri rendahan. Jadi, kau harus menuruti kata-kataku.”


Bah! Mengingatnya saja sudah membuatku geregetan ingin nonjok. Padahal sebelum akhirnya Luca menerima Sador, justru dia yang mati-matian mengejar Luca. Pokoknya dia karakter yang menyebalkan.


Bicara seperti itupun tidak akan ada yang mendengar. Apalah diriku yang sudah menjadi arwah ini.


Ah… melihat Alicia seperti ini terus, aku jadi tidak tahan. Aku juga jadi merasa bersalah, karena mengambil keputusan yang gegabah. Lebih baik aku keluar sebentar.


Ada satu tempat yang menjadi tujuanku, yaitu ruang bawah tanah yang ada di markas ini. Ruang itu mungkin yang juga membuatku menjadi arwah penasaran begini. Karena, di sanalah jasadku disimpan.


“Waaah… udah jadi mayat pun Luca tetep cakep. Bodinya juga aduhai banget. Beda sama aku yang dulu.” pujiku saat melihat seonggok mayat perempuan berambut biru yang terbaring di dalam peti kaca.


“Haaa…” terdengar suara dengusan yang familiar di sebelahku.


“Aku memuji Luca Kasha, bukan aku sendiri. Aku yang dulu sih, juwelek. Kebanyakan begadang, jadi pelihara panda. Kebanyakan lembur juga, makanya pelihara jerawat juga.”

__ADS_1


Lagi-lagi aku berbicara sendiri. Berhubung sudah jadi arwah, tidak apa-apalah. Toh tidak akan ada yang dengar.


“Padahal sudah kubilang untuk mengikuti cerita.” kata pria itu.


“Joanne… Joanne… aku tuh udah mati. Masih aja protes.”


Itulah Joanne yang ada di dunia ini. Padahal seharusnya dia adalah pria yang keren dan baik hati. Tapi, yang ada di sebelahku ini sangat luar biasa menyebalkan. Padahal sudah tahu bahwa aku adalah seorang reinkarnator. Bukannya melunak, dia malah semakin memperlakukanku seperti penjahat.


“Bagaimana aku tidak protes?”


Hm? Kok kayak dijawab, ya? Perasaanku aja kan, ya?


“Kau itu selalu gegabah. Tidak mau mendengarkan orang lain. Kau sudah mati sekarang, tapi tidak terlihat menyesal sama sekali.”


??!!!


Lah! Serius?!


Kok dia juga lihat ke sini?


What?


Why?


How?

__ADS_1


__ADS_2