Villainess X Fangirl

Villainess X Fangirl
Apakah Ini Pengkhianatan? Part 1


__ADS_3

Memasuki area yang berada di sekitar telur finiks yang telah menetas adalah hal yang sangat beresiko. Super Rangers yang mengenakan baju zirah sekalipun tidak disarankan untuk mendekatinya. Karena itu, saat ini mereka hanya bisa mengandalkan drone dan kamera pengintai lain yang sudah dipasang di sekitar sebelumnya.


“Aku akan melihat hasil rekaman dari kamera di area lain. Sean, kau perhatikan terus yang ada di area utama. Lalu, Joanne dan Alicia. Aku ingin kalian turun langsung ke hutan. Gunakanlah kekuatan kalian dengan baik.” Brian memberi tugas.


“Baiklah. Kalian juga berusahalah!” balas Alicia.


Keduanya pun pergi meninggalkan markas sementara itu.


“Kalau gitu, aku ikutan ke hutan juga aaah…!” ujar Laura sambil mengikuti di belakang Alicia dan Joanne.


Tidak ada yang menghalangi Laura untuk ikut. Pikir mereka, toh Laura adalah orang yang bebas. Terserah dia mau melakukan apa-apa. Dan seandainya Laura ingin bertindak macam-macam pun masih ada Joanne dan Alicia yang mengawasinya.


Namun, Thunder Fox tidak sepemikiran dengan Brian dan Sean. Karena itu, si rubah ungu itu juga mengekor di belakang tiga alien itu.


“Kamu ngapain ikutan, sih?” tanya Laura pada Thunder Fox yang langkahnya sudah sejajar dengannya.


“Terserah aku lah!” jawabnya sambil melenggang mendahului ketiganya.


Alicia memperhatikan lekat-lekat perilaku Thunder Fox yang menurutnya sangat berbeda dengan Thunder Beasts yang lain. Para Thunder Beasts rata-rata jinak pada semua orang, walau ada pula yang cuek seperti Blue Griffin yang merupakan partner Joanne. Tetapi, jinak tidak bisa diartikan sebagai akrab.


Seperti halnya sekedar orang yang dikenal, kolega, teman, sahabat, dan pasangan, menurut Alicia hubungan setiap makhluk ada tingkatannya. Begitu pula hubungan Thunder Beasts dan ranger partnernya jelas berbeda dengan Thunder Beasts dan orang lain. Di mata Alicia, hubungan antara Thunder Fox dan Luca Kasha itu cukup unik.


Akrab, jelas.


Kalau jinak, Alicia tidak yakin akan itu.


Tapi, entah kenapa mereka berdua terlihat cocok.

__ADS_1


“Kalau ada Thunder Stone untuk Thunder Fox, sepertinya Luca bisa jadi ranger partner Thunder Fox.” Alicia berkata.


“Huh, kau sudah gila.” Joanne menanggapi.


“Iya, ih! Masa aku jadi partner Thunder Fox. Ada-ada aja.” tambah Laura.


Alicia mendengus, karena pendapatnya dibantah. Tapi, dia juga tidak melawan kembali. Toh itu hanya pendapatnya saja. Karena, tidak ada Thunder Stone lainnya. Hanya ada empat buah dan itu sudah dimiliki oleh empat Super Rangers terpilih, bukan yang lain.


‘Krasak!’


Sebuah suara seokan yang terdengar membuat mereka menghentikan langkah mereka, begitu juga Thunder Fox yang sudah berada di depan. Dia berancang-ancang menyerang jika ada sesuatu yang tidak diinginkan muncul tiba-tiba.


‘Srak!’


Suara seokan tersebut lagi-lagi terdengar, namun dari arah yang lain.


“Rasanya tadi aku melihat Super Rangers di sini.”


Laura memicingkan matanya saat melihat dua piripiri muncul dari semak belukar.


“Ya, aku juga melihat mereka. Makanya aku buru-buru ke sini. Kok, sekarang tidak ada ya?”


Mengetahui bahwa pasukan piripiri tidak menyadari keberadaan mereka, Joanne melirik pada Laura.


“Hey! Mana Super Rangers yang kalian lihat tadi? Apa kalian berbohong padaku?!” orang yang bertanya itu terdengar marah.


Dua piripiri itu kembali ke arah asal mereka dan menjawab, “Maafkan kami, Tuan Dabakiras. Sepertinya kami salah lihat.”

__ADS_1


Dengan pegangan pedangnya, Dabakiras memukul kepala dua piripiri tadi keras-keras hingga keduanya jatuh tersungkur.


‘Duakh! Duakh!’


“Dasar payah!” sentaknya.


Dabakiras melewati dua anak buahnya itu dan keluar menunjukkan batang hidungnya. Satu hal yang membuat Laura dan yang lain terkejut adalah perubahan yang terjadi pada alien berambut gimbal itu.


“Hey, apa aku saja yang merasa kalau badan Dabakiras tambah besar?” tanya Alicia berbisik pada Laura.


Laura mengangguk setuju.


“Tanduk di kepalanya juga nambah dua. Makin serem aja nih alien.” bisik Laura.


“Sebaiknya kita segera pergi dari sini… tidak.” Alicia menarik kembali ucapannya.


“Joanne, kau merasakannya bukan?” Alicia beralih pada Joanne.


Wajah Joanne semakin serius saat merasakan sebuah aura yang begitu kuat. Lama-lama aura tersebut semakin besar, menandakan bahwa pemilik aura tersebut berada tak jauh dari mereka.


“Ada apa?” tanya Laura pada dua anggota Super Rangers itu.


Belum juga dua orang itu menjawab, Laura sudah mendapatkan jawabannya. Napasnya langsung tercekat begitu mengetahui apa yang telah terjadi.


“Kiiiiii!”


Deruan angin datang bersamaan dengan pekikan tersebut. Saat angin tersebut berhenti, tahu-tahu seekor burung berwarna oranye sudah bertenger di bahu Dabakiras.

__ADS_1


“Gak mungkin… itu…”


__ADS_2