Villainess X Fangirl

Villainess X Fangirl
Pujian Rador


__ADS_3

Laura terus menggembungkan pipinya semenjak kembali ke kapal luar angkasa Radolard. Pasalnya, dia tidak dibiarkan istirahat terlebih dahulu dan malah langsung dibawa menemui Rador. Padahal Laura ingin menyusun rencana terlebih dahulu serta menyusun jawaban yang tepat jika nanti Rador bertanya macam-macam. Sekarang Laura sudah di hadapan Rador, jadi terpaksa dia harus improvisasi jika ada jawaban yang mejurus ke arah yang merugikannya.


“Luca memberi salam kepada Paman.” ucap Laura sambil menaruh tangan kanannya di dada dan membungkukkan badan pada Rador yang tengah duduk di singgasananya.


Dengan sepenuh hati Laura menyembunyikan rasa takutnya pada paman dari Luca Kasha itu. Dalam cerita asli, Rador tidak nampak menyeramkan karena ret sleting yang sedikit menyumbul di bagian belakang tubuhnya. Saat pertama kali bertemu pun Laura tidak terlalu peduli, karena mengira bahwa ini semua hanya mimpi.


Kini setelah tahu bahwa dunia ini adalah kenyataannya yang baru dan setelah melihat betapa menyeramkannya peperangan antara Super Rangers dan Radolard, Laura mengoreksi kembali kesan Rador yang ada di cerita asli.


“Apa aku bakal dimarahin, karena habis keluyuran? Atau dimarahin, karena ditangkap Super Rangers?” prasangka Laura.


Selang satu menit setelah Laura memberi salam, Rador berdiri dari tempat duduknya dan mendekati Laura. Semakin dia mendekat, semakin merinding bulu kuduk Laura. Lalu, sekarang Rador sudah berdiri berhadapan dengannya.


‘Tap tap’


Sambil tersenyum Rador menepuk pundak gadis itu beberapa kali. Daripada marah, pangeran dari Kerajaan Radolard itu justru terlihat sangat senang dan bangga. Laura yang tidak tahu apa yang sedang terjadi hanya tersenyum kaku untuk menanggapinya.


“Kerja bagus. Ini baru keponakanku yang berbakti.” puji Rador pada Laura.


Dalam hati Laura semakin bertanya-tanya, mengapa tiba-tiba Rador memujinya. Dia tidak merasa pernah melakukan hal yang bisa membuatnya dipuji oleh pria alien itu.

__ADS_1


“Berkat usahamu, kita bisa tahu di mana Super Rangers berada dengan radar yang kau berikan. Semuanya, kalian harus meniru keponakanku yang ternyata sangat berani dan walaupun bukan pekerja keras, dia bekerja dengan otaknya yang cerdas!” seru Rador menjelaskan pada seluruh alien yang ada di ruangannya saat itu.


Setelah seruannya itu, semuanya pun bertepuk tangan seakan ikut memuji hasil kerja keras Laura itu.


Perasaan Laura semakin canggung, karena situasi ini. Dia baru ingat bahwa hawa kehadirannya muncul saat mengenakan borgol yang Joanne berikan. Seluruh sihirnya tidak bekerja berkat alat tersebut. Selain itu, mereka berada di luar markas, yang artinya di sana juga tidak ada penghalau radar milik Radolard. Alhasil, satelit Radolard pun berhasil menangkapnya.


Laura menundukkan kepalanya. Menyadari hal ini, rasa bersalah pun muncul di hati Laura. Jika saja dia tidak mencari Super Rangers dan diam saja di dalam kurungan, semua ini pasti tidak akan terjadi.


“Kenapa kau malah terlihat tidak senang? Seharusnya kau merasa bangga dengan hasil kerjamu ini. Dengan begini, kita bisa mendapatkan Thunder Phoenix dan rencana kita untuk mendapatkan Planet Bumi pun akan segera berhasil.”


Pelan-pelan Laura mengangkat kepalanya lagi, lalu berkata, “Saya… hanya merasa terharu, karena mendapatkan pujian dari paman.”


Laura terpaksa berbohong, karena tidak mau celaka nantinya.


“B-baik, Paman.” sahut Laura.


.


Hutan Lacos

__ADS_1


Super Rangers masih dikepung oleh pasukan piripiri. Mereka mengurung empat orang dari Planet Kaminaria itu dengan barrier tembus pandang yang sulit dilewati. Mereka telah berusaha menerjangnya dengan berbagai cara seperti menebasnya dengan Thunder Sword bahkan dengan gabungan dari senjata mereka, tetapi tidak ada yang berhasil membukanya.


“Sialan! Kalau saja aku tidak membawa penyihir itu.” umpat Joanne untuk dirinya sendiri.


Tidak ada yang menanggapinya, karena yang lain pun sama sepertinya. Mereka seharusnya bisa membawa Luca kembali ke markas mereka atau membawanya keluar dari hutan atau bahkan menelantarkannya begitu saja. Tapi, mereka malah membawa gadis penyihir itu masuk.


Kini mereka hanya bisa mengandalkan para Thunder Beast yang berada di luar kurungan. Namun, saat ini mereka sedang menjaga telur finiks dengan kekuatan mereka. Akan sulit bagi mereka untuk pergi dari sana.


“Woong!”


Saat sedang memikirkan Thunder Beast, tiba-tiba Alicia mendengar gonggongan Thunder Fox yang sepertinya berada tak jauh dari tempat mereka.


“Thunder Fox ada di sini.” bisik Alicia pada yang lainnya.


“Apa?” Brian segera menghampiri Alicia.


“Dia sangat khawatir pada kita semua dan ingin membantu.” ujar Alicia menerjemahkan ucapan Thunder Fox yang dia dengar.


Kemudian, gonggongan itu muncul lagi.

__ADS_1


“Guk!”


Kali ini Alicia tidak menjelaskan lebih dulu pada teman-temannya. Dari raut Alicia yang nampak sedang berkonsentrasi, teman-temannya pun sadar bahwa Alicia sedang tidak bisa diganggu. Dia sedang melakukan telepati dengan Thunder Fox.


__ADS_2