Villainess X Fangirl

Villainess X Fangirl
Join The Gang


__ADS_3

Seperti yang diharapkan, Thunder Phoenix telah kembali ke pihak Super Rangers. Dengan senang hati, mereka menerima rekan baru yang akan memperkuat serangan dan pertahanan mereka itu. Thunder Phoenix yang sempat menderita, karena kekuatannya yang terkuras pun sudah bisa sedikit lega.


“Sekali lagi aku berjasa pada kalian. Tapi, sebagai penjahat yang sudah insyaf, aku tidak akan meminta imbalan apapun pada kalian.” ujar Laura penuh percaya diri di hadapan para Super Rangers dan Thunder Beasts.


“Masa, sih?” Sean ragu. Walau baru sebentar mengenal gadis itu, Sean cukup tahu bagaimana sifat aslinya yang bagaikan udang di balik batu, selalu ada maunya saat melakukan sesuatu.


“Sean, kamu kan yang paling akrab denganku. Harusnya kamu yang paaaling tahu dong, sebaik apa aku sekarang ini. Jadi, aku harap kalian juga bisa tetap bekerja sama dengan skenario yang aku buat.”


Sean memutar bola matanya jengah. Dia tidak mau dikatai yang paling akrab, walau kalau dipikir-pikir memang dia lah yang paling sering berbicara dengan Laura. Selain itu, Laura juga adalah satu-satunya orang yang tahu kemampuan yang disembunyikannya.


“Omong-omong soal skenario tadi, apa kau yakin tidak ada dari pihak Radolard yang akan curiga? Rencanamu ini terlalu berbahaya untuk dipraktikkan. Aku harap kau sudah memikirkannya dengan matang.”


Mendengar pertanyaan Brian, Laura segera menjawab, “Akan ada yang curiga pastinya. Mungkin sudah ada. Tapi, aku tidak terpikirkan cara lain. Aku ingin keluar dari Kekaisaran Radolard.”


Laura telah memberi tahu para Super Rangers tentang rencana yang telah dia susun. Dia berkata bahwa akan berpura-pura menipu Super Rangers pada Rador untuk menjebak para pahlawan itu. Tetapi, sebetulnya itu adalah salah satu cara agar dapat perlahan menjauh dari pengaruh Radolard. Untuk dapat mewujudkan keinginannya, dia memerlukan kerja sama dari Super Rangers. Mereka hanya perlu berpura-pura telah tertipu oleh Laura, sehingga Rador percaya bahwa kepergiannya ke tempat Super Rangers belakangan ini adalah demi kekaisaran mereka.


Setelah mengatakan semuanya, sekarang ada penentuan. Laura tahu bahwa rencananya ini akan sulit diterima.


“Kamu tidak perlu mengatakan itu pada kami pun, bukankah bisa tetap melaksanakan rencana itu? Seperti yang kau lakukan selama ini.” ujar Brian.


“Tentu saja,” Laura mengangguk.


“Tapi, karena aku tulus ingin berteman dengan kalian, aku harus jujur bukan?” lanjutnya.


Kata-kata Laura membuat semuanya terdiam beberapa saat.


“Kalau begitu…” Alicia memecah keheningan.

__ADS_1


“Aku mau mencoba mempercayai Luca Kasha.”


Gadis berambut medium itu lalu berdiri di samping Laura dan merangkulkan lengan mereka.


“Dengan begini aku jadi punya teman perempuan yang sering main ke rumah. Haaa… akhirnya aku merasa jadi perempuan lagi setelah terlalu lama bersama kalian. Dan dia juga berdarah Kaminaria seperti kita.”


Dengan mata yang berkaca-kaca, Laura menjawab, “Uuuung~ Alicia maacih banget! Saranghae~”


Laura sandarkan kepalanya di kepala Alicia yang lebih pendek darinya. Alicia juga bersandar di bahu Laura untuk membalasnya.


“Uwaah… apa para perempuan menyebalkan telah membentuk aliansi? Mana bisa aku membiarkannya.” Sean pun mengulurkan tangannya ke hadapan Laura sambil berkata, “Aku harus bergabung untuk mengatasi tingkah-tingkah kalian nantinya.”


Laura menyipitkan mata sambil manyun. Diraihnya tangan itu sejenak, lalu dia lepaskan lagi.


“Terima kasih, tapi aku cuma mau pegangan tangan lama-lama sama Kang Mas Joanne aja. Maaf, ya.”


“Kamu terlalu sombong, Sean. Aliansi perempuan menyebalkan hanya membutuhkan perempuan sebagai anggota.” tambah Alicia.


“Hahahaha! Makanya jaga mulutmu!” Brian tergelak melihat banter dari ketiganya. Dia seolah sedang menonton acara lawak di televisi yang menampilkan seorang pria yang ditolak saat menggoda dua perempuan.


Berdiri dari duduknya, Bria juga berjalan mendekat pada Laura, Sean, dan Alicia. Dia lalu berkata pada Laura.


“Semoga kita bisa saling membantu kedepannya.”


“Tentu.” jawab Laura.


Sebagai orang yang meminta bantuan, Laura juga harus tahu balas budi. Entah apa yang bisa dilakukannya nanti, yang jelas dia akan berusaha untuk tidak mengecewakan para teman-teman barunya ini.

__ADS_1


Begitu persetujuan dari tiga anggota telah dia dapatkan, kini tinggal anggota yang terakhir. Namun sayangnya, Thunder Blue yang Laura tunggu-tunggu rupanya sudah tidak ada di tempatnya duduk tadi.


“Ngg… omong-omong di mana Kang Mas-ku?” tanya Laura.


Alicia menyahut,“Kang Mas? Ooh… maksudnya si kutub. Mungkin dia di depan. Kau mau pergi ke sana?”


“Kalau boleh.” Laura mengangguk.


“Aku kagum padamu yang mau menantang badai salju seperti Joanne. Silakan saja susul. Semoga kau selamat.” Brian lah yang mempersilakan.


“Yang semangat, ya. Semoga beruntung!” Alicia menyemangati.


Tadi dia sudah direstui Green Turtle, sekarang Laura juga mendapatkan restu dari para saudara iparnya. Kurang bahagia apa hidup Laura sekarang.


Dengan riang, Laura berseru, “Oke! Aku cari dulu, ya! Tengkyu bestie~”


.


.


.


Beruntung Laura tidak perlu lama-lama mencari Joanne. Pria itu hanya sedang berlatih pedang di luar. Melihat itu, Laura tidak ingin mengganggu konsentrasi Joanne. Namun, justru Joanne berhenti tanpa Laura panggil.


Dimasukkannya kembali Thunder Sword ke dalam sarung pedangnya. Kemudian, dia menengok ke tempat Laura berdiri dan mendapati Laura yang tengah melambaikan tangan padanya.


Jarak mereka kurang lebih tiga meter, sehingga tanpa suara keras pun mereka bisa mendengar suara masing-masing.

__ADS_1


“Kau bukan Luca Kasha. Siapa kau sebenarnya?”


Laura tersentak. Pertanyaan itu benar-benar tidak dia sangka. Pria itu bahkan tidak berbasa-basi lebih dulu. Kira-kira harus seperti apa Laura menjawabnya?


__ADS_2