Villainess X Fangirl

Villainess X Fangirl
Kelicikan Gondazel


__ADS_3

Sore itu juga Dabakiras menemui Rador di kapal Radolard. Langkahnya begitu mantap dan di sepanjang jalan dia tidak berhenti tersenyum. Terbayang di kepalanya pujian yang akan diberikan Rador kepadanya, karena memberikan informasi terbaru tentang musuh mereka.


“Minggir, kalian semua!” sentak Dabakiras pada piri-piri yang menghalangi jalannya. Karena ingin segera bertemu dengan Rador, dia bahkan mendorong mereka. Piri-piri yang diperlakukan demikian dengan terpaksa harus bersabar, dia terlalu lemah untuk melawan Dabakiras.


Kini dia telah berdiri di depan ruangan Rador, bersiap untuk memasukinya. Namun, pintu itu rupanya terkunci dari dalam.


“Tidak biasanya pintu ini terkunci. Jangan-jangan Yang Mulia sedang tidak ada di ruangannya. Mungkin sebaiknya aku mencari beliau. Informasi ini harus cepat kusampaikan.” batin Dabakiras.


Alien berambut gimbal itu pun membalikkan badannya, bersiap untuk pergi. Hingga saat dia baru melangkah beberapa tapak, pintu itu tiba-tiba terbuka memperlihatkan satu orang yang tidak asing baginya.


“Gondazel. Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Dabakiras. Firasatnya berkata ada hal buruk yang sedang Gondazel rencanakan.


Alien berwujud mirip kucing itu tersenyum lebar, memperlihatkan gigi-giginya yang begitu tajam. Katanya, “Aku hanya sedang membicarakan rencana seranganku selanjutnya dengan Yang Mulia. Karena, lagi-lagi akulah yang mendapat kesempatan untuk memimpin barisan.”


Ucapan Gondazel terdengar sombong di telinga Dabakiras. Dia juga ingin terlihat berbakti pada Sang Pangeran sepertinya. Pikirnya, kali ini dia tidak akan berdebat, karena dia yakin kali ini dialah yang akan merebut perhatian Rador dan seluruh rakyat Radolard.


“Begitu kah? Kita lihat saja nanti.” ujar Dabakiras yang kemudian melewati Gondazel begitu saja. Dia tidak mau berlama-lama berhadapan dengannya.


Gondazel juga sama, dia hanya tersenyum sinis lalu pergi dari sana. Toh urusannya dengan Sang Pangeran untuk hari ini sudah selesai dan dia yakin bahwa kali ini pun dialah yang lebih unggul dari bangsawan seperti Dabakiras yang hanya mementingkan otot dibandingkan otak.


“Yang Mulia, hamba datang melapor.” ujar Dabakiras seraya bersimpuh di hadapan Rador.


Pangeran dari Kerajaan Radolard itu tidak menjawab apapun. Dia hanya menengok ke belakan seakan meminta Dabakiras untuk melanjutkan laporannya.


“Baru saja hamba bertemu dengan Super Rangers. Hamba mendapat informasi bahwa…”


“Mereka tahu di mana Thunder Phoenix berada?” Rador memotong ucapan Dabakiras.


Deg.


Mata Dabakiras melotot kaget. Dabakiras tidak menyangka Rador sudah tahu apa yang akan dia laporkan. Pikirnya, mungkin Rador mengawasinya, sehingga dia juga tahu tentang informasi tersebut.


“Benar, Yang Mulia. Nampaknya saya terlalu lambat.”


Rador memutar badannya, menghadap ke arah Dabakiras yang masih bersimpuh. Diperhatikannya si anak buah yang nampak bangga hanya karena hal sesederhana itu.

__ADS_1


“Gondazel yang memberitahuku. Tapi, berdasarkan ceritanya, dialah yang bertemu dengan Super Rangers.”


Penjelasan Rador membuat kedua alisnya bertaut. Jelas-jelas dialah yang bertemu dengan Super Rangers. Jika Gondazel berkata jujur, artinya si oranye itu bertemu dengan Super Rangers sebelum dirinya. Tapi, mengingat sifat Gondazel yang selalu mencari gara-gara dengannya, Dabakiras menduga bahwa Gondazel mencuranginya.


Super rangers yang ditemuinya tadi sama sekali tidak terlihat lelah dan dia juga tidak mendengar bunyi orang-orang yang bertarung di hutan itu sebelum dirinya. Jadi, pasti Gondazel hanya mengikuti mereka bertiga secara diam-diam dan mendengar tentang Thunder Phoenix. Tapi, tidak seperti dirinya yang langsung menghadang pasukan pelindung bumi itu, Gondazel memilih pergi untuk melaporkan penemuannya.


“Saya tidak menampik. Tapi, adalah benar bahwa saya juga bertemu dengan Super Rangers.”


Ekspresi Rador masih datar, menilai sikap anak buahnya itu. Dia tahu bahwa Dabakiras tidak pandai berbohong. Tapi, dia juga tidak peduli dengan persaingan yang terjadi di antara Dabakiras dan Gondazel.


“Itu bukan urusanku. Kalian bawakan saja apapun yang berkaitan tentang Thunder Phoenix. Aku tidak peduli siapapun di antara kalian yang berhasil terlebih dahulu mendapatkannya. Yang terpenting, jangan sampai Super Rangers lagi-lagi mendahului kita.”


Lagi-lagi Dabakiras harus menelan pil pahit. Namun, dia tidak ingin selamanya dijatuhkan oleh Gondazel. Entah bagaimana caranya, Dabakiras ingin agar ini menjadi kesempatan baginya untuk kembali ke medan perang yang sesungguhnya.


“Saya akan berusaha sekuat tenaga saya.” ucapnya.


Setelah itu, sebelum Rador memintanya, Dabakiras pergi keluar dari ruangan. Dia harus segera mengejar ketinggalannya.


.


.


.


Brian mengerahkan seluruh anak buahnya ke seluruh area di sekitar Gunung Lacos, baik hutannya maupun pantainya. Agar tidak terlalu mencolok, mereka diminta untuk menyamar sebagai warga sekitar atau pengunjung pantai yang ingin berwisata. Puluhan drone juga dia kerahkan agar Brian sendiri bisa memeriksa langsung lokasinya.


Kemudian, tugas Sean adalah menyiapkan persenjataan yang akan mereka gunakan nantinya. Dengan sigap dia menuju laboratorium untuk mempersiapkannya. Dalam hal ini, dia juga membutuhkan Thunder Fox. Karena itu, terlebih dahulu dia mencari keberadaan rubah berekor sembilan itu.


“Hah… di sini kau rupanya.”


Rubah yang sudah dicarinya selama lebih dari setengah jam itu rupanya sedang bersama Laura. Seperti sebelumnya, lagi-lagi Sean melihat dua makhluk beda jenis itu sedang bercengkerama dengan tidak sopan.


“Ya, Gusti! Kok luka kamu kayak gitu banget!” seru Laura saat melihat lengan kiri Sean yang diperban dan luka-luka di wajah pria itu.


Sean menjawab, “Kami bertemu Dabakiras di Gunung Lacos.”

__ADS_1


“Dabakiras!?” Laura nampak tidak percaya.


“Kamu tidak tahu?” tanya Sean.


Laura menggelengkan kepalanya berkali-kali.


“Beneran aku gak tahu di sana ada Dabakiras. Terus, yang lainnya gimana? Apa semuanya baik-baik saja?”


Sean mendengus kemudian membalas, “Brian dan aku saja yang terluka, sedangkan Alicia dan Joanne baik-baik saja.”


Mendadak Laura merasa bersalah, karena secara tidak langsung dialah yang menyebabkan mereka berdua terluka. Sean memang masih bisa berjalan, tetapi bisa dilihat bahwa ranger hijau itu sedang memaksakan diri.


“Lalu, apa kalian mendapatkan Thunder Phoenix?”


“Tidak.” Sean melanjutkan, “Kami terpaksa mundur, karena pasukan Dabakiras jauh lebih kuat dari pada kami.”


“Bagaimana bisa?” Laura terlihat begitu panik. Sean yang dapat melihat masa depan tahu bahwa gadis itu tidak sedang bersandiwara. Laura benar-benar terkejut dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan kemunculan Dabakiras. Namun, ada banyak pertanyaan yang ingin Sean sampaikan padanya.


“Hey! Kau bisa sihir penyembuhan kan?” pertanyaan Sean membuat Laura sadar dari renungannya. Dia pun mengangguk membenarkan.


“Aku akan segera membebaskanmu secepatnya, tapi tidak bisa sekarang. Sebagai gantinya, apa kau bisa membantuku juga?” Sean berkata sambil menunjuk lengannya dengan dagu.


“Maksudmu bantu menyembuhkan lukamu? Why not? Aku juga tidak masalah kalau tidak bisa bebas, asalkan kalian tetap memberiku makan dan asupan foto ganteng Joanne.”


Dengusan yang sangat kasar terdengar dari mulut Sean.


“Kenapa perempuan selalu melelahkan untuk dihadapi?” batin Sean.


Note:


Isekai Power Rangers ternyata lebih cepet naik angkanya dari pada novel CEO ala2-ku yg sebelumnya, ya.


Makasih banget ya, gais. Aku jadi lebih pede buat nulis cerita yang sesuai sama passionku.


Omong2 walau telat (karena kemarin lupa), saya mau mengucapkan 'Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakan! Mohon maaf lahir dan batin.

__ADS_1


Mohon maafkan saya kalau ada tulisan saya di sini yang menyakiti hati kalian semua.


__ADS_2