
“Biarkan aku mati. Kalau bisa sebelum waktu kematian Luca Kasha yang sebenernya.”
Sulit bagi Laura untuk membaca ekspresi Joanne saat ini, sebab Joanne pandai dalam menyembunyikan perasaannya. Namun, Laura yakin bahwa Joanne akan setuju dengan rencananya. Karena sedari awal memang Luca Kasha yang tubuhnya dia pinjam ini memang harus mati dan itulah yang Joanne inginkan agar cerita berjalan sebagaimana mestinya.
“Gini aja, pas ada alien baru, aku bakal nyerang kamu. Terus, pas itu kamu langsung dor aja gitu. Habis itu… habis itu…”
Laura tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Tadinya dia pikir akan dapat menyampaikannya dengan mudah. Kini lidahnya terlalu kaku untuk menceritakan kematian yang akan dia rasakan untuk kedua kalinya.
Pada kehidupan pertamanya, tidak banyak yang dia tinggalkan. Laura tinggal sebatang kara dan tidak banyak orang yang dia kenal. Teman pun hanya sebatas rekan kerja. Bukan teman untuk berbagi kesulitan.
Berbeda dengan kehidupannya saat ini. Di dunia ini, dia memiliki orang tua yang menyayanginya meskipun tidak pernah bertemu. Laura juga memiliki sahabat seperti Alicia yang selalu seru untuk diajak mengobrol. Ada juga Thunder Fox yang selalu berdebat dengannya.
Jika Laura mengulang kembali kehidupannya di dunia ini, belum tentu mereka akan kembali menjadi orang yang berarti untuknya. Membayangkan itu saja sudah membuat Laura cukup takut.
“Ikuti saja cerita aslinya. Bukankah akan sama saja? Luca Kasha akan mati di tangan Super Rangers,” ujar Joanne.
“Itu kalau semuanya benar-benar berjalan seperti cerita asli. Tapi, dari sebelum cerita dimulai pun sudah banyak yang tidak sesuai. Bagaimana kalau ada yang hal berbahaya yang belum kita tahu?”
Pria itu mendengus lirih lalu berkata,
“Semua itu belum pasti. Tidak usah macam-macam.”
Joanne kemudian berdiri, berjalan menuju pintu.
“Aku harus kembali bekerja. Kalian pulanglah.” katanya lagi sebelum keluar ruangan.
.
.
.
Meskipun masih ingin berbicara, Laura tidak memaksakan kehendaknya. Berdasarkan pengalamannya, memaksa sekeras apapun tidak akan menggoyahkan seorang Joanne.
__ADS_1
“Pulang katanya? Pulang ke mana coba!? Ghaaaahhh…” Laura merutuk.
Entah yang palsu maupun yang asli, Joanne tetaplah dingin. Sekarang Laura paham mengapa Alicia menjuluki pria itu dengan sebutan gunung es, kutub utara, maupun kulkas jutaan pintu. Selain serba dingin bagaikan Thomas Slebew, Joanne juga berkepala batu.
Dulu Laura sempat mengagumi sifat Joanne yang seperti itu dan menganggapnya keren. Sekarang, setelah merasakannya sendiri, Laura jadi menyesal pernah jatuh hati pada pria seperti itu. Memang yang namanya kenyataan tak pernah seindah sinetron anak-anak.
“Soal yang tadi… bereinkarnasi?”
Hampir saja Laura melupakan harimau berbulu emas itu.
“Gitu deh, Om. Aslinya aku tuh dua orang… eh, maksudnya aslinya aku bukan Luca Kasha. Aku cuma arwah penasaran yang habis mati langsung TUIIING dilempar ke sini. Boleh percaya, boleh nggak. Tapi, jangan nanya gimana caranya dan kenapa. Soalnya aku juga gak tahu.”
Bukan karena terlanjur, tetapi Laura memang tidak bermaksud untuk menyembunyikan identitas aslinya dari Tiger Warrior. Menurutnya akan percuma juga disembunyikan, karena sebentar lagi dia juga akan mati. Lalu, Tiger Warrior pasti akan melupakannya di kehidupan selanjutnya.
“Lalu, Thunder Blue juga?”
Laura mengangguk membenarkan.
“Di dunia kami, apapun yang terjadi di dunia ini cuma bagian dari acara televisi.”
“Televisi?”
Agar lebih mudah menjelaskan, Laura menunjuk ke sebuah layar yang terpasang di salah satu ujung atas lobi. Kebetulan di sana sedang menyiarkan siaran berita nasional.
“Itu loh… di kapal Radolard juga ada yang mirip kan? Selain hal-hal yang sungguhan terjadi di lingkungan, biasanya mereka juga menyiarkan drama fiksi. Kurang lebih mirip opera, tapi disiarkan di televisi. Nah, Super Rangers Thunder Saber itu cuma opera fiksi kalau di duniaku.” jelas Laura.
Tiger Warrior memahami penjelasan Laura, hanya saja baginya hal tersebut masih sulit dipercaya. Tetapi, dengan ini terjelaskan sudah alasan sifat dan sikap Luca Kasha yang tidak seperti sebelumnya.
“Tadinya, aku pikir kalau dunia fiksi jadi nyata bakal nyenengin. Tahunya malah lebih ngerepotin.” lanjut gadis itu sambil melewati pintu otomatis.
Sekarang mereka berdua sudah berada di luar gedung, kemudian berjalan kaki menjauh dari gedung kepolisian.
“Kamu tidak suka dunia ini?” tanya harimau emas.
__ADS_1
Sambil mengangkat dua bahunya, Laura menjawab, “Entah. Sepertinya sama saja dengan duniaku sebelumnya.”
“Lalu, kenapa kau berusaha sekeras ini? Kenapa tidak dibiarkan saja semestinya?”
Sejenak Laura berpikir untuk mencari kata-kata yang tepat untuk menggambarkan keinginannya. Baru kemudian, dia menjawab, “Aku gak mau nyesel kayak di kehidupan sebelumnya. Banyak hal yang pengin aku lakuin, eh udah keburu mati. Masa di sini harus mati lagi?
“Joanne bilang kalau setelah mati, dia bakal ngulang lagi dari awal. Makanya aku mau nyoba ngubah dunia ini dari awal juga.”
“Kalau terus mengulang, bukannya kamu juga bisa hidup senang? Radolard adalah negeri yang makmur. Kau tidak akan pernah kekurangan di sana.”
“Hm… Om Tigor makanan kesukaannya apa?”
Sang harimau mengerutkan dahinya. Dia semakin bingung, karena tiba-tiba Laura melenceng dari pembicaraan.
“Kalau aku sukanya cakwe dicocol sup jagung sama saos cabe. Tapi, ngebayangin terus-terusan makan itu dalam satu bulan aja udah bikin eneg.
“Sama aja kalau aku ngulang terus kehidupan di dunia ini tanpa tahu kapan aku ke surga atau nerakanya. Kan nanti hidupnya jadi tidak tenang. Gak ada pensiunnya. Apa lagi di sini gak ada Kang Mas Jo yang sungguhan. Mending jalanin hidup sampai tua, terus mati.”
Tiger Warrior menghentikan langkahnya. Dia telah selesai mencerna perkataan Laura dan mendapatkan satu kesimpulan.
“Sekarang aku paham kenapa kau adalah Luca Kasha.”
Laura menengok dan ikut menghentikan langkahnya.
“Benarkah? Apa karena aku perempuan jahat yang egois?”
Dari balik masker yang Tiger Warrior kenakan, terdengar suara kekehan lirih.
“Ya. Jadi, selamat tinggal.”
Dan itulah kalimat terakhir yang Laura dengar sebelum kematiannya yang kedua kali. Tiger Warrior telah menusuk perut Laura dengan cakarnya. Sakit memang. Tetapi, dibandingkan kematian pertamanya, Laura merasakan suatu kepuasan. Karena, memang inilah yang dia inginkan.
NB: Jujur aku gak ada niatan bikin tokoh utama yang baik hati dan serba sempurna. Bikin karakter yang pinter, cerdas, dsb jadi tokoh utama juga sulit. Jadi, seperti halnya Laura yg egois dan cuma mikirin diri sendiri, aku juga bakal egois ke ceritaku. hahahaha
__ADS_1
btw ada yg nebak kalau bakal dibunuh Tigor kah?