
“Wah! Di sini rame banget, ya. Kok aku gak diajak, sih?”
Melihat siapa yang datang, pasukan piripiri segera menundukkan kepala mereka memberi hormat. Baru setelah itu mereka menjawab pertanyaan tersebut.
“Kami tidak bermaksud begitu. Justru kami senang, karena Nona Luca telah datang.”
Tentu saja Laura tahu apa yang sedang menimpa mereka. Tapi, untuk lebih mengetahui alasan di balik semua peristiwa tadi, Laura harus tetap berakting bodoh.
“Oh, ya? Memang kenapa?”
Tiba-tiba, semua piripiri berlutut di hadapan Laura dan memohon, “Tolong bantu Tuan kami, Nona! Sembuhkanlah Tuan Dabakiras!”
Beberapa kali mereka menyerukannya. Namun, karena Laura tak kunjung berbicara, mereka pun ikut diam. Dan saat Laura mulai membuka mulutnya, wajah penuh harapan satu persatu mereka tunjukkan.
“Hmm… gimana, ya? Aku males bantuin, kalau gak ada imbalannya, nih.”
Semua piripiri saling menatap satu sama lain. Kemudian, mereka juga menatap Dabakiras, menunggu persetujuan atasan mereka.
Dengan lemah, Dabakiras menganggukkan kepalanya pertanda setuju.
Salah satu perwakilan piripiri kemudian berkata, “Baiklah, Nona. Kami berjanji akan melakukan satu hal yang Nona mau.”
“Cuma satu?” Laura menawar.
Sekali lagi pasukan piripiri saling menatap.
“Dua?”
Laura menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Kayak Om Jin aja, deh. Tiga sekalian, ya.”
Mereka sebetulnya takut akan permintaan yang mungkin Laura katakan nanti. Tapi, mereka tidak punya pilihan lain. Dabakiras, Tuan tempat mereka mengabdi nampak begitu menderita. Jika tidak segera diselamatkan, mereka takut akan kehilangan pekerjaan dan mereka tidak bisa menghidupi keluarga mereka di Planet Porcar.
Dengan terpaksa, mereka pun menjawab, “Kami bersedia, Nona. Tapi, tolong segera selamatkan Tuan kami!”
__ADS_1
Laura tersenyum sambil dengan santai mendekat pada Dabakiras dan Thunder Phoenix.
“Aku lebih suka bayar di muka, baru setelah itu aku selamatkan bos kalian. Jadi, permintaan pertama. Beri tahu aku awalnya Thunder Phoenix bisa bersama kalian!”
Pasukan piripiri nampak ragu untuk menjawabnya. Pasalnya, ini adalah rahasis kekuatan baru mereka. Jika ada orang lain yang mengetahuinya, mungkin orang lain itu akan merebutnya dengan paksa. Tetapi, saat ini mereka harus mendahulukan keselamatan Dabakiras.
“Bagaimana ini?”
“Apa sebaiknya kita katakan?”
“Tapi, aku tidak berani. Bagaimana kalau nanti Tuan marah?”
Mereka terus berdiskusi, sementara Dabakiras makin menjerit kesakitan.
“Aaaaghh! Apa yang kau tunggu? Cepat sembuhkan akuuu!!” rengek Dabakiras.
Bagi bangsa dari Planet Porcar, tanduk sudah seperti bagian dari jiwa. Tidak hanya sakit di badan, kehilangan satu tanduk sama artinya melukai roh mereka, maka tidak heran Dabakiras terlihat begitu kesakitan.
Dia mengacuhkan Dabakiras dan berpaling pada pasukan piripiri, menunggu jawaban dari mereka. Namun, mereka masih mendiskusikannya. Hingga kemudian, seorang pemimpin barisan berkata.
“Hey, Tuan Dabakiras kan tidak pernah melarang kita untuk bicara. Jadi, kita punya alasan.”
Sejenak mereka diam untuk berpikir.
“Benar juga. Lagi pula, ini untuk kebaikannya dan kita sudah berjanji untuk mengabulkan permintaan Nona Luca.”
Semua piripiri menganggukkan kepalanya setuju. Lalu, barulah mereka menjawab.
“Begini, Nona. Sebetulnya…” seorang piripiri mulai bercerita. Agar lebih jelas mendengar, Laura pun mendekatkan telinganya.
“Kami tanpa sengaja berlatih di dekat sarang finiks. Berkat itu, kami semua mendapatkan sebagian kekuatan finiks.”
Laura manggut-manggut. Kini dia paham bagaimana Dabakiras menjadi sekuat ini.
__ADS_1
Piripiri yang lain melanjutkan, “Lalu, saat kami tersesat beberapa hari ini, Tuan Dabakiras dan sebagian personil kami masuk ke dalam black hole yang entah dari mana munculnya. Dan tahu-tahu, saat membuka mata, Thunder Phoenix sudah menetas dan terbang di atas kami. Kekuatan kami juga bertambah berkali-kali lipat. Semenjak itu, Thunder Phoenix terus mengikuti kami.”
Laura yang heran pun mengerutkan dahinya. Dari penjelasan piripiri itu, bisa disimpulkan bahwa mereka juga tidak tahu mengapa Thunder Phoenix mengikuti mereka dan memberikan kekuatannya secara cuma-cuma.
“Waktu itu, kami kira kami akan mati.”
“Ya. Badan kami lecet semua dan penuh darah. Tuan Dabakiras juga.”
“Aku ingat waktu masuk ke dalam black hole, rasanya aku jadi sangat lemas dan nyawaku seperti mau diambil.”
“Ah, iya! Waktu itu Thunder Phoenix yang kecil itu juga terlihat jauh lebih besar dari sekarang.”
“Bukan besar, tapi raksasa!”
Berkat obrolan itu, Laura semakin paham apa yang telah terjadi. Dia yang sudah menonton cerita aslinya berkali-kali pun mendapatkan sebuah pencerahan.
“Baiklah. Aku sudah paham. Akan aku kabulkan permohonan kalian tadi. Tapi, kalian juga harus tetap melaksanakan permohonan kedua dan ketigaku.”
Wajah para anggota piripiri nampak bungah penuh harap. Entah apa itu permintaan Laura selanjutnya, yang terpenting pekerjaan mereka bisa diselamatkan dulu.
Sambil kembali mendekati Dabakiras, Laura mengucapkan permintaan keduanya, “Yang kedua. Jangan protes dengan apa yang aku lakukan setelah ini.”
“Baik, No…”
‘CRASH!!’
Sebuah garis cahaya tiba-tiba secepat kilat menembus tubuh mereka bersamaan dengan saat Laura mengayunkan tongkat sihirnya. Karena kilatan itu, Dabakiras dan seluruh pasukannya pun tumbang.
Kemudian, Thunder Phoenix yang tadinya hanya melayang tiba-tiba kembali tegak. Burung api itu juga semakin menyala dan membesar. Tubuhnya kini hampir sempurna seperti seharusnya.
“Larilah, Thunder Phoenix. Cari temanmu yang sebenarnya!” seru Laura melalui telepati.
Mendengar telepati itu, Thunder Phoenix pun segera terbang pergi menjauh dari tempat tersebut.
__ADS_1