Villainess X Fangirl

Villainess X Fangirl
Om-Om Merepotkan


__ADS_3

“Tiger Warrior, apa lagi yang kamu ketahui tentang Kador?”


Sambil melipat lengannya, sang harimau menjawab, “Tidak banyak. Sekedar tentang wilayah mana saja yang tengah dia incar. Sedari dulu Kador adalah orang yang tertutup. Baik bawahan maupun keluarganya pun tidak terlalu dekat dengannya selain di urusan politik.


“Karena itu, agak mengherankan… kau, cucunya yang notabene juga memiliki darah Kaminaria bisa dimanja sedemikian rupa.”


“Seandainya ingatan Luca sebelum cerita utama dimulai masih tersisa di kepalanya, mungkin misteri ini akan lebih mudah dipecahkan. Sayangnya, Laura hanya ingat tentang Luca Kasha versi drama yang akan mati dibunuh oleh Super Rangers, bukan Luca Kasha yang merupakan puteri dari Kekaisaran Radolard. Sisanya, Laura baru mengetahuinya begitu dia sampai di dunia ini. Tentang Tiger Warrior yang menjaganya diam-diam pun baru diketahuinya tadi.


“Awalnya aku pikir, itu karena kau memiliki energi sihir yang luar biasa. Tetapi, sebelumnya juga sudah ada penyihir dari keturunan Kador. Bahkan Kador juga memperistri Oktasia yang juga seorang penyihir besar. Jadi, untuk apa repot-repot melatihmu.”


Laura manggut-manggut mendengarkan penjelasan Tiger Warrior. Dia sangat setuju dengan pendapat itu.


“Apa gara-gara Kador manjain Luca, jadinya Oktasia ngira kalau aku tuh cucu kesayangannya? Terus, nganggepnya kalau nikahin anaknya sama Luca, nanti anaknya bakal naik pangkat gitu?”


Tiger Warrior mengangkat bahunya.


“Entah. Tapi, itu sangat mungkin.”


“Haaaa…” dengus Laura.


Di saat seperti ini, ingin rasanya dia kembali ke dunianya yang dulu. Beban pekerjaannya yang dulu dianggapnya berat bahkan tidak sepadan dengan permasalahan hidup Luca Kasha yang rumit ini. Mungkin permasalahannya baru akan selesai kalau Laura tahu awal mulanya seperti apa. Tapi, dia tidak akan tahu itu kalau tidak kembali ke masa sebelum cerita utamanya dimulai.

__ADS_1


“Sebentar! Kembali ke masa lalu… bukannya bisa, ya?” gumam Laura tanpa sadar.


Di kepalanya, terlintas ucapan Joanne beberapa saat lalu tentang dunia ini yang akan reset setiap satu tahun setelah kematian Kador. Jika itu benar, bukankah berarti Laura juga bisa kembali ke masa itu juga?


“Aaaaarrhh! Kalau aja bisa tanya ke Joanne sekarang!! Ngapain pake ngusir aku segala sih, itu orang? Dih!” gerutu Laura sambil menjambak rambutnya sendiri saking geramnya.


Hingga sekarang, perihal pengusirannya itu juga masih menjadi misteri. Pikir Laura, tidak mungkin Joanne salah paham padanya dan mengira bahwa Sarenos menjadi raksasa berkat sihirnya. Pasalnya, pria itu pasti sudah tahu perbedaan antara sihirnya dan sihir Oktasia. Mana mungkin Joanne yang mengaku sudah mengulang kehidupannya di dunia ini berkali-kali tidak bisa membedakannya.


“Sesuka itu kah kau padanya?”


Pertanyaan Tiger Warrior mengalihkan perhatian Laura.


“Oh, iya. Kamu kan ngikutin aku dari jaman bocil. Pasti tahu juga kalau aku sempet bucin sama Joanne… padahal palsu.”


Kali ini barulah Laura sadar ada penekanan yang sedikit berbeda pada kata-katanya. Pria berkepala harimau itu sepertinya tidak suka bila Laura kembali ke markas Super Rangers.


“Bukan ingin kembali, sih. Aku cuma ingin menanyakan sesuatu yang cuma bisa dijawab Joanne.”


“Aku juga bisa menjawabnya. Coba tanyakan padaku!”


“Nggak mungkin… ini tuh khusus aku sama dia aja.”

__ADS_1


“Coba tanyakan saja dulu! Aku hidup lebih lama darimu juga dari Joanne. Pasti aku lebih tahu!”


“Ahahaha! Ini bukan masalah umur, Om.”


“Lalu masalah apa? Apa mungkin dia lebih bijak dariku?”


Laura memijat-mijat keningnya. Berdebat dengan orang yang mengaku tua ini cukup menantang kesabarannya yang setipis tisu toilet basah.


“Pokoknya Om pasti gak tahu jawabannya, deh.”


“Kau belum mencobanya…”


“Gak usah dicoba juga… hm?”


Kalimat Laura terhenti saat mendengar suara ‘tok tok tok!’ dari luar pintu kamarnya.


“Duh… siapa, deh?”


Laura menjentikkan jarinya untuk melihat ke luar pintu tanpa membukanya. Dan dengusannya lagi-lagi keluar begitu tahu yang ada di luar ruangannya adalah om-om lain yang sama merepotkannya.


“Kampret… ada si Sador. Haaah…”

__ADS_1


Ditutupnya kembali layar itu, lalu berkata pada om-om menjengkelkan yang lain, “Aku mau pergi. Bye, Om!”


Dan Laura pun menghilang.


__ADS_2