
Hari-hari penuh kedamaian agaknya telah berakhir pagi itu. Tepat tujuh hari setelah Thunder Phoenix berhasil didapatkan, kini Super Rangers harus sudah menghadapi musuh bebuyutannya lagi. Kali ini seorang alien berwujud tupai lah yang datang menghancurhan ketenangan mereka.
Tupai itu datang bersama Dabakiras dan kawannya menuju Bumi. Namun, tidak seperti biasanya, Dabakiras tak langsung menyerang para warga.
“Dengar, jika kau berhasil, katakan bahwa akulah yang menyuruhmu!” perintah Dabakiras pada si tupai.
“Tentu saja, Tuan. Saya Sazaare, adalah orang yang telah dibuang oleh Tuan Gondazel dan diselamatkan oleh Tuan Dabakiras. Tentu saya akan menuruti perintah Anda.” sahut alien bernama Sazaare itu.
“Bagus. Sekarang, tunjukkan padaku bagaimana kau akan melakukan rencanamu! Aku tidak bisa mempercayaimu begitu saja.”
“Baik, Tuan.”
Setelah itu, Sazaare maju. Segera dia cari target yang dia inginkan. Kemudian, nampak dari kejauhan sepasang pria dan wanita muda yang sepertinya adalah kekasih. Diperhatikannya mereka baik-baik, lalu dari mata Sazaare muncul dua buah laser yang tertuju ke arah jantung si pria. Laser tersebut tidak membuat pria itu jatuh maupun luka fisik, melainkan hal lain akan terjadi karena laser tersebut. Dan Sazaare hanya perlu menunggu beberapa saat untuk melihat hasilnya.
“3…2…1…” Sazaare menghitung mundur.
Pada hitungan ke nol, reaksi pun muncul dari pria tersebut.
__ADS_1
“Sayang, kok diam saja?” tanya si wanita pada pria di sampingnya.
Wanita itu merasa heran, karena pacarnya tak kunjung menjawab. Padahal biasanya pria itu akan langsung menjawab segala pertanyaannya. Ditunggu-tunggu pun pria tersebut tak kunjung berbicara, hingga perempuan itu tak lagi bisa bersabar menghadapinya.
“Sayang! Jawab pertanyaanku!”
Setelah disentak begitu, sang kekasih akhirnya mau menengok kepadanya. Ekspresi datar yang sedari tadi terpasang di wajah si pria itu pun berubah. Bibirnya dia angkat satu ujung, memberikan senyum sinis yang tak pernah perempuan itu terima sebelumnya.
“Huh! Kau berisik sekali. Karena ini aku jadi malas bersamamu sekarang.” ujar si pria.
Si wanita tak ayal membelalakkan seluruh lubang di wajahnya. Perkataan pria itu terlalu mengejutkan baginya. Padahal, tak pernah sekalipun pria itu mengeluhkan hubungan mereka.
“Aku mau kita putus. Sekarang. Selamat tinggal.”
Itu adalah ucapan terakhir yang pria itu tinggalkan pada si wanita.
“Hey! Kau belum menjelaskan! Berhenti!”
__ADS_1
Wanita itu terus menerus memanggil dan mengejar pria itu, meski sayangnya dia sama sekali tak bisa menggapainya lagi.
.
.
.
“Kekekeke… Tuan lihat sendiri, bukan? Kejujuran itu tidak selalu baik. Terkadang, kita perlu menyembunyikan kejujuran itu agar tidak menyakiti orang lain. Tapi dengan kemampuan sihirku, aku bisa membuat orang lain mengatakan hal yang terlalu jujur. Tidak ada yang ditutupi-tutupi! Semua akan benci pada kejujuran!” jelas Sazaare yang merasa puas dengan hasil perbuatannya.
Melihat kekacauan yang baru saja terjadi di hadapannya, Dabakiras juga ikut merasa puas. Baru kali ini Dabakiras tak menggunakan serangan fisik. Meskipun terasa sedikit mengganjal, tetapi kini dia menyadari bahwa luka tidak hanya bisa dibuat dengan pedang maupun pukulan.
“Hahahaha! Cukup bagus. Lanjutkan saja!”
Sazaare tersenyum, lalu menjawab, “Baik, Tuan. Saya sepuas hati akan melanjutkan rencana saya sampai sasaran utama kita datang.”
Si tupai kemudian menyusuri sudut kota yang lain. Dengan cara yang sama, dia membuat para pasangan, teman, bahkan hubungan Ibu dan anak retak.
__ADS_1
Karenanya, kota pun menjadi kacau. Orang-orang tak bisa lagi bersikap sopan. Semua melakukan hal seenak hati mereka tanpa memikirkan orang lain.
“Radolard! Hentikan semua ini!”