Villainess X Fangirl

Villainess X Fangirl
Operasi Muka Dua


__ADS_3

Piripiri yang mengawasi Laura telah kembali ke kapal Radolard. Dengan tergesa-gesa dia mendatangi Rador untuk melapor kepadanya.


“Saya memberi salah kepada Yang Mulia.” ujar piripiri itu.


“Berdirilah! Cepat katakan apa yang kau dapat!” perintah Rador sembari duduk di kursi kebesarannya.


“Baik, Yang Mulia.”


Piripiri tersebut pun berdiri. Diambilnya beberapa lembar foto dari saku seragamnya, kemudian dia berikan pada Rador.


Sejenak Rador memperhatikan foto-foto tersebut. Awalnya tidak ada yang mencurigakan. Hanya foto-foto Luca Kasha yang sedang berjalan-jalan di hutan. Tetapi, pada gambar ke lima, hal yang aneh tertangkap.


“Luca dan Thunder Fox. Bagaimana mereka bisa bersama?”


Dalam foto tersebut nampak Luca yang sedang tertawa akrab dengan Thunder Fox di pinggir sungai. Entah apa hubungan di antara mereka, tetapi melihat bagaimana Luca tertawa dengan lepas dalam foto tersebut, Rador menduga bahwa mereka cukup dekat. Tapi, bagaimana bisa?


“Selamat siang, Nona Luca!” terdengar sapaan seorang prajurit piripiri pada seorang perempuan berambut biru di depan pintu ruangan Rador.


“Apa Paman ada di dalam? Aku ingin bertemu dengannya.”


“Mohon maaf, Nona. Nampaknya Yang Mulia sedang ada urusan, jadi Nona tidak bisa masuk dulu.” tolak piripiri itu.


“Yaaah…”


Mendengar orang yang sedang dibicarakan telah datang, Rador ingin menanyakannya langsung tentang bukti yang baru saja dia dapatkan.

__ADS_1


“Suruh dia masuk!” perintah Rador.


Kemudian, piripiri penjaga pintu pun mempersilakan Laura untuk masuk, sedangkan piripiri yang melapor tadi keluar dari ruangan setelah menundukkan badannya pada Laura.


“Sepertinya kau sangat terburu-buru. Apa yang kau inginkan?” tanya Rador.


Perempuan itu tersenyum lebar dan berkata, “Aku ada berita baik untuk Paman.”


Rador menyipitkan matanya, menunggu apa yang selanjutnya akan keponakannya katakan.


“Aku sudah berteman dengan Thunder Fox.”


Mata Rador seketika membulat mendengarnya. Rupanya yang nampak di foto itu adalah benar. Luca Kasha, keponakannya sendiri telah berkhianat dari kerajaannya. Ini artinya Luca harus segera dihukum.


“Dan dia sudah setuju untuk menjadi mata-mataku.” lanjut Laura sebelum Rador mengeluarkan amarahnya.


“Apa maksudmu?” tanya Rador.


“Mudahnya, aku telah menghipnotis dan memanipulasi rubah itu. Lalu, sekarang dia bergerak atas kemauanku.” Laura menjelaskan secara singkat.


Tentu saja ini hanya bohong belaka. Walaupun Laura benar-benar bisa menghipnotis orang lain, tapi kekuatan sihirnya tidak cukup untuk menghipnotis seekor Thunder Beast. Kesadaran mereka terlalu kuat untuk dipengaruhi apalagi dimanipulasi.


“Benarkah? Tapi, bagaimana?”


Laura menyadari kebingungan yang Rador rasakan dari ekspresinya. Pria itu juga nampaknya belum sepenuhnya percaya dengan ucapan Laura tadi.

__ADS_1


Yah, wajar saja mengingat kemalasan Luca selama ini. Pikir Laura, Rador pasti kebingungan dengan perubahan yang drastis ini. Dan lagi Laura juga tahu bahwa Rador sedang mencurigainya. Terbukti dari foto-foto yang ada di tangannya. Laura yakin ini juga ada hubungannya dengan kematian Chujelaking tempo hari.


Bagaimana caranya dia bisa seyakin itu? Kemampuan stalking level satpam kantor pengawas CCTV jawabannya.


Semenjak pulang ke kapal Radolard, Laura mulai memasang banyak sihir penyadap di berbagai tempat di kapal tersebut, termasuk ruangan Rador. Dia letakkan titik-titik sihir itu di dekat semacam teknologi CCTV kapal, sehingga tidak ada yang akan curiga. Dengan begitu, dia juga bisa melihat gerak gerik para penghuni kapal sesuka hati.


Dari situlah dia mendengar kasak kusuk tentang ucapan terakhir Chujelaking tentang dirinya yang sengaja menurunkan kualitas sihir yang dia gunakan untuk memperbesar tikus raksasa itu. Karena itu, Laura menyusun rencana yang dia sebut dengan ‘Operasi Muka Dua’.


“Paman tahu bukan, bahwa Thunder Fox adalah bekas tawanan Gondazel? Aku sengaja membebaskannya untuk rencana ini.”


Bukan. Ini hanya kebetulan saja. Laura melepaskan Thunder Fox agar Super Rangers lebih cepat mengalahkan Nyanterius yang mungkin akan membahayakan Joanne. Tapi, berhubung bisa disambung, Laura sambung-sambungkan saja.


“Kenapa tidak kau katakan langsung pada Gondazel kalau kau berencana seperti itu?”


Ini adalah pertanyaan yang ingin Laura dengar dari Rador. Laura hanya tidak menyangka Rador akan langsung bertanya ke sana.


“Paman, Gondazel tidak menyukaiku. Jadi, aku pikir dia tidak akan mau bekerja sama.”


Rador memijat-mijat dahinya. Dia begitu pusing setiap kali melihat para bawahannya yang sulit bekerja sama.


“Apa Paman tidak suka? Apa Paman marah?” tanya Laura dengan nada sok imut, berharap agar Rador tak marah padanya.


“Kau… apa kau tidak sadar apa yang telah kau lakukan? Karena perbuatanmu, korban di pihak kita bertambah! Apa kau tidak memikirkan seberapa meruginya kita?” Rador mengeluarkan seluruh amarahnya pada Laura.


Dengan suara Rador yang begitu keras, siapapun pasti akan ketakutan. Begitu juga Laura. Namun, dia harus lebih menguatkan nyalinya dan tidak boleh mundur begitu saja.

__ADS_1


“Tapi, Chujelaking bisa membuat kita lebih rugi. Karena itu, aku menurunkan kekuatanku.”


Kejujuran dari Luca ini semakin membuat Rador kalang kabut. Dia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran gadis itu.


__ADS_2