Villainess X Fangirl

Villainess X Fangirl
Finiks yang Tak Abadi


__ADS_3

Mata Joanne membulat saat melihat pemandangan mengerikan yang tersaji di hadapannya. Apa yang Luca Kasha baru saja lakukan begitu mengejutkannya. Dia benar-benar tidak menyangka penyihir sok imut yang dianggapnya menyebalkan itu bisa melakukan hal sekejam itu pada kaumnya sendiri hanya demi pengakuan darinya.


Darah-darah segar dari makhluk planet Porcar berceceran di sana. Mereka yang menjadi korban pun telah kehilangan kesadaran. Beberapa masih membuka matanya, namun nampak jelas bagaimana mereka tengah meregang nyawa.


“Nona, bukankah kau tadi bilang akan menyelamatkan kami?” seorang piripiri mengumpulkan seluruh tenaganya untuk bertanya.


Laura berdecak sinis, “Ckckck… kan tadi udah bilang, kalau kalian gak boleh protes! Gimana, sih? Pikun, ya?”


Bukan berarti Laura akan melakukan sesuatu yang berbahaya pada orang yang protes padanya. Dia hanya merasa malas menjelaskannya. Namun, dengan sedikit kerutan di antara dua alisnya saja sudah cukup membuat orang lain terancam. Karena itu, tidak ada lagi yang bertanya padanya.


“Sekarang Thunder Phoenix udah pergi. Jadi, tinggal beresin yang di sini.” batin Laura.


Sambil menatap Dabakiras yang tak sadarkan diri, Laura berkata, “Habis ini sebaiknya kamu berterima kasih sama anak buah kamu.”


Gadis penyihir itu lalu memulai konsentrasinya. Dia kumpulkan energi sihir yang cukup besar yang ada dalam tubuhnya. Kemudian, dia bayangkan sihir yang ingin dia gunakan. Kemudian, ditransferkannya energi sihir yang sudah terkumpul menuju tongkat sihirnya. Terakhir, dia acungkan tongkat tersebut ke atas langit dan keluarlah sebuah cahaya besar yang sangat menyilaukan.


Selang beberapa detik kemudian, cahaya tersebut hilang dan sebuah keajaiban pun terjadi. Seluruh luka yang ada pada tubuh Dabakiras dan anak buahnya hilang seketika. Kesadaran mereka juga berangsur pulih. Tanduk Dabakiras yang terpotong tak lagi berdarah, namun hilang sepenuhnya, menjadikan wujud alien itu seperti sedia kala sebelum mendapatkan kekuatan finiks. Tidak hanya Dabakiras, kekuatan Thunder Phoenix juga hilang dari para prajurit piripiri.


“Kau… apa yang kau lakukan?” tanya Dabakiras saat menyadari perbuatan Laura.


Laura mendengus kasar, karena lagi-lagi ada yang mempertanyakan keputusannya. Dia menjawab, “Rahasia. Aku males ngomong. Tanya aja sama prajurit kamu! Aku mau pergi dulu.”


Setelahnya, Laura melenggang dari tempat itu tanpa berbicara apa-apa lagi. Kepergiannya itu diiringi dengan ujaran terima kasih dari prajurit piripiri yang sebetulnya juga tidak terlalu paham apa yang telah terjadi.

__ADS_1


.


.


.


‘Krasak!’


Suara itu membuyarkan Joanne dari lamunannya. Nampak di depannya Luca Kasha yang telah kembali tengah berjalan mendekat padanya.


“Sudah beres, nih. Kang Mas gak muji aku?”


Seperti biasanya, nada bicaranya terdengar manja dan menyebalkan di telinga Joanne. Gadis itu juga masih bersikap sok imut, berbanding terbalik dengan apa yang baru saja dilakukannya barusan.


“Yah… bercanda, ding. Gak usah dipuji juga gapapa.”


Joanne lalu melepas helmnya dan menentengnya di pinggang.


“Thunder Phoenix… apa dia kembali?” tanya pria berambut panjang itu.


“Semoga saja. Aku cuma ngelepasin dia dari ikatannya dengan Dabakiras.” Laura menjawab.


“Ikatan?” tanya Joanne lagi.

__ADS_1


Beda orang yang bertanya, beda pula reaksi Laura. Padahal kurang lebih pertanyaannya sama saja.


Gadis itu tersenyum begitu lebar, karena pria pujaannya semakin banyak bicara padanya. Ini jelas kesempatan emas untuk menjadi semakin dekat dengan Joanne. Laura tidak mau melepaskannya begitu saja.


“Khusus Kang Mas Joanne yang tampan tiada tara, aku bakal cerita, deh. Omong-omong ini tuh spoiler dari episode 40 waktu Thunder Phoenix tiba-tiba mati. Tapi, aku bakal ngetes dulu, deh. Kang Mas tahu kan, Phoenix itu burung yang berhubungan dengan apa?”


Joanne enggan bicara berputar-putar, tapi rasa penasarannya menuntut dia untuk menjawab, “Keabadian.”


“Dan?” tanya Laura.


Joanne tak menjawab lagi, karena memang tidak tahu. Menyadari itu, Laura menjawab tesnya sendiri, “Kematian.”


“Burung finiks tidaklah abadi. Dia justru berkali-kali mati dan hidup lagi. Itu jelas bukan keabadian yang seharusnya.


“Selama ‘kematiannya’ dia akan menjadi telur yang begitu lemah. Karena itu, sebelum mati finiks akan memastikan keamanan di sekitarnya, sehingga bisa tenang selama kekuatannya tidak ada pada dirinya sendiri.


“Lalu, dia akan menitipkan kekuatannya pada alam dan akan mengambilnya kembali saat dibutuhkan. Karena itu, tanah di sekitar sarang Thunder Phoenix tubuh subur seperti hutan ini. Sialnya, kekuatannya itu juga masuk ke dalam tubuh Dabakiras dan para anak buahnya. Jadi, tidak seperti alam yang akan suka rela mengembalikan, Thunder Phoenix harus bekerja keras untuk mendapatkan kekuatannya kembali.” jelas Laura.


“Jadi, itu alasan Thunder Phoenix mengikuti Dabakiras.” Joanne menyimpulkan.


Laura mengangguk membenarkan. Di cerita aslinya, bukan Dabakiras yang diikuti melainkan Rador. Karena, pangeran jahat itulah yang telah membunuh Thunder Phoenix. Berdasarkan ucapan beberapa piripiri tadi, Laura menyimpulkan bahwa ada kemungkinan kejadiannya sama dengan cerita tersebut. Karena itu, Laura mencobanya. Untung saja lawannya adalah Dabakiras yang sedang terluka, kalau tidak dia mana mungkin berhasil?


“Untuk mengeluarkan kekuatannya, seekor finiks harus mati atau setidaknya mengalami keadaan yang mendekati. Tapi, anehnya Dabakiras yang sedang terluka justru semakin menyedot kekuatan dari Thunder Phoenix. Karena itu, aku harus melibas Dabakiras terlebih dahulu hingga hampir mati untuk mengeluarkan kekuatan finiks darinya.”

__ADS_1


“Lalu, kau menyembuhkan mereka?”


Laura mengangguk dan menjawab, “Sejahat apapun Rador pada planet lain, dia selalu melindungi orang-orangnya. Kalau tidak ku selamatkan, bisa-bisa aku mati di tangan Rador.”


__ADS_2