Villainess X Fangirl

Villainess X Fangirl
Ilmuwan dari Masa Depan Part 1


__ADS_3

“Hehehehe…”


Tawa itu tak juga menggoyahkan ekspresi datar Thunder Fox saat melihat Laura yang terkurung di depannya. Sebagai makhluk yang pernah terkurung, keadaan mereka yang berbanding terbalik saat ini sulit dinalar olehnya. Pasalnya, dari cerita Laura barusan, Thunder Fox dapat menyimpulkan bahwa kesialan gadis itu saat ini adalah akibat dari kebodohannya sendiri.


“Aku tidak tahu, otak kamu di mana, sih?” tanya Thunder Fox.


Laura berhenti tertawa, lalu dengan nada sok puitis dia menjawab, “Otakku ada di kepala, tapi hatiku ada di Joanne.”


“Aku tidak tanya di mana hati busukmu tuh!” ucap si rubah ketus.


“Cih!” Laura mendecak.


Perempuan itu lama-lama semakin membuat Thunder Fox geli, entah karena cara bicaranya yang berlebihan maupun karena cintanya pada Joanne. Perempuan gila mana yang jatuh cinta pada musuhnya? Kalau bukan karena Thunder Fox melihat kegilaan itu dengan mata kepalanya sendiri, mungkin itu akan sulit dipercaya. Bahkan gara-gara cintanya, Laura sampai nekat menjadi stalker. Sialnya, pria yang dia kuntit memiliki insting yang kuat dan dengan bisa dengan mudah menangkapnya.


Awalnya, Laura yakin bahwa persembunyiannya sudah sangat rapi. Dengan ilmu sihirnya, seharusnya sudah tidak ada yang bisa melihatnya lagi. Tetapi, Joanne yang sadar bahwa ada yang mengikutinya kemudian menjebaknya.


Joanne yang sedang berpura-pura, membawa Laura ke dalam ruangan khusus. Di sana terdapat sensor buatan Sean yang dapat mendeteksi benda-benda asing yang tidak diharapkan. Berkat sistem tersebut, Laura bisa kembali terlihat.


Jebakan dalam ruangan tersebut tidak hanya sampai di situ. Selanjutnya, dari salah sudut ruangan tiba-tiba sebuah alat mirip meriam muncul dan menembakkan jala listrik. Akhirnya, sampailah Laura pada nasib yang harus dia terima.


Saat ini Laura disekap di kurungan kaca buatan Sean. Sedari tadi Laura sudah mencoba untuk mendobraknya, tetapi usahanya percuma. Kaca itu dibuat dengan material kimia khusus yang hanya diketahui oleh Sean, si ilmuwan jenius yang bisa memadukan teknologi Bumi dan Kaminaria. Dengan teknologi tersebut, jangankan tenaga fisik, sihir pun tidak bisa menembusnya.


“Kamu itu terlalu gegabah. Cinta sih cinta, tapi harus tahu batas! Aku dengar di planet ini stalking terhitung sebagai tindakan kriminal. Jangan mentang-mentang jadi warga kerajaan Radolard, kamu bisa seenaknya. Udah kerajaan tukan tindas, banyak kriminal, perempuannya sinting dan gak beradab, mau jatuh sampai mana lagi kamu?”


Nasihat Thunder Fox seakan menghujam hati Laura. Memang seluruh ucapan Thunder Fox tadi adalah benar adanya. Dia tidak bisa membantah apapun soal itu.


“Kamu bakal tahu kalau nanti kamu jatuh cinta juga!”


Thunder Fox menaikkan salah satu ujung bibirnya dan berkata, “Jangan samakan aku yang menawan ini dengan perempuan tak beradab sepertimu!”


Laura mendengus. Rubah narsis ini benar-benar membuatnya naik pitam. Dia jadi semakin menyesal telah menyelamatkannya dari kungkungan Gondazel.

__ADS_1


“Iya, deeeh… terserah. Sekarang, bebasin aku dong!” Laura memohon.


Namun, Thunder Fox tak juga bergerak untuk melaksanakan permohonan Laura. Dia terlalu malas untuk melakukannya dan tidak tahu bagaimana cara membuka kurungan kaca itu.


“Ckckck… maaf. Aku tidak bisa. Semoga kau bisa mendinginkan kepalamu di sana.” ujar Thunder Fox.


Emosi Laura semakin ke ubun-ubun karenanya. Dia kemudian berseru, “Ih! Kalau bukan karena aku waktu itu, sekarang kamu masih disekap di dalam goa! Tahu balas budi gak, sih!?”


Sambil tersenyum miring, rubah ungu itu membalas, “Kamu lupa kalau aku sudah membalas budi dengan menjaga Joanne selama tujuh hari?”


“Enam hari! Satu harinya kan gak kamu lakuin, mentang-mentang Nyanterius udah koit!” sangkal Laura.


“Tujuh hari! Karena, setelah itu aku diizinkan untuk tinggal di tempat ini!”


Begitulah. Perdebatan mereka berlangsung cukup panas. Tidak ada di antara mereka berdua yang mau mengalah. Saking panasnya perdebatan itu, keduanya sampai tidak sadar bahwa ada seseorang yang tengah memperhatikan keduanya.


Pria itu melipat kedua lengannya di depan dada. Dengan sabar dia menunggu dua makhluk beda spesies itu untuk berhenti. Walau sepertinya perlu dia disendiri yang menghentikan mereka berdua.


Satu kali saja tidak cukup, karena Laura dan Thunder Fox masih berseteru.


“Oooh! Mentang-mentang kamu, ya? Padahal kalau gak ada aku, kamu juga gak bisa ketemu sama Super Rangers.”


“Kata siapa? Waktu itu, tanpa kau pun aku bisa keluar. Tinggal menunggu kesempatan saja.”


“Kesempatan? Kesempatan apa?”


Di telinga pria itu, hanya Luca Kasha lah yang berbicara, sementara Thunder Fox terus menggonggong. Tapi, itu saja sudah cukup untuk menggambarkan betapa sengitnya perseteruan di antara keduanya. Saking sengitnya, bahkan tidak ada yang sadar saat dia berjalan mendekat pada mereka.


Pria berjas putih itu mendengus kasar, lalu menaikkan volume dehemannya.


“EHHEEEMMM!!”

__ADS_1


Deheman kedua itu akhirnya dapat mengalihkan perhatian keduanya. Saat mengetahui siapa yang ada di sana, seketika mereka berdua kompak berhenti.


“Kalian nampak akrab sekali. Apa aku boleh ikutan?”


Laura yang sedari tadi jongkok untuk menyamakan level matanya dengan si rubah ungu pun berdiri. Dengan santai dia menjawab, “Tuan Green Thunder salah sangka. Aku mana mau akrab dengan si rubah guoblok ini.”


Beda lagi dengan reaksi Thunder Fox. Dia begitu ketakutan sampai-sampai tubuhnya gemetaran. Dia sangat khawatir, kalau pembicaraan mereka berdua tadi membuat Sean salah paham dan menganggapnya telah bekerja sama dengan kerajaan Radolard yang tak lain adalah musuh utama Super Rangers.


“Oh, ya? Tapi, sepertinya tidak begitu. Aku tadi mendengar kalau kau yang membebaskan Thunder Fox. Bukankah berarti kalian cukup akrab?”


Rupanya benar, Sean mendengar semua pembicaraan mereka. Thunder Fox pun semakin gemetar ketakutan. Dia belum ingin diusir dari sini.


“Benar, aku yang membebaskannya. Tapi, kami tidak akrab.”


“Guk!” gonggongan Thunder Fox seperti membenarkan ucapan Laura.


“Hmm… begitu kah?” tanya Sean.


Pria itu menatap lurus ke arah Laura seolah sedang menggali kejujuran dari matanya. Cukup lama dia melakukan itu, hingga satu kata dari bibir Laura membuatnya berpaling.


“Bagaimana? Apa yang kau lihat tentangku di masa depan?”


Sambil memalingkan wajahnya, Sean tersenyum.


“Aku tidak tahu apa maksudmu.” Sean mencoba menyangkal.


Dia tidak menyangka keahliannya yang bahkan dia sembunyikan dari anggota lainnya telah diketahui oleh musuhnya.


“Sean Shullan, seorang ilmuwan yang disebut-sebut ilmuwan jenius dari masa depan. Tapi sebenarnya, dia bisa melihat ke masa depan. Bukankah itu kekuatan baru yang kau miliki setelah menjadi partner Green Turtle?”


Sean membulatkan matanya. Agaknya Luca Kasha mengetahui cukup banyak tentangnya. Entah dari mana gadis berambut biru itu mendapatkan informasi tersebut. Sean tidak mungkin bisa mengoreknya dengan kekuatannya. Karena, itu hal yang terjadi di masa lalu, bukan di masa depan. Kekuatannya tidak bisa menjangkau ke sana.

__ADS_1


“Kau sekarang tahu bahwa aku tidak berbahaya. Jadi, bisakah kau melepaskanku?”


__ADS_2