Villainess X Fangirl

Villainess X Fangirl
Alicia Si Penjinak


__ADS_3

Hari sudah semakin malam. Anggota Super Rangers beserta Thunder Beast mereka secara bergantian tidur dan berjaga. Mereka membaginya menjadi dua sesi. Pukul 23.00 - 2.00 adalah saatnya Sean dan Joanne untuk berjaga, kemudian pukul 2.00 - 05.00 adalah giliran Brian dan Alicia.


Laura yang bukan termasuk anggota mereka terpaksa ikut berjaga dengan Alicia dan Brian pukul 2 dini hari nanti. Jadi, sekarang dia harus tidur terlebih dahulu.


“Kamu gak papa tidur bareng aku? Gak takut?” tanya Laura pada Alicia yang akan menjadi teman satu tendanya.


Alicia yang tengah membetulkan bantalnya terdiam sebentar, lalu menunjuk pada tiga pria yang ada di luar. Dia menjawab, “Aku lebih takut kalau kamu bareng mereka.”


“Hah? Mereka cowok baik-baik. Gak mungkin mereka melakukan sesuatu padaku.”


Ini adalah teori Laura yang disimpulkannya dari berkali-kali menonton serial Super Rangers Thunder Saber sejak kecil. Dalam cerita aslinya Brian, Joanne, dan Sean digambarkan sebagai pria yang sangat lurus. Tidak ada di antara mereka yang suka bermain perempuan. Jangankan menjadi playboy, ketiganya bahkan tidak diceritakan memiliki pacar apalagi jatuh cinta. Padahal ada anggota perempuan secantik Alicia, tapi tiga-tiganya sama sekali tidak tertarik padanya.


“Bukan kamu yang diserang, tapi mereka yang kamu serang. Dan ini juga permintaan khusus dari si Kutub Selatan.” tegas Alicia.

__ADS_1


Laura cukup tersinggung dengan ucapan gadis itu. Tetapi, kalau mengingat kelakuannya, Laura sadar kalau dirinya terlalu agresif. Hal ini juga sering dikatakan oleh orang yang dikenalnya di kehidupan sebelumnya hingga membuat Laura sampai dijauhi selama beberapa tahun. Karena itu, sebelumnya dia sangat hati-hati. Belakangan sifat buruknya itu kembali lagi entah kenapa.


“Hm? Kenapa malah melamun begitu?” tanya Alicia.


Laura menggelengkan kepalanya beberapa kali pelan.


“Aku cuma ingat masa lalu.” jawabnya.


“Ya, sudah. Kita tidur dulu saja. Kalau kamu mau, nanti ikut berjaga saja.” ujar Alicia kemudian.


Laura mengangguk, lalu menanggapi, “Oke. Lagi pula kita juga lagi diborgol begini.”


Diangkatnya dua pergelangan tangan mereka agar Alicia ingat apa yang terjadi barusan. Sebelum akhirnya tergabung dalam satu tenda, Joanne melepaskan borgolnya dan memasangkannya dengan paksa pada Alicia.

__ADS_1


“Haaah… jadi ingat si Kutub Sialan lagi. Kamu kok bisa jatuh hati padanya, sih? Heran, deh!” gerutu Alicia.


“Karena keren, lah! Wajahnya ganteng, ahli bela diri, punya duit, gak sombong, rajin menabung, setia kawan…”


“Stop!” potong Alicia. Pikirnya, jika tidak dihentikan, lama-lama Luca akan membuat sebuah essay atau malah jadi disertasi yang hanya membahas tentang Joanne.


“Oke. Oke. Terserah, lah. Sekarang kita tidur saja.” ajak Alicia kemudian.


Karena sudah tidak ada yang mau mendengarkannya, Laura terpaksa mengikuti keinginan Alicia. Tetapi, sebelum tidur dia melepas beberapa aksesorinya terlebih dahulu termasuk yang ada di leher dan kepalanya.


“Heh!? Pakai lagi! Bikin iri aja!” seru Alicia seketika saat Laura sedang melepas kalung besar di lehernya. Kalung yang terbuat dari batu dari planet Porcar itu cukup besar hingga menutupi bagian dada Laura yang ukurannya cukup berbeda dengan Alicia. Hanya karena melihat itu, Alicia langsung merasa kalah telak. Padahal sebetulnya ukuran Alicia juga baik-baik saja.


Karena Laura juga ingin berteman dengan Alicia, artinya dia juga tidak boleh menyakiti perasaan Alicia. Jadi, terpaksa dia tidak melepaskannya walaupun rasanya akan sangat ringsang. Karena, kalungnya akan menghantarkan suhu dingin dari sekitarnya.

__ADS_1


__ADS_2